Sleep in Your Arms

1000 Kata
Kalau ada cowok ganteng yang kepalanya tanpa sengaja nangkring di bahumu macam Sagas begini, kamu mau apa? Mau bangunin? Nggak tega. Mau marah? Nggak mungkin. Cuma bisa deg-degan sambil berusaha bernapas sepelan mungkin. Berusaha tetap waras dan tetap hidup meski bernapas saja rasanya susah. Itulah yang sedang Rhea coba lakukan. Tapi apa daya, saking berdebarnya, napasnya jadi tidak teratur dan makin lama makin memberat. Rhea takut kalau suara napasnya yang ugal-ugalan itu membangunkan Sagas dari tidur lelapnya. Meskipun bahu Rhea rasanya sudah pegal, tapi ia tetap tak ingin momen ini terlewat begitu saja. Ia tetap membiarkan Sagas tidur di bahunya seraya mengamati wajah Sagas lamat-lamat. Ganteng banget sih astaga! Batinnya. Ini adalah ... berkah. Berkah paling indah yang pernah Rhea terima selama hidup di muka bumi ini. Anugerah dari Tuhan yang Maha Baik pada ciptaan-Nya. Bukti bahwa Tuhan itu ada. Sagas memang--sangat--tidak bisa dikatakan 'jelek'. Kulitnya putih bersih, bibirnya merah ranum, dan batang hidungnya yang mancung. Tanpa celah untuk ukuran seorang manusia. Atau jangan-jangan Sagas ini bukan manusia? Jangan-jangan ia vampir seperti keluarga Cullen di film Twillight. "Hnggg." Sagas mengerang. Tampaknya ia sudah cukup tak nyaman dengan posisinya saat ini. Matanya perlahan terbuka. Butuh beberapa detik hingga ia menyadari bahwa kepalanya sedang bersandar di bahu Rhea. "H-hai?" sapa Rhea canggung. Buru-buru Sagas bangkit. Ia tampak merasa bersalah telah tertidur di bahu Rhea. Padahal demi apapun, Rhea sama sekali tak keberatan. Mau Sagas tidur di bahunya sampai besok pagi pun Rhea siap sedia. He-he-he. "Eh, maaf, Rhe! Aku nggak sempet tidur dari semalem," ucapnya. Rhea tertawa kecil. "Nggak papa kok. Lo nggak ngiler, jadi nggak masalah," jawab Rhea. "Lagian kalau emang lo belum tidur, kenapa nggak istirahat aja dan malah ngajak gue nonton?" "Oh iya! Nonton!" ujarnya. Ia menoleh, mengecek layar televisi yang hanya menampilkan warna biru. "Filmnya udah habis?" Rhea mengangguk. "Ya, kira-kira 10 menit yang lalu." Sagas berdecak. Tampak kecewa pada dirinya sendiri. "Maaf ya, Rhe. Aku malah ketiduran," katanya. "Aduh ... Gue udah bilang nggak papa kok! Lagian pilihan lo buat tidur itu udah pas banget kok. Lo jadi nggak perlu nonton film yang ngebosenin itu." "Bosan parah ya?" tanya Sagas mengonfirmasi. "Parah!" Sagas menggaruk lehernya. "Yah ... aku kira kamu bakal suka yang genrenya psikologi gitu," ucap Sagas. "Gue sebenernya nggak masalah mau genre apapun. Tapi ini beneran bosen." "Sekali lagi maaf ya, Rhe," tutur Sagas. Rhea dibuat tertawa sekali lagi. Gadis itu tidak paham kenapa ada seseorang yang selugu Sagas begini? "Kalau emang lo beneran merasa bersalah, lo harus janji, lain kali lo bakal ajak gue nonton film beneran. Di bioskop," balas Rhea. Sagas tampak ragu. Namun sepersekian detik kemudian ia mengangguk. Rhea lalu menyodorkan jari kelingkingnya, "Pinky swear?" Sagas kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Rhea. "Ngomong-ngomong, lo kenapa nggak tidur semaleman?" tanya Rhea. "Nyelesaiin lukisan," jawab Sagas. Rhea berbinar, "Gue mau lihat dong! Boleh ya?" Sagas mengangguk. Mereka kemudian bergerak, berpindah menuju ruangan lukis milik Sagas. Kali kedua Rhea kemari, namun ia masih tak terbiasa pada tangga gantung yang selalu bergoyang-goyang ketika dinaiki itu. Begitu mereka tiba, satu lukisan yang letaknya di tengah langsung menarik perhatian Rhea. Tergambar seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ada dua kesamaan. Pertama, dua-duanya memakai baju putih. Kedua, tak ada wajah yang terlukis di sana. Bagian wajah dibiarkan kosong tanpa mata, bibir, hidung, dan alis. Dan seperti biasa, ada lambang DC di pojok bawah lukisannya. Rhea jadi kembali bertanya-tanya mengenai lambang itu. Ia mulai menghubung-hubungkan perempuan yang ada di lukisan dengan inisial itu. Terlebih lagi ketika ia menyadari bahwa laki-laki yang ada di lukisan perawakannya mirip dengan Sagas. Dia beneran udah punya cewek? "Cowok ini ... lo?" tanya Rhea sembari menunjuk lukisan itu. "Iya. Gimana kamu bisa tau?" "Perawakannya," singkat Rhea. "Terus cewek itu?" "Seseorang yang spesial buat aku," kata Sagas. Rhea langsung terdiam, tak meneruskan. Mungkin tebakannya benar. Mungkin Sagas memang sudah punya seseorang. *** Bisa dengar jeritan hati Rhea? Konyol memang, tapi Rhea rasanya tidak rela membayangkan Sagas yang gantengnya kelewatan itu dimiliki perempuan lain. Rhea teringat jelas bagaimana perempuan itu digambar. Lekuk tubuhnya yang semampai, kulitnya yang kuning langsat, dan rambut sepunggungnya yang hitam kelam. Siapapun yang melihat pasti langsung tau bahwa perempuan itu cantik meskipun detail di wajahnya tidak digambatkan. "Astaga Rhea, lagian apa sih yang lo harapin? Gila!" desisnya pada diri sendiri. "Ya? Kenapa Rhea?" Rhea lupa kalau ia sedang tidak sendiri. Ia bersama Bu Dersa yang kini sedang mengemudi untuk mengantarnya pulang. "Eh? Nggak, Bu." "Oh ya, Rhe. Saya mau tanya. Kamu ini kok nggak tertarik sama sekali ya kayaknya sama psikologi?" "Hah? Gimana maksudnya, Bu?" "Ya ... gitu. Kamu udah nemenin saya home visit sekitar sebulanan. Tapi kamu nggak pernah nanya tentang pasien saya sama sekali," jelas Bu Dersa. Kalau dipikir lagi, memang iya. Rhea tak pernah menanyakan apa-apa. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan Bu Dersa, lalu selebihnya sibuk memikirkan Sagasta. "Kamu padahal kayaknya cukup dekat sama anak keluarga Mahadierja," kata Bu Dersa. "Saya tau kamu nggak suka psikologi, tapi emangnya kamu nggak penasaran apa yang sebenarnya terjadi di keluarga itu?" *** Kalimat Bu Dersa sungguh bersarang di kepala Rhea. Selama ini ia hanya mau tau perihal Sagas. Tanpa mau tau apa yang ada di sekitarnya. Padahal bisa jadi lingkungan sekitar Sagas amat berperan penting untuk hidupnya. Nama, umur, tempat tanggal lahir, pekerjaan, hobi, golongan darah, makanan favorit, orang tua, saudara, dan masih banyak lagi. Rhea menuliskan semua hal yang ia tau dan belum tau tentang Sagas. Data-data itu ia susun menjadi sebuah tabel dengan banyak tanda tanya di setiap kolomnya. Beginilah kenyataannya, Rhea hanya tau Sagas dari permukaannya. Rhea bahkan hanya tau kalau Sagas itu mahasiswa manajemen bisnis tanpa tau dimana universitasnya. Rhea juga tidak tau keluarga seperti apa keluarga Mahadierja. Ia sungguh tak tau apa-apa. Kini banyak pertanyaan di kepala Rhea. Mulai dari pertanyaan sederhana seperti 'apa golongan darah Sagas?' hingga pertanyaan rumit seperti 'apa makna lambang DC di setiap lukisan Sagas?'. Namun di antara semua pertanyaan yang ingin ia ajukan, ada satu pertanyaan paling penting. Siapa sebenernya orang yang terapi sama Bu Dersa di rumah Sagas? Dan ... kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN