Rhea sedang scrolling i********: ketika Kak Ve mengunggah foto bersama Sagas ke akunnya. Kak Ve tersenyum sumringah, duduk di samping Sagas yang terlihat ganteng seperti biasa.
"Cocok banget," desis Rhea.
Kak Ve yang punya rambut panjang kecokelatan dengan mata lebar dan bibir merah berisi itu secara visual memang cocok bersanding dengan Sagas. Seperti sepasang malaikat yang dikirim dari surga. Ya, meskipun Rhea sebenarnya agak tak rela karena Kak Ve sepertinya adalah tipe orang yang mendekati ketika ada maunya saja. Tapi kalau mereka benar-benar jadian, setidaknya Rhea bisa minta uang pajak jadian kan?
Tak lama, pintu kamarnya di ketuk. Rupanya ibu indekos.
"Ada teman kamu di depan," katanya.
"Teman saya?"
"Iya, yang ngontrak itu."
Rhea langsung melesat menemui Sagas yang sudah menunggu di depan indekos nya. Sagas masih memakai pakaian yang sama. Pemuda itu tampaknya baru pulang. Tanpa basa-basi, Sagas menyodorkan sebuah kantong bertuliskan nama restoran yang tadi mereka kunjungi pada Rhea.
"Wah ... makasih! Tau aja gue belum makan!" ucap Rhea. "Gimana makan malamnya? Kak Ve orangnya seru kan? Ngobrolin apa aj-heh! Sagas! Main pergi gitu aja!"
Tanpa sepatah katapun, Sagas pergi meninggalkan Rhea. Dahi Rhea mengernyit. Tak mengerti dengan sikap Sagas yang tak biasa.
***
"Hai!" sapa Rhea yang sedang menempel di pagar rumah Sagas. Rhea yang mau berangkat kuliah sengaja mampir untuk sekadar menyapa Sagas. Sayangnya, sapaannya itu mungkin tak cukup kuat hingga Sagas yang sedang mengurus tanamannya sama sekali tak merespon.
"Hai, Sagas!" ulang Rhea, kini setengah berteriak. Tapi Sagas belum juga merespon.
"HAI, SAGAS!" ulangnya lagi dengan kekuatan penuh. Sagas tak menoleh sedikitpun. Sekarang Rhea tau bahwa masalah tidak ada pada suaranya. Sagas memang sengaja tak meresponnya.
Sagas menghentikan kegiatannya lalu berdiri, menatap tajam Rhea. Meski dipisahkan oleh pagar, tatapan Sagas terasa menembus jantung Rhea. Tanpa berkata apa-apa, Sagas berniat masuk ke dalam rumah
Rhea merasa kesal seketika, "Gas! Gue lagi ngomong sama lo ya! Bisa-bisanya lo pergi gitu aja dan nggak ngerespon gue!"
Sagas berhenti, masih dengan posisi yang membelakangi Rhea, ia berkata, "Kamu kemarin juga pergi ninggalin aku gitu aja. Cuma buat ketemu Dextra."
***
Orang bilang, marahnya orang sabar adalah yang paling menyeramkan. Ungkapan itu tampaknya benar. Pasalnya Sagas adalah manusia paling sabar yang pernah Rhea temui. Dan dalam keadaan marah begini, pemuda itu sama sekali tak bisa dihubungi. Ia menolak telepon dari Rhea, juga tak menjawab satupun pesan Rhea.
Seharian ini, Rhea jadi tak enak hati. Ia sama sekali tidak bisa fokus pada kuliahnya, terlalu gelisah apalagi kalau ingat kata-kata dan ekspresi Sagas pagi tadi.
"Ah ... harusnya gue nggak nurutin permintaan Kak Ve," sesalnya.
Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlanjur. Larut dalam penyesalan tidak akan ada gunanya.
Rhea berjalan melewati lobby dengan perasaan hampa. Tujuannya mempertemukan Sagas dan Kak Ve hanya karena mau hidup tenang di kampus, tapi siapa sangka ujungnya malah begini?
"Pssst! Pssst!" seorang pemuda berjaket hitam mendesis memanggilnya. Rhea yang sedari tadi pikirannya melayang-layang tak mendengar apa-apa. Pemuda yang sedang menyandarkan punggungnya di salah satu pilar itu jadi sebal.
Jiwa Rhea baru kembali pada tempatnya saat kakinya tak bisa bergerak karena kerah bajunya ditarik seseorang ke arah belakang. Badanya yang mungil seperti terpelanting kena angin topan.
"Lo! Ngapain di sini?" ujar Rhea ketika tau siapa yang menarik kerah bajunya secara bar-bar.
"Akhirnya gue di-notice nih?" ucap pemuda itu.
Rhea sudah terlanjur kesal. Gadis itu merapikan kemejanya yang jadi acak-acakan. Apalagi kemeja yang sedang Rhea pakai adalah kemeja berbahan katun yang super susah diseterika tapi mudah sekali kusutnya. Sungguh malapetaka.
Menyadari ekspresi kesal Rhea, pemuda itu cepat berkata, "Maaf, maaf. Santai dong mukanya!"
"Ngapain lo di sini?" tanya Rhea sinis.
"Mau memerintah asisten gue lah. Udah lama nggak gue perintah," jawabnya dengan telunjuk yang diarahkan pada Rhea dan wajahnya yang memasang ekspresi tengil. "Yuk. Temenin gue brain storming. Kayak biasa, nggak ada penolakan. Ingat utang 15 juta lo."
Ya, siapa lagi yang bisa memerintah dan mengancam Rhea seperti ini kalau bukan Dextra?
***
Brain storming? Rhea mendengus mendengar dua kata itu. Bahkan tanpa brain storming pun, sudah ada badai di kepala Rhea saat ini. Bayangan Sagas yang sedang marah berputar-putar di kepalanya. Rhea bahkan sama sekali tak menyentuh kue dan latte yang Dextra pesankan.
Suasana yang senyap juga makin membuat Rhea kalut. Dextra daritadi sibuk menatap tablet PC nya dengan wajah serius dan kacamata yang bertengger di hidung.
"Gue pulang aja boleh nggak? Makin pusing gue lihat lo serius gini," kata Rhea.
Dextra mengalihkan perhatiannya pada Rhea, "Pusing kenapa? Karena gue jadi lebih ganteng kalau lagi serius gini?"
"Dih! Narsis!"
Meski terdengar narsis, namun perkataan Dextra tak sepenuhnya salah. Pemuda itu memang makin terlihat ganteng waktu sedang serius. Dextra punya mata bulat, alis tebal, hidung mancung, dan bibir tebal yang entah kenapa jadi makin menarik kalau sedang serius. Satu fitur lagi yang unik dari Dextra adalah jakunnya yang terlihat lebih menonjol dibanding laki-laki lainnya.
"Mending lo dengar gue ya, gue mau cerita tentang keadaan gue. Gue udah buntu banget. Siapa tau lo bisa ngasih saran," ucap Dextra.
Rhea setuju. Daripada diam dan kepikiran Sagas terus, kan lebih baik kalau pikirannya bisa teralihkan begini.
"Tau steering committee kan lo?" tanya Dextra.
"Nggak."
Dextra berdecak, "Lo kuliah ngapain aja? Masa steering commitee aja nggak tau!"
Rhea mengangkat bahunya tak peduli.
"Steering commitee tuh kayak konsultan di suatu acara gitu. Kan ada panitia yang mengolah acara, nah steering commitee ini tempat para panitia buat mengkonsultasikan idenya gitu. Istilahnya membimbing panitia, bisa ngasih kritik dan saran juga. Biasanya steering commitee ini mantan panitia acara tersebut tahun-tahun sebelumnya," papar Dextra.
"Oh ... terus kenapa?"
"Gue kan tahun ini jadi steering commitee acara sumpah dokter kampus gue. Nah, di acara sumpah dokter ini tiap tahunnya ada kayak event simbolik berupa penerbangan balon gitu. Tapi menurut gue nerbangin balon ini udah nggak relevan aja sama keadaan bumi kita sekarang. Balon yang diterbangin bakalan pecah di udara terus sampahnya balik lagi ke bumi dan malah bikin pencemaran doang. Gue pengen bikin event yang maknanya dapat, manfaatnya juga dapat. Sayangnya gue nggak punya ide apa-apa."
"Nerbangin balon emang menyimbolkan apa?"
"Menyimbolkan harapan agar mimpi para dokter yang baru lulus itu akan selalu terbang tinggi."
Rhea menopang dagu, ia mencerna semua penjelasan Dextra dan mengolah pemikiran-pemikiran baru di kepalanya. Beberapa detik kemudian ia menjentikkan jari.
"Gimana kalau nanam pohon aja? Benih yang baru ditanam menyimbolkan dokter-dokter yang baru lulus, nah benih-benih ini akan terus tumbuh jadi pohon yang setiap bagiannya bermanfaat. Sama, dokter-dokter yang baru lulus itu juga bakal tumbuh seiring dengan pengalaman dan setiap gerak-geriknya bermanfaat bagi masyarakat. Gimana?"
"Berguna juga lo ternyata!" ujar Dextra setengah mengejek. Rhea hanya bisa mendengus pelan.
Dextra mencatat ide yang diutarakan Rhea di tablet PC nya. Seusai mencatat semuanya, Dextra melepas kacamatanya dan memijat kepalanya sebentar. Ia lalu menatap Rhea yang tampak kusut sejak tadi.
"Kenapa lo? Ada masalah?"
"Bukan urusan lo."
"Terserah, gue juga nggak tertarik kok," sahut Dextra. "Gue malas aja lihat muka lo kusut gitu. Makin jelek soalnya, bikin mata sakit."
Rhea berdecak sebal. Setelah itu Dextra beranjak dari bangkunya dan mengemasi tasnya.
"Mau kemana? Pulang?" tanya Rhea.
"Pulang? Terlalu awal buat pulang."
"Terus mau kemana?" cecarnya.
"Udah ikut aja."
***
"Lo mau berbuat jahat ya?" tuduh Rhea terus terang.
Dextra mendelik otomatis, "Heh? Gila lo? Nuduh-nuduh sembarangan!"
Pasalnya Rhea tak lagi bisa berpikiran positif karena Dextra sama sekali tak menjawab pertanyaan mengenai kemana destinasi mereka. Ditambah lagi, mobil yang mereka kendarai memasuki g**g-g**g yang semakin sepi dan gelap, membuat Rhea curiga.
"Gue nggak nuduh sembarangan ya! Siapa suruh ditanyain daritadi tapi nggak jawab! Lagian ini makin lama kita malah lewat jalan-jalan sepi gini! Gue kan belum begitu lama kenal lo! Siapa tau lo ternyata anggota bandit atau mafia kan!"
Dextra tertawa sarkas, "Heh dengar ya, kalaupun gue penjahat, gue bakal pilih-pilih calon korban kali. Apa coba yang bisa diambil dari lo? Barang berharga lo yang ada sekarang paling cuma HP, harga jualnya berapa sih? Duit juga lo nggak punya, buktinya utang 15 juta ke gue aja nggak bisa bayar! g****k banget kalau gue milih lo jadi korban!"
"Eh! Kejahatan kan nggak cuma ngerampok doang! Siapa tau kejahatan lo berupa perdagangan manusia!"
Dextra mendengus keras-keras, "Lo? Dijual? Emang ada yang mau beli orang cerewet dan malas kayak lo?"
Rhea terdiam, sedikit sebal karena kata-kata Dextra seolah menjatuhkan harga dirinya dari atas gedung pencakar langit.
"Oh ... iya .... Masih bisa sih. Organ lo seenggaknya masih laku. Apa gue cari distributor organ manusia aja sekarang?" tambah Dextra ditambahi tatapan jahilnya.
"Gila!" pekik Rhea.
Dextra tertawa puas melihat respon Rhea. Tak lama, mobil Dextra menepi di depan deretan ruko-ruko sepi nan gelap.
"Sampai," kata Dextra.
Rhea menatap Dextra penuh keraguan.
"Tenang aja, gue bukan penjahat! Cepat turun sebelum gue berubah pikiran dan memutuskan buat jual organ lo."
Rhea cepat melepas seat belt nya dan turun mengikuti Dextra. Dextra mengambil sebuah kresek hitam dari kursi belakang kemudian berjalan mendahului Rhea. Pemuda berkemeja abu-abu itu berbelok tepat di samping ruko, masuk ke dalam sebuah g**g kecil yang remang-remang.
Rhea tetap waspada. Ia sudah menghapal letak batu di tepi jalan yang bisa dipakai untuk melempar kalau-kalau Dextra tiba-tiba menyerangnya.
Dextra memelankan tempo jalannya, "Meow, meow."
"Meow, meow," lanjutnya menirukan suara kucing. Rhea bingung.
Tak lama muncul segerombol kucing dari berbagai arah. Dextra tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Ia lalu berjongkok dan membuka kresek hitam bawaannya yang ternyata berisi makanan kucing.
Rhea ikut nimbrung, dikelilingi kucing-kucing kecil yang tampak lapar. Suara mengeong yang meramaikan suasana g**g sepi itu membuat Rhea merasa hangat.
"Wah ... gue nggak nyangka kalau ternyata lo punya sisi dermawan gini," ucap Rhea pada Dextra yang sedang mengelus-elus kepala kucing.
"Baru tau?"
Rhea ikut mengelus dan bermain bersama kucing-kucing itu. Meski tak punya pemilik dan hidup di jalanan, tapi kucing-kucing itu tampak sehat dan bersih.
"Lo sering ke sini?" tanya Rhea.
"Hm, hampir tiap hari. Kasihan mereka nggak ada yang ngasih makan."
"Oh ... pantesan mereka bisa hapal suara aneh lo."
"Meow, meow," lanjut Rhea mengejek Dextra. "Meow, meow."
"Ih, itu suara meow meow paling ganteng di seluruh dunia ya," bela Dextra.
Rhea tertawa.
"Kurang apa lagi gue, udah ganteng, cerdas, baik hati, penyayang binatang lagi!" puji Dextra untuk dirinya sendiri. "Tapi masih aja gue jomblo."
"Dih! Narsis banget jadi orang!"
"Lo aja, gimana?" tanya Dextra ambigu.
"Hah? Maksudnya?
"Lo aja jadi pacar gue, gimana?" jelas Dextra.
Rhea membeku. Sekujur tubuhnya kaku seolah-olah sarafnya telah rusak dalam sekejap. Perkataan Dextra terlalu mengejutkan baginya.
Ini Dextra ... nembak gue?
Melihat reaksi Rhea, Dextra tertawa terbahak, "Canda elah! Serius amat! Lagian gue punya orang yang gue suka kok!"
Rhea bernapas lega, "Oh ... terus kenapa masih jomblo? Pasti dia nggak mau kan sama lo?"
"Sembarangan! Belum gue nyatain aja. Gue masih sibuk sama acara sumpah dokter terus skripsi gue. Entar setelah dua acara ini selesai, rencananya bakal gue nyatain."
Dextra kemudian mengejek Rhea, "Kenapa? Lo kecewa karena nggak benar-benar gue tembak?"
Rhea melotot, "Batu banyak nih tepi jalan, jangan sampai gue getok ya."
***
Rhea buru-buru turun dari mobil Dextra ketika melihat Sagas sedang berdiri di depan indekosnya. Sagas sedang menunggu Rhea.
"Kurang kerjaan banget lo malam-malam gini depan rumah orang," sindir Dextra yang entah kenapa bukan langsung pulang, tapi malah memutuskan untuk ikut turun dari mobilnya.
"Bukan urusan lo," sahut Sagas singkat. Pemuda berjaket putih itu lalu mengalihkan pandangannya pada Rhea. Bukan menggunakan sebuah tatapan tajam seperti tadi pagi, melainkan tatapan hangat nan teduh yang selama ini Rhea rasakan dari sosok Sagas.
Rhea tau bahwa Sagas tak mungkin berdiri di depan indekosnya tanpa alasan. Pasti ada yang mau dibicarakan.
"Pulang sana lo," ucap Rhea pada Dextra.
"Lo ngusir gue nih?" tanya Dextra tak terima.
"Iya. Udah sana!"
Dextra mendengus. Namun pada akhirnya di mengalah, "Ya udah, gue pulang."
Begitu mobil Dextra melesat dan tak lagi terlihat, Sagas mulai buka suara, "Maaf, Rhe."
"Maaf karena aku marah tanpa alasan yang jelas," lanjutnya.
Rhea menggeleng, "Harusnya gue yang minta maaf. Gue bikin lo makan malam sama orang asing tanpa persetujuan lo. Pakai acara akting segala pula. Maaf."
Rhea menggaruk lehernya canggung, "Jadi ... kita masih teman kan?"
Sagas memajukan tubuhnya, mengikis jarak diantara mereka, dan memeluk tubuh Rhea.
"Iya, Rhe. Kita masih teman."
Deg! Rhea mau mati seketika.