Satu hal yang paling Rhea benci dari dirinya sendiri adalah sifat 'penasaran' yang ia punya. Menurutnya, sifatnya yang satu itu benar-benar mengganggu karena ketika ia penasaran, siklus hidupnya jadi berantakan. Contohnya, hari ini.
Rhea harus pergi ke kampus dengan keadaan wajah yang super berantakan. Lingkar mata yang menghitam dan kepala yang berat akibat tidak tidur semalaman.
Ya, Rhea tidak bisa tidur karena rasa penasarannya pada kehidupan Sagas. Semalaman suntuk Rhea sibuk menerka-nerka jawaban dari seluruh pertanyaannya tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.
Salah satu skenario yang terlintas adalah kemungkinan bahwa Sagas tinggal bersama neneknya. Neneknya mengalami menopause sehingga emosinya naik turun dan butuh bantuan dari seorang psikolog yang tak lain adalah Bu Dersa. Terdengar sedikit konyol? Setidaknya skenario ini tak seburuk skenario Rhea yang lainnya.
Skenario Rhea yang lain sedikit mengerikan. Ia membayangkan bahwa mungkin saja Sagas adalah seorang psikopat. Sejenis Ted Bundy, seorang psikopat menawan yang menerkam korbannya dengan pesona yang ia punya. Dan mungkin yang diterapi Bu Dersa adalah orang-orang sekitar Sagas yang trauma akibat perilaku Sagas. Mungkin juga korban-korbannya. Skenario ini jadi lebih mengerikan karena wajah ganteng, sikap serta tutur kata Sagas yang lemah lembut itu mirip dengan ciri-ciri Ted Bundy yang pernah Rhea baca di sebuah artikel.
Rhea jadi bergidik ketika ia membayangkan kalau Sagas benar-benar seorang psikopat dan berniat menjadikannya korban. Sagas bisa jadi mencekiknya, memukulnya dengan benda tumpul, menusuknya dengan pisau tajam, atau mungkin mengulitinya. Membayangkan hal itu membuat Rhea merinding setengah mati.
"Gila!" desahnya. Rhea menyandarkan kepalanya di meja perpustakaan sambil memejamkan mata sejenak. Ia lelah. Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Sebuah telepon dari kontak bernama 'Bodrex'.
"Hal-."
"Beliin gue bubur ayam sekarang. Gue belum makan siang. Jangan beli yang di kantin soalnya nggak enak. Anter ke kelas gue sekalian. Entar gue kasih posisi detailnya!"
***
"Oke, jadi bebek goreng nih?"
"..."
"Oke, siap!"
Jika benar-benar ada psikopat di sekitar Rhea, ia yakin kalau psikopat itu bukanlah Sagas melainkan Dextra. Setidaknya sudah 8 kali Dextra menelepon karena mau ganti menu. Waktu sudah berjalan setengah jam dan Rhea sedari tadi hanya berkeliaran di jalan area kampus akibat ulah Dextra. Rhea sendiri bahkan belum sempat makan siang.
Kalau saja Rhea tidak ingat bahwa ia punya hutang sebesar 15 juta, Dextra pasti sudah dimakinya sejak tadi. Untungnya, variasi makanan di area kampus Rhea terbilang cukup lengkap. Setidaknya ia tak perlu buang-buang uang untuk naik angkutan umum.
"Sabar, Rhe! Sabar!" Rhea mengelus-elus dadanya. Menghilangkan amarah yang sedari tadi sudah menggumpal di dalam sana.
Kemudian Rhea berjalan ke sebuah rumah makan kecil di seberang kampus yang seingatnya menyediakan bebek goreng dan teman-temannya. Begitu Rhea sampai di sana, ponselnya bergetar lagi. Masih sama, dari Dextra.
Rhea menggeram kecil lalu--mau tak mau--mengangkat telepon Dextra.
"Halo?"
"Rhe, ganti deh. Kayaknya nggak enak panas-panas gini makan bebek goreng. Salad buah aja. Lo tau kafe yang sebelah restoran jepang itu, kan? Nah di situ jual salad buah enak. Udah ya? Buru! Udah mau masuk nih gue!"
Bip! Dextra memutuskannya secara sepihak.
Rhea mengeratkan giginya kesal, "Uh!!! Dasar titisan Dajjal!!!"
***
Rhea meneguk minuman berion yang baru saja ia comot dari lemari pendingin. Ia kemudian duduk di salah satu sofa, menanti pesanan Dextra. Mondar-mandir membuat seluruh tenaganya luntur. Untung saja kafe yang sedang ia kunjungi ini sejuk dan nyaman. Tak terlalu ramai pula.
Mata Rhea berkeliling mengamati suasana kafe yang bernuansa Eropa klasik. Ketimbang memakai kursi kayu, sofa dipilih sebagai tempat duduk dan meja-meja juga didesain mewah. Tembok dibungkus oleh wallpaper shabby berwarna keemasan yang memberi kesan vintage sekaligus megah.
Tak lama bola mata Rhea berhenti bergerak. Ia terpaku pada tembok yang terletak tak jauh darinya. Ada sebuah lukisan di sana. Lukisan itu menggambarkan sebuah perahu yang menyusuri sungai tengah kota. Mirip seperti suasana di Venesia. Tapi bukan itu yang memikat Rhea. Melainkan sebuah lambang di pojok lukisan itu.
DC? Batinnya.
***
Rhea tak pernah menyangka kalau Dextra yang sifatnya ugal-ugalan itu ternyata anak kedokteran di universitasnya. Bukan apa, tapi anak kedokteran identik dengan anak-anak pintar yang rajinnya bukan main. Lah Dextra? 'Kelihatan' pintar aja nggak. Kelihatan tengil iya.
Ruang E.1.4?
Rhea memastikan lagi apa yang dilihatnya. Setelah dirasa benar, Rhea lalu bertanya pada salah satu orang yang keluar dari ruangan itu.
"Dextra-nya ada?" tanya Rhea.
"Dextra? Ada. Bentar biar gue panggilin," katanya. "Dextra! Dicariin fans lo nih!"
Rhea jelas bergidik. Apa katanya? Fans?
Tak lama kemudian Dextra keluar dari kelasnya. Wajahnya yang santai itu jelas membuat Rhea emosi.
"Nih!" seru Rhea sambil menyodorkan kantong kresek putih yang ia bawa.
"Makasih." Dextra hampir saja kembali ke kelasnya. Namun Rhea dengan cepat mencegah.
"Heh!"
"Apa?"
Rhea tak menjawab. Hanya memberi gestur menengadahkan tangan. Dextra memutar bola matanya malas.
"Berapa?"
"60 ribu," jawab Rhea.
Begitu mendapatkan kembali uangnya, Rhea merasa amat lega. Jelas Rhea cukup perhitungan. Ia tak mau kehilangan uangnya sepeserpun. Apalagi sudah dibuat capek begini gara-gara Dextra.
Rhea menghitung uang yang diberikan Dextra.
"Oke, gue pamit. Bye!" ujar Rhea.
"Eh? Siapa yang suruh lo balik?" tanya Dextra.
Rhea mengernyit, mau apaan lagi sih nih bocah?
"Temenin gue makan dulu. Baru deh lo boleh balik," kata Dextra seolah menjawab pertanyaan Rhea.
"Gue ada kelas nih jam 1!" bantah Rhea.
"Dih! Boong ya lo?"
Iya, Rhea memang berbohong. Kelas Rhea yang selanjutnya baru dimulai jam 3 nanti. Pertanyaannya, bagaimana Dextra bisa tau kalau Rhea berbohong.
"Kelas lo tuh jam 3."
"Ih? Apaan sih? Sok tau banget!" elak Rhea.
Dextra lalu mengotak-atik ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Foto yang berisi jadwal kuliah kelas Rhea selama sebulan penuh.
"Gila! Lo dapet itu dari mana coba?!" pekik Rhea histeris.
"Jangan panggil gue Dextra kalau dapetin ginian aja nggak bisa. Udah yuk! Lo harus temenin gue!"
Rhea mendengus. Dextra dan sifat bossy-nya itu tak bisa ia tolak gara-gara hutang 15 juta. Sungguh malang.
Dextra berjalan mendahului Rhea dan duduk di kursi area taman. Rhea sudah sibuk menekuk wajahnya sejak tadi.
"Kusut amat muka lo. Nggak ikhlas? Kalau gini caranya, lo bayar 15 juta aja deh ke gue. Terlalu baik gue udah ngasih lo keringanan."
Mendengar kata '15 juta' membuat telinga Rhea berdiri. Gadis itu langsung memasang senyum palsu sambil tertawa kecil yang tak kalah palsunya.
"Eh? Apa sih? Enggak kok. Itu tadi ada laler makanya gue bete," elaknya.
Dextra tersenyum miring lalu mulai menyantap saladnya.
"Tapi kenapa sih makan aja minta ditemenin?" tanya Rhea.
"Males gue makan sendiri," singkat Dextra.
"Iya, kenapa? Karena lo bakal kelihatan ngenes ya?" tanya Rhea lagi. Nadanya terdengar mengejek.
Dextra mendengus.
"Gue? Ngenes? Sorry. Entar juga lo tau kenapa gue nggak mau makan sendiri."
Kemudian Rhea memilih diam. Tenaga yang ia punya rasanya terkuras habis akibat Dextra. Selama diamnya, setidaknya ada 8 perempuan yang lewat dan menyapa Dextra dengan genit.
Hell, sekarang Rhea tau kenapa teman Dextra tadi mengira kalau Rhea adalah salah satu fans.
"Itu alasan gue nggak mau makan sendiri."
"Hah?"
"Kalau nggak ada lo di sini, mereka pasti udah berusaha buat nemenin gue. Biasanya sih gue ladenin, tapi hari ini lagi males," papar Dextra.
Rhea memandang Dextra penuh sarkasme. Kenapa anjir tuh cewek-cewek suka sama modelan setan macem ini? Nggak ada yang lain apa?
"Apa lo ngelihatin gue kayak gitu?" sinis Dextra.
Rhea menggeleng cepat.