Hidup Dalam Sangkar

2587 Kata
Semenjak kuliah, Rhea hidup bebas tanpa ada yang mengatur. Tak ada yang peduli bahkan kalau dia tak pulang ke indekos sekalipun. Paling-paling ibu pemilik indekos cuma tanya Rhea darimana. Tidak ada yang mengocehinya. Beda dengan kehidupannya di Surabaya sebelum kuliah. Memang kehidupan seperti inilah yang dia inginkan. Bebas seperti burung yang berterbangan di langit. Tapi Rhea tampaknya lupa, kalau di dunia ini, tak semua burung bisa terbang bebas. Ada banyak burung yang harus hidup di dalam sangkar. Menjadi objek kesenangan manusia belaka. Sagas persis seperti burung yang hidup dalam sangkar. Bukan cuma perumpamaan metafora. Namun mendekati makna harfiahnya. Bulu kuduk Rhea merinding begitu mendengar cerita Bu Dersa mengenai Sagas. Rhea masih ingat benar ketika Bu Dersa mengatakannya. Rhea tak pernah menyangka kalau pemuda seperti Sagas--selalu tersenyum, ramah, dan baik hati--ternyata punya kehidupan yang jauh dari kata bahagia. Seperti yang Bu Dersa bilang, Sagas hidup dalam rumah itu selama 15 tahun. Lebih dari setengah umurnya saat ini. Ia sama sekali tak pernah meninggalkan rumahnya. Batas ia keluar rumah adalah pagar depan rumahnya. Dalam keadaan sakit sekalipun, dokter lah yang dipanggil untuk memeriksanya. Sagas bahkan melewati masa sekolahnya di rumah alias homeschooling. Ia juga tampaknya tak punya banyak teman dan hanya mengenal orang-orang yang bekerja di rumahnya saja. Rhea jadi paham mengapa Sagas mengajaknya menonton film di rumah, mengapa Sagas tidak yakin bisa ketika Rhea minta diajak jalan-jalan lain kali. Ya karena ini, karena dia memang tidak bisa. Sayangnya, Bu Dersa hanya bercerita sampai di situ. Tak menceritakan sama dengan alasan di belakang kenyataan tragis ini. "Nggak seru dong kalau saya ceritain begini. Cari tau sendiri. Besok kamu tanya ke Sagas. Dekati dengan cara psikolog. Pake anamnesis. Ngerti kamu?" Boro-boro, Rhea bahkan nggak mengerti apa itu anamnesis. Dia cuma pernah sekadar dengar saat kuliah. Sering juga disebut-sebut oleh temannya. Ini berarti Rhea harus belajar. Lagi. Dan Rhea tak menyukai itu. *** Rhea tak dapat lagi menahan kantuk di pelupuk matanya. Padahal textbook yang dia pinjam dari perpustakaan mengenai anamnesis belum juga usai dibaca. Rhea cuma baca sekilas. Yang jelas anamnesis itu adalah kata lain untuk wawancara yang bisa menggali keluhan pasien dan membantu penegakan diagnosis. Banyak list pertanyaan yang harus ditanyakan. Menurut Rhea, pertanyaannya terlalu formal. Masa iya Rhea tiba-tiba bertanya seperti itu pada Sagas? Aneh. Mana mungkin Sagas menjawabnya. Lagipula mereka belum terlalu lama kenal. Sagas harusnya tak mempercayai Rhea secepat itu. Persetan dengan anamnesis, Rhea butuh tidur. Dia akan menanyakan sekenanya besok. Mengikuti kata hati, katanya. *** Dengan alasan punya keperluan mendesak, Rhea izin pada Bu Dersa untuk berangkat secara terpisah. Bu Dersa dari rumahnya, Rhea dari indekosnya. Tidak seperti biasa. Rhea tidak berbohong. Dirinya memang punya keperluan mendesak yaitu mempersiapkan diri untuk menanyai Sagas banyak hal hari ini. Ia tau pekerjaan ini tak akan mudah. Maka dari itu, Rhea butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Rhea harus fokus, yang mana tak bisa didapatkannya kalau berangkat bersama Bu Dersa. Alasannya? Bukankah sudah jelas? Apalagi kalau bukan Dextra? Kalau berangkat bersama Bu Dersa, maka sudah pasti dirinya akan bertemu Dextra. Bukannya fokus, Rhea akan terdikstraksi karena apapun yang berkaitan dengan Dextra selalu berhasil membuatnya repot dan menderita selama ini. Rhea berangkat naik bus, kemudian turun di halte dekat kampusnya dan berjalan kaki menuju rumah Sagas yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu lima menit itu. Rhea datang lebih awal dari biasanya. Satpam yang ada di rumah Sagas segera membukakan gerbang. "Tumben nggak naik mobil bareng ibu-ibu yang satunya, Neng?" tanya Pak Satpam. Rhea tersenyum, "Iya, Pak. Lagi pengen berangkat sendiri." Rhea kemudian masuk dan memutuskan untuk duduk di bangku depan karena memang belum jamnya bekerja di rumah ini. Lagipula, akan terlalu tidak sopan kalau dia menyelonong masuk begitu saja. Belum lima menit Rhea duduk di sana, tiba-tiba sebuah suara menyapanya, "Lho? Rhea? Kenapa duduk di sini dan nggak masuk aja?" Ya, Sagas. Panji Sagasta Mahadierja. Pemuda yang menyimpan segudang teka-teki di balik senyum dan tutur kata lembutnya. "Sagas? Itu ... gue dateng terlalu awal, belum masuk jam kerja gue. Jadi kayaknya nggak sopan kalau gue masuk sekarang." "Nggak gitu, Rhea. Kamu bisa masuk kapan aja kamu dateng. Rumah ini terbuka lebar buat kamu," katanya yang sukses membuat Rhea melting pagi-pagi begini. Keputusannya untuk berangkat sendiri memang benar bin tepat. Coba kalau bareng Bu Dersa, yang ada Rhea dilanda emosi karena ulah Dextra. Eh ... tapi kalau dilihat-lihat, ada yang berbeda dengan Sagas pagi ini. Jika biasanya Sagas tampak ganteng dengan kaos dan celana rumahannya, pagi ini dia memakai tampilan yang berbeda. Kemeja merah maroon yang lengannya digulung sedikit dengan celana hitam model fit melapisi tubuhnya. Nggak, bukannya nggak ganteng. Makin ganteng malah! Hanya saja, tidak biasa. Jangan-jangan Sagas dandan ganteng gini karena tau mau ketemu gue? terka Rhea, mengedepankan rasa percaya dirinya. "Kamu mau kemana rapi gini?" tanya Rhea meski tau Sagas tak mungkin kemana-mana. "Nggak kemana-mana kok. Ada kolektor lukisan yang mau dateng dan ambil salah satu lukisan aku. Terus biar kelihatan profesional, aku pake baju rapi gini deh," paparnya. Rhea tersenyum. Pikirannya cuma dipenuhi kekaguman dengan visual Sagas yang luar biasa untuk saat ini. "Kenapa? Aneh ya?" tanya Sagas karena tak mendapat respon apa-apa dari Rhea. "Eh ... enggak kok. Cocok banget malah lo pake ginian!" Rhea mengacungkan dua jempolnya. "Gue cuma ngerasa tumben aja karena belum pernah lihat lo pake kemeja rapi gini." Sagas tersenyum lebar, menampakkan gigi-giginya yang putih bersih. Ia lalu duduk di samping Rhea. Posisi duduknya tegak, tak terlalu dekat dengan Rhea, tak terlalu jauh pula. Ia tampak well-mannered seperti tokoh-tokoh pangeran di negeri dongeng. "Kenapa ngelihatin aku terus, Rhe?" tanya Sagas. Rhea kagok. Ia tertangkap basah sedang mengamati Sagas dalam diamnya. Pipinya memanas malu. "Ih ... siapa juga yang ngelihatin lo?" elak Rhea. Sagas tertawa. "Muka kamu merah tuh," ledek Sagas. Rhea menutupi kedua bilah pipinya dengan tangan. "Kamu suka sama aku ya?" tanya Sagas to the point. Rhea melebarkan matanya. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Temen aku bilang, kalau perempuan pipinya merah dan suka ngelihatin itu katanya tanda suka," lanjut Sagas. Rhea sendiri tak tau perasaannya seperti apa. Apa yang ia rasakan pada Sagas selama ini tidak lebih dari kekaguman satu arah mengenai visual dan tata krama yang Sagas punya. Selama ini Rhea tak pernah memikirkan apakah dia punya rasa yang lebih pada Sagas. Lagipula saat ini topik itu tak begitu penting, yang begitu penting adalah mencari tau lebih dalam tentang Sagas dan apa yang terjadi padanya. "Siapa coba yang bilang gitu? Pipi merah dan ngelihatin terus bukan bukti konkret kalau cewek suka sama lo," bela Rhea. "Oh ya?" Sagas memasang tampang meledek. "Ih ... Sagas! Udahan ngeledeknya!!!" Sagas berusaha menghentikan tawanya. "Iya ... ini juga berhenti kok. Abisnya kamu tuh lucu." "Aku tau kok kamu nggak mungkin suka sama aku." Sagas tersenyum. Entah kenapa ada nada kesedihan di sana. "Kamu ketemu ribuan laki-laki di luar sana. Jadi kenapa kamu harus suka sama aku? Ya, kan?" Sekilas, ucapan Sagas biasa saja. Tapi dengan pengetahuan yang Rhea punya tentang kehidupan Sagas, ia tau kalau kalimat itu bukan kalimat biasa. Sagas sedang meratapi nasibnya secara tidak sadar. Tak lama kemudian mobil Bu Dersa tampak memasuki gerbang. Ralat, bukan mobil Bu Dersa. Melainkan mobil Dextra. Rhea hapal betul. Kaca mobil dari sisi pengemudi terbuka lebar. Dextra secara terang-terangan menatap Sagas dengan matanya yang melotot. Sagas tampak bingung. "Itu siapa, Rhe? Kok dia melotot gitu ya?" tanya Sagas. Dextra memang paling bisa merusak suasana. Padahal kan Rhea hampir saja mulai menggali kehidupan Sagas. "Ah ... itu anaknya Bu Dersa. Biarin aja. Matanya emang kelainan gitu," jawab Rhea. Setelah mengantar Bu Dersa, mobil itu berbalik, kini ganti jendela di sisi satunya yang terbuka. Dextra masih melototi Sagas. Rhea berdiri, ganti memelototi Dextra yang masih saja bisa membuatnya kesal meski tidak ia temui langsung. "Kamu kenal, Rhe?" tanya Sagas. "Kenal. Kenal gitu doang kok tapi." Sagas mengangguk. Setelah Sagas tampak lebih tenang, Rhea mulai bertanya, "Gas, gue tau arti Del Capo yang jadi nama anonimus lo. Artinya mulai dari awal, iya kan?" Sagas mengiyakan. "Kok kamu tau? Aku tanya lho waktu itu kamu tau dimana? Tapi kamu belum jawab." Bukannya menjawab, Rhea malah melontarkan pertanyaan lain, "Emangnya ... apa yang mau lo mulai dari awal, Gas?" *** Tuhan memang tampaknya tak pernah berpihak pada Rhea. Belum sempat Sagas menjawab pertanyaan Rhea, tiba-tiba kolektor seni yang Sagas tunggu sudah tiba. Pembicaraan itu akhirnya tertunda. Sepanjang siang, Rhea cuma bisa mengamati Sagas dan kolektor seni itu mondar-mandir mengurusi lukisan serta membincangkan hal bisnis yang Rhea tidak mengerti. Rencana Rhea gagal total, sepertinya. Entah berapa lama lagi urusan bisnis Sagas akan berlangsung. Sementara jam kerja Rhea dan Bu Dersa sudah hampir habis, sisa 10 menit lamanya. Rhea terpaksa harus mengubur rapat-rapat ambisinya untuk memecahkan rasa penasarannya tentang Sagas hari ini juga ketika Bu Dersa sudah keluar dari sebuah ruangan tempat biasa ia melakukan terapi dan mencolek punggung Rhea. "Pulang, yuk?" ajak Bu Dersa. Rhea cemberut. "Kenapa?" "Saya belum dapat jawaban, Bu," katanya. Bu Dersa menghela napas sembari tersenyum lebar. "Saya seneng kamu udah mulai tertarik. Kalau kamu mau, saya bisa ninggalin kamu di sini. Kamu nggak perlu pulang bareng saya kalau emang butuh waktu lebih, gimana?" Rhea mengangguk antusias. Bu Dersa kemudian menepuk kecil pundak Rhea sebagai tanda pamit dan pergi meninggalkan rumah itu. Rhea sendiri tak tau apakah keputusannya ini tepat. Apalagi dia belum ijin pada pemilik rumah kalau dirinya akan tinggal lebih lama dari jam kerjanya. Tak lama, Sagas menghampiri Rhea. Ia tampak lelah karena habis mondar-mandir dari atas ke bawah untuk mengambil lukisannya. Bulir-bulir keringat di dahinya. Bikin Rhea gemes pengen ngelapin. Sebelum Sagas mengatakan apa-apa, Rhea mendahuluinya, "Maaf banget kalau gue lancang, stay di sini lebih lama tanpa ijin sama lo dulu. Tapi gue beneran pengen denger jawaban dari lo hari ini juga. Boleh kan? Jangan usir gue please!" Sagas tertawa kecil. Tatapannya ringan, tampak lembut seperti biasa. "Yang mau ngusir kamu tuh siapa? Aku malah seneng kalau kamu tetep di sini. Aku jadi ada temen ngobrol. Aku tuh cuma mau bilang kalau urusan lukisan ini mungkin masih agak lama. Ada beberapa dokumen yang harus aku cek dan tanda tangani. Sekitar 15 menitan, nggak papa kan?" Rhea mengangguk. Jangankan disuruh menunggul 15 menit, disuruh menunggu 24 jam juga Rhea bersedia. Sagas lalu bergegas naik ke atas, mengurus kembali pekerjaannya. Sementara Rhea duduk manis, menunggu Sagas sampai semua urusannya selesai. "Kamu asisten Bu Dersa ya? Kenapa belum pulang?" Sebuah suara yang muncul dari arah belakang itu mengejutkan Rhea. Gadis itu menoleh, tampak seorang wanita kurus tinggi sedang berdiri tak jauh darinya. Kulitnya putih bersih berlapis celana putih dan baju warna merah. Tatapannya tajam, bahkan lebih tajam dari mulut pembawa acara infotainment. Menusuk Rhea lewat mata tembus ke jantung. Kalau Rhea tak salah terka, wanita ini pasti mamanya Sagas. Rhea buru-buru berdiri dan merapikan penampilannya. Otaknya mendadak kosong, bingung harus menjawab apa. "I-iya, Bu. Saya asistennya Bu Dersa. Tapi anu ... anu ... saya masih mau ngobrol-ngobrol dengan Sagas, Bu." Wanita itu menaikkan alisnya yang hitam lebat. "Kamu temannya Sagas?" Lidah Rhea terasa berat untuk mengiyakan. Sudah berbulan-bulan lamanya Rhea tak menyebutkan kata teman yang menurutnya terkutuk itu. "B-bisa dibilang begitu, Bu. Karena saya sering ke sini, jadi saya sering ngobrol sama Sagas," jelas Rhea. Wanita itu menatap Rhea dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rhea jadi tidak nyaman. "Memangnya siapa yang mengijinkan kamu berteman dengan anak saya?" tanyanya. Rhea serasa dilempar dari lantai 20. Pertanyaan yang dilontarkan wanita itu terlalu pedas untuk didengar. "Ikut saya," kata wanita itu. Belum sempat Rhea bertanya apa-apa, wanita itu sudah berjalan menuju halaman belakang. Rhea mengekor, meski dia agak-agak takut. Ya ... siapa tau kan kalau ternyata--wanita yang diduga--mamanya Sagas ini psikopat dan berniat membunuh, memutilasi, dan menguburkannya di halaman belakang rumah? "Silakan duduk," ucapnya. Bulu kuduk Rhea merinding. Ia duduk di sebuah kursi bernuansa emas. Mama Sagas meninggalkannya entah kemana. Untungnya Rhea dihadapkan dengan pemandangan halaman belakang yang sungguh menawan mata. Halaman belakang rupanya tak kalah fancy dari bagian lain di rumah ini. Ada air mancur buatan di pojok halaman diiringi beberapa patung kecil bernuansa Yunani. Tapi yang paling menarik perhatian Rhea adalah tanaman markisa yang merambat dan dibentuk seperti atap. Setidaknya menenangkan Rhea untuk sementara. Mama Sagas kembali dengan nampan di tangannya yang memuat sepiring kue, poci, dua cangkir keramik, dan dua poci lebih kecil bernuansa senada. Ia meletakkan bawaannya di meja, kemudian tersenyum pada Rhea. Bukan senyum biasa, senyum yang terkesan dingin dan mengerikan. Tatapannya tak lekat dari Rhea. Ada perpaduan yang aneh dari tatapan itu. Perpaduan antara angker, dingin, menyeramkan tapi di saat bersamaan juga terasa tragis. Perpaduan yang belum pernah Rhea lihat dari orang lain sebelumnya. "Gula atau s**u?" tanyanya. "Gula aja, Bu." Wanita itu menuangkan teh ke dalam cangkir Rhea. Kemudian memasukkan satu buah gula padat ke dalam sana. Gerakan wanita itu begitu anggun, membuat Rhea menelan ludah secara tidak sadar. Ia tampak seperti seorang wanita yang punya perhitungan di setiap langkahnya. Wanita-wanita yang menjunjung tinggi etika. Rhea jadi ciut. Ia juga menuang teh untuk dirinya sendiri, digandengkan dengan s**u, dan ia aduk menggunakan sendok. Badan Rhea terasa kaku, ia sampai tak berani untuk meminum tehnya sendiri. Seakan-akan secangkir teh ini bukanlah jamuan, melainkan siksaan. "Kenapa tidak diminum?" tanyanya, dengan tatapan mata yang masih sama dinginnya. "I-i-iya, Bu." Rhea yang sudah terlanjur takut jadi ceroboh. Ia--yang memang tak pernah belajar cara memegang cangkir dengan benar--memegang cangkir secara asal kemudian meneguk teh panas itu tanpa ditiup. Alhasil semuanya berantakan. Lidahnya terbakar, cangkir teh nyaris tumpah, dan wajahnya sudah merah padam menahan panas. Wanita itu menyeringai melihat kecerobohan Rhea. Rhea bisa merasakan tatapan penuh penghinaan yang dilontarkan wanita itu. Seolah berkata bahwa Rhea tak pantas untuk jadi teman anaknya. Rhea takut keadaan menjadi semakin parah. Rhea berharap bumi menelannya sekarang juga sehingga bisa melarikan diri dari nuansa horor ini. "Apa pekerjaan orang tua kamu?" tanya wanita itu. Rhea otomatis menelan ludahnya sendiri. Buset! Ini gue cuma mau jadi temen anaknya! Bukan mau jadi mantunya, tapi pertanyaannya udah kayak gini. "Mmh ... orang tua saya agen sembako. Mereka punya toko di salah satu pasar di Surabaya," jawab Rhea. "Lalu kamu dibesarkan oleh siapa?" tanyanya lagi. "Orang tua saya. Mereka selalu membawa saya waktu bekerja," kata Rhea. Wanita itu mendengus, "Jadi kamu besar di lingkungan pasar? Wajar saja kalau kamu tidak tau etika dasar seperti minum teh ini." Jleb! Kalimat itu terasa menusuk-nusuk benak Rhea. Kalau saja ia tidak ingat bahwa wanita di depannya ini adalah Mamanya Sagas sekaligus penderita gangguan jiwa, Rhea pasti sudah meledak sekarang juga. Sebagai gantinya, Rhea hanya tersenyum kecil. Senyum hambar yang cukup mencerminkan kekesalannya. Untungnya sebelum Rhea merasa kesal lebih jauh lagi, Sagas datang dengan terburu-buru. "Rhea?" panggilnya. Nadanya agak panik. Ia tampak tak menginginkan pertemuan antara Rhea dan Mamanya. "Udah selesai urusan lukisannya, Nak?" tanya Mama Sagas. "Udah, Ma." Sagas lalu mengecek ponselnya. Ia kemudian berkata, "Ma, ini udah sore. Kayaknya Rhea harus pulang. Ya, kan, Rhea?" Sagas memberi sorotan mata yang meminta persetujuan dari Rhea. "A-ah ... iya, Tante. Saya harus pulang sekarang. Terima kasih suguhan tehnya, Tante." Rhea buru-buru berdiri, kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu bersama Sagas. Setelah agak jauh, Sagas bertanya, "Mamaku menyebalkan ya? Kamu udah ditanyain apa aja?" Rhea mengangguk kecil. "Jangan dimasukin hati, ya? Kamu pasti tau kan Mamaku mengidap apa?" Rhea mengangguk lagi. Sedetik kemudian ia teringat apa tujuannya bertahan sampai sesore ini. "Jadi sebenernya apa yang terjadi, Gas? Kenapa Mama kamu bisa mengidap PTSD dan Thanatophobia? Dan apa yang sebenarnya mau lo mulai dari awal? Apa semua masalah yang gue tanyain berhubungan?" Sagas memegang kedua bahu Rhea, "Aku nggak bisa jelasin banyak buat sekarang. Aku nggak mau Mamaku malah bikin kamu makin kesel kalau tau kamu masih di sini. Tapi ya, masalah ini memang berhubungan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN