Kontrakan

2555 Kata
"Gimana, Bu? Nggak bisa diturunin jadi 12 juta aja? Kan saya juga ngekos di tempat ibu. Kasih potongan dikit lah, Bu," ucap Rhea dengan nadanya yang merayu. "12 setengah, gimana? Keadaan rumahnya bagus lho, Rhe. Cari dimana di Jakarta dengan harga segitu?" Rhea mengerucutkan bibirnya. "Ya udah deh, Bu. 12 setengah. Uangnya bakal saya bayar pas pindahan nanti," kata Rhea. "Oke. Tapi emangnya siapa yang mau ngontrak?" "Saya juga nggak tau, Bu. Saya cuma disuruh cari sama dosen saya." "Dosen? Ngapain dosen cari rumah sewa?" tanya ibu kos kaget. Rhea juga sama kagetnya ketika pertama kali menerima misi ini. Ia hanya tak mengerti kenapa Bu Dersa tiba-tiba ingin mencari rumah sewa. Rhea jadi berpikiran yang tidak-tidak. Bisa saja kan Bu Dersa rupanya sedang mengalami prahara rumah tangga? Kalau benar begitu kejadiannya, kasihan Dextra. Meskipun pemuda itu menyebalkan bukan main, tapi dia tetap saja akan jadi pihak paling menderita kalau kedua orang tuanya bercerai. Namun Rhea tampaknya tak punya hak untuk mengkonfirmasi hipotesisnya ini. Bu Dersa pun sepertinya enggan untuk bercerita maksud di balik misi ini sebenarnya. Ah, entahlah, yang penting Rhea masih bisa bertemu Sagas setiap minggunya. *** Rheanina Kataleyya adalah tipe orang yang suka membuat skenario ketika sedang menghadapi masalah. Ia doyan menerka-nerka dan membuat banyak dugaan dari yang masuk akal hingga yang terbilang di luar nalar manusia. Namun yang dikatakan Bu Dersa hari ini tak pernah muncul di skenarionya. "Saya nggak salah denger, Bu?" tanya Rhea sekali lagi. "Kamu sama sekali nggak salah denger. Selama kamu UAS kemarin, saya cari asisten pengganti dan melakukan exposure therapy lagi. Respon Nyonya Mahadierja sudah sangat bagus. Jadi saya rasa ini saat yang tepat untuk membawa terapi ini ke level yang lebih lanjut, sekaligus memberi Sagasta kebebasan. Gimana? Bisa kan kamu?" Mata Rhea melebar menatap Sagas yang berdiri di samping Bu Dersa dengan koper hitam besarnya. Ia selalu ingin dekat dengan Sagas. Hanya saja ... semua ini tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bu Dersa berdecak, "Tugas kamu gampang kok, hanya bantu Sagasta pindahan dan kamu cek keadaan nya setiap hari. Gaji kamu juga akan saya tambah." Belum sempat Rhea menanggapi, Nyonya Laras muncul. Meski tak begitu parah, ia tampak panik dan gelisah. "Saya titipkan Sagas pada kamu," kata Nyonya Laras. Tatapan matanya masih saja terasa mengintimidasi. Rhea mengangguk sopan. Tak lama kemudian mobil sedan hitam keluar dari area garasi. Rhea dan Sagas memasuki mobil itu sesuai instruksi Bu Dersa. "Lo nggak papa?" tanya Rhea. Sagas mengangguk, "Ini pertama kalinya aku bakal pergi jauh dari Mama. Kalau kamu nanya aku oke apa nggak, jawabannya jelas nggak. Aku khawatir sama Mama, Rhe." Rhea bisa memahami Sagas. Perasaan Sagas semakin kacau ketika mobil mulai berjalan. Sagas bisa melihat Mamanya terduduk di lantai, menangis, dan menjerit-jerit. Rhea langsung menggenggam tangan Sagas, mengalihkan perhatiannya. "Gas, Mama kamu bakal baik-baik aja. Jadi, kamu juga harus baik-baik aja ya?" Semua ini merupakan sebuah langkah yang sangat besar. Pada akhirnya, sang pangeran meninggalkan menaranya. *** "Masih kepikiran Mama lo?" tanya Rhea. Sagas menggeleng, "Kayak kata kamu, Mama bakal baik-baik aja." Rhea tersenyum, lalu membuka pintu dengan kunci yang dia dapat dari ibu kos nya. Ia masuk ke rumah, diikuti Sagas. Rumah yang Rhea sewa untuk Sagas tak begitu besar. Hanya satu lantai namun bersih dan nyaman. Dilengkapi satu kamar, kamar mandi, dapur, ruang tengah, dan sisa tanah di halaman depan yang mungkin bisa Sagas manfaatkan untuk bercocok tanam. "Gimana menurut lo rumahnya?" Sagas berkeliling melihat keadaan rumah. Ada beberapa barang yang sudah disediakan. Mulai dari sebuah televisi di ruang tengah yang meskipun model lama tapi masih bisa digunakan sampai alat penanak nasi dan perkakas tidur. Semuanya tampak sederhana tapi layak. "Bagus kok," jawab Sagas. "Gimana bisa lo bilang ini bagus sementara rumah lo aja gedenya kayak istana," sindir Rhea. Sagas tertawa, "Terus kalau aku bilang jelek, emangnya kamu mau nyariin rumah lain?" "Enggak sih." "Ini udah lebih dari cukup, Rhe." Sagas mulai mengemas barang-barangnya. Ia tak membawa begitu banyak barang. Hanya dua koper dan sebuah pot tanaman berisi mawar. Rhea mendekat ke arah tanaman yang dimasukkan kantung plastik itu. "Ini Feby ya, Gas?" tanya Rhea. "Kamu inget Feby?" tanyanya balik. Rhea mengiyakan, "Jelas. Feby kan satu-satunya tanaman mawar lo yang punya nama dan satu-satunya yang lo tanam di dalam pot. Lo juga bilang kalau Feby adalah pemberian seseorang. Gimana gue bisa lupa?" "Emang dikasih siapa sih?" "Teman," jawab Sagas. "Hah? Teman?" Rhea bertanya seolah tak percaya. Ya, tentu saja. Bagaimana bisa Sagas yang selama 15 tahun ini selalu terkurung di rumah dengan akses terbatas mempunyai teman? "Hm. Aku pernah bilang kan kalau aku kuliah manajemen? Aku nggak bohong, aku emang kuliah meskipun online. Dari situ aku kenal cukup banyak orang dan ada satu orang yang klop dan jadi temen aku. Bisa dibilang ... dia teman pertama aku. Dia yang ngirimin bibit mawar itu." Entah mengapa, Rhea merasa sedikit ... kecewa? "Oh ...." tanggapnya. "Orang itu pasti berarti banget ya buat lo?" Sagas mengangguk, menambah kekecewaan di benak Rhea. Rhea sendiri tak mengerti apa arti kekecewaan yang ada di benaknya. Tak mau berlarut-larut dalam perasaan negatif, Rhea mengalihkan pembicaraan, "Lapar nggak?" "Kenapa? Kamu mau masakin aku?" "Iya. Ada satu masakan yang gue handal banget. Mau coba?" *** Merantau dan jadi anak kos memaksa Rhea untuk mandiri. Salah satu misi anak kos adalah bertahan hidup. Meski tak banyak yang bisa Rhea masak, tapi setidaknya dia belum pernah keracunan masakannya sendiri. Itulah mengapa Rhea percaya diri untuk memamerkan masakannya pada Sagas saat ini. "Mi ... instan?" tebak Sagas. Rhea mengangguk bersemangat. "Emangnya ada makanan yang lebih enak dari mi instan?" "Ayo makan," ajak Rhea. Sagas duduk dan memandangi piring berisi mi instan di depannya. Ia tampak ragu. "Kenapa? Lo nggak yakin ini bisa dimakan?" "Bukan gitu, Rhe. Tapi kenapa beda banget sama yang biasanya aku lihat di iklan?" Rhea tertawa tak percaya. "Jangan bilang lo belum pernah makan mi instan sebelumnya?" Sagas diam tak menjawab. Sedetik kemudian ia meringis polos. "Gila ... ini pertama kalinya gue ketemu orang yang nggak pernah makan mi instan seumur hidup!" ujarnya. "Tunggu, tunggu! Gimana bisa lo hidup tanpa mi instan sih? Lo udah menyia-nyiakan kenikmatan dunia, Gas." "Oke, sekarang cepetan makan. Cobain." Sagas menyuapkan satu sendok mi instan ke mulutnya. Matanya berbinar seketika. Ia takjub. "Wah!" seru Sagas. "Gimana? Enak kan?" "Iya. Kamu harus ajarin aku bikin ini, Rhe." Rhea tertawa, "Ajarin apaan, cara bikinnya tuh ada di bagian belakang bungkusnya." Rhea tak menyangka kalau mi instan yang diambilnya dari kamar indekos ternyata bisa membuat Sagas senang. Sesederhana itu. "Lain kali gue bikinin pake telor setengah matang ya. Itu favorit sejuta umat banget sih!" "Janji ya?" Sagas menyodorkan jari kelingkingnya. Lucu banget sih lo, Gas. Mau mati gue. "Heem. Janji." Rhea mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Sagas. "Apa lagi yang pengen lo lakuin? Gue bakal bantu lo." "Apapun itu?" tanya Sagas. Rhea setuju, "Asal nggak membahayakan." Gadis berbaju hitam itu kemudian memberi usul, "Gini aja deh, lo tulis apa aja yang pengen lo capai. Hal-hal yang udah lama lo mau. Tujuh keinginan. Kita wujudkan satu-satu." *** 7 Keinginan Sagasta: 1. Belanja di pasar 2. Nonton film di bioskop 3. Belajar di perpustakaan 4. Ketemu teman online 5. Punya mimpi 6. Kenal Rhea lebih jauh 7. Dengan ini saudari Rheanina Kataleyya berjanji untuk membantu Sagas mewujudkan segala keinginannya. "Kok nomer 7 nya kosong?" tanya Rhea. "Sengaja. Satu nya lagi buat kamu." "Tapi gue lagi nggak pengen apa-apa sekarang." "Nggak harus sekarang. Kapanpun bisa," jawab Sagas. "Oke." Rhea kemudian menandatangani kertas putih itu dan menempelkannya di lemari es. "Permintaan nomer 6 lo aneh. Kenapa emang mau kenal gue lebih jauh?" "Bukannya dari pertama kita ketemu pun aku udah bilang kalau aku mau kenal kamu lebih jauh. Tapi bukannya tau tentang kamu, malah kamu yang tau banyak tentang aku. Selama ini kita cuma bahas aku, belum pernah bahas kamu." "Oke, kalau gitu lo boleh nanya satu pertanyaan per hari," kata Rhea. "Satu pertanyaan? Boleh nanya sekarang?" tanya Sagas. "Silahkan." "Gimana rasanya punya banyak teman?" tanya Sagas. Rhea mengerutkan dahinya. Pertanyaan Sagas jauh dari pertanyaan standar. "Kenapa lo nanya gitu?" "Mau tau aja. Kamu tau sendiri aku nggak pernah punya banyak teman selama ini." "Pertanyaan lo tuh sangat spekulatif. Darimana lo tau gue punya teman banyak apa enggak?" "Karena kamu kelihatannya ramah dan hangat. Semua orang pasti mau berteman sama kamu," tutur Sagas. Rhea tertawa ironi. "Penilaian lo tentang gue terlalu berlebihan. Gue nggak seramah dan nggak sehangat itu, Gas. Gue juga nggak punya teman banyak." Bahkan gue memang nggak punya teman, Gas. *** Semilir angin menyentuh gadis berkemeja putih itu. Ia menggosok sedikit tangannya untuk mengurangi dingin lalu kembali membaca buku di hadapannya. Telinganya disumpal earphone putih dan kakinya sedikit bergoyang mengikuti irama lagu yang didengarnya. "Rhea!" panggil seseorang, earphone putih dilepas paksa dari telinga Rhea. "Kenapa?" "Udah ngerjain PR Matematika?" "Udah," jawab Rhea. "Boleh lihat?" Rhea menggeleng, "Belum tentu jawaban gue benar. Kerjain sendiri aja, gue ajarin." Gadis yang jadi lawan bicara Rhea itu tertawa sarkastik. "Lo ngeremehin gue? Ngerjain soal gituan doang mah gue bisa, gue cuma nggak ada waktu buat ngerjain." Rhea balik tertawa, "Oh ya? Kalau lo emang bisa, ngapain nyontek PR gue seminggu berturut-turut? Kerjain sendiri lah!" Brak! Gadis itu menggebrak meja. Menumpahkan kemarahannya yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Songong banget sih lo, Rhe. Mentang-mentang pintar kan lo?" Gadis itu melipat tangannya di depan d**a. Memberi tatapan meremehkan. "Pantesan aja nggak ada yang mau temenan sama lo. Lo tuh harusnya nggak boleh sesongong itu. Anak tukang sembako aja bangga minta ampun lo!" Gadis itu lalu tertawa, disusul oleh teman-teman di sampingnya. Tawa itu kemudian menyebar di seluruh penjuru ruangan. Semua orang menertawai Rhea dan mengelilinginya. Tawa itu semakin keras, menusuk masuk ke dalam telinga Rhea. Rhea mulai berkeringat, ia kemudian berteriak sekuat tenaga, "Aaaaaaaaaaaaa!" Rhea terduduk di ranjangnya. Wajahnya berkeringat parah. Ia meraih air minum di samping ranjangnya dan meneguknya. "Kenapa mimpi aneh itu balik lagi sih?" desahnya. Gadis itu meremas rambutnya frustasi. Ia kemudian melirik ke arah dinding, mendapati jam menunjukkan pukul 9. "s**l!" *** Meski tak bisa dibuktikan secara ilmiah, keberuntungan dan kesialan adalah dua paham yang dapat diterima oleh masyarakat. Pasalnya dua hal saling berlawanan ini selalu menunjukkan eksistensinya. Secara sederhana, tiap manusia pasti pernah merasa sangat beruntung seharian, setidaknya sekali dalam hidupnya. Sebaliknya, ada juga hari-hari dimana semuanya terasa s**l. Hari ini, Rhea merasa amat s**l. Mungkin bukan hari keberuntungannya. Tak ada yang berjalan sesuai ekspektasinya. "Yah ...," desahnya kecewa. "Udah sepi pasarnya." Sagas menggelengkan kepalanya, "Yang telat siapa?" Rhea meringis. Kalau saja dia tidak mimpi buruk dan kesiangan, maka kekecewaan ini tak mungkin timbul. "Mau belanja di supermarket aja?" tanya Rhea. "Nggak usah lah. Belanja di sini aja. Tanggung." Rhea mengerucutkan bibirnya, "Maaf. Nggak sesuai sama ekspektasi Lo ya?" Sagas memang sangat ingin merasakan kehidupan pasar yang padat dan ribut. Tapi keadaan yang sekarang juga tak terlalu buruk. "Iya. Tapi kita bisa ambil sisi positifnya. Kita nggak perlu desak-desakan, kan? Yuk." Sagas dan Rhea mulai menjelajahi pasar. Mereka berhenti di lapak pedagang ayam. "Lo bisa masak ayam, Gas?" Sagas mengangkat bahunya, "Nggak. Yang penting kulkas ada isinya dulu deh, hehe." "Pak, harga ayam seekor berapa?" tanya Rhea. "37, Dek." Sagas hampir mengeluarkan uang dari dompetnya, tapi Rhea mencegah. "Nggak bisa kurang, Pak? 25 ya? Boleh?" "Waduh, nggak bisa, Dek. 25 mah balik modal juga belom." "30?" "Belom bisa, Dek." "32?" "Belom balik modal, Dek." "35?" "Gimana ya? 35 mah balik modalnya doang." "Ya udah deh, Pak, nggak jadi. Saya cari yang lebih murah aja." Rhea menarik Sagas dan berjalan menjauh dengan tempo lambat. "Lho? Rhe? Kenapa nggak jadi beli?" "Siapa bilang nggak jadi? Tunggu aja. Satu ... Dua ... Tiga!" "Ya udah, Dek. Sini saya kasih 35 aja!" seru Bapak itu. Rhea tersenyum menang. Mereka akhirnya membeli 4 ekor ayam dengan harga yang Rhea mau. "Kok kamu bisa sih kayak gitu tadi?" tanya Sagas "Kayak gitu? Ah ... maksud lo nawar? Ya bisa lah. Tawar-menawar itu sebuah keharusan." "Nih gue kasih tau ya, tiap beli sesuatu, tawar semurah-murahnya. Terus lo naikin pelan-pelan penawaran lo. Kalau masih nggak dikasih juga, pura-pura aja ngambek," jawab Rhea. "Hampir semua toko di pasar bisa ditawar. Kecuali toko sembako, mereka biasanya punya harga yang udah tetap." Sagas mengangguk-angguk seolah sedang menerima ilmu penting dari seorang guru besar. "Kamu belajar ini semua dari mana?" "Kenapa? Keren ya gue?" Sagas mengacungkan jempolnya, "Banget!" Rhea tertawa ironis, "Lo tau nggak? Lo orang pertama yang gue tunjukin keahlian tawar-menawar gue ini." "Kenapa? Bukannya kamu bisa pamer ke teman-temanmu dengan keahlian ini?" "Gue kemarin bilang kalau gue nggak punya banyak teman, kan? Tapi kenyataannya gue nggak punya teman, Gas. Sama sekali." Sagas memiringkan kepalanya, bingung. Rhea tertawa. "Gue bisa kenal, ngobrol, dan jalan sama siapapun. Tapi menurut gue, nggak semua orang bisa kita sebut teman," kata Rhea. "Mungkin lo bakal ngira kalau pemahaman gue ini aneh. Tapi ya, gelar teman itu punya tanggung jawab besar. Nggak semua orang bisa menanggung tanggung jawab itu." *** Rhea tak tau pasti berapa uang yang Sagas miliki. Tapi melihat belanjaan mereka hari ini--yang banyaknya bukan main--Rhea yakin bahwa Sagas berdompet tebal. Segala macam daging-dagingan mulai dari sapi, ayam, sampai seafood semuanya lengkap. Belum lagi sayur dan buah-buahan. Lebih mirip orang mau syukuran ketimbang jadi stok bulanan. "Gas, bahan makanannya sebanyak ini, tapi emangnya lo punya peralatan masak?" Sagas meringis, "Nggak." "Lah? Terus mau dimasak pakai apa? Mau makan mentah-mentah?" Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membeli basic equipment di toko perabotan rumah tangga yang berada tepat di depan pasar. "Harus beli yang mana, Rhe?" tanya Sagas. Rhea menimbang-nimbang kemudian memutuskan untuk mengambil sebuah teflon ukuran sedang, sebuah wajan, sebuah panci, selusin sendok, selusin piring, dan selusin gelas. Rhea mengambil barang dengan harga paling murah, sesekali mencari diskon, dan tulisan buy 1 get 1. Meski Sagas punya banyak uang, Rhea tak boleh membiarkannya boros. "Ada lagi, Kak?" tanya Kasir pada Rhea. "Nggak, Mbak." "Totalnya 532.987 rupiah." Bukannya mengeluarkan uang, Sagas malah memberi Rhea tatapan aneh. Pemuda itu lalu berkata, "Nggak bisa kurang, Mbak? Kalau 300.000 saya jadi beli." "Hah?" Mbak Kasir bingung. "Nggak boleh? Ya udah nggak jadi." Sagas lalu menarik Rhea menjauhi kasir. Persis seperti yang Rhea lakukan di pasar tadi. Sama seperti Mbak Kasir, Rhea juga bingung bukan main, tapi sepersekian detik kemudian ia tertawa. "Gas, di tempat modelan supermarket kayak gini tuh nggak bisa ditawar tau. Harganya udah pasti." "Beneran, Rhe?" Sagas membelalak. Seketika, Sagas memerah malu. *** "Udahan dong ketawanya, Rhe. Aku malu tau!" Rhea masih saja terus tertawa. Sepanjang perjalanan sampai rumah, Rhea tak berhenti tertawa geli dan menggoda kenaifan Sagas. Sagas menghempaskan tubuhnya di sofa. Nyatanya hidup di luar sangkar tak semudah bayangannya. Ketika di rumah, ia tak pernah mengurus hal-hal seperti ini. "Lo tuh polos banget sih jadi manusia." Sagas mengerucutkan bibirnya. "Iya, gue berhenti ketawa," kata Rhea. "Pokoknya satu keinginan lo udah tercapai kan?" "Hm. Aku belum pakai kesempatan tanya aku kan, Rhe." "Iya. Mau nanya sekarang?" "Iya, boleh?" "Silahkan." "Kamu bilang kalau teman punya tanggung jawab besar dan nggak semua orang bisa disebut teman. Memangnya tanggung jawab kayak apa yang harus ditanggung seorang teman, Rhe?" "Hmm ...." Rhea menyusun kata-kata di kepalanya. "Teman itu ... harus ada ketika dibutuhkan, harus bisa melewati suka duka bareng-bareng, harus bisa ngasih support, nggak boleh egois, dan yang paling penting ... nggak berkhianat," papar Rhea. "Sayangnya, gue nggak siap. Gue belum layak buat ditemani dan menjadi teman seseorang, Gas." Sagas menegakkan badannya, kemudian menatap Rhea lurus ke mata. "Kalau pacar?" tanya Sagas. "Kamu punya pacar, Rhe?" "H-hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN