Meja di sudut ruangan, dengan vas kecil yang bukan berisi bunga, melainkan permen, menjadi tepat favorit Kaena dan Kael. Karena di sebelahnya tepat kolam dengan air terjun buatan berada. Kaena membuka mulutnya, tapi ragu untuk bicara. Dalam hati, Kael yang melihat itu hampir saja berteriak Yes, sepertinya aku akan menang. “Ayo duduk di sini,” ucap Kael sambil menarik kursinya. “Aku sangat menyukai suasana di sini, bagaimana denganmu?!” Kaena jengah tapi senang, dia berusaha menahan sipu malunya tapi tetap saja tidak bisa. Dia yakin kalau Kael menyadari apa yang terjadi padanya saat ini. “Mas, sini,” panggil Kael pada pelayan di sana. “Nasi gemuk ala italia sama jus alpukat dua.” ucapnya. Kaena menatap Kael, lalu dia berkata. “Kamu benar-benar ya! Saat ini aku sedang tidak ingin berteng

