14

895 Kata
Senyum tipis terulas di bibir Cindy. Dia mendapatkan apa yang di inginkan. Siapa yang akan sadar betapa licik wanita lemah lembut ini, tak akan ada yang tahu seberapa bisa dia menyakiti orang lain demi tujuannya. “Ara.” Dion tidak tinggal diam, pria itu tak peduli dengan panggilan merayu yang Cindy lakukan. Dion memilih mengejar Ara hingga masuk ke dalam kamarnya. “Jangan sentuh aku.” Dion tak sabar, dia menarik kedua tangan sang istri hingga berada di atas kepalanya. Napas Dion menderu dan jantungnya berdebar hebat. Dia melihat tanda merah di belakang kerah Ara. “Apa ini?!” Dion menarik pakaian Ara dan wanita itu berusaha keras untuk menghindar. “Apa kau gila? ini urusanku. Aku bahkan tak melarang kau membawa wanita itu. Jangan main-main Dion, kau sudah keterlaluan.” “Aku? Kau yang keterlaluan.” Dion tidak pernah merasa seperti ini. Jantungnya sungguh semakin hebat berdebar, sudah lama dia tak merasakan perasaan seperti ini. Dia ingin menyentuh Ara, dia ingin mencumbui seluruh tubuhnya. “Jangan berpikiran dangkal, aku tak akan pernah mau kau sentuh. Aku tidak pernah berminat melakukan hubungan badan bersamamu. Lakukan saja pada selingkuhanmu itu.” “Hah… hah…” napas Dion terdengar jelas. “Kau masih istriku Ara, dan kau berselingkuh.” pria itu sudah tak tahan mendengar perlawanan istrinya. Ara sangat ingin tertawa saat ini. “Cih, hahahaa. Kau bodoh, hah? Aku tahu apa yang kau pikirkan tapi sekali lagi aku mohon padamu untuk berkaca. Seharusnya kalimat itu di tujukan untuk dirimu sendiri. Lepaskan aku, b******k kau.” “Aku tidak akan melepaskanmu.” Dion membuka resleting celananya, dengan cepat dia membuka pakaiannya dan mengikat itu pada tangan Ara. Walaupun Ara terus berontak tapi saat ini dia tidak bisa bergerak lagi. “Kau memang binatang Dion. Kenapa tiba-tiba ingin meniduriku, hah? Katakan saja apa alasanmu.” ucapnya dengan senyum sinis. “Kenapa? Kau takut kehilangku, bukan?!” Dion tak peduli dengan ocehan Ara, dia bergegas membuka pakaian Ara hingga melihat setiap tanda yang Zayn berikan. “b******k, katakan siapa pria itu ?! katakan Ara.” Wajah Ara semakin sinis. “Bukan urusanmu dan aku harap kau tak usah ikut campur seperti aku tak ikut campur urusanmu.” Plak, sebuah tamparan dengan keras mendarat di wajah Ara. Dion menatap tangannya, dia tidak pernah melakukan ini pada wanita. Dia tak sengaja, tak ada niat dalam hatinya. “Ara kau tahu aku tak sengaja, bukan.” Jangankan menjawab, menoleh saja Ara tidak sudi sama sekali. “Lepaskan aku jika kau merasa bersalah!” “Aku tidak akan melepaskanmu.” Tanpa basa-basi Dion melumat bibir Ara, hingga puas. Mencium setiap senti tubuhnya hingga Ara sangat muak dan frustasi. Dia benci Dion melakukan ini, dia sudah muak dengan pria yang kini menghisap kedua puncak p******a miliknya secara bergantian. Ara benci tapi dia tak akan menangis. “Kau tak lebih dari binatang yang memakan muntahan sendiri.” Dion tak peduli, terserah Ara mau mengatakan apa saat ini. Dia pun membuka kedua kaki sang istri, Ara memalingkan wajahnya saat Dion menikmati bagian bawah milik Ara tanpa ampun. Dia mengulum penuh minat, lidahnya mengisi bagian milik Ara tanpa peduli wanitanya sudi atau tidak. Rasanya Ara tak sanggup lagi, di dalam pandangan matanya dia hanya memikirkan Zayn saat ini. Dia tak ingin kembali dalam neraka yang menyakiti hatinya. “Akh…” Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara kuat. Dan pecahan piring, Dion awalnya tak peduli dan saat dia mendengarkan teriakan Cindy yang memanggil namanya barulah Dion kembali pada kesadarannya. Dengan buru-buru dia memasang kembali celana, mengambil kemeja yang dia jadikan bahan mengikat tangan Ara. Wajah Dion terlihat cemas dan dia berlari menuju kekasihnya. Ara menghela napas, dia tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Samar-samar Ara mendengar Dion yang sibuk menghubungi dokter, tampaknya Cindy sedang membuat Drama baru dan jujur saja Ara tak keberatan sama sekali. Dengan hati-hati Ara membawa semua berkas penting miliknya. Wanita itu sudah siap untuk tak kembali sama sekali ke rumah tersebut. Pelan dia menghidupkan mobil bertepatan dengan Dion yang berlari keluar mengejar dirinya. “Ara, jangan pergi! Kita bisa membicarakan semua ini dengan benar. Kau dan aku masih memiliki status pernikahan, aku rasa kau pun tak cukup gila untuk meninggalkan semuanya seperti ini. Kau ingat dengan semua yang telah kau berikan padaku? Aku tidak akan pernah memberikan sepeser pun padamu jika pergi dari rumah ini.” Ara mendengar segalanya, tapi dia cukup muak dengan pria ini. Perasaannya sudah hancur dan harus dia tinggalkan begitu saja agar dirinya sendiri bisa hidup lebih baik lagi. Tanpa peduli Ara mengendarai mobil yang dia gunakan dengan cepat. “Terserah jika kau ingin mati di sana.” pekik Ara kesal. “Kau benar-benar akan meninggalkan aku? Kau yakin tidak menyesal dengan semua yang kau lakukan saat ini? Katakan padaku Ara! Aku tidak akan pernah menerima kau kembali lagi jika pergi sekarang.” “Ya, jangan mimpi aku kembali padamu. Aku pun tidak pernah berniat untuk melakukannya. Jadi jangan ganggu hidupku lagi dan terima saja apa yang kau dapatkan. Ingat selama kau berhutang pada perusahaan, maka tak ada celah untukmu bersenang-senang.” “Kau benar-benar keterlaluan.” Ara mengulas senyum dan memijak pedal gas miliknya. Bagaimana pun dia sudah tak berminat dengan apapun yang pria ini katakan. Hatinya sudah terlanjur hancur, lebih baik Ara menyenangkan dirinya sendiri dan hidup bahagia. Aku tidak akan pernah peduli dengan apapun yang kau pikirkan, Dion. Karena sakitmu bukanlah sakitku lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN