Kak Ve

2015 Kata
Sagas benar, semua manusia memang punya kekurangan. Bahkan Panji Sagasta Mahadierja yang menurut Rhea sudah setingkat dengan malaikat pun memiliki kekurangan. Kekurangannya adalah naif dan bodoh. Ya, bodoh. "Sumpah ya, gue belum pernah nemu satu orang pun yang goreng telur plus cangkangnya selain lo!" ujar Rhea. Matanya melebar sempurna, frustasi dengan hasil karya Sagas. "Mmh ... salah ya, Rhe?" Rhea mengusap wajahnya kasar. Salahnya sendiri, ia menginstruksikan Sagas untuk mengocok telur dan menggorengnya sementara dirinya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat cah kangkung. Tujuannya sih biar cepat. Tapi siapa sangka kalau Sagas mengartikannya secara berbeda? "Gue tadi suruh lo kocok telur kan?" Sagas mengangguk. "Gimana caranya?" tanya Rhea lagi. Sagas segera mengambil satu buah telur dan menggoncang-goncang telur di tangannya seperti sedang mengocok sebotol soda. "Gini, kan?" "Terus langsung lo goreng?" "Iya." Rhea tersenyum getir. "Terima kasih atas partisipasinya, Saudara Sagas. Sekarang mending lo duduk." Ya, Sagas memang bisa sebodoh itu. Tempo hari, ia bahkan tidak bisa membuka tutup kaleng soda serta tidak tau cara menyalakan kompor. Sagas baru paham ketika Rhea mengajarinya. Rhea akhirnya memasak semuanya sendiri. Ia makan bersama Sagas dan setelahnya berpamitan, "Gue pulang deh." Rhea tak yakin bagaimana dia harus menghadapi ibunya ketika sudah sampai di indekos. Mereka mungkin berdebat lagi. Rhea mungkin harus mengungkit rasa sakit hatinya lagi. Namun ketika Rhea sampai di indekos, ibu rupanya sudah tidak ada. Begitu pula dengan barang bawaannya. Hanya tersisa sebuah amplop berisi uang tiga juta dan secarik kertas berisi pesan singkat di atas meja belajarnya. Kalau kurang telepon ibu. Ibu hari ini tinggal di rumah bude-mu. Besok ibu balik ke Surabaya. Jaga diri, Nak. Rhea mendengus. "Ibu selalu begini. Selalu lari dari masalah," desisnya. *** "Rheaaaaaa!!!" teriakan keras gadis itu membuat Rhea ingin menenggelamkan dirinya di rawa-rawa sekarang juga. Rhea menghampiri gadis itu lalu melotot, "Lo ngapain ke sini?" "Kenapa? Emang nggak boleh gue main ke kampus lo?" "Nggak! Kurang kerjaan banget!" "Gue juga nggak mau tuh ke sini. Tapi Bulek nyuruh gue ngecek lo. Takut Lo kenapa-napa." "Ibu gue cerita semuanya, Aal?" tanya Rhea. "Nggak. Bulek cuma bilang kalau kalian cekcok dikit," ucap Aalea. "Tenang. I'm not gonna judge you. Gue juga pernah berantem sama ibu gue." Aalea menepuk pundak Rhea lalu berkata, "Traktir gue jus di kantin. Udah jauh-jauh nih ke kampus lo, haus." Rhea memutar matanya jengah, "Iya. Ayo." Mereka duduk di bangku paling pojok kantin setelah memesan dua gelas jus alpukat. Aalea menatap Rhea lekat. Membuat Rhea merasa tak nyaman. "Apaan?" tanya Rhea sewot. "Lihat lo sekarang bikin gue ingat masa lalu. Like i said, gue juga pernah berantem sama ibu. Gue bahkan sampai diusir dari rumah." "Serius lo?" Aalea mengangguk. "Gara-gara apa?" "Nilai," jawab Aalea. "Ibu gue terobsesi banget sama nilai gue. Gue juga nggak paham kenapa." Aalea menghela napasnya panjang, "Gue nggak bakal nyuruh lo baikan sama ibu lo. Gue cuma mau nyuruh lo cerita, Rhe. Nggak harus sama gue. Sama siapapun. Ceritain masalah lo. Gue yakin lo butuh didengar." Rhea menggeleng. "Gue nggak tau mau cerita sama siapa. Gue nggak punya teman." Aalea tertawa, "Serius? Bahkan gue aja punya teman." "Rhe, gue kasih tau ya. Punya teman itu penting. Nggak perlu banyak, cukup satu tapi cocok," lanjut Aalea. "Gue yakin, meskipun lo ngakunya nggak punya teman. Tapi ada satu atau dua orang yang mungkin secara nggak lo sadari udah ada di tahap pertemanan sama lo." Rhea menaikkan alisnya seolah tak percaya dengan omong kosong Aalea. "Nggak percaya? Sekarang coba tutup mata lo deh." Rhea menutup matanya segera. "Siapa orang yang paling lo percaya sekarang ini? Orang yang paling pengen lo ajak cerita sekarang? Orang yang paling pengen lo ajak ngomong berjam-jam?" tutur Aalea. "Orang pertama yang muncul di bayangan lo, that's your friend." *** Siapa sangka kalau pemuda berkulit seputih salju yang naif dan kadang bodoh itu adalah orang yang pertama kali muncul di bayangan Rhea. Itulah mengapa, sepulangnya dari kampus, Rhea langsung mampir ke rumah pemuda itu. Kini gadis itu sedang ada di halaman, mengamati Sagas yang sedang menyiram Feby--satu-satunya tanaman mawar yang dia bawa dari rumah--dengan penuh kasih sayang. "Gas," panggil Rhea. "Ya?" "Gue mau cerita. Dengar ya. Jangan tanya, jangan komentar. Oke?" Sagas mengangguk. Rhea yang terduduk di lantai kini memeluk lututnya. "Gue benci sama ibu," ucap Rhea. "Dari kecil ... anak-anak seumuran gue pada nggak mau berteman sama gue. Katanya gue dekil dan bau amis karena tiap hari di pasar." "Sampai gue gede pun, hal itu tetap terjadi. Bahkan meskipun gue selalu jadi bintang kelas, selalu menang lomba ini itu. Nggak ada yang peduli, orang cuma peduli sama latar belakang gue. Mereka paling mau kenal gue kalau ada maunya." Rhea menghela napas berat, "Tapi waktu SMA, akhirnya gue punya teman. Dia tulus, baik, dan nggak pernah sekalipun keberatan tentang latar belakang gue. Katanya, nggak penting gue anak siapa." "Tapi pada akhirnya, pertemanan gue itu hancur gara-gara ibu. Makanya, semenjak gue di Jakarta ini, gue nggak mau hubungi ibu sama sekali. Gue juga jadi nggak punya kemampuan buat berteman sama orang lain. Takut hal yang sama terjadi lagi. Gue belum bisa jelasin gimana detailnya. Terlalu sakit kalau diingat." Mata Rhea berkaca-kaca, dadanya sudah terasa cukup sesak. Tapi ia menahannya. Mendengar cerita Rhea membuat Sagas berhenti dari aktivitas berkebun nya. Ia tak berkata apa-apa, hanya menatap Rhea dalam diam. "Nggak nyangka, cerita kayak gini ternyata cukup bikin lega. Makasih, Gas. Makasih udah dengarin dan nggak komentar apa-apa." Sagas melepas sarung tangan berkebun-nya lalu menepuk-nepuk bahu Rhea. "Setelah ngobrol sama sepupu gue tadi siang, gue sadar kalau gue pengen punya teman lagi, Gas. Gue tau, gue nggak pantas buat jadi seorang teman. Tapi Gas ... lo mau nggak jadi teman gue?" *** Meski Rhea pandai bersosialisasi, tak sedikitpun dia punya keinginan untuk kenal orang-orang yang sekiranya cuma akan menyusahkannya. Sayangnya, takdir tidak berkata demikian. Beberapa hari belakangan ini, dirinya selalu diteror oleh seorang kakak tingkat. Misalnya sekarang ini, kakak tingkat yang akrab disapa Kak Ve itu sedang berdiri menunggu di depan kelas Rhea. Verena alias Kak Ve jelas bukan kakak tingkat biasa. Dia cukup punya nama di kampus ini karena kecantikan dan performanya sebagai sekretaris jendral di organisasi fakultas. "Rhe, lo dekat sama Kak Ve?" tanya Kevin, salah satu teman sekelasnya. "Kalau iya, kenalin dong. Lagi jomblo kan ya Kak Ve?" Rhea hanya tersenyum kecut lalu mengemasi barang-barangnya. Rhea tak tau mengapa Kak Ve mendadak baik dan mendekatinya. Padahal sebelumnya Kak Ve mungkin tidak tau kalau makhluk bernama Rhea ada di dunia ini. Yang Rhea tau, Kak Ve adalah salah satu gadis yang berbincang dengan Sagas di lorong kampus waktu itu. Rhea yakin seratus persen, perubahan sikap kakak tingkatnya ini berhubungan dengan Sagas. "Rhea!" panggil Kak Ve ketika Rhea hampir saja melarikan diri. "Eh? Iya, Kak?" "Udah makan siang?" tanyanya. Rhea belum juga menjawab. Kak Ve kembali menimpali, "Yuk ke kantin. Gue traktir." Rhea sebagai adik tingkat yang tak punya power sama sekali hanya bisa tersenyum palsu. Pundaknya yang dirangkul Kak Ve jelas terasa risih. Tapi daripada timbul masalah kan? Lagipula Kak Ve jelas punya geng nya sendiri yang bisa bikin masa kuliah Rhea kelam dalam sekejap mata. "Mau makan apa?" tanya Kak Ve. "Samain aja, Kak," jawab Rhea. Kak Ve lalu berdiri dan memesan di salah satu stan. Ia lalu kembali ke meja dengan senyum yang mencurigakan, setidaknya bagi Rhea. Dan benar saja, segera setelah kembali ke meja, Kak Ve mulai bertanya, "Rhe, teman lo yang ganteng itu apa kabar?" "Teman saya yang ganteng?" "Iya, yang tempo hari ada di lorong itu lho." "Oh ... baik kok, Kak," jawab Rhea sekenanya. "Sagas kan namanya?" tanya Kak Ve lagi. "Iya, Kak." Rhea yakin pertanyaan Kak Ve tak akan selesai sampai di sini. Ia rasanya ingin melarikan diri saja kalau begini. "Bagi medsos nya dong. Gue cari di IG, Twitter, f*******:, Path, sampai LinkedIn, nggak nemu semua. Mungkin karena gue tau namanya cuma Sagas kali ya? Tapi aneh aja, toh nama Sagas kayaknya jarang banget. Bagi ya?" "Dia emang nggak punya sosmed, Kak." Satu-satunya aplikasi--selain aplikasi bawaan--yang Sagas gunakan ya cuma aplikasi chat. Itupun karena Rhea ajari. "Oh ya? Serius? Duh! Keren banget! Ganteng tapi nggak mau pamer kalau dirinya ganteng!" ujar Kak Ve. "Kalau gitu gue minta nomornya!" Rhea menggaruk lehernya, tak yakin respon apa yang harus dia berikan. Nomor telepon tampaknya sudah masuk ranah privasi, bukan hak Rhea untuk memberikan nomor Sagas ke sembarang orang. "Mmh ... anu, Kak ...." "Apa? Lo nggak mau bagi-bagi teman lo yang ganteng itu?" "E-eh, nggak gitu, Kak. Tapi nomor kan privasi. Mungkin lebih bagus kalau Kak Ve minta langsung ke orangnya," papar Rhea sesopan mungkin, takut terjadi kesalahpahaman. "Oh ... gitu. Oke, kalau gitu, gini aja deh. Atur waktu buat gue ketemu sama Sagas. Hari minggu ini gimana?" Anjir, malapetaka apa lagi sih? *** Minggu, habis kunjungan rumah, di restoran makanan Jepang sekitar kampus. Rhea mengingat-ingat benar tiga hal itu sepanjang perjalanan. Ia tampak gusar, mengundang perhatian Bu Dersa. "Kamu kenapa, Rhe?" tanya Bu Dersa yang sedang menyetir. "Eh? Enggak kenapa-napa, Bu." Ia jelas berbohong, matanya berulang kali melirik Sagas yang sedang duduk di kursi belakang. Ia benar-benar gelisah. Bukan apa, pasalnya hari ini adalah hari yang dia janjikan pada Kak Ve. Hari dimana Sagas dan Kak Ve seharusnya bertemu. Tempat dan waktu sudah diatur. Namun Rhea belum meminta persetujuan Sagas. Gila. Rhea sangsi Sagas mau menemui Kak Ve. Tapi Rhea juga tak mau jadi bahan bulan-bulanan di kampus kalau dirinya gagal mempertemukan Kak Ve dan Sagas. Jadi rencana Rhea adalah mengajak Sagas makan di restoran yang sudah direncanakan, lalu pura-pura tak sengaja bertemu Kak Ve. Setelah beberapa menit, Rhea akan pura-pura punya urusan mendadak dan pulang ke rumah, meninggalkan Sagas di sana bersama Kak Ve. Tak begitu susah, lagipula berpura-pura memang keahlian Rhea. *** "Sagas pergi dulu ya, Ma?" Sagas memeluk erat Mamanya. Setelah menghabiskan setengah hari bersama, kini tiba saat berpisah. Kondisi Mama Sagas jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Meski kadang ia masih mengeluarkan reaksi panik, namun tidak sesering dan separah biasanya. Mama Sagas tak ikut mengantar sampai depan rumah, hanya Bi Tri yang mengantar kepulangan Sagas, Rhea, dan Bu Dersa. "Mmh ... Bu, hari ini kami pulangnya nggak ikut ibu," kata Rhea. "Kenapa?" "Mau mampir ke suatu tempat dulu, Bu," jawab Rhea. Bu Dersa mengangguk lalu meninggalkan Sagas dan Rhea. Rhea memutuskan untuk memesan taksi online. "Kita mau kemana, Rhe?" "Gue tiba-tiba ngidam makan yakiniku. Temenin!" Sagas tampak senang. Rhea jadi makin merasa bersalah. Setelah taksi pesanan datang, mereka langsung menuju restoran yang telah Rhea janjikan pada Kak Ve. Mereka berdua duduk di bangku paling ujung dan memesan dua porsi yakiniku, satu porsi sushi, dan dua cangkir teh oolong. Lima menit kemudian, Kak Ve datang sesuai skenario. "Lho? Rhea? Lo makan di sini juga?" tanya Kak Ve pura-pura tidak tau. "Eh, iya, Kak. Kakak sendirian?" "Iya," jawab Kak Ve. Matanya lalu tertuju pada Sagas. "Lho? Ini cowok yang kemarin ke kampus itu kan?" Rhea mengangguk. Ia sebenarnya muak dengan sandiwara yang harus dijalankannya ini. "Kalau kakak sendirian, gabung sama kita aja, Kak," usul Rhea. "Eh? Boleh emang?" "Boleh, kan, Gas?" Sagas yang memang terlanjur berhati malaikat mengiyakan dengan senang hati. Kak Ve lalu duduk di samping Sagas. Dasar modus, batin Rhea sensi. Kak Ve memanggil pelayan dan memesan yakisoba serta teh hijau untuk dirinya sendiri. "Kamu tinggal dimana?" tanya Kak Ve pada Sagas. Kamu? Cih! Ke gue aja pakai lo-gue! Rhea bermonolog ria. "Dekat rumah Rhea." "Oh ... kapan-kapan kalau aku lagi ke rumah Rhea, aku boleh dong mampir ke rumah kamu?" "Mmh ... boleh mungkin," jawab Sagas canggung. Kak Ve menimpali dengan tawa sok imut. Kak Ve terus menanyai Sagas ini dan itu. Sementara Sagas terlihat tak begitu nyaman. Rhea lalu sampai di tahap selanjutnya, yaitu tahap melarikan diri seperti skenario buatannya. Rhea berpura-pura menerima telepon. "Halo? Ada apa, Dex?" "Hah? Gimana? Oh iya, handphone Bu Dersa ketinggalan di tas gue. Oke deh gue antar sekarang. Bye!" lanjutnya. Rhea lalu memasang wajah panik. "Aduh ... gimana nih? Ada masalah darurat," kata Rhea. "Oh ya udah makannya bisa nanti aja," jawab Sagas. "Eh enggak! Nggak gitu. Lo di sini aja, lo kan belum makan dari tadi. Lagian gak enak ninggalin Kak Ve sendirian. Makanan gue nanti lo makan aja." "Maaf ya, Kak Ve. Saya duluan!" pamitnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN