Mi instan itu dosa dunia paling nikmat. Jadi dalam hitungan menit tanpa perlu susah payah dengan rasa yang lezat tidak manusiawi tapi kalorinya cukup tinggi. Proporsi komposisinya besar di karbohidrat yang berpotensi berubah jadi lemak kalau tidak digunakan secara efisien.
Rhea sebagai anak kos yang harus mengirit biaya pengeluaran amat menghormati mi instan. Baginya, mi instan itu seperti benda pusaka yang harus disayangi sepenuh hati. Pahlawan untuk perut kelaparan.
Rhea dulu pernah punya mimpi untuk kuliah di luar negeri lalu punya banyak teman orang asing. Setelah punya banyak teman orang asing, dia punya misi untuk menyebarkan mi instan kebanggaannya sampai ke negeri orang. Meracuni agar orang-orang asing itu cinta mati pada mi instan seperti dirinya sendiri.
Kemudian Rhea ingin beli saham sebanyak-banyaknya di perusahaan mi intsan Indonesia. Jadi kalau orang-orang asing itu cinta mati pada mi instan yang berasal dari Indonesia, saham yang Rhea punya bisa terus meningkat harganya. Iya, otak dagang. Wajar saja, Rhea tumbuh di keluarga yang berlatar belakang pedagang. Besar di pasar. Jadi paham apa-apa saja yang menghasilkan uang.
Tapi entahlah, Rhea tak yakin apa mimpinya yang dulu itu bisa terwujud atau tidak. Dia bahkan tak yakin apakah saat ini dia masih punya mimpi.
Meski demikian, Rhea sudah berhasil mempengaruhi seseorang dengan mi instan kesukaannya. Siapa lagi kalau bukan Sagas?
Tapi Rhea merasa bersalah. Pasalnya akhir-akhir ini Sagas rasanya terlalu sering makan mi instan. Kalau Rhea ingat-ingat, sepertinya pekan ini saja sudah empat kali makan mi instan.
Bahkan malam ini, Sagas lagi-lagi makan mi instan. Dia mengambil satu bungkus mi instan rasa rendang dari dalam laci dapurnya.
"Rhe, mau mi instan?" tanya Sagas.
Rhea berdecak. "Gas, ini udah keberapa kali lo makan mi instan dalam satu minggu ini?"
"Hm ... lupa. Nggak inget, Rhe. Kenapa emang?"
"Gas, nggak boleh makan mi instan sering-sering tau!" ujar Rhea.
"Emang kenapa?" tanyanya, polos.
"Ya apapun yang instan nggak sehat kalau dimakan terlalu sering!" seru Rhea.
Wajah Sagas berubah, yang tadinya ceria jadi muram seperti mendung di langit malam. Rhea jadi merasa bersalah. Rasanya seperti sedang mematahkan impian seorang anak kecil yang ingin pergi ke bulan.
"Eh, jangan sedih!" kata Rhea, "Boleh, deh! Malam ini lo boleh makan mi instan, ya, Gas! Terakhir buat minggu ini! Selanjut-selanjutnya cuma boleh makan mi instan seminggu sekali, ya!"
Sagas mengangguk senang. Matanya berbinar seperti anak anjing yang diajak bermain oleh pemiliknya.
"Janji?"
"Janji!" ujar Sagas.
"Oke. Kalau gitu gue sekalian deh! Ada rasa apa aja tuh?" sahut Rhea.
"Rasa mi goreng, rendang, soto Lamongan, kaldu ayam, sambal goreng, sama sambal matah. Kamu mau yang mana?"
Rhea sampai geleng-geleng kepala. Rasa mi instan di rumah Sagas bahkan lebih lengkap dibandingkan dengan rasa mi instan yang ada di warung ujung komplek.
"Lo niat jualan apa gimana, Gas? Banyak banget!"
Sagas meringis malu.
"Soto Lamongan, deh, gue!"
Sagas kemudian menyalakan kompor yang atasnya sudah diberi panci berisi air.
Sagas yang beberapa minggu lalu bahkan tidak bisa menyalakan kompor itu kini sudah lihai. Dia memotong cabe rawit, sayuran, sampai memecahkan telur, dan merebusnya dengan sempurna. Semua dilakukan sendiri dengan timing yang pas, tanpa tergesa-gesa. Seolah peralatan dapur sudah jadi hal biasa buatnya.
Bangga juga Rhea melihat Sagas yang beradaptasi dengan cepat. Sagas yang selama ini hidup terkurung dalam menara seperti Rapunzel akhirnya bisa keluar dan menjalani kehidupan layaknya orang normal.
Bicara soal Rapunzel, Rhea jadi teringat pada buku yang dia pinjam beberapa waktu lalu dari perpustakaan. Buku dongeng Rapunzel yang Rhea rasa sangat cocok dengan Sagas.
Rhea merogoh tas ranselnya. Buku itu masih di sana. Tersimpan rapi di antara barang-barang Rhea yang lainnya.
"Gas, habis makan, mau baca buku bareng nggak?" Rhea menawarkan.
"Buku apa?"
"Ada. Buku yang cocok banget buat elo," jawab Rhea.
Sagas mengangguk. "Boleh."
Tak lama kemudian mi instan buatan Sagas matang. Rhea yang sedari tadi cuma santai-santai sambil merebahkan diri di sofa Sagas akhirnya duduk, tergugah oleh aroma mi instan.
"Thank you!" ucap Rhea.
Rhea kemudian mengambil garpu dengan tangan kirinya. Mau bagaimana lagi, tangan kanannya patah dan belum kembali fungsi normalnya.
Rhea sebenarnya cukup kesulitan melakukan kegiatan akhir-akhir ini. Dia harus melakukan apapun dengan tangan kirinya yang sama sekali tidak pernah dilatih. Istilahnya, Rhea dipaksa jadi kidal untuk sementara.
Makan pakai tangan kiri, menulis pakai tangan kiri, membawa barang pakai tangan kiri, bahkan mau pakai lipstick pun juga pakai tangan kiri. Menderita Rhea.
Rhea memutar-mutar mi instan di garpunya. Kemudian memasukkan mi itu ke dalam mulutnya. Remah-remah koya yang jadi bumbu tambahan mi instan rasa soto Lamongan itu terjatuh di meja karena tangan kiri Rhea relatif tidak stabil akibat belum terbiasa.
"Maaf, ya, Gas! Nanti gue beresin yang berantakan!" Rhea tidak enak.
Tanpa banyak bicara, Sagas mengambil garpu dari tangan Rhea. Dia juga mengambil mangkok berisi mi instan itu, dibawa mendekat ke arahnya.
"Eh? Mau dikemanain? Gue belum selesai makan!" ujar Rhea.
"Biar aku bantu," kata Sagas.
"B-b-bantu?" tanya Rhea memastikan pendengarannya.
Sagas mengangguk. "Iya, biar aku bantu. Mana enak makan begitu."
Sagas kemudian menyodorkan satu sendok berisi kuah di dekat mulut Rhea. Iya, Sagas sedang menyuapi Rhea. Sambil melakukan itu, mata Sagas tampak bersinar seperti lampu hias. Otomatis jantung Rhea berdegup cepat. Tak terkendali seperti badai di tengah lautan.
"G-gue bisa makan sendiri!" Rhea menarik dirinya, menjauh dari suapan yang disodorkan Sagas dengan sepenuh hati.
Namun Sagas tak mudah menyerah. Kalau Rhea menjauh, Sagas lah yang akan mendekat. Sagas tiba-tiba berdiri. Dia bergerak dan mengganti posisi. Dia duduk tepat di samping Rhea. Berbagi sofa yang tak terlalu luas itu. Sampai-sampai kaki Rhea menempel pada kaki Sagas. Meskipun terpisahkan oleh kain celana, tetap saja Rhea merasakan getaran tak biasa.
Seumur hidup tak pernah dia disuapi oleh laki-laki selain orang tuanya sendiri. Itupun terakhir kapan juga Rhea sudah lupa.
Rhea ingin melarikan diri saja saking gugupnya. Tapi Sagas yang tampak tulus itu membuat Rhea luluh juga. Tak tega kalau harus meninggalkan Sagas hanya karena kepengecutan Rhea.
Rhea akhirnya membuka mulutnya. Menerima suapan dari Sagas yang rasanya amat berbeda dengan suapan sendiri.
Jantungnya benar-benar hampir meledak ketika dia menerima suapan itu. Rasanya Rhea pengin mencak-mencak sekarang juga seperti kuda lumping. Rhea tak bisa merasa seperti ini terus-menerus.
Maka dari itu, Rhea merampas kembali mangkok mi instannya. Menyelamatkan dirinya sendiri sebelum mati kejang-kejang karena overdosis pesona Sagas.
Kan nggak lucu kalau besok pagi nama Rhea muncul dimana-mana, jadi trending topic karena ditemukan mati kejang-kejang setelah makan mi instan. Bisa-bisa mi instan kesayangannya lah yang dituduh jadi biang keladinya.
Ketika Rhea dan Sagas usai makan, jam sudah menunjukkan pukul 10. Tampaknya niat mereka mau membaca buku bersama harus ditunda dulu karena malam sudah larut. Bisa-bisa induk semang Rhea ngomel kalau Rhea pulang kelewat malam.
"Gas, gue pulang dulu, ya!" pamit Rhea.
"Lho? Katanya mau baca buku bareng?"
Rhea menyerahkan buku yang sudah lama dia simpan di dalam tasnya itu kepada Sagas.
"Ini, lo baca dulu sendiri. Nanti kalau ada yang nggak ngerti, kasih tau gue ya? Gue harus pulang sebelum dimarahin ibu kos!" ujar Rhea.
Sagas mengangguk mengerti. Dia kemudian mengantar Rhea sampai depan pagar rumahnya.
"Udah sana masuk! Mau apa lagi?" tanya Rhea ketika tau bahwa Sagas menempel di pagar rumahnya dan tidak langsung kembali masuk.
"Aku mau tungguin kamu. Aku lihatin dari sini sampai kamu masuk ke rumah," kata Sagas.
"Ih, apaan sih! Norak banget tau!" seru Rhea.
Tapi diam-diam pipinya merona merah. Rhea hanya terlalu malu.
"Norak?"
Rhea mengangguk.
"Nggak apa-apa norak, yang penting aku bisa lihat kamu sampai di rumah dengan selamat," sahut Sagas, sama sekali tak marah meski disebut norak oleh Rhea.
Dari pada berdebat semalam suntuk dengan Sagas perkara sepele begini, Rhea akhirnya mengalah. Tubuhnya juga sudah lelah. Apalagi perutnya sudah kenyang begini. Fisik dan mental Rhea sudah minta diajak beristirahat di atas kasur empuknya.
Rhea menoleh di tengah perjalanannya menuju indekos. Sagas masih di sana, berdiri di depan rumahnya sambil menatap punggung Rhea yang menjauhinya.
Begitu melihat Rhea menoleh ke arahnya, Sagas melambaikan tangan dengan ekspresi gerak yang amat lebar. Mengundang tawa dari Rhea. Rhea tak bisa menahan rasa gemas yang meletup-letup di benaknya ketika melihat Sagas. Rasanya seperti sudah jadi reaksi alami dari tubuh Rhea.
Apapun itu, Sagas lagi-lagi memberinya kedamaian luar biasa. Hanya dengan hal-hal kecil yang mungkin orang rasa terlalu sederhana.
***
Keadaan Nyonya Laras tampaknya sudah semakin membaik. Dia tampak lebih bisa mengendalikan diri dan perasaannya. Dia tak bereaksi berlebihan lagi ketika melihat Sagas pulang ke rumah hari ini. Terapi yang dia jalani mulai membuahkan hasil walau perlahan-lahan.
Melihat Nyonya Laras jadi lebih tenang begitu membuat Rhea paham kenapa Bu Dersa melakoni pekerjaan ini. Rasanya ada rona-rona bahagia ketika melihat seorang pasien yang tadinya parah jadi lebih baik begitu.
Kini Nyonya Laras dan Sagas sedang minum teh di rumah kaca. Sambil ngobrol dan bercerita tentang ini dan itu. Tentu saja Sagas banyak menceritakan mengenai kehidupannya di luar sana. Kehidupan baru yang dia alami dengan tangan dan kakinya sendiri tanpa dekapan ibu.
"Gimana? Kamu masih benci psikologi?" tanya Bu Dersa.
Rhea hanya bisa tersenyum, dia terlalu bingung harus menjawab apa. Dari awal mungkin dia bukannya benci pada psikologi. Tapi benci pada alasan yang membuatnya masuk ke jurusan psikologi.
Rumit. Dia sendiri tak paham bagaimana perasaannya mengenai psikologi untuk saat ini. Dia tak tau apakah dia tertarik atau tidak.
Bu Dersa seolah bisa memahami perasaan Rhea. Seolah berusaha jadi teman untuk Rhea tanpa berniat menggurui, Bu Dersa menepuk pelan bahu perempuan itu.
"Nggak apa-apa, Rhe. Kamu itu masih muda. Nggak perlu buru-buru. Kamu punya waktu seumur hidup kamu buat cari tahu sebenarnya kamu mau apa. Sekarang jalani aja dulu, tapi lakukan yang terbaik. Biarpun kalau nanti kamu nggak di psikologi, kamu jadi nggak akan menyesal karena sudah melakukan yang terbaik. Nggak usah tertekan, ya, Rhe," kata Bu Dersa.
Seandainya semua orang bisa sepaham Bu Dersa, dunia akan jadi tempat yang indah dan damai. Tidak akan ada yang namanya pertikaian karena intoleransi atau salah paham.
"Terima kasih, Bu."
"Kamu nggak apa-apa kerja gini sambil patah tangan? Nggak mau cuti dulu?" Bu Dersa menawarkan.
Rhea menggeleng. "Nggak apa-apa, Bu. Nanti gaji saya dipotong kalau saya nggak masuk!"
Bu Dersa tertawa. "Ucapanmu ini lho bikin saya kelihatan kayak atasan yang pelit! Tapi emang bakal dipotong, sih, kalau nggak masuk kerja. Rugi bandar yang ada saya!"
"Sagasta bagaimana menurut kamu? Dia ada gejala-gejala kecemasan gitu nggak?"
"Sejauh yang saya amati masih belum ada, sih, Bu."
"Oke. Terus diamati, ya, Rhe. Jangan sampai dibiarin sendiri Sagas. Saya yakin dia juga punya masalahnya sendiri. Efek dari masalah belasan tahun lalu itu."
Bu Dersa benar. Sagas pasti punya lukanya sendiri. Luka yang mungkin belum pernah dia tunjukkan pada siapapun itu.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Rhea jadi memikirkan kata-kata Bu Dersa. Rhea jadi yakin kalau Sagas sepertinya sama sekali tidak baik-baik saja.
Bibir Sagas yang selalu tersenyum itu bisa jadi adalah usaha keras untuk menutupi apa yang dirasakannya.
Rhea menghela napas panjang. Bahkan setelah jadi teman pun, Sagas tetap jadi misteri buat Rhea. Sagas seperti kumpulan potongan puzzle buat Rhea, butuh waktu dan kesabaran untuk menyusunnya sampai jadi satu gambaran penuh.
"Rhe," panggil Sagas.
"Hah?"
"Kamu kenapa ngelamun aja dari tadi?" tanya Sagas.
"Ah ... enggak kok! Aku cuma ngantuk!" Rhea berbohong.
Sekarang Sagas dan Rhea sedang berjalan kaki. Tadinya mereka diantarkan oleh Bu Dersa menggunakan mobilnya. Tapi Sagas tiba-tiba minta diturunkan di depan komplek. Katanya biar bisa jalan-jalan singkat sebelum tidur. Olahraga ringan, katanya.
Rhea sama sekali tak keberatan. Tak ada buruknya juga jalan kaki begini. Toh beberapa hari lalu dia juga harus jalan kaki cukup jauh ke rumah Dextra.
"Lain kali kayaknya kita harus coba naik bus deh, Rhe. Aku penasaran," ucap Sagas.
Rhea mengangguk setuju. "Boleh! Ide bagus!"
"Ah iya, buku itu udah lo baca?" tanya Rhea.
"Belum."
"Kenapa emangnya? Belum sempet?"
"Enggak. Aku pengin baca bareng kamu aja. Jadi kalau kamu punya waktu, ayo baca buku bareng-bareng," sahut Sagas.
"Oke. Gue lihat jadwal dulu tapi." Rhea mengibaskan rambutnya, centil. Sok-sok sibuk begitu. Padahal Rhea mana pernah sibuk sih. Paling-paling kerjanya cuma pergi kuliah, jadi asisten Bu Dersa, jadi babu Dextra kadang. Itu-itu saja. Selebihnya Rhea punya waktu luang. Belajar aja nggak pernah.
Eh tapi akhir-akhir ini Rhea lumayan juga. Dia rajin mengerjakan tugas karena tidak mau dipecat Bu Dersa.
Deg! Jantung Rhea rasanya nyaris copot ketika melihat seorang laki-laki berdiri di depan rumah Sagas. Laki-laki berkemeja denim itu melambaikan tangannya begitu melihat Rhea. Matanya berubah mendelik beberapa detik kemudian.
"Mbak Rhe! Tangannya kenapa?"