Sejauh yang Rhea kenal, Panji Sagasta Mahadierja adalah seorang pemuda yang polos dan naif. Ketidakakrabannya dengan dunia luar membuatnya minim pengalaman namun super baik hati. Menurut Rhea, Sagas mungkin pantas disandingkan dengan malaikat, bukannya manusia.
Hanya saja, kepolosan Sagas membuatnya tak sungkan menanyakan apa saja yang ia ingin tau. Contohnya ya pertanyaannya saat ini. Semudah itu ia menanyakan status percintaan Rhea. Meski pertanyaannya sederhana, tapi sukses membuat Rhea nyaris kena serangan jantung.
Belum lagi matanya yang berbinar mirip anak kucing itu. Rhea jadi gemes dan pengin bawa pulang kan jadinya.
"Mmh ... nggak punya, kenapa emang?"
"Oh ... nanya aja," jawabnya.
"Besok mau wujudin keinginan yang mana? Nonton di bioskop?" Rhea mengalihkan pembicaraan. Tak mau berlama-lama membahas topik pacar.
"Kamu emang nggak kuliah?"
Rhea sedikit manyun mengingat kalau besok adalah hari Senin, hari dimana dia harus kembali kuliah seperti biasa. Menghabiskan waktu bersama Sagas jelas lebih menarik dibanding duduk mendengarkan dosen mengoceh di depan kelas.
"Ya ... tapi setelah kuliah kan bisa."
"Oke. Kalau gitu besok kita ke bioskop ya, Rhe?"
Rhea mengacungkan jempolnya.
***
Sagas:
Rhe, kamu selesai kuliah jam berapa?
Rheanina:
Blm pasti. Ngaret dosen nya. Kesel gue :(
Nanti gue lgsg ke rumah lo kalo ud kelar
Sagas:
Ga perlu, Rhe. Aku udah di kampus kamu kok.
"Hah?" Rhea tak sengaja memekik.
"Kenapa, Rhe?" tanya salah satu gadis yang duduk di depan meja Rhea.
"Eh? Gue nggak papa. Gue mau ke toilet bentar. Dah!"
Rhea keluar kelas secepat kilat. Ia mengamati setiap sudut kampusnya, mencari-cari sosok Sagas di tengah suasana kampus yang tak begitu padat.
Rhea menelisik setiap koridor. Ia lalu menemukan Sagas sedang berdiri di lobby dan tampak ngobrol dengan beberapa perempuan. Bukan ngobrol sih, lebih mirip interview karena hanya Sagas yang ditanya-tanya sementara Sagas sama sekali tidak melemparkan pertanyaan.
"Udah punya pacar belum?" tanya salah satu dari gadis-gadis itu.
Rhea tertawa kecil melihat wajah Sagas yang tampak tidak nyaman. Ia sengaja tidak langsung menghampiri Sagas, ingin melihat Sagas berinteraksi katanya.
"Belum," jawab Sagas sopan. Meski ia tak nyaman, bibirnya tetap tersenyum lebar. Kalau begitu, bagaimana bisa ada perempuan yang tidak luluh? Jelas perempuan-perempuan yang sedang bicara dengannya itu makin leleh.
Perempuan-perempuan itu cekikikan seperti hantu. Wajah Sagas memucat. Rhea tertawa sekali lagi sebelum akhirnya menghampiri Sagas. Kalau dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin Sagas akan pingsan.
"Sagas!"
Pandangan perempuan-perempuan tadi langsung terarah pada Rhea. Dari dandanannya yang berani, Rhea berani jamin kalau mereka adalah kakak tingkat. Rhea langsung pasang senyum manis, "Siang, Kak."
Ya, meski Rhea acuh tak acuh pada kuliahnya, ia tak mau punya masalah dengan kakak tingkat. Menyapa seramah mungkin adalah jalan satu-satunya untuk lepas dari masalah.
"Lho? Kuliah kamu udah selesai, Rhe?"
"Belum. Masih belum pasti gitu."
"Lo siapa? Angkatan berapa?"
"Rhea, Kak. Rheanina Kataleyya, angkatan tahun ini," jawab Rhea.
"Kenal kan siapa kita?"
Rhea mengangguk. Perempuan itu kemudian memegang tangan Rhea, "Gue kontak ya lo entar."
Setelahnya mereka melambaikan tangan genit pada Sagas dan pergi.
"Kamu kenal mereka, Rhe?" tanya Sagas.
"Nggak lah. Kenapa gue harus kenal mereka?"
"Tapi tadi ...."
"Gue bohong. Kalau gue bilang nggak kenal, bakal jadi masalah. Kakak tingkat selalu gitu."
Sagas tampak tak percaya. Rhea sedikit menjinjitkan kakinya kemudian menepuk pundak Sagas.
"Kuliah offline nggak semudah yang ada di bayangan lo."
"Sejak kapan lo di sini? Dan kenapa?"
"Aku bosan di rumah. Aku di sini dari jam 10."
"Hah?" Rhea kaget. Sagas sudah menunggu sekitar 4 jam lamanya dan dia masih tampak baik seperti biasanya? Bagaimana bisa? Kalau Rhea harus menunggu seseorang sampai selama itu, Rhea pasti sudah ngedumel seharian.
"Ya udah, kalau gitu kita langsung ke bioskop aja. Gue ambil tas dulu ya?"
Sagas menahan Rhea, "Lho? Kamu bukannya masih ada kuliah?"
"Emangnya penting kuliah?"
Rhea kemudian menuju kelasnya. Namun perasaannya tak enak, ia merasa seperti sedang diikuti. Hanya saja perasaannya itu terkesan tak berdasar karena tidak ada siapa-siapa begitu dia menoleh ke belakang. Rhea mengangkat bahunya, "Bodo ah!"
***
Setelah lama berunding, Rhea dan Sagas akhirnya memutuskan untuk menonton film action. Mereka duduk di kursi yang sangat strategis. Tidak terlalu dekat dengan layar, tidak pula terlalu jauh. Sagas tampak sangat senang. Ia tak berhenti tersenyum hingga filmnya dimulai.
Suasana bioskop tak begitu ramai, Sagas merasa nyaman. Tangannya memegang satu cup berondong jagung rasa karamel, memeluknya erat seperti anak sendiri.
"Kamu nggak suka film-film romance gitu?" tanya Sagas berbisik.
"Suka. Tapi nggak suka nonton di bioskop. Menurut gue nonton film romance di bioskop rugi. Kalau ke bioskop harusnya nonton action atau horror. Baru kerasa sensasinya."
Diam-diam Rhea menginginkan berondong jagung yang ada di pelukan Sagas. Iya, Rhea memang memutuskan untuk tidak beli. Dalihnya sih karena nggak begitu suka berondong jagung. Tapi alasan sebenarnya adalah sayang uang. Tau sendiri kan harga makanan di bioskop itu selangit?
Sagas yang menyadari tatapan Rhea terkekeh kecil, "Mau? Nih."
Sagas menyerahkan berondong jagung ukuran besar itu kepada Rhea. Sagas sendiri sebenarnya tidak terlalu suka makanan ringan, ia beli cuma mau merasakan sensasi full nonton bioskop saja. Rhea sumringah. Ya memangnya siapa sih yang nggak senang dapat makanan gratis?
Mereka tak banyak bicara sepanjang film. Menjelang akhir film, Sagas melirik Rhea. Memastikan bahwa Rhea tak tertidur seperti saat nonton film di rumahnya kala itu. Untungnya mata Rhea segar bugar.
Sagas mendadak memajukan kepalanya ke arah Rhea. Jelas, Rhea terhenyak.
Anjir, mau ngapain lo, Gas? batin Rhea, panik.
Rhea meringsek, menempel pada kursi serta memejamkan matanya. Tak ada yang lain di benak Rhea. Yang muncul di kepalanya hanyalah adegan-adegan ciuman di film romansa yang pernah ditontonnya.
Rhea kemudian merasakan jemari Sagas menyentuh rambutnya dan beberapa waktu setelahnya tak terjadi apa-apa. Rhea membuka matanya, mendapati Sagas yang tengah tersenyum sambil menatap sebiji berondong jagung yang ada di tangannya.
"Kamu kayaknya terlalu fokus sama film deh, Rhe. Sampai nggak sadar gitu ada yang nyangkut di rambut." Sagas menunjukkan berondong jagung yang diambilnya dari rambut Rhea.
"Kamu kenapa merem-merem tadi? Kaget ya? Maaf, Rhe. Nggak maksud bikin kamu kaget," lanjut Sagas.
Pipi Rhea memanas. Gadis itu malu setengah mati. Bukan apa, ia malu pada dirinya sendiri yang sudah membayangkan macam-macam. Untung saja Sagas bukanlah Edward Cullen, si vampir ganteng yang bisa baca pikiran. Namun rasa malu itu tak bertahan lama. Bola mata Sagas yang tampak bersinar karena pantulan cahaya layar bioskop itu seolah menerbangkan Rhea jauh melintasi galaksi.
Rhea tiba-tiba fokus menatap bibir Sagas yang sedang tersenyum. Warnanya yang merah ranum ditambah suasana bioskop yang dingin nan remang membuat Rhea kehilangan akal sehatnya. Entah tersambar arwah darimana, gadis itu memajukan kepalanya.
Saat bibirnya hampir menyentuh bibir Sagas, tiba-tiba kepalanya terpelanting ke belakang, menabrak kursi. Rambutnya ditarik oleh orang yang duduk di kursi belakang. Rhea melotot kaget.
"Mau ngapain kamu, Rhea?!" pekik orang itu.
"Ibu?!"
***
"Bagus kamu ya! Ibu kuliahin kamu jauh-jauh ke Jakarta tapi kamu bukannya serius, malah sibuk pacaran kayak gini!" ujar wanita yang rambutnya digelung ke belakang itu. Suaranya nyaring, mengundang perhatian orang-orang.
"Ssstt!" Rhea berdesis. "Jangan teriak-teriak, Bu! Malu dilihatin orang!"
"Gak ngurus ibu! Tingkah mu lho gak karu-karuan!" (Gak peduli ibu! Tingkah mu nggak benar!"
Ya, ibu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan Rhea. Ibu yang jauh-jauh menempuh perjalanan naik kereta dari Surabaya ke Jakarta. Tiba-tiba muncul di sini, detik ini, tanpa sepengetahuan Rhea.
Rhea menghela napas berat, "Kita nggak pacaran, Bu!
"Nggak usah kakean alasan! Lek gak pacaran, lapo nyosor-nyosor koyok ngono maeng ndek bioskop?" (Nggak usah kebanyakan alasan! Kalau nggak pacaran, kenapa tadi nyosor-nyosor gitu di bioskop?)
Rhea terdiam. Dia sendiri juga tak tau alasannya. Mengingat tingkahnya di bioskop yang tiba-tiba berniat mencium Sagas tadi membuatnya malu setengah mati. Rhea yakin dirinya kerasukan setan perawan yang penasaran rasanya ciuman. Lebih memalukan lagi karena ibunya berteriak dan mengundang perhatian seluruh teater. Masih untung nggak ada yang merekam dan membuatnya viral.
"Jenengmu sopo?" (Namamu siapa?)
Sagas yang sedari tadi diam tak mengerti kini terperanjat. Suara ibu Rhea yang memang keras dan bernada menyentak ditambah tatapan tajam yang menusuk membuatnya kaget. Sagas bingung, pasalnya ia tak tau apa yang sedang ibu Rhea bicarakan.
"Namamu lho sopo?" tanya ibu Rhea lagi, memperjelas.
"Oh ...." Sagas akhirnya mengerti. "Sagas, Tante. Panji Sagasta Mahadierja."
"Udah berapa lama kamu pacaran sama Rhea?" tanyanya menginterogasi.
"Uh! Ibu salah paham doang kok!" bantah Rhea. "Lagian ibu ngapain di sini? Sejak kapan ibu di Jakarta? Kenapa nggak kasih tau Rhea dulu?"
Ibu Rhea mendengus kemudian mengambil ponsel Rhea yang tergeletak di meja. Sedetik kemudian matanya melotot marah.
"Gimana mau telepon? Kalau kamu masukin ibu ke blacklist gini? Terus namanya kenapa diganti jadi 'Jangan Diangkat' gini? Kamu mau jadi anak durhaka yo?"
Sekali lagi Rhea tak bisa berkata apa-apa. Sementara amarah sang ibu rasanya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Wanita itu berdiri, tangan kanannya menarik telinga Rhea, sementara tangan kirinya menarik telinga Sagas. Kuat-kuat.
"Ahhhh!"
"Ampun, Tante! Ampun!"
***
Meski berkali-kali dilihat, Rhea tak menemukan suatu keanehan pun di telinganya. Tidak memar, tidak pula memerah seperti semalam. Tapi entah mengapa telinganya itu masih terasa nyeri. Jeweran ibu memang tak pernah main-main.
"Sarapan dulu, ibu udah beli bubur," kata ibu yang baru saja beli bubur dari penjual keliling.
"Nggak usah, Rhea juga biasanya nggak sarapan."
Ibu melotot. Rhea yang tadinya sudah mau berangkat jadi ciut nyalinya. Ia duduk di meja belajarnya dan makan bubur yang sudah ibu hidangkan di mangkok.
"Kata kamu Sagas rumahnya dekat sini. Yang mana, Rhe?" tanya ibu.
"5 rumah dari sini," jawab Rhea singkat.
"Nih. Antarin sekalian kamu berangkat kuliah." Ibu menyerahkan sebungkus bubur ayam panas pada Rhea. "Ibu merasa bersalah habis jewer telinganya."
"Hm, oke."
"Awas kamu bolos lagi kayak kemarin ya," ancam ibu.
"Awas juga ibu ikutin Rhea kayak kemarin," ancam Rhea balik.
Tak sampai 5 menit, Rhea selesai makan dan langsung bergegas. Sesuai perintah, Rhea mampir ke rumah Sagas.
"Gas, nih, bubur dari ibu gue." Rhea menyodorkan sebungkus bubur itu pada Sagas.
"Ibu kamu masih marah, Rhe?"
"Nggak. Maaf ya, gara-gara gue kemarin telinga lo jadi korban."
Sagas mengangguk.
"Tapi emangnya kemarin kenapa sih Rhe ibu kamu tiba-tiba marah di bioskop?" tanya Sagas polos.
Glek! Rhea menelan ludahnya sendiri. Mendengar pertanyaan Sagas membuatnya otomatis menatap bibir pemuda itu. Ia kembali teringat akan niatnya yang memalukan. Rhea berpura-pura menatap ponselnya dan membuat alasan, "Eh, gue udah telat. Pergi dulu ya. Dah!"
***
Nyonya Russy alias ibu Rhea bukanlah ibu-ibu biasa. Sedari Rhea kecil, Rhea tak pernah sekalipun melihat ibunya berdiam diri di rumah. Nyaris sepanjang tahun--kecuali libur lebaran, natal, dan tahun baru--ibu akan berada di pasar dan menjalankan toko sembako bersama ayah.
Toko sembako yang mereka punya pun bukan toko kecil, lebih mirip agen yang harga jualnya tak beda jauh dari tangan pertama. Toko itu tak pernah sepi, itulah mengapa ibu Rhea tak pernah absen, bahkan ketika sakit sekalipun.
Selain pekerja keras, yang khas dari ibu Rhea adalah suaranya yang nyaring seperti orang sedang berteriak. Suaranya itu bisa terdengar sampai keluar rumah, itulah mengapa rumah Rhea yang ada di Surabaya semua ruangannya dipasang peredam suara. Kalau orang tidak mengenalnya dengan baik, pasti sedang mengira ibu Rhea sedang marah-marah.
Itulah mengapa Rhea yakin sekali ibunya ada di rumah Sagas sekarang ini. Suaranya yang nyaring itu seolah menjadi pertanda keberadaannya. Rhea yang baru saja pulang dan melintasi rumah Sagas untuk kembali ke indekosnya jelas kaget. Ibu ngapain di rumah Sagas?
Rhea menempelkan dirinya ke pagar rumah Sagas. Ia berusaha mendengarkan apa yang sedang dibicarakan. Tapi tak terdengar apa-apa lagi.
"Rhe, ngapain kamu nempel-nempel pagar gitu?"
Rhea terperanjat mendapati ibunya sedang menatapnya tajam.
"L-lho, sejak kapan ibu di luar?"
"Baru aja. Mau pulang. Kamu ngapain?"
"Ng-nggak, ada kupu-kupu tadi di pagar. Rhea cuma lihat bentar," kilahnya.
"Ya udah, ayo pulang!" ajak ibu. Sementara Rhea masih penasaran setengah mati apa yang ibunya bicarakan dengan Sagas.
"Kamu kok nggak bilang sih kalau Sagas iku tinggal sendiri?" tanya Ibu.
"Ibu nggak nanya," kata Rhea. "Ibu ngapain ke rumah Sagas?"
"Survey lah, apa lagi memangnya? Ibu kan mau tau pacar kamu orangnya kayak gimana."
"Duh! Bukan pacar Rhea, Bu!" ujar Rhea.
"Mboh wes! Pokoknya nanti malam kita makan di rumah Sagas saja. Ibu sudah janji mau masak kan dia," kata Ibu.
Rhea menghela napas berat. Tepat ketika mereka sampai di depan indekos, sebuah mobil hitam tiba. Kaca mobil itu diturunkan, menampilkan seorang pemuda berkacamata hitam yang mengintip dari balik kemudinya.
"Rhe! Temenin gue makan!" ujarnya dengan nada bossy nya.
Napas Rhea rasanya tercekat di tenggorokan melihat siapa yang sedang berbicara. Firasatnya mendadak tidak enak.
"Kamu siapa? Ada hubungan apa sama Rhea?" tanya Ibu Rhea.
Dextra menyipitkan matanya. Menganalisa ibu Rhea dari ujung rambut ke ujung kaki. Dextra menduga bahwa wanita itu adalah tetangga julid yang sekadar kepo belaka. Dextra pun menjawab asal, "Saya pacarnya Rhea. Tante siapa emangnya?"
Rhea melotot kaget. Malapetaka apa lagi ini?
Ibu Rhea juga tak kalah kaget.
"Pacar kamu yang mana, Rhe? Ibu bingung."
"Ibu?" gumam Dextra.
"Ibunya Rhea?" lanjutnya histeris. "Tante ... ibunya Rhea?"
"Iya."
Rahang pemuda itu nyaris lepas saking kagetnya. Tangannya yang sedang nangkring di atas jendela mobilnya juga mendadak lemas. Kepalanya mendadak kosong. Celakalah Dextra dan lidahnya.
***
Selama kenal Dextra, Rhea belum pernah melihat pemuda itu duduk sekaku ini. Posturnya tegak sempurna, tapi terlihat jelas bahunya tegang, kakinya juga refleks bergoyang di bawah meja.
"Lo kenapa sih?" tanya Rhea. "Tegang banget kayak mau sidang skripsi."
"Gimana nggak tegang? Gue nggak tau kalau itu nyokap Lo!" sahut Dextra.
"Harusnya gue yang lebih panik dari lo, gara-gara mulut lo yang asal jeplak, gue pasti ditanyain aneh-aneh nanti!"
"Ngomong-ngomong, ini rumah siapa?" tanya Dextra mengamati sekitar.
"Orang," jawab Rhea yang tak memuaskan rasa penasaran Dextra.
Dextra mendengus kesal. Namun Rhea tak peduli. Menurutnya, dia lah pihak yang berhak merasa kesal. Gara-gara jawaban asal Dextra, keadaan jadi makin rumit. Belum lagi keputusan ibu untuk mengajak Dextra makan bersama di rumah Sagas. Rhea tak yakin apakah ini adalah ide yang bagus. Tapi siapa sih Rhea? Mana bisa dia melawan kehendak ibunya.
Sang pemilik rumah belum juga muncul batang hidungnya. Ia tampaknya sedang mandi. Ketika mereka tiba tadi, pintu memang sudah terbuka sehingga mereka bisa langsung masuk dan ibu langsung memasak di dapur sesuai yang dijanjikannya pada Sagas.
Benar saja, tak lama kemudian Sagas keluar dari kamarnya. Rambutnya setengah basah dan wangi sabun tercium dari tubuhnya. Tubuhnya dilapisi celana training hitam dan hoodie warna merah. Rhea berdiri.
"Dextra, kenalin, ini Sagas," katanya. "Sagas, kenalin, ini Dextra."