Ara merinding ketika Zayn menyibak rambutnya dan mencium kuduk wanita tersebut. Tangannya mulai meremas pinggang Ara, wangi wanita ini sungguh candu baginya.
“Aku akan kembali, jadi masaklah yang enak. Hari ini aku akan bertemu dengan Dion. Mood pasti hancur berantakan karenanya! Huh, aku harap kau dapat mengembalikan perasaan bahagia nanti.”
Ara pergi dari apartemen Zayn menuju perusahaannya. Perasaan Ara sungguh capur aduk, dia bahkan tak bisa menjelaskan gelanyar yang menghampiri tubuhnya sesekali saat bibir Zayn menyentuh kulitnya.
Oh Tuhan, aku sudah gila dan lupa dunia. Aku melakukan seks tanpa pernikahan, tapi aku juga tidak tahu apa pernikahan masih cocok denganku. Jika Zayn bisa menjadi teman baikku, belum tentu dia bisa menjadi suami yang baik. Pria mana yang tidak menginginkan seorang anak, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi diriku sendiri. Jujur saja aku tak bodoh, sudah lama aku sangat mengetahui perasaan Zayn padaku. Kini aku akan berpisah dari Dion, apa aku benar-benar akan mendapatkan perasaan yang sebenarnya? Aku takut menjadikan Dion hanya pelarian saja. Dia pria yang sangat baik dan teman yang selalu aku andalkan.
Ara berhenti memikirkan segalanya karena wanita itu akhirnya sampai di perusahaan. Dia menyerahkan kunci mobilnya, lalu masuk dengan santai tanpa sadar ada pria yang sejak tadi menunggunya.
“Kau darimana?!”
Mata Ara tertuju padanya, wanita itu berhenti melangkah dan menatap wajah Dion yang menatap dirinya dari atas sampai ke bawah. Dia seolah penuh pertanyaan dan memaksa Ara mengatakan sesuatu.
“Bukan urusanmu.”
Dion tak suka dengan jawaban itu, “Ara.” tangannya menahan Ara yang bersikap super angkuh.
“Ingat ini perusahaan, jangan membuat aku malu. Jika kau masih ingin bekerja di sini setidaknya jagalah sikapmu, kau tahu aku tak suka dengan orang yang suka mencampur aduk ‘kan perasaan.”
Dion seolah tak peduli, dia semakin mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam lift bersamaan dengan Ara. “Apa kau tak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?!”
Wajah Ara langsung memerah menatap Dion, “Apa sebaiknya pertanyaan itu aku berikan padamu? Apa kau tak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?”
Rasanya Ara ingin meledak dan muntah, selama ini dia selalu setia bersama suaminya. Menerima semua siksaan yang dia berikan. Tapi bisa-bisanya dia berkata seperti itu saat ini.
“Kau perempuan Ara, sedangkan aku pria.”
“Cih,” Ara menyunggingkan senyum. “Aku tidak peduli laki-laki atau perempuan, jangan memandang ke arahku dan tolong pikirkan saja dirimu sendiri.”
“Ara, aku ingin kau pulang. Jangan tidur sembarangan kita masih berstatus suami istri.”
“Ya, dan itu akan hitungan hari saja. Aku dan kau sudah tak ada lagi, jadi jangan harap kau bisa mengatur hidupku. Kali ini aku akan menggunakan kekuasaanku. Apa perlu aku ingatkan padamu dimana posisi kita?” Ara maju mendekat pada Dion yang terus mundur. “Aku adalah pemilik perusahaan ini dan kau adalah orang yang aku gaji. Hutangmu juga banyak di perusahaan ini, jadi setiap bulan gajimu akan aku potong. Berbuat baiklah sebelum aku melaporkanmu ke kantor polisi.”
Ting, lift terbuka dan Ara langsung keluar meninggalkan Dion yang masih membatu di dalamnya.
Selama rapat Ara hanya fokus pada lawan bicaranya tanpa peduli dengan apa yang terjadi pada perasaan Dion. Pria itu kini penuh tanya, dia tak terima atas sikap Ara yang tak kembali ke rumah tadi malam.
Rapat selesai satu jam setelahnya dan Dion masih dalam pikiran yang serba berantakan. Dia tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, karena Ara tak seperti biasanya. Dia sangat dingin dan matanya tak lagi menatap Dion penuh cinta.
Selama ini walaupun Ara marah dia tak pernah bermalam di tempat lain. Dia selalu kembali dengan sikap angkuhnya seolah tak ada yang bisa mengalahkan harga diri yang dia junjung tinggi.
“Ara, aku mau bicara denganmu.”
“Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan saat ini. Kau dan aku tak ada lagi hubungannya.”
“Apa maksudmu? Jangan berkata seperti itu. Kita masih suami istri, dan kau tak bisa berbuat seenaknya. Aku tidak ingin tahu apa yang kau lakukan yang pasti tetap kembali ke rumah karena aku masih suami sah kau, Ara.”
Wanita ini menghela napas geram, “Heh, apa yang kau pikirkan? Suami sah? Dan aku istri sah? Dion, pakai otakmu sebelum bicara. Kita akan berpisah sebentar lagi dan selamat bertemu di pengadilan.”
“Terserah kau mau bilang apa! Ancaman yang kau lakukan sekarang tidak membuat aku takut sama sekali. Stop bertingkah Ara dan kembali ke rumah sekarang.”
Dion menarik tangan Ara dengan kasar, wanita itu terus berontak dan tanpa sadar mereka tak lagi saling mengalah. Selama ini Ara selalu berusaha menjaga dirinya. Tapi sekarang tidak lagi, dia sudah menemukan cara untuk bahagia dan hidup bersama Dion hanya akan memperpendek umurnya saja.
“Jangan paksa aku, ini perusahaan.”
“PULANG.”
Karena malu dan tak ingin jadi bahan gosip karyawan Ara mengikuti apa yang di inginkan Dion. Dia tak peduli dengan perasaan pria itu, tapi setidaknya Ara harus menjaga Image.
Ting, bunyi pesan masuk dan itu dari Zayn.
“Ara aku sudah menyiapkan semua untukmu. Cepatlah pulang… apa kau sekarang tersenyum, aku bilang PULANG, bukan DATANG karena sekarang aku sudah menjadi tempatmu untuk kembali.”
Ara tak bisa menahan senyum di bibirnya, Dion yang melihat itu pun penasaran dan kesal. Dia berusaha merebut ponsel Ara dan dengan sigap wanita itu mendorong tubuhnya.
“Jangan gila, kau bukan siapa-siapa. Kenapa mau mengatur hidupku.” ucapnya pada Dion.
Apa yang terjadi? Apa dia tak mencintaiku lagi? Mana Ara yang selalu mengemis cinta padaku. Dia sudah menemukan pria lain? Atau Ara selingkuh? Aku harus mencegahnya karena dia hanya milikku. Ah b******k, kenapa ini bisa terjadi. Aku sangat lengah hingga Ara bisa memiliki pria lain.
Ara dan Dion sampai di rumah. Dia melihat Cindy dengan perut buncit tersenyum menyambut mereka.
“Apa kau sudah masak?!”
Dia mengangguk, “Ayo makan, Mbak Ara juga. Aku sudah masak banyak untuk kalian.”
“Tidak, aku harus pergi. Aku kembali hanya untuk mengambil pakaian saja.” jawabnya pelan meninggalkan Cindy dan Dion begitu saja.
Dion panik, dia tak lagi menatap wajah Cindy. Tanpa ragu dia berlari mengejar Ara yang sudah menaiki tangga. “Ara, kau mau kemana?!”
“Pergilah bersama wanitamu, jangan gubris aku. Lagipula aku tak berminat lagi menjadi istri tua. Sebelum kalian menikah kita harus bercerai.”