Rhio

2035 Kata
Rhionino Adiwasesa adalah namanya. Laki-laki dengan kemeja denim dan dalaman kaus oblong berwarna putih itu adalah adik satu-satunya dari Rheanina Kataleyya. Sekarang ini masih SMA kelas 3 dan entah kenapa tiba-tiba muncul di Jakarta dengan wajah tak berdosa. "Kamu ngapain di sini?" tanya Rhea begitu melihat Rhio ada di depan rumah Sagas. "Ih, tangan mbak kenapa? Jawab dulu!" ujar Rhio sambil menunjuk tangan Rhea yang terbalut gips. "Kamu yang jawab dulu!" "Aku nanya duluan!" Rhio tak mau kalah. Rhea menghela napas panjang. Mengumpulkan pundi-pundi kesabaran. Tidak seperti Kak Ros yang selalu menang melawan Upin dan Ipin, Rhea tak pernah menang melawan adiknya itu. "Patah tangan mbak. Puas?" "Hah? Kok bisa?" Rhio shock. Rhea dan Rhio adalah sepasang adik dan kakak yang cuma beda tepat dua belas bulan. Iya, waktu Rhea berumur 3 bulan, ibunya hamil lagi. Karena perbedaan umur yang amat tipis itulah Rhea dan Rhio selalu bertengkar seperti dua atlet karate yang bertemu di arena pertandingan kalau bertemu. Ada saja yang diributkan setiap hari. Sebelas dua belas dengan hubungan adik kakak orang lain. Tapi meskipun begitu, mereka sebenarnya sama-sama saling peduli meski terlalu gengsi untuk mengakui. Misalnya sekarang ini, muka Rhio langsung pucat pasi mendengar kalau kakaknya itu patah tangan. "Gak sampai patah kok! Retak doang. Bentar lagi juga sembuh! Aku jatuh," kata Rhea. Rhio mengerutkan dahinya. "Kok mbak gak cerita sama Rhio sih? Ibu sama bapak tau?" "Nggak tau. Makanya tutup mulut kamu!" ujar Rhea. Rhio cuma bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Terus kamu ngapain di sini?" "Main. Aku udah libur. Mau main di sini sebulan." Rhio menunjuk koper besar berwarna abu-abu yang tergeletak di jalan. Kini gantian Rhea yang geleng-geleng kepala. "Mau tinggal dimana kamu?" "Di kosan mbak lah!" "Ngawur! Itu kos khusus cewek ya! Kamu mau kita digrebek gara-gara dikira kumpul kebo?" sahut Rhea. Rhio kemudian menggeliat seperti cacing yang habis disiram air garam. "Gila! Mana mau aku kumpul kebo sama manusia jadi-jadian kayak begini! Jijik!" Interaksi Rhea dan Rhio membuat Sagas tergelak. Sampai-sampai Rhio akhirnya sadar kalau kakaknya saat ini sedang bersama seorang laki-laki. "Ini siapa, Mbak?" tanya Rhio. "Temennya mbak," jawab Rhea, "Sagas kenalin ini adik gue namanya Rhio. Rhio, ini Sagas." Rhio menatap Sagas tajam. Meskipun Sagas polos, nyatanya dia tetap manusia normal yang bisa merasakan ketika seseorang memberikan aura tak bersahabat padanya. Seketika senyuman Sagas luntur seperti warna celana jins baru beli yang direndam sebelum dicuci. "Jangan mendelik-mendelik kamu, Rhio! Mau mbak colok matanya?" "Ini siapanya mbak? Yakin cuma temen? Keluar sampai malam begini! Berdua doang pula!" ujar Rhio. "Mau dia cuma temen mbak atau bukan, apa urusannya sama kamu? Mending kamu mikir sekarang kamu mau kemana? Nggak mungkin nginep di kosan mbak! Mau tidur di jalan?" sahut Rhea. "Ya enggak lah, Mbak!" ujar Rhio. Rhio kemudian menunjuk Sagas tepat di depan wajahnya. Benar-benar seperti manusia yang tak pernah diajari adab. Tentu saja memalukan buat Rhea, Rhio adiknya yang begitu kurang ajar bertemu dengan seorang Panji Sagasta Mahadierja yang tutur kata dan gerak-geriknya sebagus pangeran. Plak! Buru-buru Rhea menepis tangan Rhio dan memelototi adiknya itu. "Gak sopan! Kalau bikin malu mending balik ke Surabaya sana!" seru Rhea. "Apaan, sih, kok dibelain terus! Beneran pacar mbak ya!" tuduh Rhio. Rhea rasanya ingin memukul kepala Rhio dengan batu sekarang ini. Mulutnya selalu saja semudah itu bicara, tanpa dipikir-pikir dulu isinya. "Mbak lakban mulut kamu, nih, ya!" bentak Rhea. Memberi ancaman pada Rhio. Rhio menjulurkan lidahnya, mengejek Rhea yang sudah emosi melihatnya. "Ehm!" Sagas batuk, memberikan aba-aba agar Rhea dan Rhio berhenti bertengkar. Meminta izin agar diberi kesempatan untuk bicara. "Iya, Gas? Ada apa?" tanya Rhea. "Adik kamu ... kalau sementara tinggal di rumah aku aja gimana?" *** Rhio itu definisi absolut dari frasa 'manusia merepotkan'. Bahkan kalau bisa, Rhea ingin mengajukan kata Rhio sebagai kata ganti untuk menyebut manusia yang merepotkan. Karena posisinya sebagai anak bungsu, dia seringkali manja dan maunya dituruti semua permintaannya. Padahal orang tua Rhea sama sekali tak peduli mengenai posisi anak bungsu atau anak sulung. Semuanya diperlakukan dengan sama. Manja-manjanya Rhio tak pernah mempan buat orang tuanya. Itulah kenapa kalau butuh ini dan itu, Rhio lari pada Rhea. Rhea bahkan pernah bolos sekolah hanya karena Rhio merengek minta ditemani jalan-jalan melintasi Jembatan Suramadu ketika baru peresmian dulu. Iya, Rhio badannya besar tapi kelakuan mirip bocah. Kalau boleh jujur, sebenarnya Rhea sudah lama tak menghubungi Rhio. Sama seperti ibunya, kontak Rhio juga masuk ke daftar hitam di ponsel Rhea. Rhea jelas punya alasan untuk itu. Walaupun alasan itu sebenarnya tak cukup kuat untuk membuat Rhio masuk ke dalam daftar hitam. Saat ini Rhea bahkan lupa soal daftar hitam itu, yang dia khawatirkan sejak tadi malam adalah sikap dan perilaku Rhio yang kadang-kadang jauh dari kata tau diri. Kemungkinan Rhio merepotkan Sagas sangat-sangat besar. Rhea kenal kedua-duanya. Rhio tidak tau diri, sementara Sagas kelewat baik. Kalau disatukan, bisa berbahaya untuk Sagas. Rhea sama sekali tak tenang, rasanya seperti baru saja menyatukan harimau dan kelinci dalam satu kandang. Jelas Rhio adalah harimaunya, bisa memangsa Sagas sewaktu-waktu kalau dia mau. Itulah mengapa pagi-pagi begini Rhea sudah nangkring di depan rumah Sagas. Sebisa mungkin dia ingin mencegah Rhio dan sifat tidak tau dirinya. Biar nggak bikin Rhea kehilangan muka di depan Sagas. Tok! Tok! Tok! Rhea mengetuk pintu rumah Sagas. Tak begitu lama, Rhio membuka pintu. Penampilannyalnnya berantakan, terutama rambutnya yang berdiri seperti sarang burung walet. "Ngapain sih pagi-pagi ke sini, Mbak? Pakai ketok-ketok pintu segala lagi!" protes Rhio. Rhio memang sensitif dengan suara-suara begitu. Suara sekecil apapun bisa membuatnya terganggu dan terbangun dari tidur. Tak mempedulikan Rhio, Rhea menerobos masuk ke dalam rumah. Kemudian meletakkan dua bungkus bubur yang baru saja dia beli dari tukang bubur yang memang lewat depan rumah setiap hari. "Cepet mandi terus nyapu-nyapu, Rhio! Udah numpang di rumah orang tuh jangan males-males!" ujar Rhea. "Apaan sih! Ngatur-ngatur! Mbak kan bukan orang tua aku!" Pletak! Bicara dengan Rhio memang tidak bisa kalau cuma pakai mulut. Butuh pakai tangan juga biar pemuda itu sadar. "Kamu kalau bantah terus mending pulang ke Surabaya! Lagian kamu mau ngapain, sih, jauh-jauh ke Jakarta? Mau ngamen?" cecar Rhea. "Enggak lah! Aku mau lihat-lihat kampus impian aku!" ujar Rhio. "Emang mau masuk mana kamu?" "UI! Kayak Mbak Aalea!" Rhea mendengus. "UI? Yakin? Kamu perkalian aja nggak hapal!" "Sembarangan! Hapal kok!" bantah Rhio. Rhea lalu tersenyum meremehkan. "Oke kalau gitu, sembilan kali delapan? Kalau salah mbak gampar ya." "Enam puluh empat!" seru Rhio yakin. Plak! Hadiah sebuah tamparan di lengan mendarat mulus dari Rhea. Rhio mengeluh kesakitan karena merasakan nyeri yang menyengat di lengannya itu. "Sakit tau, Mbak!" pekik Rhio. "Biarin! Biar sadar diri! Mau masuk UI tapi belajar aja males!" ujar Rhea, "Udah cepetan mandi terus bersih-bersih!" Rhio cemberut tapi akhirnya menurut juga. Dia sebenarnya masih sangat mengantuk. Hanya saja berdebat dengan Rhea tak akan ada habisnya. Rhio pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil perlengkapannya dari dalam koper. Sementara itu Rhea memutuskan untuk mengintip Sagas sejenak di kamarnya. Rhea begitu terkejut ketika melihat Sagas terbaring di lantai hanya dengan beralaskan selimut tipis dan satu buah bantal. Jelas kaget. Sagas yang diperlakukan bak anggota kerajaan di rumahnya sendiri itu kini malah tertidur di lantai yang dingin. Rhea langsung mengetuk pintu kamar mandi. "Heh, Rhio! Kenapa Sagas tidur di bawah?" "Ya masa mau tidur di kasur sama gue? Najis!" "Kamu suruh dia tidur di bawah?" Rhea kaget. "Iya!" Memang benar. Rhionino Adiwasesa adalah definisi mutlak dari apa itu tidak tau diri. *** Rhea jadi ingat bagaimana Sagas memijat-mijat leher dan bahunya berulang kali tadu. Wajar saja, setelah tidur di lantai yang dingin dan tidak nyaman itu, sudah seharusnya badan Sagas terasa pegal di sana-sini. Rhea merasa tidak enak. Gara-gara Rhio yang tidak tau diri itu, Sagas jadi harus menderita. Kalau bisa, sudah Rhea pencet Rhio seperti memencet telur kutu. "Mbak, kamu nggak ada kegiatan kampus apa gitu? Ini weekend lho! Anak tetangga yang pada kuliah aja biasanya sibuk sama acara kampus kalau libur begini!" ucap Rhio. "Kamu bisa nggak sih tutup mulut aja? Mbak capek dengernya! Lagian kamu umur berapa, sih, pakai banding-bandingin mbak sama anak tetangga! Nanti kamu pas kuliah juga belum tentu bener!" Rhea tak terima. Padahal dia memang tidak punya kegiatan apa-apa di kampus. Ikut organisasi nggak, ikut unit keterampilan mahasiswa nggak, ikut grup belajar juga nggak. Rhea seperti satu kesatuan yang terpisah dari lingkungan kampus. Seperti sebuah entitas asing yang tak mau ikut campur dengan apapun yang berhubungan dengan kampus. "Lihat aja, aku bakal rajin pas kuliah! Nggak kayak Mbak!" sahut Rhio. "Iya, terserah! Buktiin kalau bisa! Jangan cuma di mulut doang!" Rhea, sih, cuma berharap Rhio tidak kejang-kejang setelah masuk ke dunia kampus nantinya. Rhio yang bahkan mengerjakan PR matematika lima biji saja mengeluh itu tidak akan kuat diterjang tugas kuliah. Model begini mau masuk Universitas Indonesia, jelas tertawa Rhea. Bukan maksud Rhea untuk menertawakan mimpi adiknya. Bagi Rhea, seorang manusia boleh memimpikan apa saja. Bahkan boleh mimpi menjelajahi alam semesta. Jelas mimpi masuk UI bukanlah sebuah mimpi yang aneh. Akan tetapi mimpi juga harus dibarengi usaha. Nah, kalau Rhio lain cerita. Dia banyak bermimpi, tapi usahanya seujung jari. Kalau begitu ceritanya, mana ada mewujudkan mimpi? Itulah mengapa Rhea berpikir bahwa manusia seharusnya bermimpi dengan mata terbuka. Dalam artian bukan cuma mimpi yang dikendalikan alam bawah sadar. Tapi mimpi yang dikendalikan penuh oleh diri kita sendiri. Mimpi yang diikuti dengan langkah-langkah strategis dan penuh pertimbangan. Mimpi yang dibarengi proses. Bukan cuma mimpi di siang bolong tanpa ada eksekusi. "Sudah sampai, Mbak." Rhea merogoh uang dari saku celananya kemudian memberikannya pada sopir taksi itu. Rhea dan Rhio kemudian turun. Mereka saat ini berada di UI. Iya, Rhio ngotot pengin lihat UI dengan mata kepalanya sendiri. Coba semangat belajarnya juga se-ngotot ini, Rhea tak akan pernah ragu pada Rhio dan mimpinya. Sepasang adik dan kakak itu lalu berjalan-jalan mengelilingi kampus. Dari fakultas satu ke fakultas lain. Rhio tak henti-hentinya melayangkan pujian kagum. Persis seperti orang tersesat yang baru keluar dari hutan setelah berpuluh-puluh tahun lamanya. Padahal di Surabaya juga banyak kampus-kampus terkenal. "Memang kenapa kamu mau masuk UI?" tanya Rhea. "Mau aja! Keren!" seru Rhio. "Mau ambil jurusan apa?" tanya Rhea lagi. "Psikologi," jawabnya. Rhea mengerutkan dahi. Pasalnya Rhio dan psikologi adalah dua kombinasi yang tak pernah Rhea bayangkan sebelumnya. "Hah? Psikologi? Bukannya dulu kamu tertarik yang teknik-teknik gitu ya?" Rhio mengangkat bahu. "Ya ... manusia bisa berubah! Psikologi nggak kalau keren dari teknik!" "Oke, terserah. Tapi kalau kamu mau masuk UI, belajar yang bener. Saingan kamu bukan cuma anak satu sekolah doang, tapi satu negara!" ujar Rhea, "Kalau main-main, ya, siap-siap aja kegusur!" "Eh, tapi kalau kamu masuk psikologi, bukannya lintas jurusan ya, Rhi? Kamu kan anak IPA!" "Makanya aku udah mulai belajar SBMPTN! Buat lintas jurusan!" Rhio terdengad amat bangga dengan usahanya. Seolah belajar SBMPTN adalah sebuah pencapaian besar buatnya. Tapi ungkapan itu tak sepenuhnya salah. Rhio belajar saja sudah seperti dapat mukjizat dari Yang Maha Kuasa. Apalagi belajar SBMPTN. "Kalau gitu besok mau ke rumah Aalea nggak? Sebagai anak UI, dia pasti punya tips buat kamu," ucap Rhea. Rhio mengerutkan keningnya. "Tumben banget mbak baik pakai nawarin segala!" Rhea mendengus. "Ya udah kalau nggak mau, nggak usah!" "Eh! Siapa juga yang bilang nggak mau! Mau lah! Dengan senang hati malah!" "Boleh, tapi ada syaratnya!" "Syarat apa lagi, Mbak? Nggak ikhlas itu namanya!" "Bukannya nggak ikhlas!" "Ih, itu namanya nggak ikhlas!" Rhea naik darah. Kalau dia adalah kartun, pasti sang pencipta sudah menggambarkan Rhea dengan wajah merah dan keluar asap dari telinga serta tanduk di kepala. Seperti banteng yang siap menyeruduk Rhio kapan saja. "Ya udah nggak jadi!" Rhea merajuk. "Eh, iya, iya! Ngambekan nih! Udah tua juga! Ya udah, apa syaratnya?" "Syaratnya satu, jangan buat malu Mbak! Kamu selama tinggal di rumah Sagas jangan males! Bantu dia bersih-bersih rumah! Terus jangan suruh dia tidur di bawah gitu! Kamu aja mending yang tidur di bawah!" Rhio mentapa Rhea tak percaya. "Bisa-bisanya mbak nyuruh aku tidur di bawah! Lagian bukan aku yang maksa dia tidur di bawah kok! Dia sendiri yang langsung bilang iya waktu aku minta!" Pletak! Jitakan sekali lagi meluncur ke dahi Rhio. "Ya itu namanya kurang ajar! Nggak tau terima kasih! Udah ditumpangi malah nyuruh yang punya tidur di bawah!" "Ih! Lagian temen mbak yang namanya Sagas-Sagas itu nggak bisa tidur kok semaleman! Dia bolak-balik mondar-mandir dan baru bisa tidur jam 5 tadi!" "Hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN