15

1311 Kata
“Kaena?!” Nada penuh penekanan dan tak percaya itu membuat sang gadis menoleh menatap mata si pemanggil namanya tersebut. “Kael, ini-” Kaena terbata. “Ini-” dia berusaha menahan tangan Kael yang hendak pergi menjauh dari dirinya. “Ini tidak seperti yang dirimu pikirkan. Aku sudah bilang tidak akan bicara pada pria. Ini hanya menyapa saja.” Wajah Kael berubah menjadi sangat kesal. “Aku juga tak berniat dan melarangmu melakukan apapun yang kau suka. Aku harap jangan memakan janji sendiri. Kau tipe manusia yang sulit untuk menepati janji.” “Kael, ini aku sungguh-sungguh. Apa yang kau lihat tak seperti yang kamu pikirkan saat ini. Kamu tahu sendiri aku selalu menuruti apa yang kamu katakan. Aku tidak berbohong, untuk apa juga aku berbohong padamu.” Kael yang sudah duduk di kursi kemudi mobil mengangkat wajahnya menatap mata Kaena. “Jelas untuk bersenang-senang! Kau gadis favorit seantero kampus sekarang. Siapa yang tidak menginginkan kamu, apa aku salah? Kita memang lebih baik tidak usah bertemu dulu, aku tidak akan kembali ke apartemen. Kau pulanglah sendiri, suasana hatiku sedang tidak baik.” “Kael, please. Buka pintunya! Aku masih ingin bicara denganmu. Bawa kemanapun aku pergi, aku harus ikut denganmu. Aku janji akan melakukan apa saja untukmu.” Air mata kaena mengalir deras, dia mulai tersedu dan Kael di sini semakin tak enak hati karena sejujurnya dia tak suka membuat Kaena menangis seperti ini. Kaena pun bergegas masuk ke dalam mobil saat mendengar pintunya di buka oleh Kael. “Ingat apa yang kau katakan tadi, kau akan melakukan apa saja untukku.” Kaena mengangguk, “Aku akan melakukan apapun Kael, aku tidak suka melihat dirimu marah seperti ini. Aku benar-benar tidak bermaksud apapun. Tadi senior Kris bilang aku harus ke sana karena mengantarkan beberapa barang.” jawabnya polos. Kael yang mendengar itu langsung mengerti apa yang terjadi saat ini. Beraninya dia menipu aku, datang seolah tak tahu dimana Kaena. Apa yang di inginkan wanita ini sebenarnya. Kenapa dia harus susah payah untuk mengerjai kami hingga seperti ini. Ah sial, aku hampir saja marah besar pada Kaena. “Pasang sabuk pengaman milikmu.” ucap Kael pada Kaena yang sejak tadi menunduk. “Aku berharap kau hanya mencari dan peduli padaku. Di dunia ini terlalu banyak manusia bermuka dua. Kau gadis pintar Kaena, tolong pilah temanmu. Apa kau tahu tadi apa yang dikatakan Kris padaku? Dia seolah tak tahu apapun tentangmu dan datang padaku seolah memberikan informasi.” Kaena mengerutkan keningnya. Dia bukan gadis bodoh yang tidak mengerti apa pun. Kening Kaena mengkerut kesal karena perasaannya sungguh kacau. “Lain kali aku akan memilih orang-orang yang bisa dekat denganku. Aku akan lebih berhati-hati, Kael. Jadi jangan marah lagi padaku, kita saudara kenapa begitu keras menghadapi aku?!” Kael tidak menjawab karena Kaena sendiri sudah tahu jawabannya. Hari pria ini masih sangat kesal dan dia tak bisa menatap wajah Kaena. Apalagi saat dia mengingat kembali bagaimana Kaena tersenyum dan tertawa pada pria lain. Sampai di Apartemen Kael langsung bersiap membersihkan dirinya, dia berjalan ke arah kamar Kaena dan membuka sangat pelan. Sret, dia membuka tirai yang menutupi bathtub yang kini di masuki oleh Kaena. “Aku akan mandi bersama denganmu.” Dengan menggunakan boxer dia langsung masuk ke dalam bathtub tanpa mendengar jawaban persetujuan dan penolakan. “Kau tahu kita sudah dewasa Kael, kau tak boleh lagi mandi denganku. Lagi pula aku sangat malu jika kau melihat seperti itu.” Kaena menutup p******a miliknya yang kini hanya di tutup dengan kedua tangannya yang menyilang. “Keluar, Kael.” Dia menggeleng, “rendam saja tubuhmu di dalam busa ini. Lagi pula aku sudah melihat semuanya sejak kecil, jadi apa yang perlu kau tutupi.” Dengan keras hari Kael menarik tangan Kaena hingga kedua p******a yang segar itu terlihat sangat jelas. Kael berdebar, jantungnya tidak bisa menahan gejolak. “Kael, kita.” “Kita apa?!” Dia menarik tangan Kaena pelan, dia merebahkan tubuh gadis itu di atas tubuhnya. Kaena pun dapat merasakan pisang Kael kini sudah sangat mengeras di bawah sana. “Kael, aku tidak menggunakan pakaian selembar pun, aku mohon jangan seperti ini. Kita saudara kembar, dan sudah sangat dewasa! Bukankah ini salah?!” Seolah tak ingin mendengarkan apapun Kael pun memeluk Kaena dari belakang dan meletakkan dagu pada bahunya. “Pada zaman dahulu para anggota kerajaan menikah degan saudara kandungnya sendiri.” Deg, jantung Kaen berdebar kencang mendengar itu. “Apa maksudmu, Kael?! kita tak bisa melakukannya sesuka hati seperti ini, akh.” Kaen terkejut saat tangan Kael semakin erat memeluk dirinya dari belakang. Kedua p******a Kaena yang kecil namun padat berada di antara pelukan Kael. Pria itu berbisik, “Aku ingin seperti ini saja! Aku sudah berkonsultasi pada dokter. Mereka bilang ini sebuah penyakit, dan aku pun tak sengaja melihat di kamarmu artikel yang sama. Jadi apa menurutmu apa aku juga terkena syndrom itu? Aku tak ingin kau bersama pria lain, aku tak ingin ada yang mengganggu kita.” Kaena terdiam, dia tak pernah menyangka jika Kael mengatakan semua ini padanya. Padahal Kaena sudah berusaha menutupi apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan gadis ini sulit tidur saat memikirkan kenapa memiliki perasaan seperti ini. “Wah, sepertinya Kael benar-benar di penuhi nafsu seperti ayahnya. Lihatlah dia begitu agresif! Masuk ke dalam kamar Kaena dan tak keluar sampai saat ini. Dan gilanya dia hanya menggunakan handuk. Dia pasti merasa begitu gila.” El yang mendengar itu tersenyum saja. Hampir setiap hari sang istri memantau anak-anak mereka melalui CCTV yang tersambung pada laptop miliknya. “Harusnya kau memberi dukungan pada Kael, dia adalah putramu.” El terkekeh geli. “Lagipula kau cukup keterlaluan mengerjai mereka sampai seperti ini.” “Hah…” Karina menghela. “Sudah aku bilang, resikonya sangat besar. Mereka juga sangat muda saat ini. Kalau pada kenyataannya semua ini hanya nafsu bagaimana? Aku tidak pernah membayangkan betapa sulitnya kita berkumpul nanti. Aku sungguh tak ingin mengambil resiko.” “Hah, kau egois sekali Karina.” jawab El yang melanjutkan buku yang dia baca saat ini. “Aku hanya tak ingin mereka saling menyakiti.” sambungnya lagi. Karina mengangguk, “di saat seperti itu aku akan datang pada mereka seperti pahlawan kesiangan.” “Hah terserah kau saja, Karina.” Masih di dalam bathtub. Kini Kael menggosok punggung Kaena pelan. “Kau menjadi idola.” "Kau pun sama Kael, jadi jangan menuduh seperti itu.” Kael hanya tersenyum, dia memeluk lagi Kaena dari belakang. “Aku suka saat seperti ini, bersamamu aku merasa lebih baik.” “Jangan berkata seperti itu, karena aku pun juga merasakannya. Lebih baik kita simpan di dalam hati masing-masing, aku tak ingin ada yang mendengar kita.” “Kaena, apa kau lihat kita sangat berbeda? Matamu sebiru lautan, dan kulitmu jelas sekali milik orang eropa. Wajahmu juga seperti mereka, kita tak mirip sama sekali. Apa kita bayi yang tertukar? Aku ingin memeriksanya. Apa kau ingin kita tes DNA?!” Tak bisa di bohongi Kaena pun merasakan hal yang sama. Setidaknya tak ada dari mereka yang sama. Rambut Kael sedikit ikal dan kasar, sedangkan Kaena sangat lurus dan halus. Mata Kaena sipit sedangkan Kael bulat besar dengan bulu mata lentik. Kulit Kaena khas orang eropa sedangkan Kael kuning langsat seperti orang Asia. Belum lagi mata mereka dan banyak lagi yang sangat berbeda. Jika kembar seharusnya ada sedikit kesamaan mereka, namun ini tidak sama sekali. “Kael, aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku belum siap melakukannya! Aku tahu Ibu akan tersakiti jika kita seperti ini.” Kaena terdiam sejenak, dia tak bisa membayangkan hal buruk yang akan terjadi jika mereka berdua tetap nekad melakukan hal yang tak bisa di jabarkan. “Lihat aku Kaena.” “Ah.” Kaena mendesah pelan saat dengan cepat Kael mencium bibirnya. Gadis itu membalikkan tubuhnya, mereka berdua berhadapan. Kedua p******a Kaena menempel pada d**a Kael yang kini sangat b*******h dan rakus. “Kaena, apa aku bisa melakukannya lagi?!” Deg, jantungnya berdebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN