Selamat membaca,
Pagi itu hujan masih mengguyur, entah ini pertanda kesedihan bagi Dean atau Dylan.
Rencana pemakaman di undur sampai hujan reda. Astha duduk memandang Dean yang terlihat begitu terpukul, ia baru saja menidurkan Dylan di kamar.
Astha beranjak dari duduknya mendekat kearah Dean, "semua sudah takdir, kita hanya bisa berpasrah De."
Astha kemudian memeluk Dean, dia tidak ingin Dean menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Chao lu.
"Apa salahku, Tha?"
Astha melepas pelukannya, menangkup pipi Dean ia menatap wajah Dean rasanya sakit, jika dulu saat Astha melakukan hal ini maka dengan otomatis Dean akan menatap balik Astha. Namun kini itu tidak lagi, "ini bukan salah kamu!"
Dean menunduk, sungguh sekarang ia seperti pengecut yang tidak bisa apa-apa. Untuk apa dia hidup, dia saja sekarang malah bergantung pada orang lain. Bukankah dia hanya akan menjadi beban untuk orang lain? Mungkin lebih baik dia mati bersama Chao lu.
"Harusnya aku yang mati Tha, aku!"
Astha tidak membalas ucapan Dean, dia tahu apa yang di rasakan Dean. Dia hanya memeluk Dean kembali, "jangan pernah berpikir untuk pergi lagi, cukup sekali aku kehilangan kamu, De!"
"Aku udah cacat, Tha! Aku udah gak bisa apa-apa!"
Dean menangis, dia malu. Kenapa hidupnya menjadi seperti ini.
Pukul 11 hujan baru reda, Astha segera menuntun Dean memasuki mobil untuk mengantar Chao lu ke pemakaman.
"Kamu yakin mau pergi?"
Dean hanya mengangguk mendengar pertanyaan Astha. Astha kemudian melajukan mobilnya, sepanjang perjalanan Dean hanya diam. Astha tidak ingin mengganggu, hati Dean mungkin sedang bergejolak Dean butuh waktu sendiri.
Sampai di pemakaman Astha menuntun Dean. "Petinya sedang di masukkan." Ujar Astha, Dean segera menggenggam tangan Astha. Astha menoleh dan mengusap lengan Dean perlahan.
Saat itu Astha melihat mama Dean.
Setelah selesai Astha segera mengajak Dean untuk kembali ke mobil, namun mama Dean menyegat Astha. Astha meminta untuk diam, setelah itu Astha menyuruh Dean untuk masuk terlebih dahulu.
"Tante!"
"Terimakasih karena kamu mau jaga Dean buat saya!"
Astha masih diam menatap perempuan setengah baya itu.
"Saya harap dia bisa bahagia bersama kamu, cuma ini yang bisa saya berikan buat dia. Saya tahu saya orang tua yang egois, saya terlalu malu untuk menghadapi Dean sekarang. Semua yang dia alami sekarang adalah salah saya."
Astha masih bergeming mendengar penjelasan mama Dean.
"Saya mohon, jaga dia. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan Dean! Biarkan dia bahagia sekarang!"
Perempuan itu kemudian berlalu meninggalkan Astha, bahkan sebelum Astha sempat membalas pembicaraan itu.
Astha masuk kedalam mobil. "Maaf lama." Ujar Astha sambil memasangkan sabuk pengaman pada Dean.
"Kamu dari mana?"
Astha menoleh kemudian mengelus pipi Dean, dulu Dean yang selalu melakukan hal itu dan sekarang Astha yang melakukannya.
"Aku janji gak bakal tinggalin kamu, aku janji bakal jadi pendamping kamu. Aku bakal jadi mata hidup buat kamu. Kalo kamu gak bisa lihat kamu masih bisa dengar suaraku."
"Tha...?"
"Aku janji De, aku gak bakal sia-siain kamu. Biarkan kita bahagia. Kita habisin hidup kita buat saling melengkapi. Buat jadi sahabat satu sama lain, buat jadi kakak satu sama lain, musuh satu sama lain dan pendamping hidup satu sama lain. Kita besarin Dylan dengan kasih sayang kita berdua. Aku sayang kamu De, aku sayang banget sama kamu!"
Astha memeluk Dean erat, bagaimanapun Dean sekarang ia akan tetap ada di sisi Dean. Mungkin akhir hidupnya akan ia habiskan bersama Dean dan Astha tidak akan pernah menyesali itu.
"Makasih, Tha!"
Astha mengangguk di sela pelukan mereka.
**********
1 tahun kemudian........
"Tha, lu jadi kan ajakin Dylan sama Dean buat piknik bareng kita?"
Valeri sedang mampir di rumah Astha, tadi ia mengantarkan makanan yang ia buat sendiri, Valeri bilang dia sedang belajar memasak.
"Lu gak repot ama perut lu itu? Kan udah 7 bulan gitu si Deva masih ngasih ijin pergi?" Ujar Astha sambil menyiapkan makanan di meja makan.
"Yaelah tenang aja dia kan suami siaga!"
"Dylan!! Dylan!! Ayo makan!" Teriak Astha dari dapur.
"Gue sih ok ok aja, kalo lo gak repot, bentar gue panggil Dean dulu." Ucap Astha sambil berlalu menuju kamar.
Astha mengetuk pintu kamar dan membukanya. Dean sedang duduk menghadap jendela, menatap ke arah luar meski hanya gelap yang ia lihat.
"De?" Ujar Astha lembut sambil mengelus bahu Dean.
Dean menoleh dan meraba angin, Astha segera meraih tangan Dean.
"Kita makan dulu ya, kakak ipar kamu tadi bawa makanan. Ayo!"
Dean mengangguk dan tersenyum. Astha kemudian berjalan di depan Dean, sampai di dapur Dylan sudah duduk manis di kursinya.
"Tante yang masak?" Tanya Dylan.
Valeri mengangguk sambil tersenyum.
"Pasti masakan tante enak Dy, gak kaya masakan papa Astha!"
Astha hanya memutar bola mata malas "sini De," setelah mendudukan Dean ia segera mengambilkan Nasi untuk Dean dan Dylan.
Mereka makan sambil sesekali bercanda.
Setelah makan selesai Dean dan Dylan segera pindah menuju ruang tamu. Dylan menonton Tv dan Dean sesekali tertawa mendengarkan suara Tv tersebut.
Astha masih mencuci piring di temani Valeri di dapur.
"Lu belom dapet donor mata buat Dean?"
"Udah, kemarin gue baru dikasih kabar sama Rumah sakit. Gue rencananya mau kasih tahu dia malam ini."
"Puji Tuhan....."
"Lo gak balik? Udah malem!"
"Lo ngusir gue? Udah dikasih makannan juga!"
Astha tertawak terbahak, sungguh Valeri tidak berubah sama sekali.
"Ntar laki lo nyariin, Val. Udah gih sono pulang!"
Valeri mendengus kesal kemudian berlalu ke ruang Tv berpamitan denga Dean dan Dylan.
"Dy, udah malem ayo bobok!" Ujar Astha. Astha benar-benar menjadi ibu rumah tangga. Untung dia bekerja di perusahaan miliknya sendiri sehingga ia bisa berangkat dan pulang sesuai kemauannya.
"Iya," ujar Dylan.
"Ayo pamit sama Papa dulu!"
"Good night, pa!"
"Good night jagoan papa!" Ujar Dean kemudian mengusap pipi Dylan.
"Aku temenin Dylan dulu ya De, kamu mau aku anter ke kamar dulu?"
"Enggak usah, kamu temenin Dylan aja dulu!"
" ya udah."
Astha menggandeng Dylan ke kamar. Sampai di kamar ia langsung menyuruh Dylan untuk menggosok gigi dan mengganti pakaian. Kemudian ia menemani Dylan tidur, membacakan cerita sampai Dylan terlelap tidur. Setelah dirasa Dylan tertidur pulas, Astha beranjak dan mematikan lampu.
Astha kembali keruang Tv, Dean masih duduk disana.
"De? Kamu masih disini?" Ujar Astha sambil duduk di sebelah Dean.
"Dylan udah tidur?"
Astha merebahkan kepalanya di pundak Dean, kemudian ia melingkarkan tangannya di tubuh Dean "iya, udah!" Ujar Astha manja.
Dean tersenyum kemudian meraba-raba mencari pipi Astha.
"Kamu pasti capek?"
"Hmmmm.... "
"Maafin aku, Tha!"
"Ssssssttt... aku lakuin ini karna aku sayang sama kamu. Udah berapa kali aku bilang sama kamu."
Dean kemudian menggenggam tangan Astha. "I love you..."
"I love You too.." Astha kemudian mengecup pipi Dean.
"Kita ke kamar yuk, aku mau istirahat."
Astha menggandeng Dean menuju kamar, sampai di kamar mereka langsung merebahkan tubuh mereka di ranjang.
"Oh iya, minggu depan kita ke rumah sakit. Dokter bilang mereka udah dapet donor mata buat kamu, Yang!"
Dean kemudian berbalik menghadap Astha, Dean tersenyum sambil mengelus pipi Astha "semoga cocok, Tha".
"Amin!"
******
"Oper sini bolanya, Dy!" Ujar Deva pada Dylan.
Saat ini Deva, Valeri, Dean, Astha dan Dylan sedang piknik.
Deva menemani Dylan bermain bola, dan Astha duduk menemani Dean. Astha duduk sambil menceritakan apa yang sedang Dylan dan Deva lakukan.
"Dylan tendang bolanya kekencengan sampe kena otongnya Deva." Ujar Astha, Dean yang mendengar tertawa terbahak.
Astha menatap Dean yang sedang tertawa.
Astha sekarang sudah merasa lengkap.
'Inikah yang di sebut belahan jiwa? Saat kau merasa kekurangan maka ku lengkapi dengan kelebihanku. Aku merasa sempurna saat kau tersenyum, saat kau ubah air matamu menjadi bahagia. De, aku harap aku bisa ada terus di samping kamu. Kita buat surga kita sendiri, kita buat bahagia kita sendiri. Cukup aku, kamu dan Dylan.'
Astha mengusap pipi Dean dan hendak mengecup bibir Dean, namun Dylan datang.
"Papa!"
Astha terkaget, begitu pun Dean.
"Iya, kenapa Dy?" Ujar Astha.
"Kenapa kalian pelukan gak ngajak Dylan?"
Ujar Dylan sambil cemberut. Astha yang melihatnya langsung merangkul dan memeluk Dylan.
Mereka bertiga berpelukan sambil tertawa, Deva yang menyaksikan ketiga orang itu langsung menarik Valeri kedalam pelukannya. Valeri tersenyum dan membalas pelukan Dean.
'Ya Tuhan, jangan kau hancurkan kebahagian kami. Biarkan kami bahagia. Saling melengkapi satu sama lain.' Batin Dean sambil memeluk erat kedua orang yang ia sayangi.
Tamat