Catcalling

2534 Kata
Brak! Tanpa sadar Rhea menggebrak mejanya. Mengundang perhatian dari seluruh penjuru kelas. Ia menyesal setengah mati tatkala namanya dipanggil oleh Bu Audi, salah satu dosennya, "Ada apa, Rhea? Kenapa kamu gebrak meja? Ada masalah dengan kelas saya?" Tatapan Bu Audi yang berapi-api membuat Rhea mendadak berkeringat dingin. Ia segera berdalih, "A-anu, Bu. Ada nyamuk di meja." Bu Audi berdecak, "Awas ya kamu berisik lagi." Rhea bisa bernapas lega. Bukan tanpa alasan, Rhea menggebrak meja karena rasa penasaran yang tak bisa ia bendung lagi. Semenjak pulang dari rumah Sagas kemarin, tampaknya tidak sedetikpun--kecuali tidur--Rhea tidak memikirkan masalah Sagas dan teka-tekinya. Rhea percaya, kalau masalah ini tak segera diselesaikan, dia bisa mati muda karena penasaran. Lalu berubah jadi arwah gentayangan yang tidak bisa tenang selama dunia masih ada. Tidak bisa begini. Rhea harus memaksa Bu Dersa untuk menuntaskan rasa penasarannya. Harus. Rhea mengeluarkan ponselnya secara sembunyi-sembunyi. Ia baru saja berniat mengetikkan sesuatu, namun semesta berkata lain. Bu Dersa mengiriminya pesan. Sebuah kebetulan. *** "Ada apa manggil saya, Bu?" tanya Rhea. Bu Dersa menatap Rhea curiga. "Kenapa kamu senyum lebar begitu? Biasanya juga kalau saya panggil biasa aja." Rhea cemberut. Bu Dersa memang pandai membaca perasaan Rhea. Ya, Rhea memang bisa dibilang senang karena kebetulan yang terjadi hari ini. Kebetulan, ketika dia butuh Bu Dersa untuk ditanyai, tiba-tiba dia sudah dihubungi dengan sendirinya. Kebetulan yang sebenarnya sederhana tapi cukup membahagiakan buat Rhea. "Memangnya nggak boleh senyum, Bu?" "Boleh. Udah duduk, cepet," perintah Bu Dersa. Rhea duduk sesuai permintaan Bu Dersa. "Nyonya Mahadierja nambah jadwal terapi," kata Bu Dersa. "Jadi sekarang seminggu dua kali, hari Minggu dan Rabu. Gimana? Kamu mau jadi asisten saya di hari Minggu aja? Atau tambah juga jadi hari Rabu? Kalau sekiranya kamu nggak bisa, saya bakal cari asisten lain untuk hari Rabu." Tanpa berpikir, Rhea berdiri lalu menggebrak meja, Brak! "Nggak, Bu! Jangan cari orang lain! Saya bisa! Beneran! Mau subuh, pagi, siang, sore, malem, saya bisa!" ujarnya. Bu Dersa kaget, sampai-sampai tersentak. Ia kemudian memelototi Rhea. "Rhea, kamu bikin saya kaget!" Rhea meringis. Ia kemudian kembali duduk. Efek euforia yang meletup-letup membuatnya bereaksi berlebihan. "Maaf, Bu." Setelah pulih dari rasa kagetnya, Bu Dersa bertanya, "Bener ya kamu bisa? Tapi kalau ada kuliah kamu harus bilang saya ya, saya nggak mau kamu bolos." Rhea mengangguk tapi tidak meresapi apa perkataan Bu Dersa. Sudah jelas Rhea tidak peduli dengan kuliah atau apalah itu, yang penting dirinya bisa selangkah lebih dekat dengan Sagas dan misterinya. "Ngomong-ngomong, gimana kemarin? Kamu udah tau sejauh mana tentang Sagasta?" Rhea menampilkan ekspresi kecewa kemudian menggeleng. "Waktu saya mau nanya, eh Mamanya dateng, Bu. Terus nggak jadi deh," jawab Rhea. "Oh ya? Kamu ketemu Nyonya Mahadierja? Menurut kamu gimana orangnya? Rhea seketika teringat mengenai wanita itu. Tatapannya yang dingin nan angker, gerak-geriknya yang lembut namun penuh intimidasi, dan kata-katanya yang menusuk seperti belati. Lebih mengerikan dari hantu, lebih dingin dari es batu. Rhea otomatis bergidik ngeri. "Mmh ... itu ... serem, Bu. Beliau kayaknya nggak begitu suka saya berinteraksi sama Sagas." Raut wajah serta nada suara Rhea mencerminkan kekecewaan. Bu Dersa tertawa. "Ekspresimu lho ... kayak ditolak mertua. Masa gitu aja udah mau nyerah? Maklumin aja, kamu tau sendiri kalau Nyonya Mahadierja punya Thanatophobia. Selain protektif ke dirinya sendiri, Sagasta juga jadi salah satu korbannya. Beliau nggak mau kehilangan Sagasta. Semua ibu berpikiran seperti itu, tidak ada yang mau kehilangan anaknya. Tapi beliau berpikir dan bertindak secara berlebihan. Ngerti kan kamu?" Rhea paham. Setelah mempelajari puluhan buku dan jurnal tentang Thanatophobia, Rhea jelas paham tanpa perlu dijelaskan begini. "Saya paham, Bu. Yang saya nggak paham, gimana bisa Nyonya Mahadierja menderita itu? Apa nggak bisa Bu Dersa ceritakan saja? Saya udah penasaran banget. Gratis jasa asistensi saya 1 minggu deh, Bu. Satu bulan kalau ibu mau juga nggak papa," bujuk Rhea dilengkapi embel-embel penawaran jasa gratis. Sayangnya, Bu Dersa bukanlah ABG baru puber yang sedang butuh uang buat beli skincare. Bu Dersa itu dosen. Dosen yang punya misi untuk membuat Rhea tertarik belajar psikologi. "Rayuan kamu nggak mempan sama saya. Kamu cari tau sendiri pokoknya. Kalau ke pasien nanti, anamnesis ya memang sesusah itu. Tidak semua pasien mau terbuka dengan sekali kamu tanya. Butuh berkali-kali. Butuh kesabaran berlapis-lapis. Jadi cari tau sendiri aja." Bibir Rhea mengerucut. Ia terpaksa harus bersabar--lagi--demi mengetahui seluk-beluk Sagas. "Oh ya, satu lagi, saya sedang merencanakan exposure therapy untuk Nyonya Mahadierja. Saya butuh bantuan kamu. Jadi, kamu belajar dulu ya tentang exposure therapy. Saya nggak mau kamu bantuin saya dengan keadaan otak yang kosong." "Apa, Bu? Belajar? Lagi?" Bu Dersa mengangguk. Sementara Rhea menjerit dalam hati. *** Kalau bukan karena rasa penasarannya pada Sagas, Rhea tak mungkin betah duduk dua jam di perpustakaan untuk membaca buku psikologi begini. Sekadar niat saja bahkan tidak akan pernah terlintas di benak Rhea. Tubuh Rhea mulai kaku. Gadis itu meregangkan sedikit tubuhnya, kemudian melirik rak bertuliskan sastra yang terletak di salah satu sudut perpustakaan. Rhea memang tak pernah benci perpustakaan. Baginya, perpustakaan adalah salah satu tempat paling tenang di seluruh dunia. Tempat suci dimana buku-buku berada. Tapi sebelum-sebelumnya tujuan Rhea pergi ke perpustakaan adalah untuk sastra, bukan psikologi begini. Sedetik kemudian ia kembali menatap buku di hadapannya. Melupakan sejenak buku-buku sastra yang sedang coba merayunya. Di tengah-tengah konsentrasi Rhea yang sedang berada di puncak, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia berdecak sebal--nyaris memaki--ketika tau siapa yang meneleponnya. "Halo?" sapa Rhea ketus. "Gue laper. Bawain makanan ke kampus!" "Tapi gue lagi sib---" Tuuuttt! Sambungan telepon diputus sepihak. Rhea mengelus dadanya yang memanas. Siapa lagi yang akan bertindak begini kalau bukan Dextra alias Bodrex s****n? *** Untung Rhea ingat kalau dirinya adalah asisten Dextra akibat utang 15 juta yang dia punya. Kalau tidak, Rhea mungkin sudah pergi ke dukun dan minta jasa kirim santet paku saat ini juga. Gadis itu menenteng dua kresek berisi ayam geprek sambil berdiri di depan kelas Dextra. Syukurnya Rhea tidak perlu mencari-cari kelas Dextra seperti waktu pertama kali. Ya, kalau dihitung-hitung, Rhea sudah 5 kali kemari untuk mengantarkan makanan. Akan sangat keterlaluan kalau dia masih saja tidak hapal dimana letak kelas Dextra. Tak lama kemudian orang yang Rhea tunggu keluar juga dari kelas. Tampak Dextra dan dua orang lainnya menghampiri Rhea. "Nih. Ayam geprek level 1 nya satu, level 3 nya dua, level 5 nya satu. Terus es teh empat. Total 85.000," papar Rhea cepat sambil menyodorkan kantong bawaannya. Dua orang laki-laki yang bersama Dextra melempar senyum-senyum jail pada Dextra. Tampaknya sebaya. "Oh ... jadi ini yang sering banget bawain lo makanan, Dex?" ledek salah satunya.. "Ihiy ... mau juga dong dibawain makanan gini," tambah yang lainnya. Rhea makin tak berekspresi. "Bacot kalian!" ujar Dextra. Pemuda itu lalu mengambil kantong yang ada di tangan Rhea. Sesegera mungkin Rhea menengadahkan tangannya. Apa lagi kalau bukan minta uang? Iya, Rhea memang perhitungan. Tapi sebagai perantau di kota besar, sudah seharusnya dia berhemat. Masih untung juga Rhea tidak minta ongkos. Dextra menolak, "Makan dulu sama gue. Baru gue bayar." Rhea menghembuskan napas berat. Entah kenapa urusan dengan Dextra tak pernah mudah. Setelah usai satu urusan, pasti ada saja yang baru. Rhea masih ingin uangnya kembali, tapi dia tak punya waktu sebanyak itu untuk meladeni Dextra dan keinginannya yang beragam. Rhea harus kembali belajar. "Gue nggak bisa. Ada hal lain yang harus gue lakuin," kata Rhea. Dextra mengerutkan dahinya, "Kalau nggak mau ya udah, duit lo nggak balik." Rhea pasrah daripada harus mengharapkan uangnya yang tak seberapa dan membuang-buang waktu, "Ya udah kalau gitu gue ikhlasin aja deh. Anggep aja gue nraktir lo makan." Rhea yang hampir pergi ditahan oleh Dextra. "Eh, eh, eh, jangan gitu dong. Gue udah beli makanan empat, satunya buat lo," kata Dextra. "Tapi gue nggak laper. Udah ya gue mau pergi." Rhea pergi. Tanpa bisa ditahan lagi. "Yes! Kalau gitu satu kotak lagi buat gue ya!" ujar teman laki-laki Dextra. Sementara Dextra menatap kepergian Rhea dengan nanar kemudian menyerahkan kantong bawaannya pada kedua temannya. "Nih, makan. Gue pergi dulu!" *** Air di botol itu habis diminum Rhea dalam satu kali tegukan. Setelahnya, botol kosong yang tidak salah apa-apa itu dilempar dengan penuh emosi ke dalam tong sampah. Rhea mengeratkan rahangnya, menahan rasa sebal yang sudah naik sampai ke ubun-ubun. "Dasar Dextra s****n!" ujarnya. Ia melirik sisa uang sepuluh ribu yang ada di kantongnya lalu mengerucutkan bibir. Habis sudah. Uang yang seharusnya bisa ia pakai untuk dua hari ke depan langsung habis dalam sekejap mata. Kalau begini ceritanya, sudah jelas Rhea harus makan mi instan tiga kali sehari di akhir bulan. Rhea segera kembali masuk ke dalam perpustakaan dan kembali ke bangku yang tadi ia duduki. Tampak buku-buku yang tadi ia tinggalkan sudah tidak ada lagi, sudah dibereskan oleh petugas perpustakaan. Mau tak mau Rhea harus kembali mencari buku yang mau dibacanya. Untung saja salah satu teman sekelas Rhea memberikan daftar buku-buku penting berkaitan dengan Phobia dan terapinya yang sebaiknya dibaca. Keuntungan membangun relasi. Setidaknya Rhea tak harus pusing-pusing memilih buku yang tepat. Rhea kembali ke tempat duduknya dengan tiga buku tebal. Kalau tanpa niat yang berapi-api, Rhea pasti sudah memilih pulang dan merebahkan kepalanya di atas kasur. Baru beberapa menit Rhea fokus membaca, tiba-tiba seseorang di depannya mengetuk meja. Tok! Tok! Tok! Tak begitu agresif, namun bisa didengar Rhea. Awalnya, Rhea kira cuma orang iseng. Namun ketukan itu makin didekatkan pada Rhea. Tepat ketiga kalinya, Rhea meletakkan buku. Berencana memelototi siapapun itu dengan matanya. Dahi Rhea makin berkerut ketika mendapati bahwa seseorang yang sejak tadi mengganggunya itu tak lain dan tak bukan adalah Dextra. "Ngapain lo di sini?" tanya Rhea setengah berbisik. Dextra mengangkat bahunya, "Gue kebetulan lewat dan pengen mampir buat baca buku." Rhea menatap Dextra tak percaya. Tapi ya sudahlah, tak ada gunanya juga Rhea mendebatkan hal seperti ini. Dextra menyodorkan uang pada Rhea. "Duit lo," ucapnya. Rhea melirik sekilas uang itu kemudian memasang tampang dingin. Seolah-olah dirinya tak menginginkan uang itu lagi. Cuma trik jual mahal sebenarnya. Melihat Rhea yang tak kunjung mengambil uang itu, Dextra berkata, "Nggak mau? Ya udah kalau nggak mau, gue masukin dompet lagi." "Eh! Eh! Sini! Masa udah dikasih mau diminta lagi," protes Rhea. Masih dengan suaranya yang berbisik. Dextra tertawa puas. Ia menyerahkan uang itu dan Rhea menerimanya. Akhirnya Rhea bisa tersenyum, suasana hatinya tidak seburuk setengah jam yang lalu. Bukannya mata duitan, Rhea hanya bersikap realistis. Memangnya ada manusia yang tidak suka uang? Kalau ada, sini bawa ke hadapan Rhea. Mau Rhea wawancarai. "Nah, gitu dong, senyum," ejek Dextra. Rhea kembali memasang muka ketus, "Jangan berisik. Gue mau belajar." Sesuai perkataan Rhea, Dextra menutup mulutnya. Ada sebuah buku histologi di mejanya. Buku yang dia ambil secara acak, hanya untuk mendukung alibinya. Rhea dan Dextra sama-sama fokus. Rhea fokus pada bukunya dan Dextra fokus pada Rhea. Pemuda itu nyaris tak berkedip, mengamati Rhea yang sedang tenang dan tenggelam dalam buku bacaannya. "Cantik juga kalau lagi nggak judes," gumam Dextra. Saking pelannya, bahkan angin pun tak bisa mendengar apa yang sedang dikatakannya. Dextra bahkan sudah melupakan rasa lapar yang sudah dia tahan sejak kelas pertama tadi pagi. Baginya, menatap Rhea saja sudah lebih dari cukup. *** Jarum jam di dinding menunjukkan pukul 8, Rhea baru tersadar kalau malam tiba ketika perutnya mulai merasa perih karena lapar. Ia mengalihkan pandangannya dari buku-buku dan meregangkan badan. Matanya tak kalah perih. Rhea seketika tersenyum saat membayangkan dirinya pulang, mandi, lalu merebahkan diri di kasurnya yang empuk ditemani semangkok mi instan goreng plus telur setengah matang untuk mengganjal laparnya. Sempurna. Rhea membereskan barang-barangnya. Ia rasa belajarnya hari ini sudah cukup. Kalau diteruskan, bisa-bisa dia pingsan dan malah sakit lalu tidak bisa menemui Sagas hari Rabu nanti. Rhea baru saja mau beranjak ketika dia teringat sesuatu, oh iya! Dextra! Rhea menengok ke arah tempat duduk Dextra. Pemuda itu rupanya masih di sana. Kepalanya terbaring di atas buku dan matanya tertutup rapat. "Ck! Ngapain coba ke perpus kalau buat tidur gini?" gumam Rhea. Otak Rhea menyuruhnya untuk cepat pulang, meninggalkan Dextra di sini sampai dia dibangunkan oleh petugas saat perpustakaan mau tutup nanti. Dengan begitu Rhea tak perlu bersusah-susah meladeni Dextra. Namun Rhea mengurungkan niatnya. Hati kecilnya berkata kalau dia tak boleh menjadi orang jahat. Akhirnya, Rhea menepuk-nepuk bahu Dextra. Awalnya pelan, tapi pemuda itu tak juga bangun. Rhea menambah intensitas tepukan di bahu itu menjadi pukulan di bahu. Dextra terlonjak kaget. "Ada apa sih?" tanya Dextra kesal. "Kalau mau tidur tuh di rumah," kata Rhea. Dextra tampak masih mengumpulkan kesadarannya. Saat yang tepat untuk Rhea pergi, "Ya udah, gue balik dulu ya." "Eh! Jangan! Gue anterin pulang. Udah malem, bahaya." Rhea baru saja mau membantah saat Dextra melanjutkan, "Gue nggak terima bantahan ya. Inget utang 15 juta lo." Sial. *** Rhea sengaja menutup matanya agar Dextra tidak membuka mulutnya. Dengan kata lain, pura-pura tidur supaya Dextra tidak mengajaknya bicara. Gadis itu baru membuka matanya ketika mobil mulai memasuki daerah perumahannya. "Gimana pura-pura tidurnya? Nyaman?" sindir Dextra. Rhea mengangkat bahu, tak mau ambil pusing. "Turunin gue depan komplek aja," kata Rhea. "Kenapa? Sekalian aja kali. Nggak usah sungkan gitu," sahut Dextra. Rhea tersenyum sinis, "Gue? Sungkan? Sama lo? Sama sekali nggak. Gue mau turun depan komplek aja pokoknya." Dextra jelas bukanlah orang yang mudah menuruti kemauan Rhea begitu saja. "Kasih tau dulu kenapa gue harus nurunin lo di situ?" Rhea menghela napasnya panjang. Sederhana sebenarnya, Rhea cuma tidak mau ditanya-tanya oleh ibu kos yang keponya minta ampun. Terakhir kali waktu Dextra mengantarnya sampai depan indekos, ibu kos bertanya dari A sampai Z keesokan paginya. Mulai dari siapa Dextra sampai apa pekerjaan kedua orang tua Dextra. Siapa yang nggak pusing kalau ditanyai begitu? Tapi ketimbang jujur dan bercerita panjang lebar, Rhea berkata sebaliknya, "Gue cuma mau mampir di warung bentar. Udah gue jawab kan? Cepet turunin gue di depan komplek!" "Yakin? Bahaya lho malem-malem gini. Yakin nggak butuh gue buat jagain lo?" bujuk Dextra sekali lagi. Tapi Rhea hanya diam. Dextra yang sedang tidak ingin berdebat dengan Rhea akhirnya menuruti permintaan gadis itu. Mobilnya berhenti tepat di depan gapura komplek Rhea. "Makasih," ucap Rhea lalu keluar dari mobil Dextra. Gadis itu berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya terhenti karena ia melihat segerombolan laki-laki yang sedang duduk-duduk, tak begitu jauh dari gapura. "Anjir," desahnya. Mereka adalah segerombolan laki-laki yang tempo hari melakukan catcalling pada Rhea. Ya, segerombolan laki-laki pengangguran bin annoying itu. Kalau begini ceritanya, Rhea menyesal karena meminta Dextra menurunkannya di sini. Tapi semua sudah terlanjur basah, Rhea nggak mungkin kan kembali ke mobil Dextra dan minta diantar sampai depan indekos? Malu! Rhea memantapkan dirinya. Ia tau dirinya tidak lemah. Catcalling atau apalah itu, tidak akan dengan mudah menghancurkan dirinya. Rhea tinggal pura-pura mengabaikan dan mengucap sumpah serapah setelahnya kan? Rhea kembali berjalan. Ritmenya agak cepat, sesuai dengan ritme jantungnya. Segerombolan laki-laki itu bagaikan harimau yang langsung mengenali mangsanya. Mereka menatap Rhea jail, sama seperti waktu itu. Membuat Rhea tidak nyaman setengah mati dan hanya bisa menunduk. Namun ketika mereka baru mau membuka mulut, tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Rhea. Rhea sempat terlonjak. Ia menoleh ke samping, mendapati Dextra sudah ada di sampingnya sambil memberikan tatapan yang seolah-olah memerintahkan Rhea untuk diam saja. Dextra menatap segerombolan laki-laki itu tajam. Menunjukkan dengan jelas ketidaksukaannya. Ajaibnya, para lelaki itu tak jadi bersuara. Mereka menutup mulut. Rhea tak mendengar apapun, bahkan hingga sampai di depan indekosnya. "Hhhh ...." Rhea menghembuskan napas lega. Dextra melepaskan rangkulannya. Tangannya malah memegang kedua pundak Rhea. "Gue bilang juga apa, lo butuh gue buat jagain lo, Nina."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN