Lukisan

1062 Kata
"Ih, kita mau kemana sih emangnya?" tanya Rhea untuk kesekian kalinya. "Diem ah! Nanya mulu lo kayak Dora," sahut Dextra. Rhea mengerucutkan bibirnya. Mobil Dextra kemudian memasuki sebuah hotel bintang lima dan berhenti tepat di depan lobby. Dengan segera, dua orang pekerja hotel membukakan pintu. Baik untuk Rhea maupun Dextra. Setelahnya Dextra menyerahkan kunci mobilnya, sementara Rhea sibuk mengamati suasana sekitar yang dipenuhi ornamen mewah dimana-mana. Dextra kemudian menyodorkan lengannya. Rhea menaikkan alis tidak mengerti. "Apaan?" "Gandeng lengan gue lah. Apa lagi emangnya?" "Harus banget?" "Udah buruan!" desak Dextra. Rhea kemudian menautkan lengannya di lengan Dextra walau ia terpaksa. Ya, mau gimana lagi? Demi utang 15 juta yang tak mungkin bisa ia bayar. Mereka berdua kemudian diantarkan oleh seorang pelayan untuk masuk ke ballroom. Dextra menunjukkan kartu berwarna hitam yang tampak seperti undangan dan akhirnya dipersilakan masuk oleh orang-orang yang tampaknya merupakan penerima tamu. Irama simfoni yang tenang menyambut mereka berdua. Rhea mengamati sekitarnya. Orang-orang berpakaian ala-ala salsa, banyak makanan bernuansa spanyol, dan ada sepasang manusia yang terlihat paling mencolok di antara lainnya. Sekarang Rhea mengerti, ini sebuah pesta. Pesta pernikahan. "Apa kabar, Bro? Makin ganteng aja! Lama banget kita nggak ketemu!" "Iya makin ganteng aja nih Dextra!" Begitulah yang kira-kira Rhea dengar ketika Dextra mengajaknya bergabung di salah satu gerombolan. Dari gaya bicaranya, mungkin orang-orang ini adalah teman SMA Dextra. Ya ... terserahlah. Rhea sendiri tak mau tau dan tak mau ambil pusing. "Gila, cantik banget, Bro! Siapa tuh?" Dextra tampak tersenyum. Ia kemudian berkata, "Ini Nina, pacar gue." *** Akibat rambutnya yang tergerai, Rhea sudah cukup nyaman memakai gaun merah dengan potongan bahu yang cukup terbuka itu. Satu-satunya yang membuat Rhea tak nyaman adalah Dextra yang mengenalkannya ke sana-sini dengan kalimat, "Ini Nina, pacar gue." Ada dua ketidaknyamanan yang ada dalam kalimat itu. Pertama, Rhea tidak terbiasa dipanggil Nina meskipun itu adalah bagian dari namanya. Kedua, Rhea bukan dan tidak akan pernah jadi pacar Dextra. "Heh, Bodrex! Gue bukan pacar lo ya! Gila kali!" seru Rhea. "Udah diem aja. Gue juga nggak mau pacaran sama lo," sahut Dextra. Wajah Rhea mengkerut tidak suka. "Tau nggak lo ini kawinan siapa?" tanya Dextra. Diamnya Rhea menunjukkan bahwa ia tak tau. "Mantan gue," imbuhnya. "Makanya gue ngajak lo. Ya kali gue dateng ke nikahan mantan sendirian. Entar dikira gagal move on." "Mantan lo? Yang mana?" "Yang cewek lah! Lo kira gue cowok apaan?" Rhea tertawa puas. "Terus kenapa lo ngubah nama gue jadi Nina?" "Ya elah. Lo nggak tau seni berbohong, ya? Kalau mau bohong mah harus all out. Emang lo mau orang-orang mengenal lo sebagai 'Rhea pacarnya Dextra'? Kan mendingan gini. Seenggaknya mereka nggak tau identitas asli lo," jelas Dextra. Rhea mengangguk-angguk. Cukup setuju dengan penjelasan Dextra yang--tumben--ada benarnya. Lagipula kebohongan semacam ini bukanlah hal baru buat Rhea. Ia sudah sering berpura-pura untuk memudahkan kehidupannya. Rhea baru saja mau mengambil croissant yang ada di meja ketika tiba-tiba sebuah suara yang familiar menyapa telinganya, "Rhea?" Otomatis, Rhea menoleh. Didapatinya Aalea--sepupunya--sedang berdiri tepat di belakangnya. "Aalea?" Rhea--agak--panik. Siapa sangka kalau dia akan bertemu Aalea secara tidak sengaja di sini? Paniknya Rhea tidak bisa dibilang agak lebay. Pasalnya, ia tidak tau harus jawab apa ketika Aalea nanti mulai melemparinya pertanyaan. Dan benar saja, tak lama kemudian Aalea mulai bertanya, "Lo ngapain di sini, Rhe?" "K-kondangan lah. Lah lo sendiri ngapain di sini?" tanya Rhea balik. "Kondangan juga lah. Itu pengantin cowok sepupunya Arjuna," jawab Aalea. "Lo temennya Clarissa?" sambung Aalea. Clarissa? Rhea berpikir keras siapa itu Clarissa. "Mmh ... Rhea nggak kenal Clarissa. Gue yang temannya Clarissa," celetuk Dextra. Mata Aalea mulai mengamati Dextra. Ia seperti mengingat-ingat. Bersamaan dengan Dextra yang malah menebar senyum meski sudah Rhea pelototi. s****n! Kenapa dia harus ikut jawab segala?! batin Rhea. Aalea menjentikkan jarinya, "Oh! Lo cowok yang jemput Rhea waktu itu, ya?" "Iya. Kita belum sempat kenalan secara resmi ya waktu itu. Kenalin, gue pacarnya Rhea, Anan." Dextra menjabat tangan Aalea sementara Aalea sendiri sudah memberikan tatapan mengejek untuk Rhea. "Gue Aalea, sepupunya Rhea. Rhea kenapa sih nggak pernah cerita kalau udah punya pacar?" ledek Aalea. Rhea tak mampu lagi berkata-kata. Pasalnya masalah ini tak akan berhenti begitu saja. Ketika Aalea mendengar Rhea punya pacar, maka informasi ini akan ia teruskan ke ibunya. Kemudian dari ibu Aalea, informasi akan menyebar hingga ke kampung halamannya, Surabaya. Celaka sudah nasib Rhea. "Ya udah, gue ke Arjuna dulu. Entar gue balik lagi." Aalea menepuk pundak Rhea sambil tersenyum meledek. Rhea hanya bisa merespon dengan senyuman getir. Seperginya Aalea, Rhea langsung mencubit lengan Dextra. "Gila ya lo?! Itu sepupu gue anjir! Anan-Anan! Anan siapa lagi?" "Anan itu nama tengah gue. Ya udah sih, anggap aja second personality. Gue Anan dan lo Nina." Dextra tersenyum iblis. Tak mau kepalanya makin pusing, Rhea memutuskan untuk keluar dari ballroom sejenak. Rhea menyusuri area lobby sendirian. Melihat lukisan-lukisan yang tergantung di spot tertentu. Lukisan-lukisan ini secara tidak langsung mengingatkan Rhea pada Sagas. Gadis itu tersenyum kecil. Langkah Rhea terhenti ketika ia melewati sebuah lukisan bunga mawar putih dalam sangkar emas dengan inisial DC di pojoknya. *** Setidaknya sudah dua puluh menit Rhea mematung di sana. Menatap lukisan mawar putih yang entah mengapa terasa sedih di setiap goresannya. Rhea memang tak paham soal lukisan, tapi setidaknya begitulah yang ia rasakan ketika menatap lukisan itu. "Rhe!" seseorang memanggilnya. "Apa?" sahut Rhea, ketus. "Idih ... ngambek lo?" Rhea cuma diam lalu kembali menatap lukisan itu. Dextra yang penasaran, mengikuti arah pandangan Rhea. "Lo tipe-tipe orang aestetik cinta mati sama lukisan?" tanya Dextra. Rhea menggeleng. "Gue nggak begitu suka dan paham lukisan." "Lah terus ngapain lo di sini dengan tatapan penasaran kayak gitu?" tanya Dextra. Rhea menunjuk inisial DC yang ada di pojok lukisan kemudian berkata, "Gue penasaran apa makna lambang itu." "DC Heroes mungkin? Atau inisial pelukisnya? Kenapa lo harus kepo kalau nggak tertarik sama lukisan?" "Bacot," desis Rhea. Dextra berdecak. Ia kemudian melipat tangannya di depan d**a. "Tapi inisial itu mirip lambang di musik deh," kata Dextra. Rhea menoleh. Sorot matanya mengirimkan sinyal-sinyal pada Dextra untuk dijelaskan. "Ya ... gue dulu pernah les biola waktu kecil. Jadi ngerti lah dikit-dikit," kata Dextra sedikit pamer. "Lambang apa? Lebih rinci dong," pinta Rhea. "Karena gue cuma sebulan les nya dan nggak minat ke situ, jadi sekarang gue nggak begitu inget itu lambang apa. Agak beda dikit sih. Kalau lambang yang di musik itu seinget gue ada titik di belakang tiap huruf." Dextra terlihat berpikir. "Tapi gue nggak yakin," lanjut Dextra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN