Angin berhembus cukup kencang sore itu, menggoyangkan pohon dan rumput yang belum sempat terpangkas di Hyde Park, London. Sinar jingga dari matahari bulan September menerpa gerombolan angsa yang berenang di kolam. Hyde Park adalah taman kota terbesar di kota London, yang ramai oleh berbagai aktivitas warga dan para wisatawan. Mereka terlihat bahagia menikmati sisa-sisa kehangatan musim panas. Di salah satu sudut taman, sebuah panggung opera berdiri untuk persiapan pertunjukan drama. Lagu berjudul September dari kelompok jazz legendaris Earth, Wind & Fire menggema ke seluruh penjuru taman.
Christian Aiden jarang menginjakkan kakinya di kota London, kalau bukan liburan panjang, dia takkan ada di sana. Christian yang kala itu berusia 26 tahun sibuk mengurus pendidikan S2 di AS. Dan tak punya banyak waktu berkumpul dengan Ayahnya. Kalaupun ada hari-hari libur lebih dari 5 hari, Christian malas pulang. Sekarang, pria itu nampak seperti alien tersesat di tengah keramaian. Dia tak begitu suka berbaur dengan kepadatan penduduk tapi event ini lumayan bagus untuk observasi Manajemen Bisnisnya nanti saat menyusun proposal. Di sini banyak pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam merchandise unik dan menarik. Tapi karena ini pertunjukan drama, bukan konser musik, barang yang dijual di sana kebanyakan seputar seni. Gaun-gaun lama, pedang, topi, vas, dan banyak lagi.
“Tiket opera Romeo & Juliet, sebelum semuanya sold out, anda ingin beli satu? Atau bahkan dua untuk pasangan anda?” seorang penjual tiket mendekatinya, menunjukkan beberapa lembar tiket opera. “atau anda lebih suka dramatisasi puisi Edgar Allan Poe?” sebuah tiket hitam putih dilambaikan.
Well, menghabiskan sisa sore dengan nonton pertunjukkan tidak buruk juga. Karena dia belum pernah melihat musikalisasi puisi, jadi Annabel Lee milik Edgar boleh dicoba. Walaupun agak kaku, tapi Christian tetap suka seni.
“Aku ambil Edgar.”
“Hanya tinggal satu kebetulan!” si penjual nampak sumringah, menunggu Christian menarik beberapa lembar uang dollar dari dalam dompetnya. “aku takjub sekali dengan pengaruh si Edgar ini, begitu banyak penikmatnya dan aku senang masyarakat Inggris masih memberi apresiasi untuk setiap karyanya.” Celoteh si penjual tiket. Christian menanggapi dengan senyum tipis.
“Nah, satu tiket ini milik—“
“Milikku! Tiket ini milikku,” tiket di tangan si penjual berpindah secepat kilat ke tangan seorang gadis muda. Si penjual tiket itu sampai terperanjat. Menatap bergantian pada pembeli pertamanya dan perampas cantik yang sekarang memegang sejumlah uang. Bingung harus bagaimana bereaksi.
“Nona, maaf tapi tiket itu sudah jadi milik Tuan ini.” Ketika wajah gadis itu nampak tersinggung, si penjual tiket buru-buru meluruskan. “maksudku, aku masih punya banyak Romeo & Juliet, kau bisa ambil satu kalau kau begitu ingin nonton.”
“Tidak, aku mau Edgar. Dan tiketnya hanya ada satu, yang ada di tanganku sekarang ini.” Bola mata kehijauan gadis itu menatap Christian berani, “aku tidak peduli dengan kau, aku bisa membayar tiket ini dua kali lipat dari uang yang ada di tanganmu itu.” Si gadis menyumpalkan segenggam uang ke telapak tangan penjual tiket. Memutar tubuhnya hendak berlalu tapi kemudian berbalik kembali, melangkah lurus-lurus ke hadapan Christian. “Oh ya, aku juga tidak takut kalau kau melaporkan ini pada Ayahku. Bagiku, kau bukanlah ancaman.”
Saat punggung gadis itu makin menjauh, Christian mengerutkan alisnya. Berpikir mengapa rebutan tiket bisa jadi sediplomatis itu.
Well, di luar dari sikapnya yang sering kali bar-bar, gadis berusia 15 tahun itu memang cantik. Wajahnya ceria dan menyenangkan, tapi tidak dengan kepribadiannya. Christian mengenal gadis itu? Ya. Tentu saja. Mereka bertemu hampir di setiap liburan musim gugur dan musim panas. Ayahnya adalah teman baik Ayah gadis itu.
“Tuan, saya minta maaf karena tiket anda,” lengan Christian terangkat di udara, kode agar si penjual tiket tidak perlu bicara apa-apa lagi. Lantas si pejual tiket hanya mengangguk sambil membungkukkan badan. Ah, pasti setidaknya laki-laki paruh baya itu merasa bersalah.
Christian mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya, mendial sebuah nomor. Di sambungan kedua, seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.
“Kau ada di dalam panggung opera Hyde Park, Lucy?”
“Ya, tentu saja, aku kan promotornya.”
“Bagus, sisakan satu kursi musikalisasi puisi Edgar untukku.”
***
“Kau selalu ingin terlihat bekuasa di mana-mana, dan kau harus tahu, itu sangatlah menyebalkan.” Lucy duduk di samping Christian, kedua lengannya melipat di depan d**a. “kapan sih kau sukarela mengikuti prosedur yang ada? Selalu saja berbuat semaunya, kami kan sudah menjual tiket di sepanjang jalan taman.”
“Aku kehabisan.” Christian meneguk pepsinya, tidak suka minum melalui sedotan.
“Huh, alasan saja.” Lucy mengibaskan tangan, percuma, rasa kesalnya tidak bertahan lama pada Christian. Toh, dengan adanya tiket atau tidak, Christian tetap memberi uang untuk satu kursi yang disediakan olehnya.
Mereka kini berada di tribun penonton bagian timur. Tribun memang sengaja ditata setengah melingkar, agar jumlah penonton muat lebih banyak. Sementara panggung yang cukup besar ada di hadapan mereka.
“Eh, tapi tumben kau mau nonton musikalisasi puisi?” Lucy heran, dia memang satu universitas dengan Christian, tapi beda jurusan. “terakhir kali kau minta bantuan padaku saat konser The Beattles. Kau memaksa membeli tiket padaku waktu itu, bisa diduga karena seleramu memang klasik dan tua. Hm, aku agak sangsi kalau kau suka karya sastra. Sedang ketika dalam jamuan makan malam dengan petinggi kampus bulan lalu, kau bilang tidak tertarik ikut kunjungan ke rumah sastrawan-sastrawan di Amerika.” analisisnya panjang lebar.
“Hanya sedang ingin saja.” Christian menjawab. Sedangkan Lucy menghembuskan napas sabar, bicara dengan Christian memang seperti itu, membuatnya merasa seperti sedang berbicara dengan robot. Kalau bukan karena wajahnya yang tampan, Lucy mungkin takkan betah lama-lama ada di dekat Christian.
“Oke, jadi apa yang kau tahu dari Edgar Allan ini?” Lucy banting kemudi, selagi musikalisasi belum dimulai.
“Eleonora, aku pernah baca itu sekali.” Mata Christian mencari-cari ke setiap sudut tribun.
“Oh ya?” Lucy nampak antusias, “bagaimana menurutmu yang satu itu?”
“Aku tidak pernah mencoba menginterpretasikan puisi,” jujur Christian. “tapi aku suka metafora yang digunakan Edgar. Aku tidak tahu yang puitis itu bagaimana, tapi bagiku Edgar punya sihir di setiap kalimatnya.” Bola mata pria itu terus menjelajah liar, mencari keberadaan seseorang yang sedari tadi mengusik pikirannya. “aku suka saat dia dalam puisi itu bermain dengan Eleonora di padang rumput, mereka juga sering menikmati alam bebas bersama.” Dan dapat, gadis itu duduk dengan wajah gemilang di tribun bagian selatan, “tapi aku tidak suka saat dia mengatakan kilauan sungai kecil di balik perbukitan mampu melebihi pancaran kedua mata Eleonora.” Gadis itu tengah tertawa-tawa, nampak sumringah bersama kawan seusianya yang lain.
“Tidak suka kenapa? Bukankah ‘Sungai Kesunyian’ memang digambarkan sangat indah?” kening Lucy mengerut-ngerut.
“Tidak,” pandangan Christian semakin fokus pada objeknya. “bagiku Eleonora jauh lebih mengagumkan dari apapun. Kecantikan Eleonora setara dengan para malaikat, meski ia hanya seorang gadis lugu dan sederhana dengan kehidupan yang singkat.” Oke, ini jelas bukan Christian Aiden sekali.
“Ya Tuhan, Aiden. Kau pasti membayangkan visual wanita yang setingkat dengan Dewi Hera di kepalamu!” Lucy terkikik kecil. Ayolah, membaca puisi pasti membutuhkan imajinasi yang kuat.
“Tidak juga.” Yeah, Christian selalu menyangkal pernyataan orang lain. Isi kepala pria itu mustinya bergulung-gulung seperti benang kusut. Sejujurnya, dia tidak perlu repot membayangkan malaikat atau dewi-dewi untuk sosok Eleonora yang dibacanya, kalau yang muncul di dalam kepalanya malah gadis enerjik itu.
Ya. Claire Lore. Siapa lagi?
Mereka tak pernah mengobrol panjang lebar, jarang bertegur sapa kalau tidak diperlukan dan demi Tuhan, usia mereka terpaut hampir 11 tahun tapi begitu tidak beretikanya sikap Claire padanya. Tapi hal sekecil itu tidak mengusiknya, Christian bukan seseorang yang gila hormat tapi dia posesif berat atas apapun itu yang merasa jadi hak miliknya.
Christian tak pernah tahu Claire suka seni, opera, puisi, dan setiap karya dari laki-laki berkumis dengan nama Edgar Allan Poe. Dari cara Claire merebut tiket, lalu duduk di tribun dengan wajah bahagia, bisa dipastikan kalau gadis itu punya feel tersendiri pada dunia sastra.
Christian mengusap labiumnya dengan gerakan seduktif, dia sedang tidak menggoda siapa-siapa tapi wanita-wanita muda di sekitarnya melirik dengan genit. Padahal begitu jelas mata cokelat gelapnya hinggap di tempat lain.
“Kau memang berbeda dan... kenapa aku begitu penasaran padamu?” bisiknya samar, mengikuti setiap gerakan kecil yang dibuat Claire tanpa sengaja. Ketika gadis itu mendongak, menunjuk panggung, mengibas rambut dan kembali bersandar di bahu temannya. Begitu natural, menggambarkan gadis belia yang tanpa beban dan bebas.
Gadis itu benar-benar penuh kejutan.
***
Orang-orang berduyun keluar dari panggung opera. Sibuk berkasak-kusuk, tertawa dan ada sebagian yang belum bisa move on dari pertunjukan tadi. Secara keseluruhan, musikalisasi puisi dengan judul Annabel Lee cukup bagus, meninggalkan kesan manis di hati siapapun akan cinta seorang pemuda pada gadis pujaannya.
Christian berjalan menyibak kerumunan manusia, setelah pamitan singkat pada Lucy yang harus ikut briefing. Apalagi setelah ini ada pertunjukan Romeo & Juliet.
“Ya Tuhan, Frida, aku senang sekali puisi Edgar bisa ditampilkan dengan seindah dan menakjubkan seperti itu.” suara Claire kalah ditelan ocehan-ocehan lain yang memenuhi Hyde Park. Langit sudah mulai gelap, meski berkas-berkas sinar matahari masih menjejak di hamparan angkasa. “untung aku dapat satu tiket terakhir, kalau sampai aku melewatkan yang satu ini, aku yakin bakal marah-marah sepanjang hari.”
“Baguslah, aku salut perjuanganmu demi mendapatkan tiket musikalisasi puisi itu. Eh omong-omong kau dapat dari mana?”
“Merampasnya dari beruang kutub.” Apa? Christian mengeryit mendengar itu.
“Apa sih maksudmu? Memangnya kita ada di kutub utara apa.”
“Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Yang penting sekarang aku senang.” Wajah Claire menyeringai, dan dari samping kelihatannya sangat menggemaskan. Berbanding terbalik dengan kata-katanya yang kerap seenak jidat sendiri. “perutku lapar sekali, Frida. Ayo dong kita pergi ke cafe dan makan ayam goreng.” Claire memohon dengan muka melas.
“Tidak, tadi kan sudah kubilang mau ke toko Ibuku.”
“Sebentar saja, Frida, please.”
“Aku sudah izin 2 jam keluar pada Ibuku, kalau telat pasti dimarahi habis-habisan.”
“Oke deh kalau begitu,” Claire menerima alasan itu meski memberengut. “hati-hati di jalan Frida sayang.” Tangan gadis itu melambai pada temannya yang berlari menjauhi area festival. Bahu Claire langsung longgar dari tempatnya. Kepala gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu mendesah pelan, mungkin karena tak menemukan satu orangpun yang dikenalinya.
“Kabar baik setelah merampas tiket milikku?” Christian berada sejajar dengan Claire dan hampir membuat gadis berdress bunga musim panas itu terperanjat. Claire segera pasang mimik muka tak suka. Ya Tuhan, lihat cara gadis ini memusuhinya. Oke, sebut Christian gila karena tertarik pada kuncup merekah gadis yang usianya masih 15 tahun itu. Salahkan saja bibir tipis Claire yang mirip lelehan madu.
“Kau menunggu di luar?” Claire melayangkan tatapan masa bodohnya.
“Ya, dengan udara musim gugur yang cukup dingin.” Christian mengedikkan bahu.
“Sayang sekali padahal musikalisasi puisinya bagus, tapi soal insiden tiket itu aku tak akan minta maaf padamu.” Rambut panjang Claire terangkat ditiup angin, sebagian anginnya berputar di bawah kaki mereka. Christian melirik ke bawah dan mendadak rahangnya terkatup rapat melihat mini dress Claire tersibak, memerlihatkan sedikit pants yang berwarna putih.
“Tidak masalah,” Christian membuka jaket lotto cokelatnya dengan agak marah, dia sendiri heran mengapa hormonnya mendorong untuk melakukan itu semua. “sekarang yang jadi masalah adalah pakaianmu.”
“Kenapa dengan pakai—eh, apa yang kau lakukan?” tanya Claire panik, tapi Christian hanya melingkarkan kedua lengan jaketnya di pinggang ramping Clare, lalu menguncinya di depan perut. Done, bawahan Claire takkan lagi mudah ditiup angin. “eh, ini... “ kelopak mata gadis itu mengerjap-ngerjap. Takjub dan, apakah Christian sedang mencoba melindunginya?
“Apa?” Christian melotot, “rokmu itu terlalu pendek. Atau kau memang sengaja memakainya agar tangan seseorang bisa masuk ke sana?” otaknya kacau setiap kali bertatapan dengan manik hijau Claire yang membara.
“Apa sih yang kau bicarakan? Kau menghinaku? Dengar ya Aiden, mau aku pakai apa, kau tidak usah repot mengurusiku! Dan apa katamu tadi? Agar memudahkan seseorang masuk dan meremas pantatku, itu yang ada di kepalamu, huh? Kau takut itu terjadi padaku, atau kau takut kaulah sendiri yang menjadi pelakunya?” sembur Claire tak kalah tajam, mata Christian yang kini mirip laser menyipit.
“Aku akan bicara pada Gavin agar anak gadisnya tidak sembarangan keluar rumah dengan pakaian yang tidak pantas.” Christian memperkeruh. Claire memaki dan pergi, masih bersungut-sungut. Christian menyugar helaian rambutnya, merasakan sikap overnya perlahan-lahan mulai tumbuh untuk Claire Lore.
***