Dextra itu psikopat. Itulah kesimpulan yang bisa Rhea ambil hari ini. Gara-gara Dextra, Rhea harus menjalani kelas dengan keadaan perut kosong. Bahkan hingga Rhea pulang, perutnya belum juga terisi.
"Emang s****n tuh orang," desis Rhea. Ia melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
Tak lama otaknya memutar memori saat di kafe siang tadi. Lukisan bernuansa eropa yang ada di pojok kafe dan berlambangkan inisial DC. Rhea yakin betul itu lukisan Sagas, yang Rhea tak pernah yakin adalah makna di balik inisial itu.
Desi Cemara?
Dean Carolina?
Destri Cendana?
Demi Calista?
Devi Cinta?
Daging Cumi?
Dodol Cirebon?
Dagang Cendol?
Dunia Curut?
Terkaan Rhea yang makin lama makin tak masuk akal membuatnya frustasi sendiri. Ia berguling-guling di kasurnya, melampiaskan. Sedetik kemudian ponselnya bergetar.
Lho? Sagas?
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Rhea buru-buru mengangkat. Suara Sagas yang manis menyapanya dari seberang sana.
"Halo?"
"Hai! Ada apa, Gas?"
"Nggak. Aku lagi senggang aja. Jadi kepikiran mau nelpon kamu."
Rhea tersenyum tipis. Rasa laparnya hilang seketika.
"Oh iya? Emang lo nggak ngelukis?"
"Udah selesai tadi."
"Oh iya, Gas. Gue tadi lihat lukisan lo di kafe deket kampus. Gue nggak nyangka kalau ternyata lo itu bener-bener pelukis. Bukan hobi doang. Keren!"
Di seberang sana Sagas tertawa kecil. Manis sekali.
"Aku nggak sehebat itu kok."
"Hobi yang dibayar itu keren tau! Ngomong-ngomong, gue mau nanya."
Rhea berpikir mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya. Lagi pula ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Apa?"
"Lambang di lukisan lo ... apa artinya?"
"DC?"
"Ya ... itu. Gue nggak kepo lho ya. Gue cuma penasaran."
"Oh .... DC itu kepanjangan dari-Bip!"
Rhea mengernyitkan dahinya.
"Halo? Gas? Halo?"
Tak ada jawaban dari Sagas. Sambungan telepon mereka terputus. Rhea memejamkan matanya kesal. Tampaknya semesta mau ia berusaha lebih keras.
***
Akhirnya Rhea memutuskan untuk melakukan ekspedisi. Berbekalkan informasi dari Mbah Google yang serba tau, Rhea akan mengunjungi beberapa galeri seni sepulang kuliah. Rhea sebenarnya mau saja menelepon Sagas dan bertanya lagi. Sayangnya, nomor Sagas tidak bisa dihubungi entah kenapa. Jadi ya mau nggak mau. Daripada penasaran.
Untungnya kelas terakhir Rhea berakhir cukup awal yaitu pukul 12. Berhubung di Jakarta ada banyak sekali galeri seni, maka Rhea akan mulai dari lingkungan sekitar kampusnya.
Begitu dosen keluar dari kelas, Rhea langsung melesat. Ia hanya memberi senyum tipis dan gelengan kecil pada beberapa teman sekelasnya yang mengajak melakukan sesuatu seusai kelas.
Bulat sudah tekad Rhea. Pokoknya, apapun yang terjadi, ia harus tau apa makna inisial DC di lukisan Sagas sebenarnya.
***
Nggak, nggak. Rhea udah nggak kuat. Panasnya matahari serta rasa pegal di kaki membuatnya menyerah untuk hari ini. Padahal tadi Rhea ambisius sekali. Tapi sekarang ia malah terduduk lemas di pinggiran trotoar depan kampusnya.
Dari lima galeri yang ada di sekitaran kampus, baru tiga yang Rhea kunjungi. Ketiga-tiganya tidak membuahkan hasil sama sekali. Jangankan untuk menanyakan apa makna inisial DC di lukisan Sagas, galeri-galeri itu bahkan tidak punya lukisan Sagas. Sama sekali.
Rhea heran, kenapa lukisan Sagas yang sebagus itu tidak terdistribusi secara merata dan sulit ditemukan?
"Apa gue balik aja, ya?" desah Rhea.
Bukannya mudah menyerah, tapi pegal di kakinya benar-benar sudah tidak bisa ditoleransi. Ya, salah Rhea sendiri sih. Dia bisa saja memesan ojek online atau naik angkutan umum, tapi dia malah memilih berjalan kaki. Sejenis menyiksa diri sendiri. Akhirnya di saat-saat seperti ini, Rhea hanya bisa merutuki keputusan bodohnya.
Sedetik kemudian Rhea menggeleng keras.
"Nggak, nggak! Masa gini doang gue nyerah sih?
Rhea lalu berdiri. Tapi tubuhnya memang sudah terasa lemas. Ia akhirnya mengambil keputusan untuk mengisi tenaga terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan misinya.
Tempat yang jadi tujuan Rhea untuk mengisi perutnya adalah kafe fancy bergaya Eropa di seberang kampusnya. Kafe tempat ia membeli salad untuk Dextra waktu itu. Kafe yang punya lukisan Sagas di salah satu dindingnya. Sekalian menambah motivasi, katanya.
Karena Rhea tau harga di kafe ini cukup mencekik, Rhea pun hanya memesan segelas caramel macchiato dan sepotong tiramisu. Nggak bikin kenyang sih, at least perut Rhea terisi.
Sambil menunggu pesanannya, Rhea menatap lukisan Sagas yang terpajang di dinding. Ia tenggelam. Jatuh cinta pada birunya arus sungai yang tergambar di sana. Sampai-sampai tidak sadar kalau seseorang sedang berdiri tepat di depannya.
"Ehm ... permisi?"
Rhea langsung kembali ke kenyataan. Seorang perempuan dengan setelan kemeja putih dan celana hitam tengah tersenyum manis padanya sembari membawa nampan.
"Silakan menikmati," ucapnya. Rhea mengangguk.
"Terima kasih," ucap Rhea.
Belum sempat menyeruput macchiato miliknya, tiba-tiba ponsel Rhea berdering. Sebuah panggilan dari Dextra.
Panggilan kematian, batinnya.
***
Akhirnya, Rhea sampai juga. Ia mengembalikan helm pada mas tukang ojek online dan memberi tiga lembar uang 10 ribuan.
Setelah mas tukang ojek pergi, Rhea merogoh koceknya. Ia menelepon Dextra.
"Halo, ini gue udah di depan."
Nada bicara dan wajah Rhea sudah sama datarnya. Ia kesal. Gara-gara panggilan kematian--sebutan dari Rhea--Dextra, rencana Rhea untuk menelusuri galeri-galeri dan menemukan makna DC gagal sudah. Bahkan caramel macchiato dan tiramisu yang dipesannya hanya termakan seperempat bagian. Sejenis buang-buang uang.
Lewat panggilan kematiannya, Dextra dengan seenak jidat menyuruh Rhea untuk ke rumahnya dalam rentang waktu 15 menit. Jelas Rhea langsung panik! Meskipun jarak kampus dan rumah Dextra tidak terlalu jauh, tapi ini Jakarta. Macet bisa terjadi kapan saja. Untungnya Rhea sampai dengan selamat, satu menit sebelum deadline tiba.
Tak lama Dextra membuka pintu rumahnya. Ia sudah rapi dengan setelan tuxedo merah dengan aksen garis-garis hitam. Rambutnya tak kalah rapi, mengkilat akibat bubuhan pomade. Semengkilat sepatu yang ia pakai.
Dextra menyerahkan sebuah paper bag. Rhea mengernyit.
"Apaan nih?" tanyanya.
"Pake sana. Gue tunggu, 5 menit!" ujar Dextra.
Rhea memutar bola matanya. Malas. Ia kemudian masuk ke dalam rumah Dextra. Suasananya sepi seperti tidak ada orang selain Dextra. Rhea lalu menemukan toilet dan memutuskan untuk ganti baju di sana.
Rhea terhenyak, terkejut, terkaget, entah kata apa lagi yang bisa menggambarkan perasaan Rhea saat melihat baju yang Dextra berikan. Sebuah gaun merah menyala dengan lengan panjang berbentuk terompet dan bagian bawah selutut. Tapi bukan itu yang membuat Rhea terkejut. Bagian atas gaun berwarna merah itu cukup terbuka. Berbentuk sabrina yang artinya Rhea harus siap untuk memamerkan bahu saat memakainya.
Rhea memang bukan orang yang konservatif maupun primitif. Hanya saja ia tak pernah nyaman memakai baju yang terbuka. Tapi hari ini, lain cerita. Ya, siapa suruh Rhea menumpahkan kopi di pakaian Dextra dan akhirnya berhutang 15 juta?
Tak hanya baju, ada bedak dan lipstick merah di sana. Entah milik siapa. Rhea hanya perlu memakainya. Rhea memoleskan lipstick seusai membalut tubuhnya dengan gaun dan membubuhkan bedak di wajahnya. Rambutnya ia ikat satu. Sama seperti biasanya.
Rhea menyilangkan tangan di depan d**a sembari menuju ke mobil Dextra akibat perasaan tidak nyaman. Dextra mengamati Rhea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Intens. Sampai-sampai Rhea mengeratkan silangan di depan dadanya.
"Ngapain lo ngelihatin gue kayak gitu? m***m!" protes Rhea.
Dextra mendengus.
"Apa? m***m? Ya elah datar gitu apaan yang mau dimesumin? Gue cuma mastiin penampilan lo nggak malu-maluin!" Dextra membela diri.
Rhea terdiam. Ia lalu mencoba untuk lebih rileks. Namun sedetik kemudian Dextra malah tiba-tiba memajukan badannya. Cukup dekat hingga membuat Rhea refleks memundurkan dirinya dan menabrak pintu mobil.
Dextra masih mengamatinya lamat-lamat. Tak mengatakan apa-apa. Jantung Rhea sudah hampir meledak saja rasanya.
"L-lo m-mau ngapain?" tanya Rhea saat Dextra makin mendekat. Rhea bahkan sudah menutup matanya. Ia tak kuat kalau-kalau Dextra tiba-tiba menciumnya.
Tapi nyatanya, bukan ciuman yang Dextra lakukan. Dextra hanya melepas ikatan rambut Rhea dan tertawa terbahak-bahak.
"Yang m***m siapa? Gue atau lo?"
Pipi Rhea memerah menahan malu. Tangan Dextra lalu mengambil jepit berbentuk mawar merah yang ada di saku jasnya dan memasangkannya di rambut Rhea.
"Gini aja. Lo jadi lebih cantik," kata Dextra.