Adik

2033 Kata
Gara-gara keterangan Rhio, Rhea jadi menerka-nerka. Membayangkan apa yang mungkin saja terjadi pada Sagas selama ini. Sisi lain Sagas yang sama sekali tak Rhea ketahui. Sagas yang kata Rhio tak bisa tidur semalaman itu membuat Rhea terusik. Rhea sudah berusaha berpikir positif. Mungkin saja Sagas tak bisa tidur karena kehadiran orang asing di kamarnya. Mungkin juga tak bisa tidur karena keras dan dinginnya keramik di malam hari. Tapi seperti hal lain yang ada di dunia ini, yang negatif lebih mudah melekat dibandingkan yang positif. Sama seperti kejahatan yang lebih mudah dilakukan dibandingkan kebaikan. Brak! Rhea tanpa sadar menggebrak meja, saking overthinking-nya. Sampai-sampai Dextra yang sedang menyiapkan slide presentasinya kaget bukan kepalang. "Kenapa lo? Kesambet?" tanya Dextra. "Eh, nggak. Gue cuma kepikiran sesuatu." Rhea meringis. Dextra cuma bisa geleng-geleng kepala. Setelah presentasinya tertampil di layar proyektor yang dia pinjam dari temannya, Dextra berdiri tepat di depan Rhea. "Udah siap?" tanya Dextra lagi. "Udah." Rhea mengangguk sekenanya. "Selama lima belas menit kedepan, gue harap lo cuma fokus sama gue, Rhe. Gue nggak terima kalau lo beralih dari gue sedetikpun. Kalau itu terjadi, bakal gue ulang lagi presentasinya dari awal sampai lo enek sendiri!" ujar Dextra bernada mengancam. "Iyaaaa!" Rhea geram sendiri mendengar Dextra. Pasalnya tadi melalui pesan singkat, Dextra bilang kalau dia minta tolong pada Rhea untuk mendengar presentasinya dan memberi kritik kalau ada yang kurang. Tapi setelah dengar kata-katanya barusan, ini jelas bukan permintaan tolong. Melainkan sebuah pemaksaan. Rhea harusnya tidak heran lagi. Dextra, kan, sejak awal memang bossy. Salah dirinya sendiri juga yang membuat masalah dengan Dextra sampai harus rela jadi babunya. Untung masa-masa Rhea jadi babu sudah hampir berakhir. Sebentar lagi hutang Rhea akan lunas. Dan Rhea akhirnya bisa terlepas dari seorang diktator bernama Dextra. Dextra mulai mempresentasikan hasil penelitiannya. Dia kelihatan sangat serius dan profesional meski katanya cuma gladi kotor. Sudah seperti sidang di depan dosen penguji sungguhan. Rhea berusaha mendengarkan untaian kata dari mulut Dextra dengan saksama. Bahkan hanya dengan mendengar, rasanya Rhea muak. Ada bahasan tentang statistika, SPSS, analisis, kaji etik, ini dan itu yang Rhea tak pahami. Belum lagi tempo bicara Dextra yang cepat seperti sedang beradu dengan kecepatan kereta api ekspres. Rhea cuma bisa manggut-manggut. Pura-pura mengerti saja walau kenyataannya kosong. Dari pada disuruh mendengarkan dari awal lagi, yang ada meledak kepala Rhea. "Baik, begitu saja pemaparan hasil penelitian saya. Terima kasih. Selebihnya saya kembalikan pada dosen pembimbing." Dextra menutup presentasinya. Rhea langsung berdiri dan memberikan standing applouse yang amat kencang. Tentu saja bukan bertepuk tangan karena tangannya masih patah. Rhea menepukkan tangan kirinya di paha. Jadi bisa dibilang suara tepukannya agak deformitas. Namun Rhea berusaha memberi apresiasi sedramatis mungkin. Biasalah, menyenangkan si bos. Sejenis karyawan-karyawan penjilat atasan yang minta gajinya dinaikkan. Bedanya Rhea tak punya gaji sejak awal. Gajinya sudah dialokasikan untuk membayar hutang. "Bagus!" ujar Rhea. "Apa yang kurang?" "Nggak ada. Sempurna!" Padahal Rhea aslinya tidak paham dengan konteks presentasi Dextra. Lgi pula tampaknya Dextra yang salah. Harusnya dia cari teman sekelasnya untuk jadi pendengar begini. Pasti lebih paham apa yang kurang. Iya, biarpun sama-sama mahasiswa, nyatanya Rhea ini anak psikologi yang basic-nya ilmu sosial. Sementara Dextra adalah anak kedokteran yang basic-nya ilmu pengetahuan alam. Mana nyambung? Apalagi Rhea ini mahasiswa abal-abal. Mengerjakan tugas jarang, tidak pernah belajar, sering bolos pula. Topik ilmiah begini terlalu berat buat kepalanya. Tidak menarik sama sekali. Rhea mending diajak diskusi tentang sastra dan puisi. Dextra tampak skeptis dengan jawaban Rhea. "Lo nggak serius dengerin gue, ya?" tuduhnya. "Ih, nggak gitu! Gue tuh dengerin tapi nggak ngerti! Lo tau sendiri gue ini mahasiswa yang cukup problematik!" seru Rhea. Dextra menghela napas panjang. "Ya udah, terserah! Gue laper! Ayo makan di luar aja!" *** Dextra memilih beli makanan di salah satu restoran cepat saji paling terkenal di Indonesia. Itu, lho, yang ikon restorannya gambar kakek-kakek tua berjenggot dengan d******i warna merah. Pasti tau, kan? Iya, restoran yang inisialnya K itu. Nama restorannya cuma tiga huruf. Dextra pesan satu paket ayam dan nasi disertai bonus minuman berkarbonasi. Sementara Rhea pilih beli burger ayam varian paling baru dari restoran itu dan satu cup es krim vanila bersaus cokelat sebagai pencuci mulut. Untuk minumnya, Rhea bawa air putih dari indekos. Bisa hemat uang sekalian. Sebelum makan burger, Rhea menyisihkan tomat dari dalam burgernya. Buat Rhea, tomat itu rasanya aneh. Mau mentah ataupun tidak. Tomat cuma cocok berada di dalam sambal atau saus kalau menurut Rhea. Tidak untuk dimakan secara terpisah sebagai hidangan. "Lo menyisihkan bagian paling enak dan sehat dari burger?" tanya Dextra tak percaya. "Enak?" Rhea menaikkan alisnya, "Bahkan kalau di dunia ini semua makanan musnah dan cuma ada tomat, gue milih mati kelaparan." Dextra geleng-geleng kepala. "Tapi kan mubadzir! Banyak juga orang yang gak bisa makan di dunia ini! Dan lo sia-siain makanan gitu!" Rhea mendengus. Jadi merasa bersalah karena pernyataan Dextra menggiringnya. "Ih! Tapi kalau gue nggak suka mau gimana lagi?" tanya Rhea. "Alasan lo nggak suka tomat tuh kenapa? Kapan terakhir kali lo makan tomat emangnya?" tanya Dextra detail. Rhea mengingat-ingat kembali titik awal kebenciannya pada tomat. Kalau ditarik mundur, mungkin kebenciannya pada tomat berasal dari kejadian ketika Rhea berumur 7 tahun. Waktu itu usaha orang tua Rhea sedang berada di titik terendah. Saking parahnya, cuma ada tomat sisa jualan di rumah. Jadi untuk bekal ketika sekolah, Rhea dan Rhio dimasakkan tumis tomat oleh ibunya. Rhea dan Rhio satu sekolah waktu itu. Masih sama-sama SD dan pemilih makanan layaknya anak-anak lain. Namun Rhea saat itu sudah mulai paham kalau keluarganya sedang berada dalam kondisi ekonomi yang buruk. Rhea tau bahwa mengeluh bukanlah solusi yang tepat. Meski tidak enak, Rhea menghabiskan bekal miliknya sampai bersih karena tak mau ibunya merasa kecewa dan bersedih. Namun di perjalanan pulang sekolah, Rhea melihat bahwa kotak bekal Rhio masih penuh. Tidak dimakan, bahkan disentuh pun tampaknya tidak. Rhea rasanya ingin marah pada Rhio. Akan tetapi Rhea tidak tega. Rhea akhirnya meminta Rhio untuk pulang lebih dulu. Sementara bekalnya dia tukar dengan milik Rhio. Bekal Rhio yang masih penuh itu dia makan di pinggir jalan meski perutnya sendiri sudah kenyang dan lidahnya sudah muak dengan rasa dari tomat. Rhea yang masih amat kecil memaksa dirinya sendiri untuk menghabiskan tumis tomat itu agar ibunya tak kecewa dan bersedih. Rhea berulang kali hampir muntah, tapi tetap saja dia paksa sampai bekal itu habis. Sepertinya sejak hari itu lah Rhea tak mau makan tomat lagi. Bisa dibilang apa yang menimpanya ini sejenis trauma. "Ada, deh! Ada alasannya pokoknya!" ujar Rhea. "Iya, tapi kapan terakhir kali lo makan tomat?" tanya Dextra. "Pas umur gue 7 tahun." "Nah, kan. Kasih kesempatan lagi lah buat tomat! Tomat juga berhak dikasih kesempatan! Bisa jadi persepsi lo tentang tomat pas umur 7 tahun dan sekarang tuh udah beda jauh!" ujar Dextra. Dengan kata-kata itu, Dextra menyodorkan kembali kertas berisi tomat yang sudah susah-susah Rhea sisihkan. Tapi Rhea malah buang muka. Pura-pura tak mendengar dan melihat Dextra. Dextra akhirnya menyodorkan tomat itu di depan mulut Rhea. Bau tomat langsung menguar di hidung Rhea. Lagi-lagi menariknya masuk ke memori belasan tahun lalu itu. Plak! Tiba-tiba sesuatu menghempas tangan Dextra. Sampai-sampai tomat yang dia pegang terjatuh di meja. Tangan Dextra dipukul oleh seorang laki-laki berkemeja flanel. "Rhio?!" "Apa-apaan, sih, lo? Ngapain maksa kakak gue makan tomat?" bentaknya. Ada Aalea bersama Rhio. Bahkan Aalea juga kaget sendiri mendengar Rhio yang mendadak jadi agresif begini. Bukan cuma Aalea, perhatian seisi restoran juga tertuju pada Rhio. "Apa-apaan, sih, kamu? Bikin malu!" bisik Rhea. Tadi pagi memang Aalea menjemput Rhio untuk dibawa jalan-jalan sekalian konsultasi tentang UI. Tapi Rhea tak menyangka akan bertemu secara kebetulan begini dengan Aalea dan Rhio. Histeris pula Rhio cuma gara-gara tomat. Bikin malu saja. "Ini siapa?" tanya Dextra yang tak kalah kaget. "Adik gue," ucap Rhea. Aalea melarikan diri untuk pesan makanan. Sementara Rhea menyuruh Rhio untuk duduk di sampingnya dan menenangkan diri. "Dextra, ini Rhio adik gue. Rhio, ini Dextra temen mbak. Cewek yang tadi itu Aalea, sepupu gue. Kayaknya lo pernah ketemu dia deh sebelumnya." Rhea akhirnya mengenalkan Rhio dan Aalea pada Dextra. Rhea menyenggol Rhio dengan sikunya. "Minta maaf sana! Kamu udah mukul Dextra seenak itu! Pakai teriak-teriak segala pula!" Rhio mendengus lalu buang muka. "Maaf." Dextra tertawa. Aalea kembali dengan makanan miliknya dan Rhio. Kemudian duduk di samping Dextra karena itulah satu-satunya bangku yang tersisa. "Hai, gue Aalea, sepupunya Rhea!" Aalea memperkenalkan diri. "Iya, gue udah denger dari Rhea. Kenalin, gue Dextra, tapi kalau buat Rhea gue bisa dipanggil Anan juga." "Apanya Rhea?" tanya Aalea. "Pacarnya," jawab Dextra enteng, "Iya, kan, Nina?" Lagi. Dextra dan skenarionya tentang Anan dan Nina yang tak berujung itu muncul lagi. Rhea mendengus. "Rhio, mending kamu hajar aja deh manusia ini. Mbak ikhlas." *** "Makasih karena udah ajakin Rhio jalan-jalan, ya, Aal," ucap Rhea. "Oke. Seneng kok gue, kebetulan lagi senggang juga gue. Besok-besok kalau mau jalan lagi tinggal panggil gue aja. Semoga berhasil masuk UI, ya, Rhi! Kalau mau tanya-tanya telepon aja. Gue pulang dulu!" Setelah berpamitan, Aalea pulang dengan mobil pacarnya yang dia pinjam seharian itu. Tersisa Rhea dan Rhio yang kini berdiri tepat di depan indekos. "Gimana? Seneng kamu ketemu Aalea? Ngobrolin apa aja?" "Seneng lah! Mbak Aalea ngasih saran banyak banget buat masuk UI!" jawab Rhio. Rhea turut senang melihat Rhio senang. Mereka kemudian berjalan berdua menuju rumah Sagas dengan tempo lambat. Rhea teringat kembali soal insiden tomat dan agresivitas Rhio di restoran cepat saji tadi. Rhea jadi bertanya-tanya kenapa Rhio seheboh itu meski tak tau apa masalahnya dengan jelas. "Rhi, kamu kenapa marah?" tanya Rhea. "Hah? Kapan aku marah?" "Tadi. Kamu sampai mukul tangan Dextra," kata Rhea. "Aku? Marah? Enggak kok!" ujar Rhio membantah. Gengsi saja Rhio mau mengakui kalau dia memang marah tadi. "Lagian cowok itu siapa? Beneran pacar mbak? Terus Mas Sagas siapa? Pacar mbak yang kedua apa gimana?" semprot Rhio. "Sembarangan kamu! Memang mbak perempuan macam apa sampai punya pacar dua?" seru Rhea. "Iya, jadi yang mana pacar mbak? Aku, sih, lebih suka Mas Sagas! Kalem dan baik hati! Nggak banyak cing-cong kayak cowok yang tadi juga!" ujar Rhio. "Bukan dua-duanya!" bantah Rhea. Rhea sama sekali tidak berbohong. Keduanya memang bukan pacar Rhea. Meski Rhea tau kalau Sagas suka padanya, bukan berarti mereka sedang menjalin hubungan semacam itu juga. Rhea bahkan tak paham mengenai perasaannya sendiri. Rhea kadang berdebar karena Sagas. Tapi Rhea tak yakin apakah itu adalah alasan yang cukup kuat untuk memulai sebuah hubungan yang bernama pacaran. Bahkan tanggung jawab dalam hubungan pertemanan saja menurut Rhea sudah besar. Apalagi pacaran? Entah seberat apa gelar pacar sebenarnya. Rhea juga belum pernah mencoba. Entah kapan akan mencoba. "Ih, jangan mengalihkan pembicaraan deh, Rhi! Mbak tuh nanya kenapa kamu marah! Jangan malah nanya siapa pacar mbak! Lagian apa pentingnya buat kamu?" Rhio cemberut. "Penting lah! Rhio juga mau tau kehidupan mbak di sini tuh gimana! Mbak udah lama banget nggak kontak sama Rhio! Bahkan kalau Rhio telepon aja nggak pernah bisa!" Rhea menghela napas panjang. Tak bisa jawab apa-apa lagi karena memang begitulah kenyataan yang terjadi. Rhea dan Rhio memang sudah lama tidak saling bertanya kabar satu sama lain. Semuanya karena kemarahan Rhea yang bahkan bukan karena Rhio penyebabnya. "Bukan cuma kamu kok! Semua orang dari Surabaya, nggak ada yang mbak hubungi," cicit Rhea. "Tau aku, Mbak! Aku juga paham kenapa mbak begitu. Makanya aku nggak marah sama sekali. Tapi tolong, bisa nggak mbak seenggaknya kasih kabar ke aku sebulan sekali atau satu semester sekali. Kabarin kalau mbak baik-baik aja," ucap Rhio. "Iya, iya! Maafin mbak!" ujar Rhea. Rhea sadar bahwa perilakunya yang ikut melibatkan Rhio adalah sebuah hal yang berlebihan. Tidak seharusnya begitu. Rhio bukanlah pusat dari masalah Rhea. Malah mungkin Rhio lah satu-satunya orang yang paham dan peduli soal situasi Rhea. "Tapi sejak kapan kamu sedewasa ini, sih, Rhi? Biasanya juga tukang ngambek!" seru Rhea. Rhio menyisir rambutnya yang cepak. "Siapa dulu? Rhio gitu!" "Iya, iya, terserah!" "Tau nggak kenapa tadi aku marah? Karena aku tau Mbak nggak suka tomat. Gara-gara itu juga aku jadi inget waktu kita masih kecil dulu. Mbak makan tomat bekal dari ibu di pinggir jalan. Mbak waktu itu suruh aku pulang, tapi aku sebenernya nungguin Mbak dan ngintip dari jauh. Aku lihat mbak makan sampai pengin muntah. Bukti kalau mbak sayang banget sama ibu waktu itu. Tapi sekarang ... ah, udahlah. Aku nggak akan menghakimi karena aku bisa paham kenapa mbak benci ibu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN