Misteri Keluaega

2200 Kata
Pada dasarnya, manusia lahir ke dunia tanpa membawa sifat penakut. Bayi-bayi kecil yang bahkan tak lebih dari satu meter dan hanya bisa menangis itu melangkah keluar dari rahim ibu dengan penuh keberanian. Namun seiring berjalannya waktu, bayi-bayi itu akan tumbuh dan mulai memiliki ketakutan-ketakutan tersendiri akibat pengalaman. Uniknya lagi, pengalaman yang sama pada orang yang berbeda jelas akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Misalnya, ketika dua orang anak melihat sesuatu berwarna putih melayang di langit, mungkin salah satu anak akan lari ketakutan karena menganggap objek itu sebagai hantu, sementara anak lainnya berdiri santai karena mengasumsikan objek sebagai layang-layang. Tentu kesimpulan yang mereka buat juga dipengaruhi dari apa yang biasa mereka terima dari kelima panca indera. Mungkin saja anak yang berlari ketakutan telah didoktrin oleh orang-orang di sekitarnya bahwa hantu itu ada, menyeramkan, dan bisa terbang. Mungkin anak yang lain tidak pernah menerima doktrin serupa. Setidaknya itulah yang sedang ditekankan oleh Bu Dersa. Entah darimana, ia berpendapat bahwa bukan hanya Nyonya Laras--ibu Sagas--yang punya masalah kejiwaan. Ia yakin bahwa Sagas pasti juga terpengaruh, sedikit banyak. "Makanya misi kamu hari ini selain bantuin saya exposure therapy, kamu harus mengamati Sagas baik-baik. Ngerti?" Rhea mengernyitkan alis, "Tapi Sagas kelihatannya baik-baik aja, Bu. Kelihatan ... normal." Bu Dersa menggeleng-gelengkan kepalanya, "Memangnya Nyonya Laras nggak kelihatan seperti itu? Ingat, beliau juga kelihatan normal." Kepala Rhea berdenyut. Belum juga dia tau apa yang terjadi sebenarnya pada Sagas. Kini hadir masalah baru yang sudah menanti untuk dipecahkan. "Pokoknya, kalau masuk panggilan telepon dari saya, kamu harus langsung memulai apa yang saya minta." *** Sagas selalu sama, selalu menyambut Rhea dengan senyumnya yang sumringah. Selalu berhasil membuat suasana hati Rhea menjadi bagus seketika. Begitu selesai memberi briefing untuk Bi Tri dan beberapa asisten rumah tangga lainnya, Bu Dersa langsung masuk ke dalam ruangan yang biasanya. Meninggalkan Rhea dan Sagas berdua. Rhea langsung menyampaikan apa yang Bu Dersa perintahkan padanya, "Selamat pagi, Sagas. Jadi hari ini kita akan melakukan prosedur exposure therapy pada Mama kamu seperti yang sudah diinformasikan oleh Bu Dersa sebelumnya. Mungkin prosedur ini akan terasa agak tidak nyaman dan saya juga akan meminta Sagas untuk ambil bagian dari prosedur ini, apakah Sagas bersedia?" Sagas tertawa. Ia tak pernah mendengar Rhea dalam nada bicara formal sebelumnya. "Kenapa? Aneh banget ya gue ngomong kayak gitu? Tapi mau gimana lagi, Bu Dersa minta gue nyampaiin consent ke lo." Sagas masih terkekeh. "Aneh memang." "Jadi gimana? Setuju nggak?" Pemuda itu mengangguk, "Apapun buat Mama." Rhea tersenyum namun sedetik kemudian cemberut, "Lo masih utang penjelasan sama gue. Gimana bisa gue bantuin Mama lo gini tanpa tau apa-apa?" "Iya. Maaf aku butuh waktu lama buat cerita ke kamu," kata Sagas. Ponsel Rhea bergetar. Semuanya dimulai. Rhea segera mengacungkan jempolnya pada Bi Tri yang sedang berdiri di area dapur. Setelahnya Rhea menoleh pada Sagas, "Jadi, dimana kita bisa sembunyi?" *** Rhea tak pernah mengerti apa asiknya permainan 7-minutes-in-heaven yang sering ia lihat di film atau serial barat yang bertema percintaan remaja. Menurut Rhea, permainan itu agak bodoh malah. Prinsip permainan 7-minutes-in-heaven adalah memilih dua orang secara acak kemudian memberi mereka waktu untuk berduaan 7 menit di ruang tertutup dan gelap. Bebas melakukan apa saja, tidak ada larangan. Tapi sepertinya hari ini Rhea mengerti. Duduk berdua dan bersembunyi dalam sebuah lemari milik Sagas yang tak begitu lebar, membuatnya dan Sagas mengikis jarak. Ia duduk dengan kaki yang terlipat, begitu pula Sagas. Mereka berhadap-hadapan, saling memandang tanpa kata di antara cahaya remang-remang yang berhasil menembus celah-celah lemari. Jantung Rhea berdebar kencang. Jelas seperti inilah rasanya 7-minutes-in-heaven. Siluet Sagas tampak mempesona, dalam gelap sekalipun. Hidungnya yang mancung, mata cokelatnya yang tampak berkilau akibat cahaya, deru napasnya yang tenang, serta aroma campuran mint dan kayu cedar dari tubuh Sagas yang entah menyeruak dengan kurang ajarnya. Sungguh menarik Rhea jatuh lebih dalam. Rhea mengutuk keputusannya sendiri. Awalnya Sagas mengusulkan untuk bersembunyi di kamar, namun setelah di kamar, Rhea berpikir bahwa bersembunyi di lemari akan lebih aman. Namun ternyata malapetaka untuk jantungnya. Jelas bersembunyi nya mereka ini merupakan bagian dari exposure therapy. Karena Nyonya Laras sangat takut kehilangan Sagas, maka dipapar dengan skenario kehilangan begini akan menjadi terapi yang tepat untuknya. Tugas Rhea mudah, hanya membantu Sagas bersembunyi dan jangan sampai ketahuan. Sialnya, dia malah mempersulit tugasnya sendiri dengan bersembunyi di lemari sempit begini. Bahkan untuk bernapas pun terasa sulit saking gugupnya. Di tengah atmosfer sunyi yang mencekik, tiba-tiba Sagas berbisik, "Kamu inget lukisan yang waktu itu?" "Hah? Lukisan? Yang mana?" "Yang waktu itu aku tunjukin ke kamu setelah kita nonton film," jawab Sagas. Rhea yang bahkan tak bisa bernapas dengan benar kini harus berpikir. Ia mengingat setiap detail yang pernah dilaluinya dengan Sagas. Kemudian satu lukisan muncul di pikirannya. Lukisan sepasang perempuan dan laki-laki tanpa wajah yang waktu itu pernah Sagas tunjukkan padanya. "Oh! Gue inget! Lukisan cowok sama cewek yang nggak ada mukanya itu kan? Waktu itu lo bilang kalau cowoknya itu lo dan ceweknya adalah orang yang berharga buat lo," tebak Rhea. Sagas mengangguk, gerakannya yang lembut tampak indah dalam kegelapan. "Kenapa?" tanya Rhea. "Perempuan itu ... kakakku. Namanya Sea." Rhea tak mengerti mengapa Sagas tiba-tiba membicarakan ini. Mungkin untuk menghilangkan sepi, atau mungkin Sagas memang sedang ingin bercerita. Namun yang jelas, nada bicara Sagas terasa sendu. Membuat Rhea tanpa sadar merasa sedih. "Oh ya? Pasti cantik banget," sahut Rhea. "Dia ...." Belum usai Sagas bicara, Rhea membekap mulut pemuda itu. "Ada suara langkah kaki," bisiknya. Mata Rhea memantau waspada keadaan di luar lemari melalui celah-celah. Tangannya masih saja menutupi mulut Sagas, badannya condong ke depan, tanpa sadar mengikis jarak di antara mereka. Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, tampak kaki-kaki Nyonya Laras dan Bu Dersa. "Iya begitu, tarik napas dalam-dalam, keluarkan .... Tidak akan ada suatu hal buruk yang terjadi meskipun Sagasta tidak ada di sini," kata Bu Dersa memberi arahan. Nyonya Laras tampak mengikuti. Wanita itu juga tampak tenang, tidak sepanik yang Rhea bayangkan. Napas Rhea tercekat saat langkah kaki Nyonya Laras mendekat ke arah lemari. Dekat dan semakin dekat. Setiap langkahnya menambah ketegangan layaknya pembunuh berantai di film-film thriller. Untungnya Nyonya Laras tidak sampai membuka lemari. Ia langsung keluar begitu merasa tak menemukan Sagas. Rhea bernapas lega. Ia kemudian menoleh ke arah Sagas. Ketegangan itu kembali lagi. Betapa terkejutnya Rhea ketika menyadari bahwa jaraknya dan Sagas hanya terpisah sebesar satu jengkal. Mata Rhea langsung bertatapan dengan mata Sagas yang cokelat berkilauan itu sementara tangannya masih membekap mulut Sagas. Rhea membeku. Tenggelam dalam keindahan luar biasa yang Sagas miliki. Sedetik kemudian Rhea tersadar. Seolah mantra sihir menghilang begitu saja, dikalahkan oleh logika Rhea yang mengatakan bahwa mereka tidak seharusnya ada dalam posisi seperti ini. Rhea yang gugup dan panik setengah mati pun langsung berdiri. Sampai lupa bahwa atap lemari yang ia tempati tak terlalu tinggi. Duk! "Ahhhh!" keluh Rhea. Kepalanya terbentur atap lemari. Seketika, 7-minutes-in-heaven berubah menjadi 7-minutes-in-hell. Sungguh malang. *** Telunjuk Rhea meraba area kepalanya yang benjol, ia menyesali kebodohannya. Kalau saja ia tidak gugup .... Oh, ralat, kalau saja ia tidak mengusulkan untuk bersembunyi di lemari. Semua ini tak akan terjadi. Emang dasar g****k, Rhea g****k! Hal yang paling Rhea khawatirkan sebenarnya bukan kepala benjolnya, tapi mengenai bagaimana Sagas melihatnya. Ia takut kalau-kalau Sagas bisa membaca kegugupan Rhea. Bukan apa, malu! Kegugupan sepihak begini sangat memalukan untuk diakui. Belum usai Rhea memaki dirinya sendiri, sesuatu yang dingin menyentuh kepalanya. Rhea mendongak. Sagas tengah berdiri tepat di hadapannya, menempelkan kompres dingin di kepala Rhea. Sesekali, pemuda itu tertawa kecil. "Kenapa lo ketawa-ketawa sendiri?" tanya Rhea agak sinis. Pasalnya dia tau siapa yang sedang Sagas tertawakan. Sagas tidak menjawab, hanya tersenyum lebar. Senyum yang manisnya bisa membuat Rhea diabetes seketika. "Lain kali jangan ceroboh," kata Sagas. "Gimana kamu bisa lupa sih kalau atap lemari itu nggak begitu tinggi? Jadi benjol kan." Rhea cemberut. Kembali teringat kebodohannya. Setelah dirasa cukup, Sagas menyudahi kompresan di kepala Rhea. Ia lalu berjongkok di depan Rhea yang sedang duduk. Jaraknya cukup dekat hingga membuat napas Rhea kembali tercekat. Belum lagi tatapan lekat dari Sagas yang entah mengapa membuat Rhea merasa terbang di awang-awang. "K-k-kenapa?" tanya Rhea mendadak gagap. "Makasih," katanya. "Hah? Makasih buat?" "Makasih karena udah buat aku ketawa. Aku seneng kamu ada di sini, Rhe." Mampus, Rhea mau pingsan sekarang juga. Boleh? *** "Makasih karena udah bikin ketawa?" "Ehm! Iya, makasih karena udah bikin ketawa. Apa maknanya kalau cowok ngomong kayak gitu?" tanya Rhea sambil menempelkan ponsel di telinganya. Ya, ia sedang bicara dengan seseorang di seberang sana. Siapa lagi kalau bukan sepupunya, Aalea. "Lo yang nggak pernah nelepon gue tiba-tiba nelepon cuma mau nanya gini? Hmm ...." Rhea berguling-guling di kasurnya. Ia sesekali menyentuh benjol di kepalanya. Benjolan yang meskipun terasa sakit, namun bisa dia terima sepenuh hati. "Ya ... bukan masalah gue sih sebenernya. Temen gue yang nanya, tapi karena gue nggak punya pengalaman model begini, jadi gue nanya lo." "Mmh ... kalau menurut gue sih, biasa aja. Nggak ada makna apa-apa. Lagian gue yakin yang bikin dia ketawa bukan cuman lo. Logika aja ya, pelawak di tv bikin jutaan orang ketawa setiap hari, jutaan orang juga merasa makasih karena udah dibikin ketawa. Nggak bermakna apa-apa kan?" Entah mengapa penjelasan Aalea membuat Rhea merasa sedikit kecewa. "Oh ...." "Oh? Oh doang? Nadanya sedih gitu lagi. Siapa sih emangnya yang bilang gitu ke lo? Anan pacar lo itu?" Seketika Rhea teringat ketika mereka tak sengaja bertemu di pernikahan mantan Dextra waktu itu. Ketika Dextra mengenalkan dirinya sebagai Anan. "Ih nggak! Orang cerita temen gue! Lagian gue nggak ada hubungannya ya sama Anan-Anan itu!" "Iya deh iya, anggep aja gue percaya. Mau nanya apa lagi nih? Kalau nggak ada, gue matiin ya? Tugas gue numpuk banget." "Iya, matiin aja. Makasih, Aal." Tut! Setelah sambungan telepon terputus, Rhea membanting tubuhnya ke kasur. Entah apa yang sebenarnya dia harapkan, dia juga tidak mengerti. Di tengah kekecewaannya, tiba-tiba sekelebat ucapan Sagas terngiang di telinga. "Perempuan itu ... kakakku. Namanya Sea." Rhea baru teringat tentang Sea, tentang cerita Sagas yang belum usai. Gadis itu langsung terbangun dari tempat tidurnya. Ketimbang rasa kecewanya yang barusan, kini dia jauh lebih kecewa. Dengan cekatan Rhea mengambil bukunya, menulis informasi apa saja yang dia ingat dari perkataan Sagas tadi siang. Apapun itu, Rhea yakin Sea punya peran penting atas Sagas dan teka-tekinya. *** Kalau ada kategori 'keluarga paling misterius' di Guiness World Book Record, maka Rhea rasa gelar tersebut pantas untuk disematkan pada keluarga Mahadierja. Rhea sama sekali tak bisa menemukan informasi apa-apa mengenai keluarga Mahadierja meski sudah berselancar di internet sampai subuh. Fokus utama Rhea semalam adalah Sea, kakak Sagas. Rhea menelusuri hampir setiap media sosial yang ada di muka bumi ini, mencari dengan kata kunci Sea. Namun yang keluar malah serba-serbi tentang laut, mulai dari sea world, sea encyclopedia, bahkan seafood. Meski tidak tau nama lengkapnya, Rhea berasumsi kalau nama Sea pasti mengandung kata Mahadierja. Tapi meskipun sudah menggunakan kata pencarian Sea Mahadierja, tidak ada yang bisa dia dapatkan. Aneh menurutnya, bagaimana bisa manusia jaman sekarang tidak punya media sosial sama sekali? Hanya ada tiga kategori yang memungkinkan mengapa seseorang bisa tidak punya media sosial. Pertama, kurangnya akses, misalnya orang-orang yang tinggal di pedesaan atau orang-orang yang tidak punya smartphone. Kedua, tidak adanya pengetahuan mengenai media sosial. Ketiga, keputusan pribadi. Rhea yakin alasan dari kakak beradik Mahadierja itu tidak membuat akun media sosial bukanlah alasan pertama dan kedua. Rhea yakin seratus persen bahwa keputusan itu dibuat atas alasan pribadi. Pertanyaannya, kenapa? Apa hanya karena ingin hidup tenang tanpa media sosial? Apakah sesederhana itu? Mahadierja oh Mahadierja, kenapa harus bikin Rhea sulit begini sih? Kendati sulit, Rhea tak menyerah. Rasa penasarannya tak boleh dibiarkan begitu saja. Itulah mengapa siang ini dia memutuskan untuk bergabung dengan golongan cewek-cewek hedon yang kala itu membantunya mencari tau harga sweater Dextra. Rhea sampai merelakan waktu kosong seusai jam kuliahnya untuk ikut nongkrong di rumah Dania--salah satu dari mereka--meski sebenarnya benci acara ngumpul-ngumpul begini. Menurut kacamata Rhea, anak-anak dari keluarga kaya cenderung mengenal satu sama lain. Menurut Rhea juga, keluarga Mahadierja jelas bisa dikategorikan dalam keluarga kaya kalau dilihat dari rumahnya yang megah dan gaya hidupnya yang anggun seperti titisan keluarga Kerajaan Inggris. Peran Rhea hari ini mudah. Dia hanya perlu mendengarkan gosip-gosip yang beredar di antara gadis-gadis ini, berpura-pura tertarik, kemudian menambahkan informasi yang dia ketahui. Setelah semua itu dilakukan, barulah Rhea bertanya, "Eh kalian pernah denger nggak tentang keluarga Mahadierja?" Gadis-gadis itu mendengarkan Rhea dengan saksama. Mereka lalu menggeleng. "Belum pernah denger tuh." "Sama gue juga." "Emangnya kenapa, Rhe?" Rhea membual, "Enggak papa sih. Gue punya tetangga baru, nama belakangnya Mahadierja. Karena ganteng, jadi gue kepo aja." "Beneran ganteng?" tanya Dania dengan semangat. Rhea mengangguk. "Namanya Sagasta. Terus dia punya kakak namanya Sea. Kalian beneran nggak tau?" Mereka serempak menggeleng. Tamara menepuk bahu Rhea. "Tenang aja, kita bakal bantu cari tau. Asal ganteng, that's gonna be our pleasure." *** Rhea sedang termenung di kamarnya sambil memejamkan mata saat telepon dari Tamara masuk. Gadis itu segera bangkit, mengangkat telepon yang mungkin saja membawa informasi berharga. "Halo?" "Hai, Rhe. Gue sama anak-anak udah nyari info tentang keluarga yang Lo bilang itu. Tapi rata-rata dari kita nggak bisa nemuin apa-apa." Rhea sudah menduga. Keluarga Mahadierja itu memang tak sama dengan keluarga pada umumnya. "Tapi ada satu perusahaan dengan nama Mahadierja Architecture. Perusahaan yang nyediain jasa arsitek gitu. Tapi sayang, 15 tahun lalu perusahaan ini bangkrut dan sampai sekarang nggak ada kabarnya lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN