Rhea menatap tangannya yang dibalut gips. Tak pernah terbayangkan bahwa tangannya akan patah hanya karena memikirkan Sagas. Kalau saja Rhea bisa memutar waktu, Rhea akan lebih hati-hati dan tak membiarkan hal ini terjadi. Sayangnya, nasi sudah jadi bubur. Sudah telanjur.
"Gips nya jangan kena air," kata Dextra.
Rhea cemberut, memikirkan bagaimana tidak nyaman kehidupannya untuk berminggu-minggu kedepan membuatnya pusing.
"Kenapa lo cemberut gitu? Bersyukur harusnya lo karena frakturnya nggak parah, cuma perlu pasang gips. Bentar lagi sembuh kok," ceramah Dextra. "Lagian siapa suruh jalan sambil ngelamun?"
"Hm, iya! Bawel banget, sih, jadi manusia!"
Mobil Dextra berhenti di depan indekos Rhea. Pemuda itu menatap Rhea yang kesulitan membuka sabuk pengamannya.
"Gini aja nggak bisa, gimana lo bisa bertahan hidup selama tangan Lo patah?"
Dextra memajukan dirinya dan melepas sabuk pengaman Rhea. Jarak wajah Dextra yang cukup dekat membuat Rhea hampir mati sesak. Adegan yang biasanya cuma bisa Rhea lihat di film atau novel, kini terjadi padanya.
"Apaan sih? Gue bisa sendiri kok!" elak Rhea.
"Lo nggak bisa bilang makasih aja?"
Rhea terdiam.
"Tau gitu gue biarin aja lo di tempat tadi," lanjut Dextra.
"Iya, iya, makasih. Makasih udah nolongin gue," ucap Rhea. Dextra tersenyum menang.
"Lo yakin bisa apa-apa sendiri? Nggak mau telepon orang tua lo biar mereka ke Jakarta sampai tangan lo pulih?" tanya Dextra.
"Nggak perlu. Mereka sibuk, gue nggak mau malah jadi beban."
Dextra menghembuskan napas berat, meninggalkan Rhea sendirian membuatnya bimbang.
"Apa lo mau tinggal di rumah gue aja? Ada gue sama Mama yang bisa jagain lo."
Rhea tertawa menanggapi ide konyol Dextra, "Lo gila? Masa iya nyuruh gue tinggal sama dosen gue sendiri? Aneh banget pasti. Nggak mau lah!"
"Emang apa salahnya?"
"Salah, lah! Dosen, kan, nggak punya tanggung jawab sampai segininya ke mahasiswa. Apa kata mahasiswa lain kalau mereka tau?"
"Oh ... jadi Lo nggak mau karena ada Mama? Berarti kalau tinggal berdua doang sama gue mau?" goda Dextra.
Kalau saja Rhea tidak ingat bahwa Dextra yang membantunya seharian ini, gadis itu pasti sudah tidak segan melayangkan pukulan ke kepala Dextra.
"Dasar nggak waras!" ujar Rhea. "Gue masuk dulu, deh! Bisa ketularan nggak waras kalau kelamaan sama lo!"
Rhea keluar dari mobil dan masuk ke indekosnya. Dia mengambil kunci dari saku celananya dan memasukkan kunci itu ke lubangnya menggunakan tangan kiri. Setelah perjuangan yang agak esktra, Rhea akhirnya berhasil masuk ke kamarnya. Kalau membuka pintu saja jadi sulit begini, Rhea tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya sampai tangannya ini sembuh.
***
Rhea baru terbangun dari tidurnya ketika terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, tok, tok, tok! Gadis itu membuka pintu dan mendapati ibu pemilik indekos sedang berdiri sambil tersenyum manis.
"Ada apa, Bu?"
"Kamu nggak papa? Mau diteleponin orang tuamu aja?"
Rhea menggeleng, "Jangan, Bu. Patah ringan doang, kok."
"Iya udah, kalau butuh apa-apa tinggal kasih tau ibu, ya? Itu teman kamu nungguin di depan," katanya.
Rhea keluar dari indekosnya. Langit yang sudah berubah gelap menyadarkan Rhea bahwa dirinya tertidur untuk waktu yang cukup lama. Dextra sedang berdiri bersandar di depan pintu mobilnya.
"Ada apa lagi?" tanya Rhea agak sensi karena istirahatnya diganggu.
"Nih." Dextra menyodorkan tote bag kuning berisi kotak makan pada Rhea. "Masakan Mama."
"Eh? Ngapain repot-repot coba?"
"Kalau bukan gue yang repot, siapa lagi? Orang tua lo nggak di sini, terus lo kelihatannya juga nggak punya temen. Kalau lo kelaperan terus pingsan dan nggak bangun lagi gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?" papar Dextra.
Rhea tersenyum kecut. Penjabaran Dextra yang terlalu mengandai-andai membuatnya tak bisa lagi berkata-kata.
"Iya, makasih. Udah sekarang lo pulang, gih! Gue capek lihat lo," usir Rhea.
"Iya! Cepet sembuh lo! Gue nggak suka lihat lo sakit gini."
"Lah? Emang kenapa? Kan yang sakit gue?"
"Mmh ...." Dextra mencari-cari kata yang tepat. "Tau nggak lo kalau tubuh kita ini saling bekerja sama?"
"Tau, tapi apa hubungannya sama pertanyaan gue?"
"Dengerin dulu!" kata Dextra, melarang Rhea banyak komentar. "Misalnya, nih, otot di tangan lo yang bisa gerak. Kenapa bisa gerak? Karena ada kerja sama antara protein filamen yang namanya aktin sama miosin. Miosin bakal nempelin diri ke aktin dan menarik aktin sehingga otot-otot kita bisa kontraksi. Kalau nggak ada salah satunya gimana? Nggak berfungsi, nggak akan ada kontraksi, tangan lo nggak bakal bisa apa-apa."
"Ya terus?" tanya Rhea tak mengerti.
"Ya sama, Anan juga nggak bisa apa-apa kalau nggak ada Nina," jawab Dextra. "Makanya, cepet sembuh, Nina-nya Anan!"
Rhea mendelik, tak pernah membayangkan Dextra akan mengucapkan hal-hal seaneh ini. Beberapa detik setelah suasana berubah canggung, Dextra tertawa keras, "Hahaha! Canda elah! Gue nggak mau lo sakit ya karena nggak ada yang bisa gue suruh-suruh! Jadi jangan GR! Udah, masuk sana! Gue mau pulang."
***
Ibu-ibu memang pembawa berita paling yahut. Belum genap pukul 7 Sagas sudah berdiri di depan pintu kamar Rhea gara-gara ibu kos menyebarkan berita bahwa tangan Rhea patah. Alhasil Rhea gagal menghindar.
"Mmh ... Hai!" sapa Rhea canggung. Lebih canggung lagi ketika Rhea sadar bahwa dirinya bahkan belum sempat cuci muka.
"Tangan kamu kenapa bisa patah?" tanya Sagas. Sorot matanya yang penuh kekhawatiran membuat Rhea berdebar.
"J-jatuh biasa kok," jawab Rhea gagap.
"Kamu ada kuliah hari ini?"
Rhea menggeleng, "Gue ijin sakit."
Sagas tiba-tiba mengulurkan tangannya, minta disambut.
"Aku mau rawat kamu hari ini. Aku nggak bisa biarin kamu sendiri dengan keadaan kayak gini."
Deg! Kalau jantung bisa patah, mungkin jantung Rhea ikut-ikutan patah sekarang juga.
"Nggak perlu! Gue masih bisa aktivitas normal kok!" tolak Rhea.
Sagas tak mau dengar. Pemuda itu malah meraih tangan Rhea dan membawanya pergi begitu saja.
"Eh, eh, mau kemana?" tanya Rhea.
Sagas membawa Rhea ke rumahnya. Jelas berdua saja dengan Sagas tidak senyaman dulu. Kalau biasanya Rhea bebas bergerak kemana saja, kali ini dia berhati-hati dalam setiap geraknya. Entah kenapa dia tidak mau tampak buruk di hadapan pemuda itu.
"Kamu belum makan, kan?" tanya Sagas.
"E-eh ... anu ... nggak usah repot-repot. Gue g-gak papa kok."
Sagas tak mau dengar. Pemuda itu membuka kulkasnya. Mencari-cari apa yang bisa dimasak dan menemukan beberapa jenis sayuran. Sementara Rhea terduduk kikuk di ruang tamu sambil mengamati gerak-gerik Sagas yang entah kenapa membuat dadanya berdebar.
Meski tampak agak kaku, Sagas memotong bahan-bahan pilihannya dan menyucinya menyeluruh. Lalu memasak berdasarkan pedoman video tutorial YouTube. Bibirnya sedikit mengerucut akibat terlampau serius, membuat Rhea yang melihatnya tertawa gemas.
Satu jam kemudian sup ala Sagas sudah siap di hadapan Rhea.
"Aku suapin ya?" kata Sagas.
"E-eh nggak usah, gue masih bisa kok pakai tangan kiri!" tolak Rhea.
Sagas menggeleng. "Aku nggak percaya."
Sagas dengan sabar meniup sup yang ada di sendok dan menyodorkannya dekat mulut Rhea. Meski agak malu, pada akhirnya Rhea mau.
"Enak?" tanyanya.
"Lumayan," jawab Rhea.
Rasa sup Sagas memang tidak sempurna. Kurang di sana-sini, tapi cukup terampuni. Lagi pula mana bisa Rhea bicara brutal kalau mata Sagas saja berbinar penuh pengharapan begitu, seperti mata rusa.
"Nggak enak, ya?" Sagas menebak.
"E-eh! Nggak gitu! Lumayan kok! Perlu latihan lagi aja," kata Rhea.
Setelah semangkuk penuh sup itu habis, Sagas mengambil manuver tiba-tiba. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke kepala Rhea seolah-oleh hendak mencium. Rhea membeku, sementara jantungnya melompat-lompat seperti tersengat listrik. Matanya terpejam rapat-rapat.
"Kamu butuh keramas," kata Sagas yang ternyata mengendus bau rambut Rhea.
Ucapan Sagas membuat Rhea merasa dua hal yang berlawanan. Lega sekaligus ... kecewa?
"Tunggu di sini ya?" ucap Sagas.
Sepeninggalan Sagas, Rhea memukul kepalanya sendiri.
"Apaan sih, Rhe? Lo kecewa karena nggak dicium Sagas?" desisnya pada diri sendiri. Mengutarakan keinginannya secara tidak langsung
Sagas kembali dengan membawa satu buah bak warna hitam, kursi pendek, dan sepasang sampo plus kondisioner.
"Ayo!" ajaknya.
"Ayo kemana?" tanya Rhea.
"Ke depan."
Rhea mengerutkan dahinya. Namun senyum Sagas seolah menariknya, menyihirnya, dan membuat kakinya melangkah mengikuti.
Sagas duduk di kursi dan meletakkan bak di hadapannya. Dia juga menarik selang yang terpasang di keran air, mendekati bak.
"Duduk sini," katanya sambil menunjuk area lantai di dekat bak.
Rhea tak punya pilihan selain menurut. Lagi pula mata Sagas yang berbinar-binar itu membuat bibir Rhea terlalu lemah untuk menolak.
Rhea duduk di lantai kemudian menyandarkan kepalanya di bak yang permukaannya sudah Sagas lapisi handuk agar terasa agak nyaman. Sagas membelai rambut Rhea. Helai demi helai, lalu membasahinya dengan air keran yang terpancar dari selang.
Rhea memejamkan mata, merasakan air yang mengalir di kulit kepalanya. Sagas lalu membasuh rambut Rhea dengan sampo yang aromanya sangat khas Sagas. Aroma yang lembut dan Rhea suka namun tak bisa Rhea jelaskan pakai kata-kata. Seperti aroma kelapa.
"Rhe, maaf," kata Sagas.
"Maaf buat?"
"Maaf kalau permintaan aku membebani kamu. Aku memang suka sama kamu, tapi nggak seharusnya bikin permintaan kayak gitu," lanjut Sagas.
Deg! Mendengar perkataan Sagas membuat sel-sel di sekujur tubuh Rhea bergemuruh.
"Langkahnya salah. Jadi aku tarik permintaan aku, Rhe. Aku nggak akan meminta kamu jadi pacar aku dengan cara kayak gitu. Aku mau ganti permintaan aku," tuturnya.
"Hah? A-apa?"
"Aku mau kamu kasih aku kesempatan buat sayang sama kamu. Kita bisa temenan kayak biasa aja kok," kata Sagas, "Sayang sama kamu nggak selalu berarti aku harus jadi pacar kamu. Maaf, aku cuma terlalu excited aja kemarin. Karena kamu orang pertama yang aku sayang selain keluargaku sendiri."
Sagas membasuh rambut Rhea sampai semua busanya hilang. Kemudian mengoleskan kondisioner di seluruh batang rambut Rhea sampai merata.
Perlakuan Sagas yang lembut membuat Rhea tenang. Tapi kata-katanya barusan entah mengapa membuat Rhea berdebar seperti mau mati. Belum ada orang yang mengungkapkan rasa sayangnya pada Rhea seperti ini dengan cara yang sangat sopan.
Sagas tidak memaksakan perasaannya pada Rhea. Kalau diibaratkan dalam tulisan, Sagas tidak memberi eksklamasi maupun tanda tanya. Dia memberi tanda titik yang mengakhiri kalimat lama dan memberi kesempatan pada kalimat baru. Dia menyatakan, bukan memaksakan. Tetap memberi Rhea ruang dan berusaha menghormati tiap keputusan yang nantinya akan diambil.
Selama tiga menit Sagas menunggu kondisioner di rambut Rhea meresap. Sembari menunggu, Sagas sibuk merapikan botol sampo dan kondisioner yang habis dia pakai tadi. Sementara Rhea memanfaatkan tiga menit itu untuk mengamati Sagas dan gerak-geriknya dalam posisi berbaring begini.
Rhea merasa kedamaian luar biasa. Persis seperti ketika kali pertama dia mengamati Sagas yang berdiri di dalam jendela rumah kaca. Kegelisahan Rhea yang beberapa hari ini timbul karena pernyataan rasa Sagas akhirnya musnah. Ditenangkan oleh kata-kata Sagas juga.
"Makasih," lirih Rhea.
Rhea menatap wajah Sagas yang tepat berada di atasnya.
"Makasih buat apa?" Sagas menatap Rhea tepat di mata.
Mendadak Rhea salah tingkah. Bola matanya bergetar, tak bisa menatap Sagas dengan benar.
"Makasih karena udah ngasih gue ruang tanpa memaksakan," ucap Rhea.
Sagas mengangguk. "Makasih juga karena nggak langsung nolak aku, Rhe."
Sagas lalu membasuh kondisioner di rambut Rhea sampai bersih. Setelahnya mengeringkan rambut-rambut Rhea dengan handuk kering yang baru dicucinya kemarin.
Sagas kemudian membantu Rhea bangkit dari posisinya.
"Udah? Gue boleh pulang?" tanya Rhea.
"Belum. Keringin rambut dulu," jawab Sagas.
Sagas meminta Rhea untuk duduk di ruang tamunya. Sementara Sagas sendiri masuk ke dalam kamar dan mengambil hair dryer di dalam laci mejanya.
Rhea menunggu Sagas seperti sedang menunggu pengumuman penting. Kakinya tak bisa diam karena gugup. Kalau saja tangannya tidak patah, pasti sudah dia pakai untuk meninju pahanya sendiri, saking merasa gemasnya.
Rhea berusaha play it cool ketika Sagas keluar dari kamar. Tidak mau kelihatan kalau dia sendiri merasa tidak keruan.
Sagas menancapkan kabel hair dryer ke stop kontak lalu duduk di bagian tepi sofa yang kedudukannya lebih tinggi. Tepat berada di belakang Rhea yang kini merasa bulu kuduknya berdiri gemas karena kehadiran Sagas.
Angin hangat dari hair dryer menerpa rambut Rhea. Sesekali tangan Sagas bergerak membelai-belai rambut Rhea agar angin tersebar merata.
Jantung Rhea berdetak kencang sekali. Untung saja suara hair dryer lebih kencang sehingga Sagas tak bisa dengar suara detak jantung Rhea yang makin ganas.
"Udah kering," ucap Sagas sambil mematikan hair dryer-nya.
Rhea menyentuh rambutnya yang sudah bersih dan wangi. Thanks to Sagas, kalau tidak dipaksa begini, mana bisa Rhea keramas sendiri.
"Makasih, Gas. Berkat lo, gue jadi kelihatan kayak manusia sekarang."
"Sama-sama, kalau butuh apapun, bilang aja sama aku."
Rhea mengangguk. Seketika Sagas tersenyum. Telapak tangannya kemudian bergerak menyentuh pipi kiri Rhea.
"Sebenernya mau keramas atau enggak, kamu sama aja cantiknya, Rhe."
Ya Tuhan, siksaan apa lagi ini?!
Kalau Rhea hidup dalam komik, sudah pasti digambarkan pingsan dengan emotikon hati di kedua bola matanya dan panah yang menghujam tepat di jantungnya.
Sebelum benar-benar mati, Rhea memutuskan untuk menyelamatkan diri.
"G-g-gue mau pulang! Dah! Makasih buat hari ini, Sagas!"