Apa yang aku harus lakukan padamu Sinar?! Aku sangat tak suka ketika berada di dekatmu. Kau menunjukkan kemampuan sebagai istri yang baik tapi aku sangat tidak berminat saat ini. Kau juga tak seperti gadis yang hanya menginginkan uang. Kenapa kau terlalu baik merawatku, rasanya sungguh tak enak dan tak nyaman karenamu.
“Ron, apa yang kau lihat? Kenapa tidak makan? Sinar sudah membuat semuanya untuk kita. Dia rajin sekali selama kau pergi dan membuat rumah ini terasa begitu ramai. Ini sudah 1 bulan dan Mommy semakin menyukainya, diluar apapun rencana kalian. Mommy tak ingin hanya sekedar cucu, ingat itu Ron.”
“Mommy sudah tahu semua rencananku tapi masih juga memaksakan diri melakukan ini. Padahal semua sudah sangat jelas bukan, kita tidak bisa melakukan apapun sembarangan saat ini. Karena aku dan dia akan bercerai setelah kami memiliki lima orang anak.”
Sia rasanya tak percaya yang dia dengar saat ini, dia berbalik menatap Ron yang semakin jauh dari dirinya. “Apa kau sudah gila, Ron?! apa salah kami selama ini? Kenapa kalian tak ada yang jelas sama sekali. Mommy dan Daddy sampai tak bisa berkata apapun lagi karena ulahmu dan Clara. Kami terus berpikir dosa apa yang kami lakukan.”
Ron menunduk, dia berusaha tak mendengar apapun yang Mommy katakan. Dia mencoba menghilangkannya. Tanpa berbalik Ron terus melanjutkan langkahnya.
“Sia, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan semuanya. Lagipula Ron masih terlalu muda.”
Mata Sia semakin membesar. “Apa? Ron? Muda? Ah yang benar saja? Apa kau tak lihat Mas berapa banyak uban di rambutnya.”
Samar-samar Ron yang mendengar itu mengusap rambutnya. Dia menghela napas beberapa kali. Dia pusing sekali jika sudah membicarakan pernikahan dirinya dan Sinar.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?!”
“Sinar, kemari.”
Gadis itu menurut saja karena selama ini Ron tak pernah berbuat jahat padanya. “Ada apa, Tuan?!”
“Ayo masuk, aku ingin bicara padamu lebih lama lagi. Ada beberapa hal yang perlu kita rundingkan. Kau tahu sendiri keadaan saat ini tak cukup baik.”
Ya, Sinar mendengarnya. Dia pun mengangguk pada Ron, dan masuk ke dalam kamar yang teramat luas. Semua di sana serba hitam, tak ada yang berwarna, kamar ini bisa di sebut kuno.
“Tuan, kenapa kamar anda hanya hitam dan abu-abu saja?!”
Sinar berjalan ke sana kemari melihat kamar yang luasnya bukan main itu. Bahkan kamar mandi Tuannya itu lebih besar dari kamar tamu yang dia tunggu saat ini.
“Kenapa kau terus berlari. Nanti bisa jatuh Sinar, jangan berlari kecil seperti itu.”
Ron menggeleng saja melihat tingkah Sinar yang terus berlari ke sana kemari. Dia bukan tipe pria yang sombong dan angkuh pada wanita. Ron sangat mahir, dia suka menggoda wanita dan selalu bersikap lembut pada wanita manapun.
Pria ini hanya tak ingin menikah saja, tidak lebih dari itu. Alasannya sudah sangat jelas, dia tak ingin terikat sama sekali. Rasanya sangat memuakkan jika terus terikat pada satu wanita di saat dia adalah pria yang sangat mudah bosan.
Dengan handuk kimono Ron duduk di kursi santai sembari menyilangkan kaki, “Sinar sudah cukup, ayo duduk di sini.” dia menepuk pahanya pelan agar Sinar segera mendekatinya.
“Tuan, apa saya benar-benar harus duduk di sana?!”
“Apa kau benar-benar ingin aku menarikmu dan meminta sekali lagi?” Ron tersenyum. “Aku bukan orang yang sombong, angkuh ataupun pemarah. Aku ini pecinta wanita, tentu aku akan sangat lembut denganmu.”
Sinar tersenyum, dia juga merasa seperti itu. Tuan Ron adalah pria yang baik, tak seperti pria kaya yang sombong. Dia selalu tersenyum dan tak pernah memarahi Sinar.
Belum lagi ketika dia tertawa terbahak-bahak ketika menonton film larva di ponselnya. Sungguh Sinar sudah jatuh pada pesona Ron.
“Apa yang ingin Tuan bicarakan pada saya? Katakan saja!”
Rasanya sungguh canggung duduk di atas pangkuan Ron saat ini. Sinar menahan debaran jantungnya agar tak terdengar oleh Ron, apalagi saat ini dia sedang merapikan rambut panjang Sinar ke belakang. Hah, Sinar ingin melompat dan kacau.
“Sinar, aku tidak b*******h sama sekali ketika di dekatmu. Bagaimana ini? Apa kita bisa memiliki anak? Aku bahkan tak tertarik padamu.” ucap Ron santai.
Sinar terdiam sejenak, “Tu, tuan! Bagaimana bisa begitu?!” dia bertanya balik pada Ron karena bingung kenapa Tuannya tak tertarik ataupun b*******h. dirinya siswa paling cantik ketika di sekolah, tak ada yang salah darinya. “Tuan, bagaimana ini?!” dia bertanya lagi.
Ron menghela, dia membuka kedua tangannya lebar. Merebahkan tubuhnya pada sofa malas yang ada di kamar tersebut. “Aku tidak berbohong, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi kau bisa merasakannya sendiri. Barangku tidak bergerak sama sekali saat kau duduk di pangkuanku. Apa kau terlalu kecil? Aku juga bingung!”
Ron menggigit jarinya, dia juga tak menginginkan ini. Tapi setidaknya kalau ingin buat anak barangnya harus berdiri, bukan?!
“Bagaimana kalau kita tak usah menikah saja, aku akan memberikan uang padamu. Jadi anggap saja semua ini batal, mungkin kau bukan wanita yang aku cari.”
Hah, Sinar memegang dadanya. “Tuan, tidak bisa begini! Saya dan anda sudah meneken kontrak. Berikan saya waktu, setelah menikah saya akan berusaha membuat milik anda bergerak dan bersemangat ketika melihat saya, aduh bagaimana ini.”
“Hah,” Ron menghela. “Di saat itu, aku menjadi duda dalam waktu yang sungguh singkat. Pernikahan kita akan tercatat resmi, di saat aku menikah denganmu tak akan ada agenda untuk tidur dengan wanita lain. Lalu aku harus bagaimana kalau dia tak berminat padamu, Sinar?!”
Sinar memegang kepalanya, dia ingin menjadi istri Tuan Ron. “Tuan jangan seperti ini, atau kita- aduh bagaimana ya?!” gadis itu terlihat sangat kacau. “Tuan, percaya pada saya! Ini akan berhasil, saya akan memberikan anda lima anak sesuai kontrak kita.”
Ron mengancak rambutnya, dia memang cukup pemilih soal wanita. Apalagi untuk wanita yang akan tidur dengannya dalam jangka panjang seperti ini. Tak mudah memutuskan apalagi saat dia tak tertarik sama sekali.
“Aku hanya tidak bisa menentukannya sekarang. Kau tahu sendiri apa isi kontrak itu, aku dan kau akan bersama dalam waktu yang cukup lama. Jadi jangan sampai aku tersakiti, dan begitu juga denganmu.”
“Baik, begini saja Tuan. Kita bersama saja sebelum menikah, maksud saya sering bersama supaya anda dan saya lebih dekat lagi. Kita jarang bertemu, mungkin karena itu anda tak tertarik pada saya. Bagaimana menurut pendapat anda, Tuan. Karena saya sudah menempuh keinginan orang tua anda. Saat ini hanya masalah diri anda yang tidak bisa menerima keberadaan saya, anda tidak tertarik.”
Sinar ingin memaksakan keinginannya. Dia tak ingin Ron menyerah padanya secepat ini, selain itu dia sudah terlalu nyaman dengan orang-orang di sini. Keluarga Ron dan semua semua yang berkaitan dengan dirinya.