Pria itu hanya mengedipkan matanya seolah dia sangat mengerti dengan situasi saat ini, senyum di bibir Rama sungguh menenangkan. Setelah pintu tertutup wajah Zia langsung berubah menjadi masam. Dia rasanya ingin memukul Arsenio, tapi hatinya tak cukup kuat untuk melakukan itu. Saat ini Zia hanya ingin menangis saja. Rama dan dirinya memang sudah berbulan menjalin kasih. Tapi karena jadwal yang sangat padat dan Rama juga membantu dosen, akhirnya mereka jarang sekali bertemu. Dan tadi adalah pertemuan pertama mereka setelah lebih dari satu bulan. “Kenapa menangis, ayo makan.” Arsenio menarik tangan Zia, tapi wanita itu melepaskannya dengan cepat. “Jangan ganggu aku, kalau mau makan pergilah sendiri. Dan kau kenapa sangat suka pakai boxer, aku malu sekali. Walaupun dia tahu kau adikku, tap

