Makan malam ideal menurut Rhea adalah makan enak dengan suasana tenang dan nyaman. Menu makan malam kali ini super enak. Ada sambal goreng kentang, ayam goreng ungkep, cah kailan, dan nasi putih yang dimasak dengan daun pandan. Semuanya adalah favorit Rhea. Tapi Rhea tetap saja tidak bisa menikmati makanannya dengan tenang. Baginya, makan malam ini adalah sebuah acara p********n terselubung. Sebelas dua belas dengan siksa neraka dan siksa kubur. Ya, walaupun Rhea sendiri belum pernah merasakannya. Amit-amit.
"Kesibukan kalian apa?" tanya Ibu Rhea.
"Saya kuliah, Tante," jawab Dextra.
"Jurusan apa?"
"Kedokteran."
"Sudah semester berapa?"
"Semester 7, Tante. Semester depan udah mulai koas."
"Kalau kamu, Gas?" lanjut Ibu.
"Kuliah juga, jurusan manajemen bisnis. Terus kadang melukis, kadang juga ngurus tanaman," jawab Sagas detail.
Ibu Rhea mengangguk-angguk.
"Orang tua kalian kerja apa?"
"Bu, udah dong nanyanya. Capek Rhea dengarnya," cegah Rhea.
"Lah kenapa? Ibu kan cuma mau seleksi calon mantu. Lagian kamu juga nggak mau ngaku mana pacar kamu yang asli!" ujar Ibu.
"Nggak papa kok, Rhe. Emang apa salahnya kalau ibu kamu nanya-nanya?" kata Sagas.
Dextra otomatis mendengus mendengar kata 'kamu' di kalimat Sagas. Sedari tadi Sagas memang tak banyak bicara, terutama pada Rhea. Seusai mandi dan dikenalkan pada Dextra, Sagas langsung bergegas membantu Ibu Rhea.
"Kamu?" gumam Dextra yang hanya bisa didengar oleh angin.
Dextra melemparkan tatapan yang sulit diterjemahkan kepada Sagas. Seperti tatapan orang yang menyimpan dendam kesumat turun-temurun 7 turunan.
"Jadi apa kerjaan orang tua kalian?"
Dextra otomatis mengubah ekspresi wajahnya menjadi penuh senyum, "Papa saya tentara, Mama saya dosen, Tante."
"Kalau kamu, Gas?"
"Mama saya punya usaha real estate gitu, Tante."
"Papamu?"
Rhea menegur ibunya, "Bu!"
Pasalnya Rhea tau bahwa ini adalah masalah yang cukup sensitif untuk Sagas.
"Nggak papa, Rhe," tutur Sagas. "Papa sudah meninggal, Tante. Tapi dulu waktu masih hidup beliau adalah seorang arsitek."
Ibu Rhea mendadak merasa tak enak.
"Aduh, Tante kebanyakan ngomong ya. Makanannya keburu dingin. Ya udah yuk makan yang banyak!"
***
Rhea tak tau apa yang salah. Tapi yang jelas ada atmosfer aneh yang terjadi di antara Sagas dan Dextra. Dextra yang duduk di samping kanan Rhea menatap Sagas yang ada di sisi sebaliknya dengan tatapan mirip tokoh antagonis di sinetron-sinetron Indonesia. Sagas juga menatap Dextra, namun dengan tatapan yang terlihat lebih tenang meski mendetail dari atas ke bawah.
Rhea yang duduk di tengah jadi merasa terjebak. Ia tidak nyaman, bahkan jadi tak bisa fokus dengan berita yang mereka tonton di televisi. Satu-satunya orang yang tidak menyadari ini semua adalah ibu yang sibuk membereskan dapur sedari tadi.
"Ada hubungan apa lo sama Rhea?" tanya Dextra mengawali. Jelas bukan nada bersahabat yang terdengar di telinga Rhea.
"Kenapa mau tau?" jawab Sagas dingin.
"Aneh aja karena lo pakai 'aku-kamu' sama dia. Sedangkan dia enggak," sahut Dextra. "Jangan-jangan ... perasaan satu arah?"
"Bukan hal gede. Cuma bagian dari value yang selalu Mama tanam. Bagian dari sopan santun."
Dextra tertawa sinis. Rhea jelas melihat percikan api keluar dari matanya.
"Oh? Jadi lo anak Mama? Hahaha," ejek Dextra.
Sagas mendengus, "Terus kamu? Maksudnya, lo! Terus lo anak siapa? Keluar dari batu?"
Seluruh tubuh Rhea merinding. Pasalnya ia tak pernah sekalipun pernah mendengar Sagas menggunakan subjek 'lo-gue' pada siapapun.
Rahang Dextra mengeras. Sementara tatapan Sagas jadi makin tajam. Rhea merasa sesuatu yang buruk akan terjadi bila semua ini diteruskan.
"Rhe, mending lo jauhin dia. Anak Mama kayak gitu biasanya cuma bisa bikin masalah," ucap Dextra.
"Jangan didengar, Rhe. Yang harus kamu jauhin itu dia. Kasar, nggak punya sopan santun, cuma bisa bawa pengaruh buruk aja buat kamu."
"Heh, Monyet! Jangan sembarangan ya lo ngomong!" seru Dextra.
"Monyet? Siapa? Gue?" Sagas kaget.
"Iya, muka lo jelek kayak monyet!"
"Nggak ngaca lo? Muka lo malah kayak gigi monyet!" ujar Sagas.
"Muka lo kayak jigong yang ada di gigi monyet!"
"Muka lo kayak bakteri yang ada di jigong monyet!"
"Muka lo kayak zat sisa metabolisme bakteri jigong monyet!"
"Muka lo--."
"Stop!" pekik Rhea. Kepalanya hampir pecah. "Cukup! Kalian kesambet apa sih? Hantu monyet?"
Rhea mengacak rambutnya frustasi, "Gue jadi nggak bisa nonton tv sama sekali!"
Rhea memancarkan laser di kedua matanya. Semua orang tau bahwa kali ini ia marah.
"Kalian baru ketemu dan tiba-tiba berdebat hal nggak penting gini! Kenapa coba? Kayak anak kecil tau!"
Baik Dextra maupun Sagas tak bisa menjelaskan apa alasannya. Satu hal yang pasti adalah mereka masih saja melemparkan tatapan penuh dendam satu sama lain. Rhea jadi makin frustasi.
"Bodo amat dah! Gue mah pulang! Terserah kalian mau hajar-hajaran apa gimana! Gue capek! Pusing!"
Rhea benar-benar pulang sesuai perkataannya. Sagas dan Dextra masih duduk di sofa yang sama. Sejenak mereka merasa bersalah atas kepergian Rhea, namun sedetik berikutnya kembali memberi tatapan kebencian.
"Gara-gara lo nih!"
"Gara-gara lo!"
"Lo!"
"Lo!"
***
Rhea tak mengerti mengapa Dextra dan mobilnya sudah ada di depan indekosnya. Kehadiran pemuda itu menghancurkan mood baik yang Rhea punya pagi ini.
"Ngapain lo di sini?"
"Jemput lo lah," jawab Dextra. "Mulai hari ini gue bakal antar jemput lo ke kampus."
Setelah mengatakan itu, Dextra lalu melirik ke arah rumah Sagas dengan tatapan kemenangan. Ya, Sagas rupanya sedang berdiri di sana menatap ke arah Dextra dan Rhea berada. Perang itu belum berakhir.
"Jangan harap! Gue bisa berangkat ke kampus sendiri!"
Rhea berjalan melintasi Dextra. Namun Dextra memegang pergelangan tangan Rhea.
"Kenapa?" tanya Dextra.
"Gue bahkan nggak mau ngomong sama lo, ngerti?" Rhea menghempaskan tangan Dextra.
Kini ganti Sagas yang tersenyum menang. Ia memberi pandangan mengejek pada Dextra.
"Rhe kalau git--."
"Gue juga nggak mau ngomong sama lo, Gas!" tandas Rhea.
Sagas dan Dextra hanya bisa melihat punggung Rhea yang kian lama kian menjauh.
***
Katanya, ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Pernyataan itu sama sekali tidak salah. Faktanya, ketika seorang anak berumur 3 hingga 6 tahun, ada sebuah fase psikoseksual yang disebut Fase Oediphal. Pada fase ini seorang anak mulai punya ketertarikan s*****l. Pada fase ini pula timbul yang namanya Konflik Oediphal.
Inti dari konflik ini adalah ketertarikan seorang anak pada orang tuanya yang berlainan jenis kelamin dan cenderung punya rasa kompetitif terhadap orang tua yang sama jenis kelaminnya. Sebagai contoh, anak perempuan biasanya akan menganggap ayahnya adalah miliknya, dan untuk mewujudkan hal itu, biasanya seorang anak perempuan akan mengimitasi ibunya. Ia juga bisa merasakan cemburu bila melihat ibu dan ayahnya bersama. Iya, cemburu seperti pacar. Aneh? Tapi begitulah kenyataannya.
Meskipun ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan, biasanya ibu dan anak perempuannya memiliki hubungan khusus yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Ada koneksi yang tak mungkin dimengerti oleh orang yang tidak mengalaminya. Ada cerita dari anak perempuan yang hanya bisa disampaikan pada ibunya. Namun sayangnya Rhea bahkam tak ingat lagi kapan terakhir kali ia berbincang-bincang dengan ibunya.
"Rhe, kamu nggak mau cerita apa gitu ke ibu?" tanya Ibu.
Rhea yang sedang menulis kini berpikir sejenak kemudian menjawab, "Nggak ada, Bu. Nggak ada yang mau Rhea ceritain."
"Kamu udah berbulan-bulan lho nggak ketemu ibu. Nggak pernah telepon juga. Masa iya nggak ada yang mau diceritain? Yo gak mungkin!"
"Nggak ada, Bu. Benaran nggak ada."
"Yo wes, yo wes. Kalau gitu biar ibu tanya-tanya ae. Kamu tinggal jawab, oke?"
"Hm, oke. Tapi jangan nanya lagi pacar Rhea yang mana. Capek Rhea dengarnya."
"Iyo, iyo! Kuliahmu gimana?"
"Ya ... gitu. Biasa aja," kata Rhea.
Ibu tak puas dengan jawaban Rhea.
"Biasa aja gimana?"
"Ya biasa. Kayak kuliah pada umumnya."
"Ya gimana? Ibu kan nggak pernah kuliah!" ujar Ibu kesal.
Rhea menghela napas berat, "Ya gitu. Kuliah kadang nggak sesuai jadwal, banyak tugas, terus ujian tiap tengah semester dan akhir semester."
"Seru, Rhe?"
"Nggak, biasa aja."
"Kamu nggak coba ikut organisasi gitu? Biasane kan mahasiswa sibuk organisasi."
"Nggak," jawab Rhea singkat.
"Kenapa?"
"Nggak mau aja."
Semenit kemudian suasana senyap. Ibu tak bertanya apa-apa, Rhea juga kembali tenggelam dalam tugas-tugasnya.
"Kenapa kamu masukin nomor ibu ke daftar hitam HP kamu?" tanya Ibu lagi.
"Pengen aja," jawab Rhea tanpa berpikir.
Bug! Kepala Rhea dipukul dengan menggunakan sebuah buku tebal.
"Lek ditanyain orang tua iku sing nggenah!" (Kalau ditanyai orang tua itu yang bener)
Rhea mengelus-elus kepalanya.
"Yo wes, capek ibu ngomong sama kamu nggak pernah serius jawabnya." Ibu menyerah. "Besok kita makan di luar. Ajak teman-temanmu yang perempuan, kenalin ke ibu. Ibu mau lihat teman-temanmu."
Teman. Mendengar kata itu Rhea merasa kosong.
"Aku nggak punya, Bu."
"Jangan bohong. Apa susahnya sih tinggal bawa teman?"
"Rhea beneran nggak punya." Rhea diam-diam mengepalkan tangannya, menahan aliran emosi yang perlahan-lahan naik.
"Temanmu laki semua?"
Rhea menggeleng, "Rhea nggak punya teman."
"Koncomu mek Sagas karo Dextra tok ta?" (Temanmu cuma Sagas sama Dextra doang?)
"Mereka juga bukan temanku. Cuma kenalan." Rhea berusaha menjawab dengan nada setenang mungkin.
Ibu mengerutkan kening tidak mengerti, "Kok gitu? Masa-masa muda begini masa yang nggak bisa diulang lagi lho, Rhe! Masa-masa penting gini harusnya kamu punya banyak teman yang bisa dukung kamu!"
Rhea menghela napas berat, amat berat, "Rhea cuma ... nggak minat."
"Hah? Nggak minat katamu? Tau nggak? Umur se kamu tuh ibu udah harus kerja di kota. Kerja serabutan pakai tenaga! Ibu nggak seberuntung kamu yang bisa kuliah! Ibu nggak punya teman karena keadaan yang memaksa. Tapi kamu? Malah nggak minat berteman? Gendeng ta?"
Brak! Rhea memukul meja dengan kepalan tangannya. Ia lalu menatap ibunya nyalang, penuh amarah.
"Bukannya ibu harusnya paling tau kenapa aku nggak punya teman?"
Ibu Rhea tampak tertegun kaget.
"Ibu harusnya tau. Kenapa aku nggak mau ditelepon ibu, kenapa aku memutuskan untuk nggak ngobrol sama ibu, kenapa aku nggak punya teman, ibu harusnya paling tau! Karena Rhea kayak gini juga karena ibu!"
"Berhenti sok peduli sama Rhea, Bu," ucap Rhea dingin. "Dari dulu yang ibu peduliin ya cuma ego ibu."
***
Satu hal yang Rhea rasakan ketika matanya terbuka adalah pegal. Rhea terduduk kemudian memijat tangannya yang pegal akibat harus menyangga lehernya alias menjadi bantal darurat semalaman. Gadis itu bergidik, mengusir dingin yang menembus jaket abu-abunya.
Rhea jelas mirip gelandangan saat ini. Ia memakai jaket dan celana seadanya, kakinya hanya dialasi sandal jepit hijau yang juga tapaknya sudah halus karena sudah lama. Ditambah lagi kenyataan bahwa Rhea tidur di bangku depan kampusnya. Semakin menguatkan kemiripannya dengan gelandangan. Masih untung Rhea nggak ketahuan dan diusir satpam.
"Hahhhhh." Rhea mendesah panjang lalu meregangkan otot-ototnya.
Ada alasan mengapa dia di sini. Pertengkaran dengan ibu lah yang membuatnya memutuskan untuk keluar dari indekos dan tidur di sini. Ya, anggap Rhea kekanakan.
Rhea menyalakan ponselnya yang ia matikan sejak tadi malam. Total terdapat 513 panggilan dan 163 pesan dari Ibu, Sagas, dan Dextra. Rhea mematikannya lagi, tak mau dibuat makin pusing.
"Rhe!" sebuah suara menggema memanggil Rhea. Gadis itu terkejut melihat Sagas sedang berdiri sejauh dua puluh meter darinya.
Sagas berlari mendekati Rhea kemudian memegang pundak gadis itu kencang.
"Kamu nggak papa, Rhe?" suara Sagas nyaring. Rahangnya mengeras, tatapannya nyalang.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rhea.
"Aku yang harusnya tanya, kamu ngapain di sini?" bentak Sagas. Ia tampak marah. Rhea membeku saking kagetnya.
Sedetik kemudian Sagas sadar bahwa nada bicara serta sikapnya pasti telah membuat Rhea terkejut.
"Maaf. Maaf aku udah bentak kamu. Semalaman kamu nggak bisa dihubungi. Aku cuma ... khawatir. Maaf."
Rhea tertawa. Sagas jadi bingung.
"Nggak papa. Gue kira lo cuma bisa senyum sama ketawa aja. Senang bisa lihat lo marah."
Sagas duduk di sebelah Rhea.
"Tante nyariin kamu semalaman sampai nggak tidur."
"Jangan percaya. Ibu cuma pura-pura aja. Satu-satunya yang ibu peduliin ya dirinya sendiri. Jangan mau ditipu ibu gue."
Rhea kemudian tertawa sarkastik. Menertawai dirinya sendiri.
"Kan, gue bilang juga apa. Gue nggak sebaik yang lo kira, Gas. Lo pasti kecewa lihat gue yang begini."
Sagas menggeleng, "Sama sekali nggak, Rhe. Aku nggak punya hak buat kecewa. Aku bukan Tuhan. Aku bahkan nggak berhak menghakimi apakah perilaku kamu itu baik atau nggak. Kita cuma manusia, kita nggak putih bersih tanpa dosa atau hitam kelam penuh dosa. Kita abu-abu."
"Kamu punya kekurangan, aku punya kekurangan, semua orang punya," lanjut Sagas.
"Wahhh ... sejak kapan lo sebijak ini?" canda Rhea.
"Makasih, Gas. Makasih karena nggak menghakimi gue. Makasih juga karena nggak nanya apa yang sebenarnya terjadi," sambung Rhea.
"Iya. Aku bakal kasi kamu jeda, aku nggak bakal maksa kamu buat cerita."
"Oh iya, ngomong-ngomong lo tau dari mana kalau gue di sini?" tanya Rhea penasaran.
"Insting."