Know You Slowly

2024 Kata
Kata orang, semuanya butuh waktu. Tak semua hal bisa dipercepat atau diperlambat sesuai keinginan kita. Bahkan untuk hal-hal kecil, seperti gugurnya daun, terbitnya matahari, atau bahkan turunnya hujan. Semuanya terjadi ketika waktu yang tepat tiba. Rhea mencoba untuk memahami itu. Meski ia tak mengerti sepenuhnya, setidaknya dirinya yakin bahwa apa yang terjadi pada Sagas bukanlah kejadian biasa. Dan menceritakan hal yang 'luar biasa' itu jelas tidak mudah. Sagas pasti butuh waktu. Rhea akan coba memahaminya. Dirinya bertekad untuk tidak bertanya apa-apa pada Sagas. Ia berjanji untuk mengunci rapat mulutnya, tidak bertanya dan mendesak seperti biasa. Rhea akan coba bersabar, sampai Sagas sendiri yang memberitahunya. Meski tidak mudah. Bahkan hanya dengan melihat Sagas di depan rumahnya saja, bibir Rhea terasa gatal. Bawaannya ingin bertanya dan memuaskan rasa ingin tau nya. Itulah mengapa dari tadi Rhea diam saja, ia akan menahan diri, menepati tekadnya. "Jadi hari ini kita akan lakukan exposure therapy lagi. Siap kan kamu, Rhe?" tanya Bu Dersa. Rhea mengangguk. Sagas balik bertanya, "Apa saya harus sembunyi lagi, Bu?" Bu Dersa menggeleng. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tas hitamnya. Sebuah kartu berwarna biru tua, kartu kredit. Bu Dersa menyerahkannua pada Rhea. "Misi kalian hari ini, pergi keluar." "Hah?" *** Rhea pikir menutup mulutnya adalah hal yang mudah. Tapi semakin dia memaksa dirinya untuk diam, semakin ingin mulutnya bertanya. Apalagi saat sedang diam menunggu Sagas ganti baju begini, pikirannya yang kosong malah dipenuhi rasa penasaran tak berujung. "Ini, Nak Rhea. Diminum dulu," ucap Bi Tri sambil meletakkan secangkir teh panas di hadapan Rhea. "Makasih, Bi." Bi Tri kemudian mendekatkan dirinya pada Rhea. Matanya menyorotkan keingintahuan. Ia berbisik, "Nak Rhe, emang bener hari ini mau keluar sama Den Sagas?" Rhea mengangguk, "Iya, Bi. Kenapa emangnya?" Bi Tri menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca seolah tak percaya. "Beneran, Nak Rhe? Nggak bohong?" Rhea mengangguk sekali lagi, "Kenapa, Bi?" "Bibi terharu, Nak Rhe. Ini bakal jadi pertama kalinya Den Sagas keluar rumah." Rhea menganga. Rupanya apa yang Bu Dersa ceritakan benar adanya. "Jadi ... Sagas benar-benar nggak pernah keluar rumah selama 15 tahun, Bi?" Bi Tri membenarkan, "Iya. Bibi tau, bibi mungkin nggak berhak bilang apa-apa tentang masalah ini, tapi ... Den Sagas benar-benar anak yang patuh. Den Sagas benar-benar sayang sama Nyonya, apapun yang Nyonya bilang, Den Sagas manut." Entah mengapa, mendengar penuturan Bi Tri, Rhea merasa sedikit nyeri. Sagas yang selalu tampak ramah dengan senyum di wajahnya itu benar-benar punya masalah yang serius. Rhea masih termenung bahkan hingga Bi Tri kembali ke dapur. Gadis itu tak bergerak, bahkan hingga Sagas usai mengganti bajunya. "Rhe?" panggil Sagas. Rhea masih terus melamun, sampai Sagas menepuk bahunya pelan. Rhea terperanjat, bukan karena tepukan itu. Melainkan karena Sagas yang gantengnya kelewatan. Dia memakai setelan jas warna biru dongker, rambutnya yang hitam berkilau disisir rapi, lengkap dengan aroma khas campuran mint dan kayu cedar. Membuatnya memunculkan aura kharismatik yang sebelumnya tak pernah diperlihatkan. Rhea menggeleng keras, "Jangan! Jangan pakai ini!" Sagas mengamati pakaiannya, bertanya-tanya apakah ada yang salah. "Kenapa, Rhe? Aneh ya?" Nggak, gue bisa jantungan kalau lihat lo pakai ini seharian. Ganteng mampus! "Nggak gitu, tapi kita bukannya mau ke acara resmi. Pakai sesuatu yang nyaman dan sederhana aja." Sagas menurut. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya. Meninggalkan Rhea yang tampaknya butuh bantuan oksigen darurat. "Kenapa bisa ada orang seganteng itu sih?" gumamnya. Tak lama kemudian Sagas selesai mengganti bajunya dengan celana panjang santai dan hoodie berwarna hitam. Aura kharismatiknya berubah jadi lebih kalem. Setidaknya masih bisa Rhea toleransi. Rhea berdiri, mengumpulkan energi di antara rasa penasarannya. Ia membawa Sagas turun dan keluar dari pintu utama rumahnya. Langkah Sagas terhenti begitu mereka mendekati pagar. Pagar hitam setinggi 3 meter itu adalah satu-satunya penghalang antara Sagas dan dunia luar sekaligus salah satu ketakutan terbesar Sagas. Rhea dapat melihat dengan jelas bahwa tangan Sagas bergetar. Kakinya mungkin lemas, tak sanggup melewati pagar itu. Mungkin terdengar hiperbola, tapi bagi Sagas, melewati pagar ini jelas tantangan yang sangat besar untuknya. "Rhe ... kayaknya aku nggak bisa," ucapnya. Rhea tersenyum. Kini ia paham maksud Bu Dersa, 15 tahun terkurung bagai burung dalam sangkar jelas sedikit atau banyak mempengaruhi Sagas. Tanpa basa-basi, Rhea menggenggam tangan Sagas erat. Ia bertutur, "Lo mungkin nggak bisa kalau sendiri. Tapi lo nggak sendirian, Gas. Gue di sini, ada di samping lo. Kita hadapin bareng-bareng ya?" *** Meski Rhea belum lama mengenal Sagas, setidaknya dia tau bahwa Sagas bukanlah orang yang mudah dibaca. Ia selalu tersenyum, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Rhea bahkan tak bisa membedakan apakah Sagas tersenyum tulus atau hanya palsu belaka. Sagas memang semisterius itu. Namun hari ini ... untuk pertama kalinya Rhea melihat emosi lain di wajah Sagas selain senyuman yang biasa ia tampilkan. Sagas sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa takut dan gelisah nya. Ia juga tak bisa menyembunyikan bahwa ada setitik kecil dalam dirinya yang merasa senang. Perpaduan yang saling berlawanan. Sagas terus menatap keluar jendela taksi, melihat seperti apa dunia di luar sana. Kagum sekaligus gelisah. Kakinya digoyang-goyang, menyalurkan rasa gelisah yang mungkin nyaris meledak di dadanya. Rhea tak melepaskan genggamannya di tangan Sagas. Ia tak ingin pemuda itu merasa bahwa dirinya sendiri. Rhea ingin meyakinkan pada Sagas bahwa mereka akan baik-baik saja. "Kita mau kemana, Rhe?" tanya Sagas. "Bentar lagi juga lo tau," ucap Rhea. Tak lama taksi berhenti. Tepat di depan sebuah gedung megah berplakat 'Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Wikramawardhana'. Rhea turun dari taksi diikuti Sagas yang memasang wajah bingung. Jelas, ia bingung mengapa dirinya dibawa kemari. Sebelum Sagas mengutarakan pertanyaan, Rhea lebih dulu membawanya masuk. Mereka segera menaiki lift, menuju lantai 7 alias lantai paling atas. Sesampainya di lantai 7, Rhea membimbing Sagas untuk menaiki tangga. Keadaan kampus yang sepi membuat langkah kaki mereka terdengar jelas. Tak sedetikpun Rhea melepaskan genggaman tangannya. Ia baru melepaskan genggaman itu ketika mereka usai menaiki tangga. Mereka sampai di area rooftop. Dari atas sana, tampak sebagian Kota Jakarta. Mulai dari gedung-gedung tinggi sampai kendaraan-kendaraan kecil berjajar yang tampak mirip miniatur. Sagas merasa takjub. Melupakan rasa takut dan gelisah nya. "Ini kampus gue. Gue bawa lo ke sini karena gue nggak tau mau bawa lo kemana. Anak-anak kelas gue suka nongkrong di sini kalau sore-sore. Katanya bisa ngilangin sumpek dan bisa lihat sebagian Kota Jakarta." "Dan lagi, lo belum pernah keluar. Gue rasa, bawa lo ke tempat rame bukan ide yang bagus. Gue rasa lo harus menyesuaikan diri dulu. Mulai dari tempat sepi begini." "Gimana perasaan lo setelah ada di sini?" tanya Rhea. "Nggak terlalu buruk menurutku. Aku ngerasa lebih tenang di sini, daripada waktu ngelihat lalu lalang di jalan tadi." Rhea tersenyum bangga. Usahanya tidak sia-sia ternyata. Misi utamanya dari Bu Dersa hari ini memang membuat Sagas merasa nyaman berada di luar rumah. "Mau tau lagi caranya biar makin tenang?" tanya Rhea. Sagas mengangkat alis kirinya. Sementara Rhea meletakkan tangan di sekitar mulutnya kemudian berteriak sekencang-kencangnya, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Sagas tertawa lepas. Meski Sagas selalu tersenyum dan murah yawa, namun Rhea belum pernah melihat tawa Sagas yang selepas ini. "Kok ketawa? Cobain lah!" Sagas mengikuti gestur tubuh Rhea--melingkarkan telapak tangannya di area bibir--dan berteriak sekencang mungkin, "Aaaaaaaaaaaa!" Giliran Rhea yang tertawa. Rhea kemudian menyandarkan dirinya di pembatas atap, menatap Sagas yang tersenyum lebar setelah berteriak kencang. Sagas yang berani melewati zona nyamannya begini sudah lebih dari cukup untuk Rhea. "Nggak terlalu buruk kan teriakan ku?" Rhea menyetujui. Setelahnya, Rhea menunjukkan bangunan-bangunan apa saja yang ada di sekitaran kampus. Rhea juga bercerita mengenai kafe depan kampus yang memajang salah satu lukisan Sagas. "Beneran, Rhe? Beneran ada lukisan aku?" tanya Sagas tak percaya. "Iya, beneran. Nanti kita ke sana, gimana?" "Oke. Nanti kita ke sana!" Suasana lalu hening untuk beberapa menit. Sagas sibuk mengagumi sekitarnya dan Rhea sibuk mengagumi Sagas. Sebuah siklus tak berujung yang rasanya tak ingin Rhea akhiri. "Makasih, Rhe. Berkat kamu, aku ngerasa ... bebas?" ucapnya, mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dia rasakan. Eh? Tiba-tiba banget? "Sama-sama. Gue seneng kalau lo ngerasa gitu." "Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku ngerasa sebebas ini." Rhea bisa menangkap nada sedih dalam suara Sagas. Pemuda itu sedikit mendongakkan kepalanya, menatap kosong awan-awan yang berhamburan di langit. "Papaku arsitek," kata Sagas. "Hm. Gue pernah denger dari Bi Tri, katanya rumah lo itu hasil desain Papa lo," sahut Rhea. Gue juga tau kalau perusahaan Papa lo bangkrut 15 tahun yang lalu, sambung Rhea dalam hati. "Papa punya perusahaan dulu. Sejenis agen buat menyalurkan jasa arsitek gitu." Rhea menyimak, matanya tak lepas dari Sagas. Begitupula telinganya. "Tapi bangkrut karena Papa ditipu sama orang kepercayaannya," sambung Sagas. Rhea makin berdebar di setiap kata yang Sagas ucapkan. Rhea yakin, cerita Sagas yang tiba-tiba ini adalah awal mula penuntasan rasa penasarannya. "Keluarga kami jadi punya banyak hutang, bahkan nggak ada satu orang pun yang mau bantu." nada sedih dalam suara Sagas semakin terdengar jelas. "Terus waktu itu ... Papa ngajak liburan sekeluarga di villa kami yang ada di puncak. Aku, Mama, Kak Sea, dan Papa. Mau hilangin stres katanya. Kami naik mobil putih, mobil satu-satunya yang masih bertahan setelah yang lain dijual buat berusaha ngelunasin hutang." Rhea meletakkan tangannya di atas tangan Sagas, memberinya kekuatan untuk bicara. "Aku inget banget, perjalanan waktu itu menyenangkan. Setidaknya buat aku. Kami sekeluarga ngehabisin waktu di villa. Waktu terindah yang pernah kami punya. Kayaknya itu kali terakhir aku ngerasa sebebas ini," ucap Sagas. Sagas tampak ingin bicara lebih lanjut. Tapi tiba-tiba ... Srashhhhh! Hujan turun, deras sekali sampai rasanya menusuk-nusuk kepala. Rhea dan Sagas berlari sigap, berteduh di bawah sisa bumbungan atap. Untungnya mereka berdua tidak begitu basah. Namun rasa basah itu tetap mengganggu. Seketika, Rhea berubah pikiran. "Pernah ujan-ujanan?" tanyanya. Sagas menggeleng. Rhea menarik Sagas, membawanya menuju terpaan hujan. Menikmati bulir-bulir air yang meski terasa tajam, namun menenangkan. *** Satu-satunya pertanyaan yang ada di benak Rhea saat ini adalah ... s****n IQ gue berapa sih sebenernya? Bahkan kali ini Rhea ragu kalau dirinya punya otak. Kalau punya pun, Rhea yakin kalau otaknya tidak berfungsi dengan baik. Rhea memeluk dinding kemudian kembali melihat refleksinya yang acak-acakan di cermin. Tapi bukan itu masalahnya. Masalah ada pada kemeja putihnya yang basah kuyup dan menampilkan bayangan merah muda di area d**a alias pakaian dalamnya. Ya, kemejanya tembus pandang karena basah. Rhea memukul-mukul kepalanya, g****k banget sih, Rhea! Kenapa harus main hujan-hujanan pas pake kemeja putih gini? Pada saat seperti ini, Rhea berharap dirinya ditelan bumi. Namun Rhea sangsi, bumi bahkan mungkin tidak mau menelan orang sebodoh Rhea. Kalau saja Rhea tidak mampir ke toilet, dia mungkin tidak akan sadar mengenai pakaian dalam merah muda nya yang tampak jelas dari luar. Entah sudah berapa orang yang melihat pakaian dalam itu. Sagas? Dia pasti lihat kan? Batin Rhea. Rhea kembali memukul-mukul kepalanya saat menyadari hal itu. Mau ditaruh mana muka Rhea? Mana bisa Rhea menghadapi Sagas dengan keadaan seperti ini? Malu pol! "Oke, Rhea. Ini bukan masalah gede. Apa salahnya emang kelihatan **? Orang di pantai juga nggak masalah kan pake bikini doang?" Rhea menghibur dirinya. Ia kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya. Lagipula sudah terlanjur. Apa yang dilihat orang lain tidak bisa dihapus kan? Rhea menguatkan dirinya lalu keluar dari toilet. Ia menghimpit tas selempang nya di depan d**a, menutupi agar orang lain tak bisa lihat. Sepanjang jalan menuju kursinya, Rhea tak bisa menegakkan kepala. Ia terus menunduk, saking malunya. Begitu Rhea sampai, ternyata pesanannya sudah ada di meja. Ia menepati janji, membawa Sagas ke kafe depan kampusnya. Sagas sedang sibuk memandangi lukisannya yang terpajang tak jauh dari tempat duduk mereka. Rhea tak lagi nafsu melihat blueberry cheesecake pesanannya. Ia rasanya mau pulang saja dan mengisolasi diri selama-lamanya. Rhea terlalu malu akibat kebodohannya. "Kenapa nggak dimakan, Rhe?" tanya Sagas yang entah kapan sudah berhenti memandangi lukisannya. "B-bentar lagi gue makan kok," kata Rhea. Ia tampak tak nyaman, berkali-kali membenarkan tas selempang yang dihimpit nya di d**a. Sagas menyadari itu. Tanpa banyak berkata-kata, pemuda itu melepaskan hoodie hitamnya. Menyisakan kaus hijau yang masih melekat di tubuhnya. Sagas menyodorkan hoodie itu kepada Rhea. "Hah?" Rhea tak mengerti. "Pakai ini aja. Kamu pasti nggak nyaman ya? Maaf aku nggak kasih tau kamu lebih awal, aku nggak tau gimana cara ngasih taunya," tutur Sagas. "Hoodie ini juga basah. Tapi seenggaknya bisa ngelindungin kamu." Rhea menerima hoodie itu dan memakainya. Seketika perpaduan aroma mint dan kayu cedar khas milik Sagas menyeruak sampai ke hidung Rhea. Rhea mau mati seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN