Tepat dua minggu lamanya. Rhea masih saja mengunjungi perumahan mewah itu tiap pulang kuliah. Ia selalu duduk di bangku yang sama, menatap rumah kaca itu dengan harapan yang sama dan perasaan yang juga sama. Rutin, tanpa pengecualian.
Pemuda itu juga selalu sama, ia selalu muncul di rumah kaca, dan melakukan apa-apa yang ia mau. Sesekali waktu ia melukis, di waktu lain ia hanya berdiri sambil menerawang ke luar jendela, ada juga saat dimana ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Rhea jadi makin penasaran. Kalau saja Rhea tau siapa namanya, pasti Rhea sudah mencari seluruh sosial medianya.
Laki-laki itu menjelma jadi mahakarya Tuhan paling indah di alam semesta. Setidaknya di mata Rhea. Ia bertanya-tanya, apakah hanya dirinya yang merasa serupa?
Bagaimana bisa orang tidak jatuh pada kedipan matanya yang berkilauan? Bagaimana bisa orang tidak tersentuh pada geraknya yang lebih lembut dari angin dan lebih tenang dari samudera? Bagaimana bisa orang tidak terpanah pada garis wajahnya yang meliuk-liuk bagai lukisan paling sempurna di alam semesta?
Rhea tau apa yang dilakukannya ini sedikit gila. Ya, duduk di depan rumah orang dan menatap orang yang bahkan tidak ia tau namanya sungguh gila. Bahkan mirip orang m***m atau psikopat yang sedang menentukan targetnya. Tapi Rhea tak bisa berhenti melakukannya. Ia tak bisa menahan hasrat untuk melihat pemuda itu. Bahkan meskipun satpam-satpam di rumah itu sudah memberikan tatapan penuh curiga.
Rhea sendiri tak tau mengapa ia ingin melihat pemuda itu terus-menerus. Awalnya Rhea pikir ia akan bosan dalam beberapa hari. Hanya saja, hingga saat ini, ia belum merasakan hal itu.
Selalu ada perasaan damai yang timbul tiap kali Rhea melihat pemuda itu. Apapun yang dilakukannya. Rhea tau perilakunya ini aneh dan tidak bisa dibiarkan. Tapi entah mengapa hati kecilnya selalu memberikan pembelaan. Itulah mengapa Rhea datang jauh-jauh ke rumah Aalea. Ia hanya ingin menyadarkan dirinya secara penuh bahwa tindakannya salah dan tak seharusnya diteruskan.
"Ayo ndang dipangan. Ojo isin-isin, Rhe!" (Ayo cepat dimakan. Jangan malu-malu, Rhe!)
Begitu ucap ibu Aalea setelah meletakkan lima piring dengan menu berbeda di atas meja. Rhea menganga, sudah lama rasanya ia tidak merasakan masakan rumah.
"Tolong jangan bicara bahasa yang aku nggak ngerti lah, Bu!" protes Aalea. Ibunya berdecak.
Rhea baru saja hendak mengambil nasi ketika ia tiba-tiba menyadari tatapan tidak suka dari Aalea.
"Apa?" sahut Rhea ketus.
"Gue yang harusnya nanya, ngapain lo ke sini?" tanya Aalea. Ia melirik Rhea curiga. Wajar kalau curiga, Rhea yang tidak pernah ke rumahnya mendadak berkunjung begini, kan, agak lucu.
"Lah, emang nggak boleh? Lo aja tiap hari ke kos-kosan gue. Gedor-gedor nggak berperikepintuan!" seru Rhea.
"Mending makan dulu. Berantemnya nanti," kata Ibu Aalea. "Lagian kamu tuh aneh, Aal! Sepupu main kok nggak seneng begitu!"
"Dengerin noh!" ledek Rhea.
"Bukannya gitu, Bu. Tapi gelagat Rhea ini memang mencurigakan. Udah empat bulan dia tinggal di Jakarta, dan nggak pernah main ke sini sama sekali. Tapi sekarang tiba-tiba mau main? Pasti ada maunya, Bu," tuduh Aalea.
Ibu Aalea menggeleng singkat lalu meninggalkan sepasang sepupu itu di ruang makan. Rhea merasa tidak nyaman akan tatapan 'menuduh' milik Aalea yang mengintimidasinya secara langsung.
"Apa sih, Aal?!" tanya Rhea geram. Aalea yang diam tanpa jawaban membuat Rhea akhirnya menghela napas pasrah. Ia tak bisa berbohong.
"Oke, gue dateng ke sini emang ada perlunya. Puas?"
"Mau ngapain lo?" tanya Aalea, sudah mirip interogasi di kantor kepolisian.
"Nggak. Gue cuma ... mau ... survey," jawab Rhea.
"Survey?"
"Ya, buat tugas kuliah," bual Rhea. "Jadi gue bakal ngajuin satu pertanyaan model kasus gitu."
Rhea bisa bernapas lega ketika Aalea mengangguk-angguk percaya.
"Oke. Lo bisa tanya sekarang."
Rhea memutar bola matanya malas. Heran dengan sepupunya yang amat tak manusiawi.
"Tolong, ya, gue mau selesaiin makan dulu!"
***
"Jadi lo mau nanya apa?" cecar Aalea.
"Anu ...."
Rhea terdiam sejenak. Kepalanya masih sibuk menyusun kata-kata.
"Kalau misalnya, nih, ada orang yang nggak lo kenal berdiri di depan rumah lo tiap hari, menurut lo orang itu kenapa?"
"Ini, nih, kasus buat tugas lo?" tanya Aalea.
Rhea mengangguk. Walau sebenarnya ia berbohong. Bukan kasus untuk tugas. Melainkan kasus pribadinya.
"Ya, tergantung. Orang itu sekadar berdiri atau gimana?" Aalea meminta penjelasan yang lebih rinci.
"Dia berdiri sambil ngelihatin rumah lo. Bisa sampai lima jam gitu," kata Rhea.
"Itu udah jelas! Cuma ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu gangguan jiwa. Kedua, orang itu berniat jahat, entah dia mau nyuri atau gimana," papar Aalea.
Jujur saja, Rhea merasa tertampar dengan pemaparan Aalea.
"T-terus apa yang bakal lo lakuin?"
"Laporin ke polisi lah!" jawab Aalea mantap. Membuat Rhea merinding mendadak.
***
Rhea cukup waras untuk menyadari kalau 'berurusan dengan polisi' bukanlah hal baik. Dicap 'sakit jiwa' malah lebih parah.
"Oke, Rhe. Ini terakhir. Setelah ini, lo nggak boleh ngelakuin hal se-nggak berguna ini," desahnya. Ia kemudian duduk di bangku taman itu untuk kesekian kalinya.
Gadis berjaket denim itu menatap kembali rumah itu. Tatapannya terfokus pada lantai dua. Pada rumah kaca yang punya daya magis luar biasa.
"Gue janji, ini yang terakhir!" tekadnya.
***
Teruntuk Pangeran dalam Menara,
Binar matamu membakar jiwa,
Gerakmu mendamaikan lara,
Lebih teduh dari akasia.
Teruntuk Pangeran dalam Menara,
Ingin kupetik heningmu yang sederhana,
Kan kutanam di halaman rumah,
Biar ia jadi kawanku yang setia.
Teruntuk Pangeran dalam Menara,
Yang aku tak tau siapa nama,
Katakan mantra apa yang kau punya,
Biar kusebut dalam doa.
"Gue pasti udah gila," desis Rhea.
Gadis berambut panjang itu memang sudah gila. Ketika teman-teman sekelasnya bersusah payah mengerjakan kuis dadakan, Rhea malah tak menggerakkan otaknya sama sekali. Ia malah menulis puisi tanpa sadar. Tentang pemuda yang sudah ia putuskan tak akan lagi ditemuinya.
Sudah tiga hari belakangan Rhea mati-matian menahan keinginannya untuk pergi ke perumahan mewah itu. Rhea berhasil, namun tetap saja ini tak semudah bayangannya.
Rhea tak tau apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia tak yakin apakah itu jatuh cinta atau hanya kekaguman semata. Apapun itu, rasanya menakjubkan dan membuatnya ketagihan. Rasanya Rhea ingin terus-menerus bertemu laki-laki itu. Bahkan Rhea ingin mengenalnya lebih jauh walau sepertinya kesempatan itu hampir mustahil alias nol besar. Rhea mungkin tak akan pernah punya kesempatan.
Belum sempat Rhea menjawab satu soal pun, tiba-tiba Bu Kiran--dosen filsafat--mengumumkan, "Baik, waktunya habis."
Ah, yaudahlah.