Selamat membaca,
Astha PoV-
Setelah sedikit lega, aku memutuskan untuk pulang. Aku ingin tidur, istirahat semoga setelah bangun nanti semuanya akan ku lupakan.
Ku lajukan mobilku perlahan menjauhi area parkir gereja.
Baru keluar beberapa meter dari komplek gereja ku lihat jalanan begitu macet dan juga begitu banyak orang berkerumun.
Pikiranku masih runyam, benar-benar lelah.
Jalanan padat sekali benar-benar tidak bergerak, ku putuskan membuka kaca jendela dan bertanya pada pengendara sepeda motor apa yang terjadi, ternyata ada kecelakaan, aku hanya mengangguk mendengar jawaban si pengendara motor. 15 menit jalanan stuck, dan baru terurai. Ku lajukan mobilku perlahan aku ingin segera sampai rumah dan menenangkan pikiranku.
30 menit berlalu aku sampai di rumah, aku bergegas masuk ke rumah dan langsung naik ke lantai 2 menuju kamarku, untung mama tidak ada di rumah sehingga aku jauh dari berbagai macam pertanyaan seputar pernikahan Valeri.
Baru saja ku rebahkan tubuhku di atas ranjang, ku dengar suara ponselku berdering, ku lihat terpampang nama Deva di sana segera ku geser tombol hijau di layar.
"Halo?"
".........."
"Kenapa bisa? Sekarang kalian dimana?"
"............."
"Ya udah, gue segera kesana!"
Aku bergegas turun tanpa menganti pakaianku terlebih dahulu, ku saut kunci mobilku di atas meja.
'Ya, Tuhan apa lagi ini.' Batinku.
Sampai di depan gedung rumah sakit aku segera bergegas masuk mencari UGD, ku tanya pada perawat dan langsung di tujukan. Aku berlari di koridor, ku lihat Deva sedang mondar mandir di depan ruang UGD.
"Dev? Apa yang terjadi? Dimana Dean?" Tanyaku panik.
Valeri yang sedang duduk segera menghampiriku dan memeluk lenganku.
"Gue mohon lu tenang, Tha. Dean sama Chao lu lagi berjuang di dalem." Ujar Valeri.
"Val, kenapa bisa gini? Apa yang terjadi?" Aku udah gak bisa nahan air mataku lagi. Baru tadi akau bilang, 'bahagialah De, bersama orang yang sayang sama kamu' dan sekarang dia lagi berjuang antara hidup dan mati di dalem.
Lututku terasa lemas, badanku merosot ke lantai, ku peluk kedua lututku. Aku menangis, membayangkan semuanya. Aku belum siap jika harus kehilangan Dean selamanya. Aku harap dia selamat begitu pun Chao lu.
Kini pikiranku berpusat pada Dylan, ya dimana Dylan. Aku segera menghampiri Deva dan menanyakannya.
"Dev, dimana Dylan?"
"Dia lagi di tanganin dokter di klinik anak." Jawab Deva.
"Gue mau lihat keadaannya." Aku berjalan mencari ruang perawatan untuk anak-anak.
Tak lama ku lihat Dylan sedang terbaring dengan perban di kakinya, dia mengalami patah tulang kaki kata dokter. Aku duduk di samping ranjangnya, ku elus rambut hitamnya. Kasihan sekali batinku, sekarang kedua orang tuanya sedang berjuang memepertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi. Apa yang harus dikatakan saat anak ini sadar, Ya Tuhan selamatkan mereka, ku mohon.
Ponselku berbunyi, ku lihat Valeri menelponku, dia bilang dokter sudah keluar dari UGD. Aku bergegas meninggalkan Dylan, ku titipkan Dylan pada suster yang sedang berjaga. Aku kembali menemui Deva di depan ruang UGD.
"Gimana?" Tanyaku pada Deva.
Deva terlihat lemas sekali, dia duduk di temani Valeri di sampingnya.
"Chao lu koma, ada pendarahan di otaknya. Dan Dean dia belum sadar tapi matanya, dokter bilang dia akan buta sementara atau bisa jadi permanen."
Aku menutup mulutku mendengar ucapan Deva, apa yang akan kami katakan nanti saat Dylan bangun dan menanyakan orang tuanya.
"Jadi, Dean gak akan bisa lihat lagi?" Aku bertanya seperti orang bodoh.
Deva mengangguk dengan raut muka penuh kesedihan. Saat aku, Deva dan Valeri berbicara tante Mirna (ibu Deva dan Dean) muncul, dia masih berpakain sangat rapih.
"Semua dokter terbaik disini sudah kami kerahkan, Nyonya!" Ucap sang asisten.
Tante Mirna hanya mengangguk, lalu menghampiri Deva.
"Jaga Adikmu," ucap tante Mirna pada Deva. Deva hanya menatap tante Mirna dengan penuh kemarahan, entah aku tidak tahu apa alasannya.
"Nyonya, 30 menit lagi anda akan rapat dengan pemilik Group Panca. Mobil sudah siap."ucap sang sekertaris.
Tante Mirna berbalik hendak berjalan menjauh namun langkahnya terhenti saat Deva berbicara.
"Apakah anda layak di sebut seorang ibu?" Tanya Deva dengan nada sedikit mencibir. Tante Mirna menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh dan tidak menjawab pertanyaan Deva.
"Jawab!! Apa anda layak di sebut ibu? Menjual anaknya demi bisnis, Dan lihatlah bahkan saat anak kesayangannya terkapar di rumah sakit dia lebih MEMENTINGKAN UANG!! Aku tidak tahu bagaimana perasaan Dean saat ini jika ia tahu bahwa mama kesayanganya hanya menganggapnya seperti sebuah boneka."
Tante Mirna hanya diam tanpa menoleh ke arah Deva, kemudian melanjutkan langkahnya. Sungguh hubungan keluarga yang aneh ucapku. Ku lihat tante Mirna sudah menghilang di belokan koridor. Aku hendak mengejarnya, namun tak ku sangka dia duduk diam di bangku di depan lift. Aku berjalan perlahan mendekati tante Mirna, aku duduk di sampingnya. Hening tak ada pembicaraan diantara kami. Aku menghela nafas dalam-dalam.
"Apa tante tahu makanan kesukaan Dean?" Tanyaku .
Tante Mirna masih diam tidak ada tanda-tanda dia akan menjawab pertanyaanku.
"Dia suka sekali makan roti panggang, dengan selai apapun pasti dia bisa menghabiskan berpuluh tangkep roti panggang.
"Hmmm dia sering bercerita, kalau tante adalah panutan buat dia. Bahkan dia lebih milih tante daripada almarhum papanya. Dia hanya ingin jadi anak yang berbakti buat tante. Dia pingin buat tante bahagia, aku yakin dia bakalan sembuh. Dia bakalan bangun, dia bakal jaga keluarganya." Ucapku sendu.
Tante Mirna tidak menjawab sepatah kata pun. Ia berdiri kemudian melangkah meninggalkanku. Aku tahu seberapa bendinya dia padaku, mungkin saat ini pun dia masih menyalahkanku.
Aku masih terpaku menatapi lantai rumah sakit, begitu banyak hal yang terlintas di pikiranku. Apakah Tuhan sedang mengajak bercanda? Ini bukan karma kan? Kenapa jadi gini? Bukan ini yang aku mau! Ku usap wajahku dengan kedua telapak tanganku "aaaargh!!"
* * * *
3 hari berlalu, Dylan sudah berangsur membaik, setiap hari setelah pulang kerja pasti aku mampir untuk menjenguknya dan tentu menjenguk Dean. Perban pada mata Dean belum dibuka. Dan chao lu dia koma, saat masuk ke dalam ruangannya hanya akan ada bunyi alat-alat rumah sakit yang bekerja.
"Hai Dy, gimana kabar kamu hari ini?" Ucapku, aku sekarang ada di ruang rawat inap Dylan, aku bergantian menjaganya dengan Valeri karena tentu Deva juga harus sibuk mengurusi pekerjaan kantor. Untung mama mengijinkanku untuk membantu Valeri.
"Om Astha!!" Teriak Dylan saat aku mendekat ke arah ranjangnya.
"Tuh dari tadi dia nanya lo mulu!" Ujar Valeri, aku hanya meringis membalas ucapan Valeri.
Tiga hari ini aku selalu menemani Dylan, entah itu menyuapinya makan atau sekedar membacakan buku cerita sebelum tidur dan tentu aku akan menjenguk Dean. Setelah Dean sadar ia belum bicara apapun.
Aku sudah mencoba untuk mengajaknya mengobrol namun dia selalu membalikkan tubuhnya atau berpura-pura tidur, bagaimana aku tahu? karena dia selaluu diam saja.
"Om, om mau anterin aku ke tempat papa?" Tanya Dylan.
Aku mengangguk mengiyakan permintaannya, ku ambil kursi roda dan memindahkan Dylan untuk duduk di kursi roda. Aku bergegas keluar dan menuju ruangan Dean. Aku memutar kenop pintu dan ku lihat Dean sedang berusaha merubah posisinya, kini ia berusaha membelakangi arah kami datang.
"Papa?" Panggil Dylan.
Dean diam tidak menjawab, aku mengelus kepala Dylan sambil berbisik "papa tidur!" ucapku pelan. Dylan menunduk lalu segera ku ajak dia keluar, ku antar dia ke kamarnya lagi, di sana sudah ada Deva yang sedang menemani Valeri makan.
"Baru nyampe Dev?" Tanyaku sambil memindahkan Dylan.
"Iya, gimana Dean?" Tanya Deva.
"Masih sama kayak kemarin, dia belum mau bicara."
Aku berjalan ke arah sofa, lalu duduk di samping Valeri.
"Lu udah makan belom, beb?" Tanya Valeri padaku, aku hanya mengangguk tak berminat lalu merebahkan tubuhku ke sandaran sofa.
"Chao lu gimana, Dev?"tanyaku sambil memejamkan mataku.
"Dokter bilang belum ada kemajuan apa-apa."
Aku menghela nafas dalam, kenapa jadi rumit begini batinku.
"Gue mau lihat Dean dulu." Ucapku sambil berlalu menuju kamar Dean.
Aku masuk perlahan, ku lihat Dean masih dengan posisi yang sama. Aku duduk di kursi dan menatap punggungnya lekat.
"De..?" Panggilku, namun dia tidak membalas sama sekali. Tapi aku masih mencoba mengajaknya berbicara, aku tahu dia terpuruk apalagi saat dokter bilang dia akan mengalami buta sementara. Aku ingin menghiburnya, setidaknya menjadi orang yang ada di sampingnya saat ia butuhkan.
"Apa kamu bisa lihat hatiku De? Kenapa ini di sebut cinta?" Tanyaku. Ku lihat bahu Dean merosot mendengar ucapanku, aku tahu dia tidak tidur dia hanya mencoba menghindariku namun aku sudah tidak tahan, aku tidak ingin melihatmya terpuruk. Biarlah, aku putuskan untuk menjadi seorang yang egois, melupakan status diantara kami.
"Aku gak akan pernah nyoba lagi buat jatuh cinta, sekeras apapun aku nyoba toh akhirnya aku kembali padamu. Aku memang orang yang bodoh." Lanjutku,masih sama tak ada respon dari Dean.
"Heh, Kenapa aku bahagia hanya dengan menatap wajahmu saja De?"
Tanpa ku duga, Dean membalikan tubuhnya, tangannya meraba di udara, ku raih tangan Dean dan ku genggam ku lihat perban di matanya sedikit basah. Apa dia menangis?
"Aku cuma mau ada di sisi kamu, selamanya sama kamu de.
"Hatiku sakit De lihat kamu kayak gini, tapi gak papa aku tahu ini cinta."
Dean meraba wajahku, mengusap air mataku.
"Jangan nangis, Tha. Kamu gak pantes nangisin aku yang cacat gini, hatiku udah cacat dan sekarang fisikku cacat apa kamu masih mau terima aku?"
Aku seding mendengarnya, sungguh menurutku Dean tetaplah Dean yang dulu.
"Kenapa kamu takut? Saat kamu gak bisa lihat dunia biar aku yang jadi mata kamu De, saat kamu pengen lihat Pelangi biar aku yang jadi mata kamu. Cukup kamu di sisi aku." Entahlah kalimat-kalimat itu muncul begitu saja dari mulutku.
"Tha, maafin aku. Maafin aku yang gak pernah berjuang buat kita. Maafin aku, semua salahku."
Aku memeluk tubuhnya, bukan, ini bukan salah kamu De. Tuhan yang buat takdir kita seperti ini,Tuhan yang biarin kita terjebak dalam perasaan yang seharusnya gak ada diantara kita. Kalau aku bisa protes, mungkin saat ini aku ingin bertanya, kenapa Tuhan ciptain rasa cinta diantara kita kalo akhirnya kita gak bisa bersama?
Aku masih memeluknya erat, mungkin kali ini aku harus bersikap egois. Aku akan melupakan chao lu dan Dylan untuk kebahagianku walaupun hanya sementara, ya aku akan bersama dengan Dean, setidaknya sampai dia sembuh dan mendapat donor mata untuknya.
"Kamu harus janji sama aku kalo kamu bakal sembuh dan kita bisa kayak dulu lagi!" Ucapku.
Dean mengangguk lalu meraba wajahku " aku harap ini bukan rasa kasihan, Tha."
Bukan, aku tidak pernah merasa kasihan. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Aku gak mau lihat kamu menderita. Aku pingin kamu bahagia. Aku terus memeluknya erat, aku ingin memberinya kekuatan.
Sore itu aku habiskan di kamar Dean, dengan sedikit bercerita tentang kami saat berpisah.
"Kamu gak pulang?" Tanya Dean.
"Aku nginep di sini, kasihan Valeri semenjak menikah mereka bulan madu di rumahsakit." Ucapku sambil mengupas buah apel di samping Dean.
"Kami pasti merepotkan kalian!" Ucap Dean.
Ku letakkan buah dan pisau yang sedang ku pegang, aku beranjak ke tepi ranjang dan duduk di sana. Ku elus pundak Dean "kita gak pernah merasa direpotin. Ini kewajiban kita." Ucapku. Dean lalu menoleh dan tersenyum.
"Jangan ngomong yang enggak, enggak lagi. Pokoknya sekarang yang paling penting kamu sembuh dan Dylan juga. Dan soal chao lu, dokter belum tahu dia bakal siuman kapan." Ucapku.
Dean diam tidak membalas ucapanku, aku tahu dia pasti merasa tidak enak, karena aku menyinggung tentang Chao lu.
Aku seperti orang jahat bukan? Bermain-main dengan suami orang saat sang istri terbaring lemah dengan segala macam peralatan medis.
* * * * *
Seminggu setelah kejadian sore itu, perban mata Dean di buka dan dia mulai terbiasa menggunakan tongkat sementara. Meski tadinya ia tidak mau namun kupaksa. Dan Dylan sudah sembuh dia tinggal bersama Valery dan Deva, setiap pulang dari rumah sakit pasti aku sempatkan untuk mampir ke rumah Valery dan saat itu pasti Dylan akan kegirangan.
"Kamu nanti siang pulang kan, De?" Tanyaku sambil membereskan pakaian Dean ke dalam tas. Dean sudah di ijinkan pulang dengan catatan ia harus kontrol 2 minggu sekali.
"Oh, iya kamu bakal tinggal bersebelahan sama rumah Deva. Jadi kamu gak bakal ganggu mereka berdua bikin anak, De." Ucapku lagi.
"Hmmmm" ucap Dean sambil mengangguk.
"Kok kamu kayak gak seneng gitu?"
"Aku seneng, tapi pasti habis ini kamu gak bakal ngurusin aku lagi." Ucap Dean.
Aku tersenyum lalu berjalan ke arahnya, aku duduk jongkok di hadapannya. Ku cium pipinya lalu ku genggam tangannya "aku bakalan tinggal bareng kamu." Ucapku.
Dean tersenyum sambil meraba-raba wajahku, " benarkah? Kamu gak bohong kan?"
"Iya, De." Aku tersenyum sambil memegang tangannya yang sedang meraba pipiku. Saat asyik mengobrol tiba-tiba seorang suster masuk ke dalam ruangan.
"Bapak Ardhyastha, mohon maaf mengganggu pasien Chao lu kritis."
Aku langsung bangun, ada apa ini..
Tbc