Rhea itu bukan perempuan yang gampang merasa lemah karena laki-laki kok. Bahkan ketika SMA yang kata orang adalah masa-masa manusia jatuh cinta, Rhea tidak sama sekali. Ketika teman-teman SMA-nya gonta-ganti gebetan berkali-kali sebagai akibat dari ketertarikan visual, Rhea satu pun tidak punya. Bukannya Rhea tidak normal, akan tetapi memang belum ada laki-laki yang bisa membuatnya terpesona.
Namun semuanya berbeda ketika Rhea dihadapkan dengan Sagas. Bahkan sejak kali pertama--sejak Rhea melihat Sagas berdiri di dalam rumah kacanya--Rhea sudah merasa berbeda seperti tersihir oleh magisnya rapalan mantra. Padahal pada rentang waktu itu Sagas sedang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri di dalam rumah kacanya sambil sesekali minum sesuatu dari cangkirnya atau kadang hanya sambil termenung entah mengandai-andai apa.
Mungkin itulah yang orang-orang sebut sebagai star-struck. Star-struck adalah istilah yang merujuk pada seseorang yang merasa tertarik atau terkesan dengan seorang penampil atau performer. Bedanya, Sagas bukanlah seorang penampil. Dia hanya manusia biasa yang eksistensinya sendiri di dunia ini adalah sebuah mahakarya.
Iya, bisa dibilang Sagas adalah satu-satunya laki-laki yang sukses bikin Rhea lemah.
Lemahnya Rhea kalau dipikir-pikir jadi makin parah setelah dia kenal Sagas secara personal. Rasanya sekarang tiap gerak-gerik Sagas sukses bikin Rhea sempoyongan seperti orang mabuk. Tiap kata-kata yang keluar dari mulut Sagas terasa seperti syair yang indah bagi telinga Rhea. Tiap sentuhan kecil yang Sagas berikan terasa amat bermakna untuk Rhea. Aroma Sagas yang kadang melekat di pakaian ketika habis bertemu juga Rhea suka. Bahkan ketika makan dengan Sagas, bubur ayam lima ribuan yang terasa hambar sekalipun akan terasa seperti makanan di hotel bintang lima untuk lidah Rhea. Intinya, kelima panca indera Rhea terpuaskan dengan kehadiran Sagas di hidupnya.
Sagas menjelma bagaikan paket lengkap yang tak bisa Rhea temui dimana-mana. Mahakarya yang cuma bisa dibuat oleh semesta.
Semakin Sagas menunjukkan perasaannya, semakin lemah juga Rhea. Tapi Rhea tak yakin apakah yang dirasakan dirinya sendiri saat ini adalah perasaan antara laki-laki dan perempuan yang murni dan tulus atau malah cuma star-struck belaka.
Rhea bisa saja cuma tertarik pada Sagas. Bukan menyayanginya. Rhea yang minim pengalaman ini jelas tak begitu tau bedanya. Meski buku roman yang dia baca kalau ditotal banyaknya segudang, nyatanya Rhea tetap awam soal romansa, asmara, dan t***k-bengeknya.
"Totalnya lima ratus ribu, ya, Mbak," ucap mbak-mbak penjaga tempat fotokopi itu.
"H-hah? Lima ratus ribu?" Rhea kaget. Dia berharap kupingnya salah dengar, tapi tampaknya tidak demikian.
"Iya, Mbak. Satu lembar harganya seribu. Mbak nge-print lima ratus dua belas lembar. Harusnya lima ratus dua belas ribu tapi didiskon, Mbak," tuturnya.
Rhea cuma bisa tersenyum getir sambil mengintip isi dompetnya yang benar-benar pas lima ratus ribu. Nggak pas juga, sih, ada beberapa uang receh yang sepertinya kalau ditotal juga tidak sampai lima ribu. Miris.
Rhea menyerahkan uangnya. Antara ikhlas dan tidak ikhlas sebenarnya.
"Notanya jangan lupa, ya, Mbak. Buat laporan soalnya, he-he-he."
Iya, laporan. Laporan ke atasan Rhea yang kurang ajar itu. Siapa lagi kalau bukan Dextra?
Tapi masih mending sebenarnya. Lima ratus ribu masih bukan apa-apa. Coba kalau Rhea benar-benar disuruh mengganti sweater Gucci yang harganya berjuta-juta itu. Yang ada Rhea mati muda karena tidak makan berbulan-bulan.
Lagi pula Dextra selalu mengganti uang yang Rhea pakai. Itulah mengapa Rhea selalu minta nota tiap kali memakai uangnya. Iya, biar amanah dan tidak terjadi kesalahpahaman. Masalah uang memang tricky, harus super hati-hati.
Jangankan antara Rhea dan Dextra yang notabene b***k dan bosnya, hubungan pertemanan bertahun-tahun saja bisa hancur cuma karena uang yang tidak seberapa. Salah paham masalah uang lebih baik dicegah karena sulit diperbaiki kalau sudah terjadi.
"Terima kasih banyak, Mbak." Rhea menerima kantong kresek hitam berisi hasil print file skripsi Dextra itu.
"Pantes mahal," ucap Rhea pada dirinya sendiri ketika merasakan betapa beratnya kantong kresek itu.
Harusnya Rhea langsung pergi ke rumah Dextra sekarang ini. Sayangnya, dia masih bingung harus naik apa. Uangnya bahkan tak sampai lima ribu, harus bagaimana?
Jarak rumah Dextra dari tempat Rhea berdiri sekarang sebenarnya tak begitu jauh. Bisa lah ditempuh dengan jalan kaki sekitar lima belas menit. Tapi, ya, itu ... panasnya Jakarta sedang tidak main-main. Seperti dapat hibah dari neraka saja rasanya.
Hanya saja Rhea tak punya pilihan lain yang lebih baik. Dia akhirnya mau tak mau berjalan kaki. Semua gara-gara Dextra dan titahnya yang menyebalkan itu.
Kalau dipikir-pikir, miris juga nasib Rhea sekarang. Berjalan kaki dengan satu tangan terbalut gips sementara tangan lain membawa beratnya hasil print skripsi milik Dextra. Padahal Rhea masih kuliah, tapi sudah terasa seperti b***k korporat saja. Siapa lagi yang bisa membuat Rhea merasa begini kalau bukan Dextra?
Dextra dan Sagas itu bagai dua kutub yang berbeda. Kalau Sagas membuat Rhea merasa lemah, Dextra membuat Rhea merasa sakit jiwa. Iya, sakit jiwa karena perintahnya yang suka seenak udel.
Rhea ingin berhenti sejenak dan minum air yang ada di dalam tasnya. Sayangnya kalau hal itu dia lakukan, yang ada akan makan waktu lama. Ribet juga karena tangan Rhea yang fungsional sekarang cuma satu biji. Makanya Rhea memilih menahan rasa haus di tenggorokannya.
Rhea cuma perlu tekad dan semangat lebih besar saja.
Tiba-tiba ponsel Rhea bergetar. Rhea mau tak mau berhenti sejenak dan meletakkan kantong kresek yang dia bawah di dekat kakinya. Rhea merogoh ponsel yang terletak di saku celana. Rupanya Sagas meneleponnya.
Tumben? Siang-siang begini?
"Halo? Ada apa, Gas?"
Rhea menjepit ponsel di antara kepala dan bahunya. Dia lalu mengambil kantong kresek yang tergeletak di bawah kakinya dan kembali berjalan lagi.
"Halo?"
Suara Sagas yang lembut menjelma seperi semprotan air di tengah-tengah panasnya Jakarta. Hilang sudah haus Rhea seketika.
"Kenapa, Gas? Lo butuh sesuatu?" tanya Rhea.
"Iya."
"Butuh apa? Gue beliin kalau lewat tempat yang jual."
"Enggak. Aku butuh kamu."
"Hah? Butuh gue? Kenapa emangnya?"
Rhea khawatir. Bisa saja Sagas yang naif itu sedang dalam keadaan berbahaya sekarang.
"Itu ... aku rindu kamu."
Ampun! Rhea mau pingsan sekarang juga.
Kekhawatiran di benak Rhea hilang dalam hitungan detik. Digantikan oleh senyum salah tingkah di bibir tipisnya.
"A-apa-apaan, sih! Ada-ada aja!" ujar Rhea berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Aku serius."
Nada bicara Sagas yang kelewat serius malah bikin Rhea gemas. Seolah-olah rindu adalah masalah yang amat besar buatnya.
"Terus gue harus gimana kalau gitu?" tanya Rhea.
"Cepet pulang, Rhe. Kamu harus cepet pulang. Aku mau ketemu kamu biar nggak rindu. Boleh, ya?"
Rhea yang terlalu gugup dan kikuk mematikan sambungan teleponnya seketika. Duh! Rhea butuh ambulans sekarang juga!
***
"Taruh aja di atas situ!" Dextra menunjuk meja yang letaknya tak jauh dari Rhea. Memerintahkan perempuan itu untuk meletakkan hasil print pesanannya di atas sana.
Dextra tampak sedang sibuk. Kacamata yang bertengger di batang hidungnya serta wajah yang super serius menatap laptop itu seolah mengatakan bahwa dia sedang tidak mau diganggu dalam waktu dekat.
Itulah mengapa Rhea langsung mendekati Dextra dan menengadahkan tangannya secara gamblang.
"Apa?" tanya Dextra.
"Duit. Lima ratus ribu, ya, itu skripsi lo!" ujar Rhea.
"Duduk dulu sana, gue masih sibuk," kata Dextra.
"Justru karena lo masih sibuk makanya bayar aja sekarang. Gue bakal langsung pulang biar nggak gangguin lo!"
Dextra berdecak. "Duduk dulu aja, Rhe. Apa susahnya sih?"
Rhea mendengus tapi kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Dextra. Tidak, bukannya Rhea tunduk karena Dextra yang memerintahkannya. Rhea tunduk pada uangnya. Kalau dia pergi sekarang, yang ada uang lima ratus ribu yang bisa dia pakai untuk bertahan hidup sekitar dua pekan itu malah akan ludes seketika seperti digondol babi ngepet.
Lagi pula Rhea sudah melewati banyak hal hari ini. Mulai dari berjalan kaki karena uangnya habis sampai hampir pingsan karena ucapan Sagas yang terlalu manis. Duduk diam sambil bersabar menunggu Dextra mengganti uangnya jelas bukan perkara sulit. Easy peasy buat Rhea.
Rhea akan mencoba melihat sisi positifnya saja. Dia akan menganggap penantiannya kali ini sebagai terapi untuk mengembalikan kakinya yang lelah karena dipakai berjalan di tengah teriknya Jakarta. Sekalian cooling down dengan kipas angin raksasa yang ada di ruang tamu rumah Dextra. Anggap saja berkah.
"Lo lagi ngerjain apa sih?" tanya Rhea. Dia berusaha mengintip layar laptop Dextra.
"PPT sidang. Minggu depan gue sidang skripsi," jawab Dextra.
Rhea mengangguk-angguk paham.
Kini Rhea paham kenapa orang bilang kalau skripsi itu siksaan dunia. Karena kalau melihat keadaan Dextra sekarang, sudah jelas dia seperti kena siksa. Kantong matanya menggantung seperti kantong belanja. Wajahnya yang biasanya bersih rapi juga ditumbuhi rambut-rambut halus tidak terawat. Belum lagi kulitnya yang tampak kering dan kasar. Dextra tidak tampak seperti Dextra yang biasanya. Sudah mirip gelandangan di pasar kota.
Entah sebagaimana keras dia berusaha sampai-sampai tak sempat merawat dirinya sendiri begitu. Entah seberapa lama juga dia sebenarnya tidak tidur untuk memperjuangkan cita-citanya itu. Namun Rhea sebenarnya cukup iri pada Dextra. Setidaknya Dextra punya kesempatan untuk berjuang keras menggapai mimpinya. Memiliki hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sementara Rhea?
Rhea cukup terkejut ketika melihat cairan berwarna merah mengucur dari lubang hidung Dextra.
"Hidung lo!"
Segera, Rhea menyambar beberapa lembar tisu dari kotak yang tergeletak di atas meja dan memberikannya pada Dextra. Dextra sendiri baru sadar dia mimisan. Laki-laki berambut hitam itu lalu menyeka darah yang membasahi area bawah hidungnya.
Setelahnya, Dextra menundukkan kepala dan menekan batang hidungnya sendiri sebagai langkah pertolongan pertama pada orang mimisan.
Mimisannya Dextra adalah akibat dari stres berlebihan. Bisa dibilang sebagai jejak-jejak perjuangan. Tapi kalau sudah begini, yang ada Dextra mengkhawatirkan.
"Udah! Udah! Lo tuh butuh istirahat!" seru Rhea.
Rhea buru-buru menutup laptop Dextra tanpa ijin. Membuat Dextra mendelik tak terima.
"Kerjaan gue belum selesai!"
Rhea mendelik balik. Dia melipat tangannya di depan d**a.
"Lo sebagai anak kedokteran harusnya tau kalau tubuh lo sekarang tuh lagi butuh istirahat! Tubuh lo tuh udah ngasih tanda kalau lagi overload dan butuh rehat! Apa susahnya sih? Kerjaan lo ini bisa dilanjutin lagi nanti! Tapi kalau lo sakit, mau gimana? Yang ada batal sidang skripsi lo!"
Dextra menghela napas panjang. Benar juga pemaparan Rhea. Tubuhnya memang sudah lelah setelah begadang berhari-hari dan kurang tidur serta nutrisi. Kalau diteruskan, Dextra bisa-bisa berubah jadi zombie.
Dextra akhirnya memutuskan untuk melepas kacamatanya dan memijat pelipisnya yang sudah pening sedari tadi. Dia kemudian bersandar di sofa dan mencoba bersantai sejenak seperti kata Rhea.
"Nah, gitu! Lihat deh, muka lo aja udah nggak jelas gitu!" celetuk Rhea.
Dextra tiba-tiba tertawa. Membuat Rhea bingung sendiri. Takut kalau-kalau Dextra ternyata jadi gila seketika karena skripsinya.
"Lo khawatir sama gue?" tanya Dextra. Ekspresi di wajahnya berubah seperti sedang mengejek.
"Iya! Soalnya kalau lo mati sekarang, duit gue yang lima ratus ribu nggak bakal balik!" sahut Rhea.
Dextra mendengus mendengar jawaban Rhea. Padahal jawaban yang ingin dia dengar hanya sebatas sampai di kata iya, tak perlu dilanjutkan pakai bawa-bawa uang lima ratus ribu segala.
Dextra lalu berdiri. "Ya udah, ayo ikut gue! Habis itu gue kasih deh uang lima ratus ribu lo itu!"
Rhea mengekor di belakang Dextra seperti anak ayam. Anehnya, Dextra kalah berbelok masuk ke kamar pribadinya.
Jelas, langkah Rhea berhenti di depan pintu. Meski Rhea bukanlah orang yang berpikiran tertutup, tapi masuk ke kamar laki-laki yang rumahnya sedang sepi begini mengundang kecurigaan di benak Rhea.
"Masuk elah! Nggak bakal nafsu gue sama lo!" seru Dextra.
Rhea masuk. Kamar Dextra tampak rapi dengan desain minimalis dan rak buku di bagian pojoknya.
Dextra kemudian menyodorkan satu botol shaving cream dan alat cukur listrik kepada Rhea.
"Beresin muka gue dulu!"
"Tapi gue nggak pernah nyukur kumis!"
Dextra kemudian masuk ke kamar mandi. Tak mau dengar alasan Rhea sama sekali.
"Heh, Dex! Tangan gue juga patah ini!"
Rhea akhirnya memilih tabah. Dextra kalau sudah minta sesuatu mana mau menyerah. Rhea lah yang mengalah.
Rhea mendatangi Dextra yang sudah berdiri di depan cermin wastafel.
"Nih! Duduk sini!" ujar Dextra menepuk-nepuk meja wastafel.
Rhea duduk di atas meja porselain sehingga posisinya lebih tinggi sedikit dibanding Dextra yang kini berdiri tepat di depannya.
Tangan Dextra merentang meraih pojok meja yang terletak di samping kanan dan kiri Rhea. Kemudian Dextra memajukan wajahnya sampai jarak antara dia dan Rhea hanya tersisa sekitar dua kepalan tangan.
Rhea mengoleskan shaving cream di wajah Dextra dengan satu tangannya saja. Mencoba meratakan krim berwarna putih itu. Baru kali ini Rhea mencobanya. Sebelum ini, dia cuma pernah lihat saja di televisi.
"Bener nggak sih?" tanya Rhea. Dia menatap Dextra tepat di mata.
Beberapa detik kemudian, bola mata Dextra bergetar. Dia lalu mundur, meringsek ke belakang. Menjauhkan wajahnya dari Rhea.
"L-l-lo nggak becus! Gue cukur sendiri aja!" Entah kenapa kedengaran gagap.
Rhea mendengus, mengutuk plin-plannya Dextra di dalam hati. Rhea kemudian keluar dari kamar mandi dan memutuskan untuk melihat-lihat di sekitar kamar Dextra.
Mata Rhea menangkap penampakan sebuah printer berwarna hitam dan tumpukan kertas HVS di sebelahnya. Rhea otomatis mengerutkan dahi.
"Ini lo punya printer! Ngapain nyuruh gue nge-print di luar?" pekik Rhea.
"Sengaja! Itu cuma alasan gue biar bisa ketemu lo aja!"