"Apa, Bu? Saya nggak boleh ikut selama ujian?" tanya Rhea shock.
Bu Dersa menyeruput teh nya dengan kalem kemudian menjawab, "Iya. Tujuan saya rekrut kamu jadi asisten adalah meningkatkan nilai kamu. Jadi lamu harus fokus ujian selama seminggu. Kerja kamu sebenarnya bagus, kamu bisa menjalin hubungan yang sangat baik dengan Sagasta dan membuatnya nyaman. Tapi saya punya standar sendiri untuk merekrut asisten, pokoknya kalau nilai kamu ada yang C, saya akan pecat kamu dengan senang hati. Oke?"
Rhea tak bisa berkata-kata. Ancaman Bu Dersa sama mengenalkannya dengan milik Dextra. Memang genetik tidak pernah berbohong.
"Tapi jangan khawatir, sebagai dosen pembimbing akademik yang terlampau baik hati, saya akan bantu kamu. Datang ke rumah saya mulai hari ini."
***
Rhea menatap pemuda berkacamata itu kesal. Ia baru tau kalau pemuda itu--Dextra--rupanya adalah seorang pemakai kacamata.
"Emang lo bisa belajar?" ejek Dextra.
Ya, inilah 'bantuan' yang Bu Dersa maksud. Tapi daripada bantuan, mungkin lebih mirip bencana buat Rhea.
"Sejak kapan lo pake kacamata?"
"Dari jaman Firaun juga gue udah pake kacamata, lo aja yang nggak tau," jawab Dextra. "Gue pake pas lagi belajar dan harus lihat sesuatu yang digital aja."
"Emang kalau keluar gapake kacamata lo masih bisa lihat?"
Dextra meniup rambut depannya. Merasa kesal dengan pertanyaan Rhea yang terdengar bodoh.
"Ya bisa lah! Gue cuma minus, bukan buta!" ujarnya.
Rhea ber-oh-ria. Sementara itu Dextra meletakkan beberapa buku yang tebalnya minta ampun di atas meja. Rhea melotot horor.
"G-gue harus baca semua ini nih?"
Dextra mendengus, "Bukan lah, ini buku gue. Gue juga butuh belajar. Lagian emang lo bisa baca buku sebanyak ini? Kalau gue tanya, lo bahkan mungkin nggak tau udah belajar apa selama setengah semester ini di kampus."
Rhea meringis. Tau darimana lagi Dextra kalau bukan dari Bu Dersa?
"Sebenernya belajar paling bagus itu langsung dari textbook. Lo jadi bisa ngerti konsep sampe ke akar-akarnya. Tapi karena ujian udah minggu depan, jadi baca textbook udah nggak mungkin," papar Dextra. Ia kemudian menyerahkan setumpuk kertas hasil cetak yang di atasnya telah dipenuhi stabilo warna-warni kepada Rhea.
"Nih. Gue udah print out semua materi presentasi dosen lo. Ujian biasanya cuma seputar presentasi dosen doang, jadi baca ini bakal bantu lo buat ngerjain soal ujian. Udah gue highlight juga yang penting-penting."
Rhea mengangguk mengerti.
"Oke, sekarang kita mulai belajar. "
***
Rhea mungkin memang tak ditakdirkan untuk belajar. Energinya cepat sekali habis, kepalanya sudah pusing bukan main. Maunya rebahan lalu tidur pulas.
Berbanding terbalik, Dextra yang biasanya bossy dan menyebalkan minta ampun itu ternyata handal dalam belajar. Dia betah menatap buku-buku tebalnya sambil sesekali mencatat di buku pribadinya. Rhea jadi nggak heran kenapa Dextra bisa masuk kedokteran dengan tampangnya yang tidak cukup meyakinkan itu.
"Udah capek?" tanya Dextra. "Baru juga sejam."
Rhea menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap Dextra yang duduk di seberangnya dengan ujung mata, "Emang idealnya mahasiswa harus belajar berapa jam sih? Gue udah muak rasanya."
"Rata-rata mahasiswa di seluruh dunia belajar 10-13 jam per minggu. Berarti nggak lebih dari 2 jam per hari, tapi karena lo udah keterlaluan, waktu segitu nggak cukup."
Rhea menganga, "Gila. Lo tau fakta begituan darimana coba? Jangan-jangan lo juga tau kenapa awan warnanya putih?"
"Hm. Awan putih karena cahaya matahari warnanya putih. Jadi waktu cahaya matahari lewat, dia berinteraksi sama bulir-bulir air yang ada di awan dan menghasilkan warna putih yang solid," papar Dextra.
Rhea mulai menatap Dextra curiga, "Ah paling karena lo kebetulan tau aja kan ya? Gue coba tanya pake pertanyaan lain ya? Mmh ... kenapa jeruk kadang rasanya ada yang asem dan kadang ada yang manis bahkan ada yang pahit?"
"Rasa asam timbul dari cairan bersifat asam yang ada di dalam jeruk. Kalau rasa manis ya jelas dari gula, kadarnya beda-beda tiap jeruk. Nah kalau rasa pahitnya itu karena essential oil jeruknya sendiri," jawab Dextra.
"Kenapa gajah telinganya gede?"
"Telinga gajah penting buat proses thermoregulasi. Kalau badan gajah ngerasa panas, panas itu bakal keluar dari telinganya. Terus telinganya juga bisa gerak-gerak dan menghasilkan angin semilir gitu," jelas Dextra. "Udah? Mau nanya apa lagi lo?"
Rhea seperti sedang berdiri di persimpangan antara percaya-nggak percaya. Ya, Rhea tau kalau Dextra pasti memang pintar. Tapi dia nggak menyangka kalau Dextra juga bakal paham tentang pengetahuan-pengetahuan random begini.
"Oke, oke, satu lagi. Kenapa Adolf Hitler kumisnya aneh?"
Pletak! Dextra melayangkan sentilan ke dahi Rhea. Membuat gadis itu kesakitan.
"Ahhhh! Sakit!"
"Makin aneh aja pertanyaan lo. Siapa coba yang tau jawaban pertanyaan kayak gitu selain Adolf Hitler nya sendiri? Tanya sana sama orangnya. Apa mau gue anterin ke akhirat biar lo bisa nanya langsung?"
Rhea meringis sambil terus mengelus dahinya yang memerah. Seketika Dextra merasa bersalah. Pemuda itu lalu duduk di samping Rhea, melihat bekas merah kebiruan di dahi Rhea secara lebih dekat.
"Sini gue lihat," kata Dextra. Tangannya memegang kepala Rhea. Ia meniup-niup dahi Rhea, sesekali mengelusnya dengan ibu jari. Jarak mereka sangat dekat, sampai-sampai mugkin bisa membuat orang lain salah paham.
Gubrak! Pintu dibuka dengan sembarangan, menampilkan 3 orang laki-laki yang memasang ekspresi jenaka.
"HAYO! MAU m***m YA KALIAN?!"
***
Tiga orang itu jelas berhasil membuat Rhea merasa tidak nyaman. Pasalnya, mereka menatap Rhea lekat-lekat. Seolah Rhea benar-benar telah berbuat dosa besar. Ditambah lagi, kini dia harus menghadapi mereka sendirian pasalnya Dextra sedang sibuk di dapur menyiapkan minuman.
Dua dari mereka sudah pernah Rhea lihat sebelumnya. Tepatnya ketika dia mengantarkan makanan untuk Dextra di kampusnya beberapa waktu lalu. Fitur wajah mereka yang begitu unik sangat mudah untuk diingat.
"Gue Romy," kata perempuan berambut pendek itu.
"Yang ini Aidil, yang ini Aidit," ucapnya lagi sembari menoleh ke kanan kirinya.
Rhea mengangguk. Nio dan Neo tampak mirip, bahkan mungkin identik. Rhea yakin sejuta persen kalau mereka berdua kembar.
"Kita temennya Dextra. Lo pasti Nina kan? Kita nggak sempet kenalan kemarin," kata Romy.
Seketika Rhea menyodorkan tangannya, menyalami ketiga teman Dextra itu.
"Gue Rhea, Kak. Rheanina Kataleyya, biasa dipanggil Rhea, bukan Nina."
Romy mencondongkan badannya ke arah Rhea, "Lo pacarnya Dextra?"
Rhea menggeleng keras, "Bukan gitu, Kak! Gue ... kenalannya? Pokoknya gue nggak sengaja kenal dia, gitu deh."
"Terus ngapain kalian berduaan di sini? Mamanya lagi nggak ada di rumah pula," tambah pemuda yang duduk di samping kanan Romy, Aidit.
"Belajar. Mamanya Dextra itu dosen gue dan dia nyuruh Dextra bantuin gue belajar buat UTS," jawab Rhea.
"Dan Dextra mau?"
Rhea tak yakin, "Mmh ... mungkin?"
Romy kemudian mendapati tumpukan print out presentasi yang ada tak jauh dari Rhea. Fokusnya tertuju pada highlight warna-warni yang ada di sana.
"Ini Dextra yang bikin?" tanya Sinistra seperti tak percaya.
"Iya."
Kompak, ketiga orang itu tertawa. Menyisakan Rhea yang bingung sendiri tak mengerti.
"Gue nggak tau Dextra bisa sebaik ini sama orang lain. He must be really like you huh? Really-really like you."
"Hah?"
***
"Pokoknya lo tetep harus belajar. Karena lo cepet capek, pake teknik Podomoro belajarnya. 25 menit belajar, 5 menit istirahat. Gitu terus sampai semua presentasi dosen udah hapal di luar kepala. Ngerti lo?" jelas Dextra.
Rhea mengangguk. Ia bersumpah bahwa dirinya sudah muak mendengarkan penjelasan Dextra.
"Lo udah ngomongin teknik Podomoro lo itu berkali-kali tau. Gue ngerti, gue nggak sebego itu!"
"Terserah lo aja. Ya udah, gue balik ya?"
Begitu Dextra melesat dengan mobilnya, Rhea masuk ke dalam indekos dan membaringkan dirinya di kasur. Kepalanya pusing tatkala teringat ancaman Bu Dersa. Makin pusing lagi ketika ingat kata-kata teman Dextra tadi, "Gue baru tau kalau Dextra bisa sebaik ini. He must be really like you huh? Really really like you."
Rhea bergidik ngeri. Kemudian memutuskan untuk menganggapnya sebagai gurauan belaka.
Rhea mengambil hoodie hitam yang tergantung di pintu kamarnya lalu memeluknya erat-erat. Ia tersenyum dan guling-guling sendiri ketika mengingat betapa kerennya Sagas ketika meminjaminya Hoodie ini untuk menutup pakaiannya yang tembus pandang.
"Demi bisa ketemu lo lagi, gue bakal belajar mati-matian, Gas. Tunggu aja."
***
Rhea baru saja keluar dari kelas ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Bodrex s****n:
Bwain koyo ke rmh skrg.
Rhea mau tak mau harus berjalan ke supermarket demi mendapatkan koyo dan desak-desakan naik angkot ke rumah Dextra. Padahal baru saja Rhea merasa lega karena ujian tengah semester nya sudah berakhir. Tapi ujian kehidupan yang lain ternyata sudah menunggunya.
Dextra sedang berbaring sambil nonton National Geographic Channel saat Rhea tiba. Ia masih berpakaian rapi, belum ganti sama sekali. Untung saja segala teknik Podomoro dan catatan dari Dextra sangat membantu Rhea dalam ujian tadi, jadi Rhea akan menganggap permintaan Dextra ini sebagai rasa terima kasih.
"Nih koyo nya," ucap Rhea seraya melemparkan kantung kresek putih pada Dextra.
"Pasangin," pinta Dextra. Suaranya terdengar lemas, dan wajahnya juga tak begitu baik ketika dilihat lebih dekat.
"Lo sakit?" tanya Rhea.
"Nggak. Sakit pinggang doang kok. Udah biasa," kata Dextra.
Pemuda itu lalu tengkurap dan mengangkat kemejanya sedikit ke atas. Rhea yang merasa iba segera menempelkan koyo ke area yang ditunjuk Dextra.
"Kayak orang tua aja lo sakit pinggang."
Dextra tak menjawab. Ia tampaknya terlalu lemas untuk bersuara lebih jauh. Rhea jadi tak tega untuk meninggalkan manusia ini sendirian. Lagi pula Bu Dersa juga tampaknya sedang tidak di rumah. Kalau tiba-tiba Dextra pingsan tak sadarkan diri kan Rhea juga yang nanti akan merasa bersalah.
"Udah makan?"
Dextra menggeleng. Rhea langsung bergegas menuju dapur dan melihat apa yang bisa ia masak di sana. Rhea memutuskan untuk membuat bubur campur sayur dan telur dengan resep yang baru saja dia comot dari YouTube.
"Nih," kata Rhea ketika buburnya sudah jadi.
Dextra berusaha duduk sambil sesekali merintih menahan nyeri di pinggangnya, "A-a-ah!"
Rhea berdecak, "Lo habis ngapain aja sih sampai sakit pinggang begini?"
"Berhenti ngomel deh. Jangan kayak mak-mak."
Dextra tampak hanya mengaduk-aduk bubur buatan Rhea. Membuat gadis itu geram setengah mati. Rhea merebut mangkuk itu dari Dextra.
"Sini gue suapin. Makanan diaduk-aduk doang!" omelnya.
Ia mengambil satu sendok penuh bubur dan memasukkannya ke dalam mulut Dextra. Bahkan sebelum Dextra berhasil menelan bubur sebelumnya, Rhea sudah menyuapkan lagi. Bertubi-tubi sampai Dextra sulit bernapas rasanya.
"Lo mau bantuin gue makan apa mau bunuh gue sih?! Makan cepet-cepet gitu bisa keselek tau nggak? Entar kalau gue keselek terus mati di sini gimana? Menurut pasal 340 KUHP, barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan, dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun. Lo mau masuk penjara?" pekik Dextra lalu merebut mangkuk yang dipegang Rhea. "Gue makan sendiri aja."
Rhea tertawa. Dextra kemudian mengeluarkan uang dari kantongnya.
"Beliin karton warna item. Gue baru inget ada project," perintah Dextra. "Sekalian beli lem."
"Ih! Kenapa tadi nggak sekalian sih?!"
"Bantah? Ingat ya utang lo 15 juta."
Maha s**l Dextra dan segala perintahnya.
***
"Hei! Mmh ... Nina, right?"
Rhea terkejut ketika bahunya ditepuk agak keras. Dia menoleh, mendapati seorang laki-laki yang tampak tak asing di matanya. Romy.
"Rhea, Kak. Bukan Nina."
"Oh iya, Rhea!"
"Kak Romy ngapain di sini?" tanya Rhea.
"Belanja bulanan. Kebetulan rumah gue deket sini. Lo sendiri ... what are you doing here? Rumah lo deket sini juga?"
Rhea menggeleng. Ia mengangkat keranjang berisi beberapa peralatan tulis yang ada di tangannya.
"Disuruh Dextra beli ini. Dia lagi nggak enak badan."
"Kenapa, Dextra? Sakit pinggang nih pasti," tebak Romy.
"Eh? Kok tau, Kak?"
Romy tertawa menanggapi keterkejutan Rhea.
"Dextra emang selalu sakit pinggang tiap habis ujian. Soalnya 7 hari berturut-turut sebelum ujian dia bakal belajar 10 jam non-stop per hari dengan posisi duduk. Jadi ya wajar aja kalau sakit pinggang."
Rhea menganga, "Gila! Beneran, Kak? Emang semua anak kedokteran kayak gitu ya?"
"Nggak juga. Gue sendiri nggak pernah belajar lebih dari 4 jam per hari. Cuma Dextra yang kayak gitu karena dia manusia paling s**l di dunia."
"Hah? Manusia paling s**l?" Rhea tak mengerti. Ia berjalan mengikuti Sinistra yang sedang mendorong trolley nya.
"Iya, manusia paling s**l. Unlucky Dextra. Barang apapun yang dia pegang bakal rusak, kalau dia lagi pengen jalan-jalan di luar tiba-tiba bakal hujan, kalau dia niat bolos dikit pasti langsung ketahuan, kalau trip kampus ada dia pasti ada aja masalahnya di jalan, dan kalau ujian apa yang dia pelajari nggak pernah keluar. Pokoknya kesialan-kesialan kayak gitu deh. Makanya tiap ujian dia ngerasa harus belajar lebih ekstra daripada yang lainnya," jelas Romy.
Rhea masih tak percaya. Pasalnya Rhea sama sekali tak pernah melihat Dextra seperti itu.
"Oh ya? Padahal gue rasa kayaknya Dextra lempeng-lempeng aja hidupnya, Kak."
"Lo nggak pernah lihat sisi s**l Dextra?"
Rhea mengiyakan.
"I told you before, right? Dextra pasti bener-bener suka sama lo, makanya dia berusaha seperfeksionis mungkin biar lo nggak tau imej pembawa sialnya."
"Dia mungkin ngecek ban mobilnya berkali-kali sebelum ketemu lo, dia berusaha teliti biar nggak ngerusakin barang di sekitar lo, dia juga mungkin mantau cuaca selama seminggu biar tau kapan bisa ketemu lo. How sweet!" lanjut Romy.
Rhea bergidik. Ucapan Sinistra membuatnya merinding.
"Ih, Kak Romy! Jangan ngomong aneh-aneh deh!"
***
Dextra masih setia dengan National Geographic Channel nya. Bahkan hingga Rhea tiba pun, Dextra masih asik menonton acara berbau ilmiah itu.
"Nih barang-barang lo sekalian kembaliannya. Gue taruh di meja ya?"
Dextra mengacungkan jempol. Dirinya masih berbaring di tempat yang sama, namun sudah menggunakan baju rumah yang lebih nyaman. Ia juga tampak lebih baik.
"Gue pulang ya? Udah sore," pamit Rhea sambil melirik jam di ponselnya.
"Kalau gitu siniin barangnya, terus ambilin gunting di ruangan itu," pinta Dextra sambil menunjuk salah satu ruangan.
"Ih! Banyak banget permintaan!" seru Rhea.
Ia memberikan barang yang masih ada dalam kantong itu pada Dextra kemudian menuju ruangan yang ditunjuk. Rupanya sebuah ruang perpustakaan mini. Ada dua rak besar berisi buku-buku. Mengingatkan Rhea pada rumahnya di Surabaya.
"Dimananya?" tanya Rhea setengah berteriak.
"Di dalem laci!"
Hanya ada satu laci yang ada di dalam ruangan itu. Tanpa ragu, Rhea mengambil gunting di laci itu. Sebelum menutupnya, perhatian Rhea tiba-tiba terfokus pada tumpukan kertas koran lama yang juga diletakkan di sana. Satu kalimat bercetak besar menyedot perhatian Rhea.
'Kebakaran Hebat di Puncak Bogor Menelan Dua Korban Jiwa'
***
Bogor--Villa Pondok Perak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, dilanda kebakaran hebat Jumat dini hari (14/10/2005)
Sekeliling villa kini sudah dipasangi garis polisi.
Menurut keterangan polisi, kebakaran berasal dari arah ruang tamu dan membesar hingga ke area dapur dan kamar. Terdapat dua korban tewas, HM (45) dan HSM (13) dan dua korban luka ringan LM (38) dan PSM (5) yang langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Polisi menduga kebakaran ini dipicu unsur kesengajaan. HM (45) diduga sengaja membakar villa dengan niat bunuh diri karena masalah finansial. Kasus ini sedang dalam penyelidikan lebih lanjut.
Rhea kehabisan kata-kata. Ia meletakkan koran-koran itu tepat di meja Bu Dersa.
"Semua berita ini ... tentang Sagas kan, Bu?"
"Dapat darimana kamu?" tanya Bu Dersa.
"Dari rumah Ibu. Saya buka laci dan nggak sengaja nemuin ini."
Bu Dersa menghela napas panjang, "Terus kamu bawa pulang? Mau saya laporin ke polisi karena tindak pencurian kamu?"
Rhea meringis, "Maaf, Bu."
"Hm. Ya sudah. Lagi pula memang itu yang terjadi pada Sagasta dan keluarganya. Papanya merencanakan bunuh diri satu keluarga dengan membakar villa, tapi Sagasta dan Mamanya selamat. Sementara Papa dan kakaknya tak tertolong lagi," papar Bu Dersa.
Rhea terhenyak. Bagaimana bisa Sagas yang kala itu masih sangat kecil menghadapi ini semua?
"Gimana? Ternyata hidupnya tidak seindah yang terlihat dari luar kan?"
Rhea mengangguk lemah.
"Makanya kamu harus bersyukur tidak perlu mengalami yang seperti itu. Saya percaya kamu juga punya masalahmu sendiri, tapi ketimbang Sagasta yang harus menghadapi masalah seberat ini, tugas kamu itu jauh lebih ringan. Tugas kamu cuma perlu belajar, saya yakin orang tua kamu juga mengharap begitu."
Rhea tertunduk malu. Setelahnya Bu Dersa menyodorkan selembar kertas padanya.
"Ini hasil ujian kamu. Saya minta lebih awal dari dosen-dosen lainnya. Bisa kamu lihat, sama sekali nggak ada yang C. Itu hasil belajar kamu, Rhea. Kalau kamu belajar seperti ini terus, bukannya bagus?"
Rhea tersenyum lebar.
"I-ini beneran nilai saya, Bu? Berarti saya ...."
"Ya, kamu akan lanjut jadi asisten saya. Dan minggu ini, saya punya misi baru untuk kamu. Misi kamu ... carikan saya rumah sewa."