Hal pertama yang Rhea lakukan setelah sampai di kamarnya adalah cross check. Kata Del capo sungguh mengganggunya. Begitu pula penuturan Dextra yang belum bisa ia percaya seratus persen.
Rhea menelusuri internet menggunakan laptop-nya. Padahal ia bahkan belum mengganti gaunnya. Rhea menerjemahkan kata Del capo dengan mesin penerjemah kemudian mendapatkan hasil terjemahan berupa kata 'dari kepala'. Agak janggal.
Rhea mendesah. Ya, google translate memang tidak bisa dipercaya seutuhnya. Tentu saja Rhea tidak akan semudah itu menyerah. Semangatnya makin berapi-api. Merah membara mirip warna gaun yang dipakainya.
Bahkan setelah satu setengah jam lamanya, Rhea masih betah duduk di sana. Matanya sudah cukup lelah. Ia hampir terpejam beberapa kali.
Kesadarannya langsung penuh seketika tatkala ia menemukan sebuah blog yang tampak cukup menjanjikan. Blog tentang musik dan teorinya.
Dalam salah satu artikel blog itu, Rhea menemukan kata-kata Del capo yang ternyata adalah salah satu tanda pada musik. Tanda yang biasanya dilambangkan sebagai 'D.C.', cukup mirip dengan yang ada di setiap lukisan Sagas. Meski di lukisan Sagas tidak memakai tanda titik.
"Ulang dari awal?" Rhea bermonolog membaca arti Del capo.
Kalau memang benar pengertian ini sama dengan pengertian Sagas, timbul lagi pertanyaan baru di benak Rhea, "Apa yang mau lo ulang dari awal, Gas?
***
Rhea heran pada dirinya sendiri yang--lagi-lagi--tak bisa tidur sepanjang malam karena Sagas dan misteri Del Capo-nya, meskipun itu belum tentu benar. Satu hal yang membuat Rhea heran adalah mengapa dia sepeduli ini? Andai saja ia juga tertarik pada psikologi seperti ia tertarik pada Sagas begini.
Konyol memang, padahal Rhea belum mengenal Sagas terlalu lama. Tapi siapa juga yang bisa menolak pesona seorang Panji Sagasta Mahadierja. Di balik senyumnya yang ramah dan menyejukkan jiwa itu, Rhea yakin ada sesuatu yang tersembunyi. Belum lagi ucapan Bu Dersa waktu itu. Makin menambah teka-teki. Tapi sebelum Rhea berasumsi lebih jauh, menurutnya akan lebih bijak kalau dia mengkonfirmasi. Tidak sekadar menduga-duga seperti sekarang ini.
Rhea membulatkan tekad, ia mengambil ponselnya kemudian mencari kontak Sagas di sana. Ia hampir saja menelepon, tapi ragu sehingga pesan singkat menjadi pilihannya.
Hei, Gas. DC itu Del Capo?
Rhea tak mau bertanya terlalu banyak. Pertama, ia tak mau dinilai terlalu mau tau. Kedua, pembicaraan melalui pesan singkat bukanlah pilihan tepat untuk membicarakan masalah seperti ini karena bisa menciptakan kesalahpahaman di sana-sini.
Rhea dengan sabar menunggu jawaban Sagas. Meski sudah tiga jam pesan itu dikirim--sampai kelas Rhea berakhir--dan belum mendapat jawaban. Siapa peduli? Bahkan kalau disuruh menunggu sampai kiamat pun Rhea mau karena ia benar-benar ingin tau.
Tak lama setelah Rhea sampai di kantin, ponselnya bergetar. Tampak nama Sagasta di notifikasi. Rhea membuka pesan itu tergesa.
Sagasta:
Kamu tau darimana?
Rhea merasa tegang di sekujur tubuhnya. Tak salah lagi, ada sesuatu yang Sagas ingin ulang dari awal. Entah apa.
***
Saking seringnya Rhea berinteraksi dengan Bu Dersa, gadis itu sampai paham betul pukul berapa Bu Dersa pulang. Ia memutuskan tak langsung pulang ke rumah dan membaringkan dirinya di kasur, melainkan duduk menunggu Bu Dersa di luar ruangan dosen mirip mahasiswa yang sedang minta bimbingan skripsi.
Rhea mengintip jam di ponselnya, sudah pukul 16.55. Artinya tak lama lagi Bu Dersa akan keluar dari ruangannya. Dan benar saja ... Bu Dersa menampakkan dirinya. Rhea langsung mencegat.
"Sore, Bu," sapa Rhea.
Bu Dersa sedikit kaget. Pasalnya Rhea bukanlah tipe-tipe mahasiswa yang sering muncul di area ruang dosen. Rhea sama sekali tak pernah tertarik untuk mendekati dosen. Interaksinya dengan Bu Dersa selama ini saja didasari oleh uang.
"Ada apa, Rhe? Tumben kamu nemuin saya duluan tanpa dipanggil," tanya Bu Dersa sekaligus menyindir.
Rhea nyengir. Tak tau lagi harus merespon apa.
"Anu, Bu ... mau nanya ... soal Sagas. Anak keluarga Mahadierja."
Bu Dersa tersenyum lebar, "Akhirnya kamu tertarik?"
Rhea mengangguk. Matanya melebar dan berbinar, menunjukkan betapa tertariknya ia. Bu Dersa tertawa kecil melihat ekspresi Rhea.
"Mau saya kasih tau?"
"Mau, Bu! Mau banget!"
Bu Dersa lalu menyodorkan tas dan buku yang ia bawa pada Rhea.
"Bawain dulu nih ke mobil, habis itu saya kasih tau."
Rhea menyanggupi sambil tersenyum getir. Emang dasar, ibu sama anak persis banget!
Rhea akan sangat berterima kasih kalau saja Bu Dersa langsung memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bukan itu yang Bu Dersa inginkan.
Bukannya langsung to-the-point, Bu Dersa malah gigih ingin mengantarkan Rhea pulang. Kini Rhea tau sifat pemaksa Dextra menurun dari siapa.
"Jadi menurut kamu Sagasta kenapa?" tanya Bu Dersa.
Rhea menggidikkan bahunya.
"Saya juga nggak tau, Bu. Tapi yang jelas ada sesuatu yang nggak beres."
Bu Dersa menghela napas frustasi, "Orang gila juga tau kalau ada yang nggak beres di Keluarga Mahadierja itu. Spesifik dong!"
Rhea mengerucutkan bibirnya karena secara tidak langsung Bu Dersa menyamakannya dengan orang gila.
"Jadi dari yang saya tau, Sagas itu pelukis. Saya beberapa kali lihat lukisan dia di tempat umum. Jadi saya rasa, dia mungkin punya nama di industri lukisan. Khas dari lukisan Sagas itu lambang yang ada di pojok lukisannya. Sejenis inisial gitu. Dari penelusuran saya, yang udah dikonfirmasi sama Sagas nya sendiri, inisial itu artinya Del Capo, dan di bidang seni musik, Del Capo itu biasanya ada di lembar musik sebagai tanda untuk mengulang dari awal," papar Rhea.
"Jadi ... saya rasa Sagas ingin mengulang sesuatu dari awal. Tapi saya nggak tau apa tepatnya dan kenapa."
Bu Dersa tersenyum, "Wah, bagus juga analisis kamu. Saya jadi punya poin baru buat pengamatan saya tentang Keluarga Mahadierja."
Bukan pujian yang Rhea mau dengar. Rhea mau mendengar jawaban dari teka-teki yang ada di kepalanya.
"Jadi, Bu? Sagas kenapa?"
Bu Dersa tersenyum.
"Saya juga nggak tau. Sagas bukan pasien saya secara resmi. Bicara tentang pasien, kamu udah tau belum siapa yang selama ini saya tetapi di rumah itu?" tanya Bu Dersa.
Rhea mendadak kosong. Benar juga, kalau dipikir-pikir, bahkan sampai sekarang ia tak tau siapa yang sebenarnya membutuhkan terapi dari psikolog di rumah itu.
Bu Dersa menghela napas berat, lagi. Rhea membuatnya frustasi.
"Sebagai seorang psikolog, kamu harus bisa melihat gambaran besar dari sesuatu, baru terjun ke detail-detail. Yang saya lihat, kamu kebalik. Kamu cuma fokus ke Sagasta nya aja. Tanpa melihat gambaran di sekitarnya."
Rhea cemberut, "Ya ... saya kan bukan psikolog, Bu."
Bu Dersa berdecak.
"Saya nggak akan semudah itu kasih jawaban ke kamu. Kalau kamu penasaran, ya kamu yang harus cari tau. Saya kasih clue aja ya?"
Rhea agak kecewa sebenarnya. Tujuannya sampai sejauh ini--menunggu Bu Dersa, bahkan membawakan barang-barangnya--bukan cuma untuk sekadar clue.
"Kenapa? Nggak mau? Nggak mau ya udah," ucap Bu Dersa seolah bisa membaca raut muka Rhea.
"Eh ... enggak, Bu. Nggak gitu."
"Oke, denger baik-baik. Nggak bakal saya ulang," kata Bu Dersa.
Rhea bahkan sampai menyisihkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia merasa tak boleh hilang konsentrasi sedikitpun.
"Yang saya terapi itu Nyonya Laras. Laras Mahadierja, ibu kandung Sagasta. Diagnosisnya PTSD dan Thanatophobia."
***
Bicaralah,
Tentang sekelumit kisah yang kau punya,
Sekiranya kau terluka,
Kan kubasuh dengan jiwa yang menyala.
Dengarlah,
Tentang bagaimana hati berbicara,
Sekiranya kau bahagia,
Kan kubingkai senyummu yang tak tercela.
Cermatilah,
Tentang banyaknya tanda tanya yang kupunya,
Sekiranya kau bersedia,
Kan kuberi tanda petik tuk menjawabnya.
Rhea menutup bukunya setelah usai menulis kalimat terakhir. Ia membaringkan kepala di atas buku itu. Pikirannya terbang, melayang-layang di atas awan. Rumit dan terlalu memusingkan. Apa lagi kalau bukan Sagas dan teka-tekinya.
Bukannya mendapat kejelasan, bicara dengan Bu Dersa malah membuatnya makin pening. Rhea hanya diberi clue. Sialnya lagi, Rhea tidak mengerti makna dari clue itu. PTSD lah, Thanatophobia lah, Rhea sama sekali tidak paham. Cuma pernah sekadar dengar dari teman-teman sekelasnya. Pernah dengar juga sekilas dari dosen. Tapi sudah lupa karena tidak menarik.
Bu Dersa bilang bahwa Rhea harus mencari tau sendiri. Selayaknya mahasiswa, katanya. Sama seperti Dextra, Bu Dersa sangat tau bagaimana cara membuat Rhea menderita.
Tenaga Rhea hilang entah kemana. Ia menatap buku Ilmu Penyakit Jiwa yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus dengan lemah. Tapi sosok Sagas dan senyumannya yang menyejukkan hati itu mendadak melintas di pikiran Rhea. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya keras agar kesadarannya terkumpul penuh.
"Oke, Rhe, fokus! Lo harus cari tau kalau mau ngertiin Sagas! Bentar doang pasti ketemu kok! Semangat!" ujar Rhea optimistik.
***
Rhea menenggelamkan wajahnya pada buku tebal itu. Ia menyesali keputusannya untuk melakukan penelusuran literatur. Bukannya paham dan selangkah lebih dekat dengan masalah Sagas, Rhea malah makin pening. Banyak istilah-istilah yang tak dia pahami. Kepalanya terasa mau meledak.
Ya mau bagaimana lagi? Rhea bahkan tak pernah peduli pada pelajaran dasar yang diajarkan dosen-dosennya, dan tiba-tiba baca buku begini? Jelas sakit kepala.
Rhea tak akan menyerah semudah itu. Setidaknya dia punya tekad. Tapi untuk saat ini, dia butuh istirahat. Rhea memutuskan untuk keluar dari indekosnya yang terasa pengap. Rencananya mau pergi ke supermarket depan g**g dan makan es krim sebentar di sana.
Namun segera setelah berjalan kaki sejauh beberapa menit dari indekosnya, Rhea seketika merasa menyesal. Bukan karena mendadak nggak suka es krim atau gimana. Melainkan ada segerombolan laki-laki di pos ronda sedang duduk-duduk.
Mereka bukan laki-laki biasa. Rhea sudah sering dengar cerita tentang mereka. Ya, mereka. Laki-laki pengangguran yang sering berkumpul di pos ronda sambil bernyanyi, main catur, atau sekadar ngobrol. Perkumpulan mereka jelas bukan masalah, yang jadi masalah adalah perilaku mereka yang doyan catcalling tiap kali ada perempuan lain.
Pemilik indekos sudah sering memperingatkan Rhea mengenai hal ini. Katanya kalau mau keluar--apalagi malam--mending lewat jalur lain yang lebih aman meskipun agak jauh. Katanya juga kalaupun terpaksa lewat, bila dipanggil atau disiuli oleh para lelaki pengangguran ini lebih baik diam, tak perlu dilawan karena mereka bisa saja jadi ganas sewaktu-waktu.
Meski sudah sering dengar tentang cerita ini, tapi Rhea tak pernah sekalipun melihat para lelaki itu. Sehingga selama ini dia merasa aman-aman saja lewat depan pos ronda dan mengabaikan petuah ibu kos.
Rhea bisa saja berbalik arah dan memilih jalan lain, tapi sialnya para lelaki itu juga sudah melihat Rhea. Kalaupun Rhea berbalik, mereka akan tetap melakukan catcalling. Lagipula kini mereka sudah mulai menatap Rhea dengan tatapan jail bin m***m ala-ala manusia yang isi otaknya seputar s**********n orang lain.
Rhea akhirnya memutuskan untuk maju. Dia tak akan kalah dari para lelaki s****n itu. Yang perlu dia lakukan hanyalah berjalan tanpa menghiraukan. Nanti pulangnya, barulah Rhea akan lewat jalan lain.
Benar saja, ketika Rhea lewat, siulan dan panggilan-panggilan aneh mulai terdengar.
Dari yang super biasa seperti, "Mau kemana, Neng? Sendirian aja."
Sampai yang super b******k seperti, "Gede juga tuh!"
Rhea hanya bisa mempercepat gerak kakinya dan menebalkan telinga sambil menyumpah serapah di dalam hati. Setelah sampai di pertigaan dan berbelok, barulah Rhea merasa lega.
...
"s****n! k*****t! Gue doain pada nganggur selamanya! Nggak ada kerjaan lain apa selain ngegodain orang lewat?! Jadi manusia nggak ada etikanya! Laki-laki macam apa coba? Pasti kerjaan sehari-harinya cuma mikirin s**********n orang lain! s****n!" oceh Rhea.
Dia masih saja belum menerima kejadian catcalling yang menimpanya tadi siang. Rhea sudah berusaha melupakannya dengan sibuk melakukan hal lain, tapi perasaan tidak nyaman yang ia rasakan saat digoda para lelaki itu kadang tiba-tiba timbul. Dan ketika perasaan tidak nyaman itu timbul, Rhea akan melampiaskannya dengan mengucap sumpah serapah. Mungkin kalau bisa, Rhea akan mengutuk mereka semua menjadi batu seperti Malin Kundang. Atau kalau perlu jadi dakinya kecoa sekalian.
Sayangnya Rhea tidak bisa mengucap sumpah serapah ini di depan mereka. Jangan salahkan Rhea, tapi nalurinya lebih memilih untuk mencari keamanan ketimbang harus berhadapan dan membahayakan dirinya sendiri. Rhea masih ingin hidup untuk memecahkan teka-teki Sagas
Drrrt. Drrrt. Ponsel Rhea yang bergetar membuatnya sejenak lupa tentang kemarahannya. Kontak bertuliskan 'Jangan Diangkat' tertulis di sana sebagai panggilan masuk. Rhea hanya menatap ponselnya tanpa bereaksi. Ketika telepon itu berhenti berdering, baru Rhea mengambil ponselnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu memasukkan kontak tersebut ke dalam daftar hitam ponselnya. Sudah jelas, ia tak mau dihubungi. Sampai waktu yang tidak ditentukan.
***
"Jadi gimana? Kamu udah tau tentang PTSD dan Thanatophobia?" tanya Bu Dersa.
Rhea mengangguk. Meski bahan bacaannya belum banyak, setidaknya Rhea masih bisa mengerti.
"Jelasin ke saya. Saya mau dengar hasil belajar kamu," kata Bu Dersa.
"PTSD itu Post Traumatic Stress Disorder. Biasanya terjadi pada orang setelah mengalami suatu kejadian yang mengguncang jiwa. Kalau biasanya orang lain bisa move on setelah beberapa waktu. Tapi penderita PTSD ini cenderung nggak bisa move on dari momen tertentu yang mengguncang. Beberapa penelitian mengatakan kalau hal itu mungkin disebabkan ukuran hipotalamus pada penderita PTSD lebih kecil dibanding orang normal. Ukuran yang lebih kecil ini lah yang membuat hipotalamus jadi gampang rusak saat dipapar stres. Jadi, PTSD bisa terjadi," papar Rhea.
"Kalau Thanatophobia?"
"Thanatophobia itu ketakutan terhadap kematian, Bu. Bisa dipicu oleh sesuatu hal, tapi bisa juga terjadi tanpa pemicu. Penderita bisa saja bukan cuma takut kematiannya sendiri. Tapi takut mengenai kematian orang-orang di sekitarnya karena merasa takut ditinggalkan sendiri."
Bu Dersa mengangguk.
"Bangga saya bisa mendengar seperti ini dari kamu. Akhirnya kamu belajar. Terus, menurut kamu apa apa yang terjadi sama Sagasta kalau ibunya begitu?"
Rhea berpikir keras. Meski dia sudah agak tau tentang penyakit yang menjadi clue dari Bu Dersa, tapi Rhea masih belum menangkap apa yang kira-kira terjadi pada Sagas.
"Sagas jadi stres karena mamanya takut mati?" tebak Rhea asal.
Bu Dersa menggeleng.
"Tau kamu Sagasta kenapa?"
Rhea diam. Memasang kedua kupingnya untuk mendengarkan secara saksama.
"Sudah 15 tahun lamanya, Sagasta dikurung dalam rumah itu."