Penawaran Dextra

1157 Kata
Eh, maaf ya. Gue nggak maksud. gue kira lo orang lain. Kacau, sungguh kacau. Sudah nyaris 24 jam pesan itu dikirim oleh Rhea. Namun belum juga ada balasan dari Sagas. Rhea jadi bertanya-tanya. Dia marah jangan-jangan? Rhea mengembuskan napasnya berat. Ia kembali menatap buku tulis dan kalkulator yang baru saja ia pinjam dari salah satu tetangga indekosnya. "Lima belas juta ... dibagi sejuta dua ratus," desisnya sambil mengetik angka-angka di atas kalkulator. Begitu hasilnya muncul, Rhea seperti terken serangan jantung mendadak. Dua belas setengah? Rhea menidurkan kepalanya di atas meja. Ia frustasi dan rasanya tidak pernah lebih frustasi dibanding ini. Gadis berkemeja kotak-kotak itu rasanya mau menangis saja. Hutang--tak disengaja--nya pada anak Bu Dextra itu sebesar 15 juta. Jumlah yang terlalu besar untuk ukuran mahasiswi biasa. Bahkan jika Rhea mencicil menggunakan uang gajinya sebagai asisten psikolog pun dibutuhkan 12 bulan lebih untuk menyelesaikan semuanya. Tentu itu berat. Harus berurusan dengan anak Bu Dersa selama setahun lebih, jelas bukan ide yang bagus. Rhea tidak mungkin meminta uang pada kedua orang tuanya di Surabaya. Selain karena kehidupan mereka pas-pasan, Rhea juga punya alasan lainnya. Rhea juga tidak mungkin kan menjual ginjal atau hatinya? Ia tidak punya nyali segila itu. Toh, kalaupun punya, memang ada yang mau beli? Jadi, Rhea harus apa? Rhea juga tidak mengerti. *** "Oke, Aal. Lo nggak capek apa jemputin gue tiap hari gini? Kan kasihan juga pacar lo musti mondar-mandir!" ujar Rhea. Aalea melipat kedua tangannya di depan d**a. "Bukannya udah pernah kita bahas ya? Gue nggak mau lo bolos terus," jawab Aalea. Rhea mendengus. "Oke, biar gue perjelas di sini. Lo sama pacar lo udah berminggu-minggu nganterin gue ke kampus tiap hari. Dan lo tau sendiri sekarang gue udah nggak pernah bolos. Jadi please stop, gue janji nggak bolos lagi!" papar Rhea. Aalea menaikan alisnya. Mencari-cari dusta di kedua mata Rhea. Hingga akhirnya ia mendesah pasrah. "Iya, iya. Mulai besok gue nggak bakal jemput lo lagi. Tapi inget ya, gue bakal terus pantau. Awas aja kalau gue tau lo bolos-bolos lagi!" "Iya, ah! Bawel banget sih jadi orang!" tandas Rhea. Rhea kemudian menyambar tasnya dan keluar dari indekos bersama Aalea. Matanya melotot sempurna ketika melihat seseorang yang sedang bersandar di sebuah mobil merah. "Selamat pagi, Rheanina Kataleyya." "Ngapain lo di sini?" tanya Rhea. Nadanya tidak santai. "Oh ... jadi karena lo udah punya pacar, makanya nggak mau gue jemput?" desis Aalea. *** Rhea masih memandang orang di sebelahnya secara skeptikal. Banyak kecurigaan dalam benaknya. "Dari mana lo tau rumah gue?" selidik Rhea. "Jangankan rumah lo, nomor induk kependudukan lo juga gue tau," jawab laki-laki itu. "Bohong banget," celetuk Rhea. "Lah? Nggak percaya lo? Oke, gue buktiin. Nama lo Rheanina Kataleyya. Lahir di Surabaya, tanggal 16 Mei 2000. Nama orang tua lo Pak Handoko sama Bu Salama. Nomor induk kependudukan lo 61718029-." "Stop!" potong Rhea. "Darimana coba lo tau itu semua?" Senyuman licik di bibir pemuda itu membuat Rhea tersadar. Astaga, gue lupa. Dia kan anak Bu Dersa. Rhea mendesah kasar kemudian mengusap wajahnya penuh frustasi. "Ralat, buat apa coba lo tau semua itu? Apa gunanya sih? Dan lo ngapain juga jemput ke rumah gue segala! Jangan-jangan lo mau nurunin gue tengah jalan lagi kayak waktu itu ya? Psycho!" pekik Rhea. Pemuda itu tertawa. "Ide bagus! Mau diturunin dimana lo?" Rhea mendengus dan menatap pemuda itu secara tidak senang. "Lo harusnya introspeksi lah. Gue nggak bakal ke sini kalau aja lo ngasih kejelasan tentang hutang lo. Gue hubungin, lo nggak bales. Mau lari dari hutang kan lo?" tuduhnya. Gadis berambut hitam kelam itu mencebik. Bukan maksudnya untuk kabur, ia hanya terlalu pusing memikirkan bagaimana cara untuk membayar hutangnya. "Pasti harga sweater gue terlalu gede kan buat lo? Lo nggak punya duit segitu kan?" tanyanya. Nadanya yang tidak mengenakkan membuat Rhea sinis. "Sombong banget sih lo, Bodrex!" maki Rhea. "Bukan gitu maksud gue! Bukannya mau nyombongin diri, tapi yang namanya mahasiswa ya mau dapet duit segitu dari mana! Makanya, gue mau mengajukan penawaran," tuturnya. Ia mengambil selembar kertas dari dashboard mobilnya dan memberikan pada Rhea. "Dan gue ingetin ya, nama gue Dextra. Bukan Bodrex. Inget! Dex-tra!" tekannya di setiap kata. *** Rhea tertawa sinis sebelum akhirnya melemparkan secarik kertas ke lantai secara asal. Emang dia kira ini lucu apa? Gadis itu kemudian duduk di balik meja belajarnya dan membaringkan kepala. Tawaran dari Dextra terlalu mengolok-olok, menurutnya. Bagaimana tidak? Dextra memberi penawaran penggantian hutang bukan dengan uang atau sweater, melainkan jasa. Jasa menjadi asisten Dextra selama 3 bulan. Dextra bahkan menyediakan surat perjanjian dengan kolom tanda tangan yang sudah ditempeli materai. Tentu Rhea tidak gila untuk menerima penawaran sakit jiwa itu sekejap mata. Rhea masih waras. Sangat-sangat waras. Ia tentu tidak lupa tentang insiden 'diturunkan di tengah jalan' beberapa waktu lalu. Rhea tidak bisa membayangkan betapa tertindasnya ia jika harus jadi asisten Dextra. "Huh! Nggak anak, nggak emak, sama aja! Sama-sama suka ngasih penawaran seenak jidat!" gerutu Rhea. *** Tampaknya pekan ini memang pekan dimana nasib buruk Rhea muncul secar bertubi-tubi. Setelah stres karena dililit hutang pada Dextra--s****n--dan belum punya jalan keluarnya, Rhea harap hari inilah ia bisa melepaskan seluruh stresnya dengan bertemu Sagas. Sekadar harapan sih. Nyatanya Sagas tak muncul sama sekali hari ini. Bahkan ketika jadwal kunjungan Bu Dersa nyaris berakhir, Rhea tak melihatnya sama sekali. Tadi Rhea juga sempat menanyakan keberadaan Sagas. Hanya saja kata Bi Tri, "Maaf, Nak Rhe. Den Sagas-nya lagi nggak mau diganggu siapapun." Rhea jadi berpikir berulang kali. Apa iya Sagas marah beneran sama gue? Rhea yang harusnya melepas stres malah jadi makin stres. "Oke, gue emang salah karena ngebentak dia di telepon walaupun itu nggak sengaja. Jadi ... gue minta maaf aja kali ya?" Gadis itu mengangguk sebagai respons untuk diri sendiri. Ia lalu mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Tangannya dengan lincah menulis di atas sana. Seusai menulis beberapa baris, Rhea keluar. Ia menuju kotak surat yang ada di halaman depan. Kotak surat itu berwarna putih, ada ukiran-ukiran sebagai hiasan, dan terlihat sedikit tidak terawat. Entah kapan terakhir kali benda itu dipakai. Bahkan mungkin tidak pernah dipakai. Karena logikanya, surat-surat yang masuk pasti akan melalui satpam. Jadi buat apa kotak surat ini dibuat? Di halaman pula! Seusai meletakkan surat di sana, Rhea dikejutkan dengan suara klakson mobil yang menggelegar. Tin-tin! Kepala Dextra muncul dari jendela yang terbuka. "Gimana? Udah lo pikirin penawaran gue?" Rhea memutar bola matanya jengah. "Penawaran sakit jiwa itu maksud lo?" tanya Rhea sinis. "Penawaran sakit jiwa? Kayaknya lo deh yang sakit jiwa. Kurang baik apa coba gue? Hutang lo bisa lunas cukup dengan jadi asisten gue 3 bulan! Lagian ya, kalau lo emang bersikeras mau ganti, emang ada duitnya? Gue yakin lo nggak punya. Iya kan?" Rhea terdiam. Kata-kata Dextra benar. Lagipula bisa sejahat apa sih Dextra? Toh kalaupun memang jahat, Rhea hanya perlu menahan diri selama 3 bulan. Bukan waktu yang lama. Dan lagi ... mau berapa lama Rhea stres menghadapi hutang yang tak kunjung ia temukan jalan keluarnya ini? Gadis itu mengusap wajahnya. Ia lalu mengangguk. "Oke. Gue terima penawaran lo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN