Cuma Salah Paham

1094 Kata
Untuk: Sagasta Dari: Rheanina Gas, kamu ganteng. Tapi nyeremin kalau marah begini. Jadi jangan marah ya. Maafin gue :( Rhea ingat betul setiap detil kata-kata yang ia tulis di secarik kertas dua hari lalu. Yang jadi masalah adalah, surat itu belum juga mendapat respons hingga detik ini. Ada dua kemungkinan yang paling mungkin. Pertama, Sagas masih marah. Kedua, surat itu belum ditemukan. "Aduh, lagian gue kok b**o banget sih. Kan gue bisa SMS aja, ngapain juga gegayaan pake surat dan nyelipin di bawah pintu rumah kaca?" gumamnya. Ia lalu menyandarkan kepala di jendela sambil menahan gerah yang menyeruak di seluruh tubuhnya. Pikiran Rhea yang ruwet mirip benang kusut jadi makin kusut karena suasana kereta yang cukup sesak. Rhea menutup mata sejenak. Mencoba lari dari kehidupan nyata. Tak lama kemudian ia merasakan getaran di pahanya. Getaran yang berasal dari dalam saku celananya. Mata Rhea melebar, berbinar. Sagas: Rhe, kamu cantik. Tapi lucu kalau salah paham begini. Sagas: Nggak ada yang perlu dimaafin karena aku nggak pernah marah. Rhea tak bisa menahan senyumnya. Pesan dari Sagas yang secara teknis menyalin suratnya itu membuatnya ingin terpingkal-pingkal. Apalagi kata-kata 'kamu cantik' sungguh menggelitik sekujur tubuh Rhea. Rheanina: Lah? Masa sih ga marah? Tuh buktinya minggu kemarin ga mau ketemu gue. Sagas: Bukan gitu. Aku sibuk jadi nggak sempet ketemu kamu. Rhea tersenyum lega membaca jawaban dari Sagas. Belum usai ia berpikir mengenai jawaban apa yang akan diberikan, Sagas mengiriminya sebuah pesan. Lagi. Sagas: Ngomong-ngomong, Rhe, aku nggak terlalu suka texting. Jadi lain kali boleh nggak kalau aku telepon kamu? Rhea tersenyum. Lebar sekali hingga bibirnya nyaris robek. Kakinya menghentak-hentak ke lantai gerbong, menahan detak jantungnya yang sudah menari-nari riang. Rheanina: Boleh Boleh banget, tambahnya dalam hati. Menit-menit selanjutnya Rhea lanjutkan dengan senyam-senyum menggelikan mirip orang bodoh. *** Hari yang Rhea tunggu-tunggu pun tiba. Hari minggu. Hari dimana ia bisa bertemu Sagas. Setelah pesan di kereta waktu itu--lima hari lamanya--Sagas tidak lagi mengirim pesan ataupun menelepon seperti yang ia janjikan. Fakta itu sebenarnya membuat Rhea sedikit kecewa. Ia memang menaruh harapan tinggi. Tapi realita memang tak pernah sejalan dengan ekspektasi. Tak apa, setidaknya hari ini Bu Dersa membawa mobilnya sendiri. Tidak perlu diantarkan oleh anak kesayangannya, si Dextra--menurut Rhea--s****n. Rhea merapikan kerah kemejanya lalu turun dari mobil. Sebuah pemandangan tak biasa, Sagas sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Seolah menyambut kedatangan Rhea. Atau mungkin ... Bu Dersa. "Selamat pagi, Bu Dersa," sapanya. Bu Dersa tersenyum lebar. "Iya, selamat pagi juga." Rhea sendiri tersenyum kecut. Pasalnya ia berharap dirinya akan disapa Sagas. Tapi hingga Bu Dersa lenyap di balik pintu, Sagas tak menyapanya. Tiba-tiba Sagas tertawa. "Kenapa?" tanya Rhea. "Ekspresimu kenapa gitu sih?" tanya Sagas balik. "Gitu gimana?" "Ya ... gitu. Pokoknya gitu." "Ih apaan sih! Gaje!" protes Rhea. "Gaje? Apaan tuh?" kini giliran alis Sagas yang mengerut bingung. "Lo nggak tau gaje? Ampun deh, tahun berapa ini? Gila!" Sagas menggeleng. Penuh kejujuran. "Jadi gaje itu apa?" desak Sagas. "Gaje itu ... gitu. Pokoknya gitu," jawab Rhea. Menyalin kata-kata dan nada suara Sagas tadinya. Pembalasan dendam, istilahnya. Rhea tertawa puas. Tawa Rhea tiba-tiba lenyap begitu Sagas menggandeng tangannya. Secepat kilat, lebih cepat dari kedipan mata. "Rhe, kamu mau nonton sama aku nggak?" *** Seorang Rheanina Kataleyya memang tampaknya selalu punya ekspektasi tinggi untuk apapun itu. Banyak ekspektasi, banyak pula kekecewaan. Seperti kali ini. Saat Sagas menawarinya 'nonton', Rhea sudah membayangkan menaiki mobil atau motor berdua dengan Sagas menuju bioskop, membeli tiket, memilih kursi paling comfy, dan menonton sambil makan popcorn caramel kesukaannya. Tapi rupanya lain. Nonton yang Sagas maksud adalah menonton di lantai dua, spesifiknya di ruang TV, duduk di sofa, tanpa perlu keluar rumah. Rhea sedikit kecewa. Tapi sebenarnya tidak seburuk itu. Pertama, TV di rumah Sagas ukurannya agak tidak manusiawi untuk ukuran TV rumahan. Sekitar 79 inchi. Kedua, sofa yang ada di ruang TV benar-benar empuk. Ketiga, ada Sagas. Ya, nonton sama cowok ganteng nggak akan pernah mengecewakan, kan? "Mau nonton apa sih emangnya?" tanya Rhea. Sagas tak menjawab. Ia sibuk mengotak-atik TV-nya yang tersambung dengan jaringan internet. Tak menemukan jawaban, Rhea menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil mengunyah beberapa camilan yang disediakan oleh tuan rumah. Usai menemukan apa yang ia mau, Sagas duduk di sofa yang sama dengan Rhea. Ya, mereka bersebelahan. Tidak terlalu dekat juga. Ada jarak beberapa jengkal yang membuat Rhea tidak masalah. Sebuah film berjudul Unbreakabel yang rilis tahun 2000 terputar di layar. Rhea belum pernah nonton, cuma tau aja dari sosial media karena sekuel film ini baru saja rilis beberapa bulan lalu dan nge-hype di lingkungan kampusnya karena genre-nya yang berbau psikologi. "Jadi lo suka genre kayak gini?" tanya Rhea. Sagas menggeleng. "Nggak juga. Aku nggak terlalu suka nonton film malah." "Lah terus? Ini?" Rhea menunjuk layar. "Mmh ... karena aku nggak tau kamu sukanya ngapain. Jadi aku coba aja ajak kamu nonton film bareng. Siapa tau kamu suka, kan?" jawab Sagas. Rhea tertawa kecil. "Gas, gue kasih tau deh. Kalau nggak tau itu nanya. Lagipula lo pernah bilang kan kalau lo mau tau gue lebih jauh?" "Emang kenapa? Kamu nggak suka nonton ya?" tanya Sagas. "Nggak terlalu suka. Aku lebih suka jalan keliling-keliling nyari inspirasi gitu lho," kata Rhea. Sagas mengangguk-angguk. "Jadi gimana? Mau nggak jalan sama gue kapan-kapan?" Gengsi Rhea sudah benar-benar hilang. Padahal sebelumnya ia tak pernah mengajak seseorang dengan niat setulus ini. Namun Sagas terlihat ragu. Tersirat di binar matanya. "Gue nggak janji karena gue nggak yakin gue bisa." Jawaban Sagas membuat Rhea sedikit kecewa. "Yah ... oke deh." *** Boring. Itulah satu kata yang dapat menggambarkan film Unbreakable bagi Rhea. "Hoammm." Entah sudah keberapa kali Rhea menguap. Saking bosannya. Walaupun Rhea tidak terlalu suka nonton film. Tapi belum pernah ada film yang membuatnya sebosan ini. Jalan ceritanya menurut Rhea datar-datar saja. Visual pemainnya juga tidak ada yang begitu menarik perhatian. Bahkan konflik yang timbul pun terasa aneh buat Rhea. Tapi Rhea tetap memaksakan diri untuk menonton meski matanya begitu berat. Menghargai Sagas katanya. Suasana jadi makin bosan karena dari tadi Sagas diam saja. Entahlah, mungkin ia terlalu menghayati filmnya. Rhea juga tak ingin banyak bicara karena takut mengganggu. Beneran gila kalau Sagas suka film ini, pikir Rhea. Tak berselang lama sejak Rhea berpikir, tiba-tiba sesuatu mendarat di bahunya. Tak begitu kencang, tapi cukup untuk membuatnya kaget. S-Sagas? Ya, kepala Sagas bersandar di sana. Tepat di bahu Rhea. Matanya terpejam. Ia tertidur. Entah sudah berapa lama. Rhea hanya bisa menelan ludahnya tanpa bisa berkata apa-apa. Mungkin Sagas juga terbunuh oleh perasaan bosan akibat film yang mereka tonton. Mungkin juga karena Sagas terlalu lelah. Tapi sungguh, Rhea tidak peduli. Karena yang ia tau, dirinya sendiri sudah mau mati saking berdebarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN