Tidak ada tempat yang lebih ideal untuk Rhea ketimbang perpustakaan kota. Tenang, penuh buku, dan aroma khasnya, serta Sagas yang sedang duduk di sampingnya. Sungguh gambaran ideal Rhea mengenai surga.
Hari ini sepulang dari kampus, Rhea mengabulkan satu lagi keinginan Sagas, yaitu untuk belajar di perpustakaan. Rhea sengaja memilih perpustakaan kota agar kemungkinan Sagas bertemu dengan Kak Ve semakin kecil. Ya, Rhea tak mau mengundang malapetaka untuk kedua kalinya. Marahnya Sagas sudah cukup membuatnya gusar.
Sagas langsung mengambil beberapa buku seputar manajemen bisnis--sesuai jurusan kuliahnya--untuk dibaca. Ia juga tampaknya membawa buku kumpulan soal dari rumah dan mengerjakannya. Sudah 30 menit, Sagas tampak serius dan sesekali memijat kepalanya. Sementara Rhea langsung mengambil beberapa buku novel dan antologi puisi.
Sudah lama Rhea tidak menyentuh hal-hal berbau sastra. Tidak membaca, tidak pula menulis. Ia terlalu fokus pada psikologi akhir-akhir ini gara-gara rasa penasarannya pada Sagas yang tak berujung. Namun meski begitu kecintaannya pada sastra tidak akan lenyap begitu saja. Rhea memutuskan untuk mencari inspirasi dan berniat menuliskan satu puisi hari ini. Sayangnya, otaknya buntu. Berulangkali ia menulis dan menghapusnya lagi. Kosakata seolah kabur di kepalanya.
"Hhhh." Sagas mendesah lalu menempelkan kepalanya di meja. Tampaknya bukan hanya Rhea yang merasa buntu.
"Kenapa?" bisik Rhea.
"Soalnya terlalu susah," jawab Sagas.
Rhea terkekeh, jawaban Sagas dan ekspresi lelahnya tampak lucu.
"Lagian, siapa juga yang ngide mau belajar di perpus?" sindir Rhea.
Sagas meringis, menampilkan jajaran giginya yang rapi dan menenggelamkan bola matanya yang cokelat jernih.
"Belajar di rumah sama di perpustakaan kan konsepnya sama aja sebenarnya. Emang dasarnya aku yang nggak bisa. Rasanya manajemen bisnis nggak cocok buat aku," papar Sagas.
"Terus kenapa lo milih itu kalau emang nggak cocok?"
Belum sempat Sagas menjawab, mereka berdua sudah dihadiahi tatapan tajam dari penjaga perpustakaan yang kebetulan lewat. Rhea meringis canggung lalu membereskan barang-barangnya.
"Jangan dijawab dulu. Ayo keluar dari sini! Kita ganggu yang lain."
Begitu sampai di pintu depan, Rhea berhenti, "Eh, bentar, Gas! Gue tiba-tiba ingat buku yang pas banget buat lo."
Sagas mengangkat kedua alisnya, "Pas buat aku?"
Rhea mengangguk semangat, "Tunggu di sini! Jangan kemana-mana! Bentar doang kok! Habis ini kita pergi makan ya!"
Rhea lalu kembali masuk ke dalam perpustakaan dan buru-buru mencari buku yang dia maksud. Rhea masuk ke dalam deretan buku anak-anak dan mengambil sebuah buku bersampul merah marun lalu melakukan prosedur peminjaman. Setelahnya, Rhea menuju tempatnya meninggalkan Sagas.
Rhea agak terkejut begitu menemukan bahwa Sagas tidak sendirian. Di hadapannya ada seorang pemuda berkemeja garis-garis.
"Lho? Dextra? Ngapain lo di sini?"
Wajah Dextra tampak tak bersahabat. Sarafnya menegang seperti tidak senang akan sesuatu.
"Mau belajar lah! Emang perpus dibangun eksklusif buat lo doang?"
"Dih! Sensi!" protes Rhea.
Mata Dextra memindai Sagas dari atas sampai bawah kemudian berdecak. Tak ada yang tau apa maksudnya namun Sagas merasa terpancing seketika.
"Apa lo lihat-lihat?" tanya Sagas dengan nada kurang mengenakkan.
"Ya terserah gue lah! Gue punya mata, jadi ya bebas!" jawab Dextra ketus.
Sagas mendengus sarkastik, "Gue yang b**o. Kenapa juga gue harus ngeladeni orang bar-bar kayak lo. Nggak ada gunanya."
"Oh, jadi lo sadar kalau lo b**o? Syukur deh," sahut Dextra.
"Daripada lo, nggak punya sopan santun."
"Eh! Lo tuh--."
"Berhenti! Kalian kenapa sih tiap ketemu malah ribut mulu?" protes Rhea.
"Dia nih bikin panas mulu!" adu Dextra.
"Lo kepanasan tuh karena aura iblis yang nempel di badan lo, bukan karena gue!" sahut Sagas.
Rhea berdecak sebal, "Ish! Diam kalian berdua. Gue dengar satu kata lagi dari mulut kalian, gue tinggal sekarang juga!"
Dextra dan Sagas sama-sama diam. Rhea merasa pertengkaran tanpa dasar antara Dextra dan Sagas ini harus diakhiri sesegera mungkin.
"Kayaknya kalian butuh bonding deh."
"Hah?"
***
Baik Sagas maupun Dextra tak bisa bersikap baik pada satu sama lain. Kalau orang melihat ini semua, mereka akan berpikir bahwa Sagas dan Dextra adalah musuh bebuyutan bahkan sebelum mereka lahir. Tujuan Rhea membawa mereka ke warung makan adalah agar mereka bisa berbaikan. Tapi sepanjang perjalanan, Sagas dan Dextra tak berhenti berdebat. Mendebatkan hal-hal yang tidak penting dan berujung saling hina. Rhea sakit kepala sendiri dibuatnya.
Bahkan sekarang, situasi tak kalah panas. Sagas dan Dextra berdebat mengenai Rhea harus duduk di sebelah mana.
"Heh! Rhea tuh harus duduk di sebelah sini! Kalau dekat lo, entar ketularan b**o!"
"Oh ya? Kenapa dia harus duduk di sebelah manusia beraura iblis kayak lo? Yang ada dia kepanasan entar. Lagipula di sebelah sini ada kipas!"
"Heh, manusia yang bisanya jual tampang doang! Jangan sembarangan ya lo ngomong!"
Untung saja situasi warung sedang ramai, jadi tidak ada orang yang pay attention terhadap perkelahian Sagas dan Dextra.
"Mulut kalian berdua minta gue kuncir ya kayaknya? Diam! Gue udah gede, bisa mutusin sendiri mau duduk dimana!" seru Rhea.
Rhea lalu duduk di sebelah Sagas, dekat kipas angin yang setidaknya bisa mendinginkan kepala Rhea sejenak. Sagas tersenyum menang meski tidak bertahan lama.
"Pindah lo!" ujar Rhea pada Sagas.
"P-pindah?"
"Hm. Duduk sebelah Dextra sana. Gue mau duduk sendirian!"
Mendengar perintah Rhea, Dextra tertawa puas sementara Sagas mau tak mau harus meringsek duduk di samping musuhnya. Mereka berdua sama-sama memalingkan pandangannya. Dextra menghadap kiri sementara Sagas menghadap kanan. Bersebelahan namun saling ingin berjauhan. Persis seperti kucing dan anjing yang ingin saling menyalak namun tertahan. Mereka butuh dijinakkan.
Ketika makanan datang, Rhea langsung membasuh tangannya dengan air kobokan yang sudah disediakan. Seperti kebanyakan warung pinggir jalan, makan pakai tangan sudah jadi tradisi meski ada sendok dan garpu. Sagas tampak terkesima melihat setiap gerak-gerik Rhea yang mulai mengambil makanan dengan tangannya.
Dextra berdecak, "Nggak pernah makan pakai tangan lo? Sok higienis banget."
Sagas memutuskan untuk diam, hanya melayangkan tatapan tajam. Ia mengikuti semua prosedur yang Rhea lakukan dan mulai makan pakai tangan meski sulit. Rhea tersenyum bangga melihat Sagas yang mulai menikmati makanannya.
"Gimana? Enak kan?"
Sagas mengangguk. Jelas tujuan Rhea mengajak mereka kemari bukan sekadar untuk makan bersama. Tujuan utama ya mendekatkan mereka berdua.
"Coba berhenti dulu makannya kalian berdua!" perintah Rhea.
Sagas dan Dextra menatap Rhea bingung.
"Sekarang ambil satu suap nasi plus lauk tapi jangan di makan dulu," ucap Rhea.
Meski tak mengerti, Sagas dan Dextra menurut. Mereka memegang satu suap nasi di tangan.
"Sekarang Dextra suapin Sagas. Sagas suapin Dextra!"
"Ogah!" seru Dextra.
"Nggak, Rhe! Apa-apaan!" tolak Sagas.
Mereka lalu melemparkan tatapan jijik satu sama lain.
"Oh? Nggak mau? Oke, kalau gitu ini bakal jadi hari terakhir kita ketemu. Gue nggak mau ketemu kalian lagi. Gimana?" ancam Rhea.
Sagas dan Dextra lemah mendengar ancaman Rhea.
"Rhe!" protes Dextra.
Rhea mengangkat bahunya tak peduli.
Sagas dan Dextra kemudian melirik satu sama lain. Sagas menyodorkan tangannya pada Dextra, begitu pula sebaliknya. Mereka saling bersuapan seperti keinginan Rhea. Tepat saat itu juga, Rhea mengabadikan kejadian itu dalam kamera ponselnya.
Sagas dan Dextra sama-sama menampilkan ekspresi jijik. Rhea tertawa puas. Setelah menelan makanannya, Dextra mulai protes, "Rhe! Lo tau nggak sih tiap 1 sentimeter persegi kulit tangan itu mengandung 1500 mikroba? Suap-suapan pakai tangan kayak tadi ya jelas bisa nularin mikroba lah! Kalau nih orang penyakitan gimana? Cuci tangannya cuma pakai air lagi!"
"Iya, Rhe. Terus kenapa juga kamu foto?" tanya Sagas.
Rhea mengangkat alisnya licik, "Emang itu tujuan gue. Kalian yang doyannya berantem ini udah saling tukar kuman. Jadi saling berantem nggak ada gunanya karena kuman kalian aja udah campur."
Teori konyol Rhea membuatnya tertawa sendiri. Sementara Sagas dan Dextra makin merasa jijik.
"Terus foto ini buat jaga-jaga kalau kalian berantem lagi, gue bakal kirim ini foto ke kalian setiap kali berantem. Ingetin kalau kalian udah pernah tukeran kuman dan berantem itu nggak ada gunanya. Ngerti?"
***
Meski belum saling berbincang akrab, setidaknya Sagas dan Dextra tidak mendebatkan hal tidak penting yang membuat Rhea sakit kepala. Mereka memilih untuk duduk senyap dalam keheningan, hanya terdengar suara mesin mobil Dextra yang kini terjebak macet.
Harapan Rhea memang tidak banyak. Dia memang cuma ingin Sagas dan Dextra berhenti berdebat. Sudah cukup buatnya.
"Kalian kenapa sih sebenarnya kayak benci gitu satu sama lain? Kasih gue alasannya coba," tanya Rhea iseng
"Kenapa? Emang butuh alasan buat benci seseorang? Gue benci aja sama nih bocah. Nggak perlu pakai alasan segala!" jawab Dextra. Nadanya yang tidak mengenakkan membuat Sagas mendelik. Melihat atmosfer tegang yang sudah tergambar jelas membuat Rhea menyesal telah bertanya.
"Lo tau nggak kalau benci orang tanpa alasan itu b**o namanya? Lo ngatain gue b**o mulu tapi malah lo yang lebih b**o!" sahut Sagas. "Tau kenapa gue benci lo? Lo bar-bar, sok ganteng, songong pula!"
"Bar-bar? Sok ganteng? Songong? Emang lo sendiri gimana? Ganteng juga nggak! Lo belagak sopan aja biar nggak dimarahin Mama kan? Lo kan anak mama!"
"Eh! Eh! Jangan berantem! Ingat kalian udah tukeran kuman!" ujar Rhea.
Namun ucapan Rhea sepertinya hanya terdengar seperti angin di telinga Sagas dan Dextra karena bukannya berbaikan, Sagas dan Dextra malah menjambak rambut satu sama lain.
"Kayak cewek lo! Berantem malah jambak rambut orang!" seru Dextra.
"Lo tuh yang duluan jambak gue! Lepas! Kalau nggak, gue tarik nih rambut lo sampai ke akarnya!"
Rhea yang sudah pusing melihat kemacetan jalanan kini jadi makin pusing. Taktiknya bahkan tak berhasil sama sekali untuk menjinakkan Sagas dan Dextra. Oleh karena itu, Rhea memutuskan untuk keluar dari mobil dan membanting pintu sekeras-kerasnya.
"Rhe! Mau kemana?" tanya Sagas dan Dextra bersamaan.
"Gue nggak mau ketemu kalian sampai kalian baikan di tahap bisa pelukan satu sama lain!"
***
Sagasta:
Rhe, kamu masih marah?
Sagasta:
Rhe, kita ud nggak berantem lagi kok.
Sagasta:
Rhe?
Sagasta:
Jawab dong
Rhea melirik ponselnya yang mendapat notifikasi bertubi-tubi lalu memutuskan untuk kembali membaca bukunya.
Bodrex:
Rhe
Bodrex:
Ud baikan gue
Bodrex:
Sumpah
Rhea menghembuskan napas dalam lalu membalas pesan kedua pemuda itu dengan isi yang sama.
Buktinya?
Segera setelah Rhea mengirimkan pesan itu, Sagas dan Dextra mengirimkan sebuah foto yang membuat Rhea terpingkal. Foto yang menunjukkan bahwa Sagas dan Dextra saling berpelukan dengan wajah yang tersenyum paksa.
Oke dimaafin.
***
"Kenapa, Bu? Saya ada salah?" suara Rhea agak bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Ia menatap Bu Dersa dengan penuh kewaspadaan. Bukan apa, pasalnya Bu Dersa mendadak mengirimi Rhea pesan pagi-pagi buta, minta ditemui di ruangannya.
Rhea was-was. Ya siapa tau kan si Dextra mengadu tentang prosesi 'pertukaran kuman' yang Rhea rencanakan dan Bu Dersa tak senang akan hal itu? Kalau begitu ceritanya, tamat sudah eksistensi Rhea di kampus ini.
"Kenapa nanya gitu? Memangnya kamu buat salah?" tanya Bu Dersa balik.
Rhea menggeleng cepat, "Nggak, Bu."
Bu Dersa tersenyum lalu menyodorkan dua lembar kertas berwarna keemasan pada Rhea. Tepatnya dua buah tiket pertunjukan balet.
"Balet?" Rhea menaikkan alisnya.
"Hari ini Sagas ulang tahun. Mamanya mau kasih kejutan. Jadi tugas kamu adalah bawa Sagas ke pertunjukan itu tanpa dia tau."
"Sagas ... ulang tahun, Bu? Hari ini?"
Bu Dersa mengangguk, "Saya juga bakal ada di sana nanti. Kita ketemu langsung di tempatnya ya."
Rhea mengangguk lalu keluar dari ruangan Bu Dersa. Dia langsung terpikir mengenai hadiah. Ulang tahun dan hadiah, dua hal yang rasanya tak bisa dipisahkan. Rhea sebenarnya tak pernah mengerti apa esensi memberi hadiah pada saat ulang tahun. Menurutnya, hadiah bisa diberikan kapan saja. Lagipula, ulang tahun menandakan semakin pendeknya sisa usia. Rhea tak pernah memberi hadiah ulang tahun pada siapapun.
Ada beberapa alasan sebenarnya. Pertama, Rhea tidak mengerti esensi pemberian hadiah di hari ulang tahun. Kedua, dia bahkan tidak punya teman untuk diberi hadiah. Ketiga, ibunya yang irit setengah mati jelas tak memberinya uang lebih untuk dihamburkan membeli hadiah. Namun untuk pertama kalinya Rhea merasa sebaliknya. Meski dirinya tak tau esensi atau apalah itu. Rhea ingin memberikan hadiah. Untuk Sagas.
"Gue harus beli apa coba?" desis Rhea. "Mungkin gue harus tanya seseorang."
Rhea merogoh ponselnya, mencari kontak Aalea, dan menghubunginya. Sayangnya panggilan itu tak diangkat Aalea. Mungkin sepupunya itu sedang sibuk.
"Sagas yang dari kecil hidupnya di rumah segede istana itu pasti punya semuanya. Barangnya juga bermerek semua. Apa coba yang bisa gue kasih ke dia?" desah Rhea.
"Nina!" Suara panggilan yang terdengar tak asing itu membuat Rhea berhenti berpikir. Seorang pemuda melambaikan tangannya dengan semangat di ujung koridor.
Sial, Dextra! batin Rhea. Rhea segera memutar balik tubuhnya, nyaris berlari tapi Dextra memegang kerah kemejanya cepat.
"Mau kemana lo?" tanya Dextra. "Kabur dari gue?"
"Mmh ... toilet! Gue mau ke toilet!" ujar Rhea memberi alasan.
Dextra tampak meragukan jawaban Rhea, "Nggak usah bohong!"
Rhea meringis, "Hehe. Abisnya idup gue selalu nggak tenang tiap ada lo. Mau apa lo ke sini? Butuh apa dari gue?"
Dextra mendengus jengkel, "Jangan GR lo! Gue di sini mau ketemu Mama kok."
Dextra memamerkan tote bag merah yang ada di tangan kanannya, "Bekalnya ketinggalan."
"Oh ... bagus deh."
"Hari ini temenin gue ya," kata Dextra. "Mau realisasi proyek sumpah dokter yang gue bilang waktu itu. Mau survey tempat jual benih tanaman."
"Nggak bisa gue. Ada tugas dari Bu Dersa." Rhea memamerkan tiket pertunjukan balet yang diberikan oleh Bu Dersa tadi. "Gue harus bawa Sagas ke sana. Hadiah ulang tahun dari Mamanya."
Dextra mengernyit, "Si Monyet itu ulang tahun?"
"Monyat-monyet! Gue karetin nanti mulut lo ya!"
"Nggak bisa apa lo nggak ikut?"
"Nggak bisa lah! Ini perintah Bu Dersa! Bisa nggak dapat gaji gue!" ujar Rhea.
Dextra tampak tidak senang.
"Oh ya, gue mau nanya. Kan lo cowok nih, Sagas juga. Jadi gue rasa lo bisa ngerti Sagas meskipun kalian nggak akur."
Dextra mengangkat alisnya bahkan sebelum mendengar pertanyaan Rhea.
"Menurut lo, hadiah apa yang harus gue kasih ke Sagas? Gue butuh sesuatu yang unik karena gue rasa dia udah punya segalanya," lanjut Rhea. "Jadi menurut lo ...."
"Jangan!" seru Dextra setengah memekik.
"Hah? Jangan apanya?"
"Jangan dikasih hadiah! Jangan diucapin juga!"
"Lho? Kenapa?"
"Mmh ...." Mata Dextra bergerak tak tenang, menunjukkan bahwa otaknya sedang berpikir keras untuk mencari jawaban atas pertanyaan Rhea.
"C-cowok nggak suka dikasih hadiah dan diucapin ulang tahun!"" jawab Dextra lantang.
"Oh ya?"
"Iya! Cowok bakal ilfeel kalau dikasih hadiah. Cowok lebih suka kalau lo nggak peduli!" jelas Dextra dengan nada serius. "Kalau lo nunjukin perhatian dengan ngasih hadiah kayak gitu. Bisa-bisa dia menjauh."
"Gitu? Meskipun yang ngasih hadiah temannya sendiri?"
Dextra mengangguk mantap. Rhea awalnya ragu. Namun intonasi dan ekspresi Dextra yang cukup meyakinkan membuatnya percaya.
"Oke, makasih, Dex."
Tiba-tiba Dextra menyodorkan jari kelingkingnya, "Janji sama gue, lo nggak bakal kasih dia hadiah."
"Hah?"
"Janji dulu!"
Rhea menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Dextra, "Oke."