Sagas agak kaget karena Rhea tiba-tiba mengetuk pintu rumahnya dan menerobos masuk hingga ke kamarnya. Pemuda yang belum sadar sepenuhnya karena baru bangun tidur siang itu belum bisa berkata apa-apa. Matanya bahkan terlalu berat untuk membuka.
Sagas kembali berbaring di kasurnya dan jatuh tertidur begitu saja. Sementara Rhea kini sedang menjelajahi isi lemari Sagas.
"Gas, dasi di sebelah mana?" tanya Rhea yang tak dijawab Sagas. Rhea tertawa ketika tau bahwa Sagas sedang terlelap.
Rhea kemudian meraih kemeja hitam, celana kain hitam, dan blazer beludru warna biru navy dari lemari Sagas. Gadis itu tak begitu paham tentang mode, tapi menurutnya orang ganteng ya bakal tetap ganteng. Lagipula pilihan bajunya masih ada dalam zona aman.
Setelah memilih baju, Rhea menepuk-nepuk pelan tubuh Sagas, "Gas, bangun!"
Dengan tepukan kecil saja Sagas sudah membuka matanya meski baru setengah, "Kenapa, Rhe?"
Suara Sagas yang serak baru bangun tidur seketika membuat Rhea merinding.
"Itu ... sekarang lo mandi, terus pakai baju yang udah gue taruh di kursi itu ya. Cepetan! Gue tunggu di ruang tamu. Gue kasih waktu setengah jam, lo belum siap, gue tinggal!"
"Emangnya kita mau kemana?" tanya Sagas sambil mengucek-ucek matanya. Lucu.
"Rahasia. Udah cepetan!"
Rhea menunggu 20 menit lamanya hingga Sagas keluar dari kamar dengan tampang segar habis mandi dan pakaian yang Rhea pilih. Namun satu hal tampak aneh, rambut Sagas.
"Rambut lo kok berantakan?" tanya Rhea. Pasalnya Sagas yang biasanya rapi malah keluar dengan rambut yang berantakan, masih basah sehabis mandi.
"Kamu tadi cuma nyuruh mandi dan ganti baju," jawab Sagas polos.
Rhea tak bisa marah. Sagas terlalu menggemaskan. Gadis itu lalu menarik tangan Sagas dan membawanya masuk lagi ke kamar. Rhea mendudukkan Sagas di depan kaca dan mulai mengeluarkan hair dryer dari salah satu laci.
"Nih, tata rambut lo!"
Sagas mengamati refleksi Rhea yang sedan duduk di kasur dari kaca. Gadis itu memakai terusan warna krem dengan motif bunga-bunga dan rambut yang dibiarkan terurai. Sagas tersenyum, hingga matanya yang masih bengkak karena sehabis tidur menyipit, "Kita mau kemana sih, Rhe? Kok tumben kamu dandan begini."
"Kenapa? Aneh ya?"
Sagas menggeleng, "Nggak. Kamu cantik. Tapi kamu emang selalu cantik sih."
Pipi Rhea mendadak panas. Darahnya berdesir, berkumpul di pipi dan menimbulkan semburat merah.
"Pipi kamu merah, Rhe," ucap Sagas.
"Ih! Sagas! Udah ah cepat!"
***
"Kamu suka balet, Rhe?" tanya Sagas.
"Nggak juga."
"Terus kenapa kita ke sini?"
"Mau bersih-bersih gedung," jawab Rhea asal.
"Hah?" Sagas kaget. Rhea tertawa.
"Ya nggak lah, Gas! Mau ngapain lagi ke sini kalau nggak nonton pertunjukan balet?"
Rhea menyerahkan tiket milik Sagas dan memberinya instruksi, "Lo masuk duluan gih! Gue ada urusan bentar."
"Nggak usah, kita masuk barengan aja," tolak Sagas.
"Sagas, nurut sama gue sekali ini aja! Oke? Nanti gue nyusul, serius!"
Sagas akhirnya setuju dan masuk ke dalam ruang pertunjukan lebih dulu. Sementara Rhea berdiri di depan gedung sekitar 10 menit lamanya hingga mobil Bu Dersa tiba, diikuti oleh sebuah mobil mewah warna hitam.
Bu Dersa keluar dari mobil. Mobil yang ada di belakangnya juga terbuka, Mama Sagas ada di sana. Tampak anggun dengan gaun sebetis berwarna merah marun, kalung mutiara, dan rambut yang digelung rapi.
"Selamat datang, Bu," sapa Rhea. Wanita itu mengangguk. Tatapannya seperti biasa, tajam dan mengintimidasi.
"Saya sama Bu Laras masuk dulu ya? Kamu tunggu bentar di sini, tunggu Dextra. Nanti dia nyasar malah jadi masalah."
"Hah? Dextra?"
Tanpa menjawab, Bu Dersa dan Bu Laras masuk ke dalam gedung pertunjukan. Beberapa menit kemudian mobil Dextra terlihat. Pemuda itu keluar dari mobilnya, tampilannya rapi dengan setelan blazer kotak-kotak berwarna abu-abu.
"Lo bukannya mau survey tempat jual benih?"
Dextra mengangkat bahunya, "Who cares? Gue tiba-tiba pengen nonton balet!"
Dextra langsung masuk begitu saja, mendahului Rhea yang sudah bersusah payah menunggunya.
"Dasar manusia nggak tau diuntung! Udah ditungguin juga!" gumam Rhea.
***
Meski sudah keluar dari ruang pertunjukan, Rhea dan Bu Dersa tak bisa berhenti memuji pertunjukan tadi. Mereka masih terkagum-kagum dengan kelenturan para balerina di atas panggung yang mampu menginterpretasikan jalan cerita Rama dan Sinta dengan baik.
Kini Rhea, Dextra, dan Bu Dersa sedang duduk di salah satu rumah makan Padang. Memantau Sagas dan mamanya yang sedang melakukan fine dining di restoran sebrang.
"Cih! Udah tua bangka juga masih aja disuapin! Emang dasar anak mama!" ujar Dextra sembari mengamati interaksi Sagas dan mamanya yang terlihat jelas karena mereka duduk di samping jendela kaca.
"Heleh! Kamu juga kalau lagi sibuk belajar buat ujian bakal nggak makan kalau nggak disuapin!" sahut Bu Dersa. Rhea terkikik geli.
Mereka selesai makan malam tepat pukul setengah 10 malam. Rhea kemudian diantar pulang menggunakan mobil Bu Dersa, sementara Sagas diantar mamanya. Malam ini cukup menyenangkan buat Rhea dan Sagas meskipun tak banyak interaksi di antara mereka. Rhea senang melihat Sagas menikmati waktu dengan mamanya.
Sesampainya di indekos, Rhea langsung mandi dan berbaring nyaman di ranjangnya. Namun ponselnya berbunyi, Sagas meneleponnya.
"Halo? Kenapa, Gas?"
"Rhe, temenin aku jalan-jalan bentar yuk?"
"Lah? Bukannya seharian ini udah jalan-jalan?"
"Tapi kan nggak sama kamu."
"Ya udah, gue keluar sekarang."
Rhea menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu dan bergegas menemui Sagas. Pemuda itu ternyata sudah menunggu Rhea tepat di depan indekos dengan penampilan yang jauh lebih sederhana dibanding saat pergi ke pertunjukan tadi. Hanya celana training hitam dan hoodie hijau lumut bertuliskan 'play hard, work harder'.
"Mau jalan kemana, Gas? Nggak capek lo?"
"Keliling komplek aja."
Rhea dan Sagas lalu berjalan lambat menyusuri jalanan komplek yang mulai sepi. Paling hanya satu atau dua motor milik warga yang melintas.
Sagas menatap ponselnya sejenak, "Rhe, 10 menit lagi udah bukan hari ulang tahun aku lho. Kamu nggak mau ngucapin selamat ulang tahun gitu?"
Dahi Rhea mengkerut bingung, "Lho? Emangnya kamu nggak papa diucapin selamat ulang tahun?"
"Hah? Maksudnya? Nggak papa gimana?"
"Ya ... gitu ... nggak marah atau ilfeel?"
Sagas tertawa, "Lah? Emangnya ada orang yang marah atau ilfeel kalau diucapin selamat ulang tahun?"
Rhea mengangkat bahunya, "Dextra bilang cowok nggak suka diucapin selamat ulang tahun."
"Sejak kapan ada teori kayak gitu? Dextra bohong itu!"
Rhea menghela napas berat, "Yah ... gue nggak tau. Maaf, Gas. Selamat ulang tahun ya, Panji Sagasta Mahadierja. Semoga ...."
Kepedihan yang udah lo alami selama ini berubah jadi kebahagiaan. Semoga lo nggak menyalahkan diri sendiri atas semua yang udah terjadi. Semoga lo bisa jadi Sagas yang bersinar terang dan bersahaja. Kayak Sagas yang pertama kali gue lihat di rumah kaca. Batin Rhea.
"Semoga apa?" tanya Sagas.
"Rahasia! Katanya kita nggak boleh ngasih tau doa kita ke orang lain kalau mau terwujud," jawab Rhea.
Sagas mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Ia lalu menengadahkan tangannya di depan Rhea.
"Apa?"
"Hadiahnya mana?"
Rhea meringis, "Nggak ada. Gara-gara Dextra nih pokoknya!"
Sagas pura-pura memasang wajah kecewa.
"Mmh ... gini aja, lo kasih tau aja lo mau apa," usul Rhea.
"Serius?"
"Iya, serius! Seratur rius malah!"
"Kalau gitu aku mau kamu kasih aku dua permintaan."
"Boleh, deh! Tapi jangan minta dibeliin yang mahal-mahal ya! Gue masih nggak mau jual ginjal!" celetuk Rhea.
Sagas tertawa lagi. Pemuda itu lalu menghentikan langkahnya. Begitupula Rhea. Tangan Sagas kemudian menarik badan Rhea agar berhadapan dengannya.
"Permintaan pertama, aku nggak mau jadi teman kamu lagi."
Rhea nyaris menangis. Ia hampir saja bertanya alasannya, tapi tak mampu berkata apa-apa.
"O-oke. Kalau lo emang nggak nyaman berteman sama gue, ya udah nggak perlu dipaksa. Gue kabulin, mulai sekarang lo bukan teman gue lagi."
"Permintaan kedua, aku mau kamu jadi pacar aku, Rhe."
"Hah? Gimana?"
***
Setelah mendengar permintaan Sagas yang mengejutkan tadi malam, Rhea berharap punya kemampuan super untuk jadi invinsible. Bukan apa, Rhea rasanya tak bisa berhadapan dengan Sagas dalam waktu dekat ini. Dia terlalu malu ketika melihat Sagas. Jantungnya serasa mau meledak dan asam lambungnya terasa naik, saking gelisahnya. Selain itu, Rhea juga belum punya jawaban atas permintaan Sagas.
Sayangnya, Rhea cuma manusia biasa yang tidak bisa menghilang di saat-saat kritis begini. Akibatnya, demi menghindari Sagas, Rhea harus berangkat ke kampus melewati jalur lain yang lebih jauh dari rute biasanya. Rhea bahkan mematikan ponselnya, tidak mau Sagas menghubunginya.
Sepanjang pelajaran, pikiran Rhea melayang kemana-mana. Tak bisa fokus, sebagian besar otak Rhea diisi oleh Sagas dan permintaannya yang sama sekali tak terduga.
"Heh!"
Rhea tersentak ketika Dextra menepuk bahunya.
"Kemana aja lo? Kok handphone lo nggak aktif?" tanya Dextra.
"Eh? Lo? Ngapain di sini?" Rhea malah bertanya balik.
"Jawab dulu pertanyaan gue hei!"
"Mmh ... emang lo nanya apa?" Rhea menampilkan wajah bodohnya.
"Mikirin apa sih lo sampai nggak fokus gini? Gue nanya, kenapa hp lo mati?"
"Oh ... mmh ... habis baterai!" bual Rhea.
Dextra hanya mengangguk, tak mau memperpanjang pertanyaannya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rhea lagi.
"Jemput lo lah! Gue tau kelas lo udah selesai semua buat hari ini. Jadi gue mau ngajak lo survey benih tanaman."
"Oke, ayo!" ujar Rhea.
Dextra kebingungan. Pasalnya Rhea yang biasa akan menolaknya terlebih dahulu dan harus diingatkan mengenai utangnya agar setuju.
"Lo kesambet ya? Biasanya juga banyak banget alasannya, kok sekarang langsung mau gitu aja?"
Bukan. Rhea bukannya habis kesambet setan. Rhea hanya tidak mau pulang cepat dan bertemu dengan Sagas.
***
Selagi Dextra memilih-milih benih yang akan dibeli, Rhea malah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sebuah tanaman mawar putih yang terletak tepat di hadapan Rhea membuat pikirannya melalang buana, mengingatkannya pada sosok Sagas.
"Menurut lo mending rambutan apa mangga aja?" tanya Dextra sambil memegang dua kantong benih di tangannya.
Rhea tak memberi respon apa-apa. Pertanyaan Dextra bahkan tak sampai di telinganya.
"Rhe?"
"Rhe?" panggil Dextra sekali lagi.
"Heh!" seru Dextra kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rhea.
"Eh? Kenapa? Ada apa?" tanya Rhea panik.
"Lo ngelamunin apa sampai-sampai gue tanya nggak jawab?"
"Nggak ada kok! Jangan sok tau deh!" elak Rhea agak ngegas.
"Dih! Ngegas!" Dextra tak terima. "Apa jangan-jangan lo ngelamunin gue? Gue di hadapan lo gini ngapain sih pakai dilamunin segala?"
Rhea memberikan tatapan jijik, "Jangan GR deh jadi orang! Mending cepetan sana milihnya!"
Dextra tertawa kecil, puas telah menggoda Rhea. Pemuda itu melanjutkan kegiatannya sementara Rhea masih terus terbayang-bayang sosok Sagas dan setiap sisinya.
"Yuk!"
"Hah? Yuk kemana?" tanya Rhea.
"Makan. Gue lapar."
"Lho? Udah selesai beli benihnya?"
"Udah."
Rhea mengangguk lalu mengekor Dextra yang beberapa langkah lebih depan daripada dirinya. Meski kakinya bergerak seperti biasa tapi kesadaran Rhea belum kembali sepenuhnya. Ia masih tenggelam dalam lamunannya.
"Kalau jalan jangan ngelamun hei!" seru Dextra.
Rhea tak merespon, bahkan tak mendengar perkataan Dextra. Mereka berdua lalu memasuki sebuah kafe besar yang terletak tak jauh dari tempat benih. Mereka duduk di lantai dua dan memesan beberapa makanan.
Rhea sama sekali tak bicara, pandangannya masih sama kosongnya seperti tadi. Dextra jadi agak kesal, "Lo kenapa sih? Jangan ngelamun terus! Kesambet kolong wewe baru tau!"
"Iya ... cerewet banget sih!"
"Cuci muka sana biar fresh! Biar nggak ngelamun terus! Toiletnya di lantai satu."
Rhea menurut tanpa menjawab. Gadis itu melangkah mendekati tangga untuk turun ke bawah. Namun sepersekian detik kemudian keseimbangannya hilang ... gubrak! Rhea terjatuh menuruni tangga karena lamunannya. Tubuhnya menggelinding sampai ke lantai pertama.
Dextra langsung bangkit dari duduknya dan turun ke lantai satu. Rhea sudah dikelilingi beberapa pelayan. Gadis itu terjatuh dengan posisi tengkurap.
"Lo bisa bangun?" tanya Dextra.
"Nggak bisa, tangan gue sakit banget," ucap Rhea. Matanya sudah berair, Rhea kemudian menangis merasakan nyeri yang menjalar di tangan kanannya.
Dextra membalik posisi tubuh Rhea. Tangan kanan Rhea tampak membengkak.
"Tolong telepon ambulans!" pinta Dextra pada seorang pelayan.
"Gue bakal bantu lo. Tenang," kata Dextra menenangkan Rhea.
Setelahnya Dextra mencoba menggerakkan tangan Rhea. Mengecek Range of Movement gadis itu. Namun digerakkan sedikit saja Rhea sudah menjerit kesakitan. Dextra lalu meraba area lengan bawah Rhea dan mendengar bunyi gemeretak.
"Krepitasi positif," ucapnya.
"Ada papan atau kayu?" tanya Dextra.
Seorang pelayan cepat membawakan beberapa buah papan kayu beserta kotak P3K. Dextra meletakkan tangan Rhea di antara papan dan melilitnya dengan perban.
Dextra menggenggam erat tangan kiri Rhea, "Lo bakal baik-baik aja. Jangan banyak gerak dulu ya? Kita tunggu ambulansnya datang."