Chapter 3 : Damn, You!

2495 Kata
“Oke, biar aku atur semua ini.” Claire berdiri di samping ranjang yang tak terlalu besar, sementara Christian berada di seberangnya. Mereka seperti dua kubu yang saling bersengketa. Tapi bukankah memang iya? “karena aku wanita, jadi aku tidur di kasur ini, tidak peduli uang siapa yang menyewa kamarnya. Dan karena kau laki-laki, kau akan tidur di sofa itu.” Christian tak mau repot melirik sofa yang ditunjuk Claire. “Dan tak boleh ada perubahan apapun sampai aku bangun tidur.” Christian dari tadi tidak menyahut, sangat tumben mengingat dia adalah b******n arogan paling menyebalkan di dunia. Dan tanpa diduga malah membuat gerakan yang dapat melesakkan jantung Claire ke dasar perutnya. “Mau apa kau?” gadis itu terhunyung mundur karena keterkejutannya sendiri, menatap ngeri ke arah Christian yang kini tengah melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Menampakkan otot-otot tubuhnya, dan kulit cokelat yang berkilauan bagai perunggu. Christian menanggalkan pakaian begitu saja di lantai, Claire meradang setengah mati. “Apa kau sudah gila buka baju di hadapanku seperti itu?” sengatnya. “Kau tidak menutup matamu,” Christian menjawab seadanya. Langkah panjangnya anggun dan berbahaya ketika semakin dekat pada Claire. “kau bisa berbalik dan pergi, tapi kau memilih menatapku lama-lama.” Claire cemas ketika jari-jari Christian menyentuh rambutnya, dengan spontan tangan kanan Claire menutup bibirnya, dan tangan kiri menutup bagian lehernya. Tapi dengan tidak tahu dirinya mata Christian turun ke payudaranya yang mengembung karena mengambil napas cepat. “Apa yang kau lihat?” “Apa yang kau takutkan?” ekspresi Christian sedatar tembok, tapi ada gurat jenaka tersungging di bibirnya. “aku hanya ingin mandi, kecuali kalau kau bersedia bergabung denganku di dalam sana, kita bisa melanjutkan pengaturan kamar yang kau buat memakai bahasa verbal.” Claire bergidik, “in your dreams!” *** Christian tak ada di sana ketika Claire keluar dari dalam kamar mandi, jadi dia agak sedikit bernapas lega. Pasalnya Claire harus mengeringkan underwearnya untuk besok pagi dipakai kembali, dan sepanjang malam ini mungkin harus rela memakai jubah cottage saja. Tapi tidak terlalu buruk, yang penting tubuhnya tersembunyi. Sementara Claire sibuk dengan mesin pengering, dia mendengar pintu kamar berderit terbuka. Kayu yang kondisinya sudah tak baik agaknya yang menimbulkan suara itu. Kamar-kamar di cottage ini memang sudah agak tua dan kusam, tidak sebanding dengan bagian depannya yang klasik. “Apa yang kau lakukan?” Christian mengagetkannya. “Mengeringkan sesuatu.” Claire buru-buru menyembunyikan branya di samping pinggang, tapi mata awas Christian jelas sudah lebih dulu melihatnya. “Oke, aku tunggu kau untuk makan malam.” Pria itu melangkah menjauhi pintu kamar mandi. “di lantai bawah.” “Tidak,” Claire hampir berteriak. “maksudku, aku tidak punya pakaian yang pantas untuk berbaur di tengah tamu-tamu lainnya. Hampir semua milikku kucuci, kurasa jeans dan jubah juga bukan kombinasi pakaian yang cocok buat dinner, jadi aku ingin makan malam di kamar saja.” Jelasnya panjang lebar, sembari melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi. “Kalau begitu kita makan malam di kamar.” Putus Christian, meraih gagang telepon di atas nakas samping tempat tidur. “Kau bisa makan di bawah sementara aku di sini.” Usul Claire, merasa Christian tak harus mengikuti keputusannya. “Aku tidak suka makan sendirian.” Oh yeah, jangan lupakan Christian Aiden yang hobi dinner dengan banyak wanita. Tujuh wanita berbeda dalam kurun waktu satu minggu, menurut isi surat kabar yang dibaca Claire sih begitu. Di hotel bintang lima. “Kau ingin pesan apa?” Claire tampak menimbang-nimbang, “aku mau zurchergeschnetzeltes, cheese fondue dan mungkin, segelas wine?” katanya takut-takut, apalagi ketika Christian menoleh padanya dan menatapnya intens. Ada apa sih dengan mata laki-laki itu? Sihir hitam? Kenapa tubuhnya selalu tak bisa berkutik jika dipandangi lama-lama. “Wine tidak cocok untuk gadis seusiamu.” HELL, memangnya berapa umur Claire sekarang? 11 tahun? Dia 21 tahun, dan dia sudah dewasa! “Tapi tubuhku kedinginan, Aiden! Lagipula apa hakmu mengatur-ngatur aku boleh makan ini atau tidak, boleh minum ini atau tidak?” Christian kelihatannya lebih berminat pada tombol-tombol angkanya daripada mengacuhkan Claire, membuat gadis itu kesal bukan main. “Satu zurchergeschnetzeltes, cheese fondue, dan rivella.” Christian mulai menyebut pesanan mereka, “ya, rivella murni tanpa sedikitpun campuran alkohol.” Claire mencibir di belakangnya. “Lalu satu birchermuesli dan sebotol anggur.” “Itu saja. Kamar nomor 15.” Christian menyimpan kembali gagang telepon ke tempat semula, tanpa mengucapkan terimakasih pada pelayan hotel yang sudah mencatat semua orderannya. Lihat sendiri, bagaimana seluruh jiwa pria itu sangatlah arogan. Pantas saja Claire tidak betah berada di dekatnya. Gadis itu memilih duduk di sofa, bersandar nyaman dan mencoba untuk tidak terlalu stress. Tapi tiba-tiba Claire mengingat sesuatu, “by the way Aiden, mana kameraku?” telapak tangan gadis itu terulur, menunggu. “di dalamnya ada foto-foto bagus yang bisa kujadikan pameran, dan hasil dari pameran itu bisa membeli sebuah mobil yang sama seperti yang kau miliki. Jadi anggap saja kameraku seharga Lamborghinimu.” Claire menarik napas panjang setelah bicara tanpa henti. “Mana kameraku?” “Ada.” “Ada macam apa yang kau maksudkan, huh?” Claire geram, “kau buang kameraku masuk jurang, kau rusak dengan sengaja, atau kau apakan sebenarnya? Kalau memang ada padamu, mana? Aku mau kameraku!” Christian diam saja, melihatnya begitu membuat Claire tambah berang. “Jangan bilang kalau kau benar-benar membuangnya? Iya?” “Kugadaikan.” “Apa kau sudah gila?” Claire memekik, “kau gadaikan untuk apa!” “Jaminan untuk menderek mobil dan perbaikan di tukang,” Christian mengusap rambutnya dengan gusar. Dia mengakui jika bicara dengan Claire tak akan mudah. Kalau dia emosi, Claire malah semakin berapi-api. Gadis itu punya segudang perlawanan yang sulit dipatahkan. Ketika Claire terlihat hendak membalas lagi, bel kamar berbunyi, keduanya memandang bersamaan ke arah pintu. “sudahlah, kau lupakan saja dulu soal kamera. Aku malas berdebat.” Aku pun lapar, karena bicara denganmu sangat menguras energi, Mr. Flat. Claire mendengus jengkel tapi akhirnya setuju juga. Mereka harus mengibarkan bendera putih untuk sementara waktu. Dan Claire rela melakukan itu demi perutnya. Christian membuka pintu, pelayan masuk mendorong trolley. Di atasnya ada berbagai macam hidangan yang menguarkan harum campuran bumbu-bumbu. Pelayan itu berhenti di depan sofa dan menata piring demi piring di atas mejanya. Setelah mengucapkan selamat makan malam, pelayan itu membungkuk lalu undur diri. Untuk seukuran cottage kecil, nyatanya penginapan ini masih mengutamakan sopan santun terhadap para tamu. Claire tidak mau duduk terlalu dekat dengan Christian. Aura pria itu selalu tidak baik di matanya. Jahat, mendominasi, dan menyebalkan. Jadi dia memilih menjaga jarak, sebuah bantal sofa diletakkan di antara mereka. Claire melirik nampan makanan milik Christian. Di sana ada birchermuesli yang merupakan campuran dari buah dan sayur. Claire tidak tahu pasti, tapi dia melihat kombinasi antara kacang, oat, jus lemon dan s**u kental. Sebuah makanan sehat yang sangat berbanding terbalik dengan milik Claire yang berlemak. Dia pesan zurchergeschnetzeltes karena cita rasanya yang fantastis, pernah mencobanya waktu liburan musim panas tahun kemarin. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahaminya, zurchergeschnetzeltes berarti daging yang dipotong dengan gaya Zurich. Yup, makanan tradisional Swiss yang dibuat dari daging sapi dan kadang-kadang dari hatinya, dimasak dengan jamur, bawang, sedikit anggur dan krim. Sambil menyuap, sesekali Claire meneguk rivellanya yang nikmat. Minuman ini berupa campuran dari jus apel dan air mineral, cukup menyegarkan walaupun tidak bisa menghangatkan tubuh. Overall, semua hidangan ini benar-benar memanjakan lidahnya. Tidak buruk juga dia terdampar di sini. Dalam keheningan itu tiba-tiba ponsel di saku celana Christian berbunyi, pria itu merogohnya, membaca sekilas nama yang tertera di sana tepat ketika Claire meletakkan makanan pencuci mulut di atas pangkuannya. “Ibumu.” Christian menyulurkan ponselnya pada Claire. Yang diterima dengan ragu oleh gadis itu. Yah, Claire tahu Ibunya pasti cemas karena dia sama sekali belum memberi kabar. Tapi mau tak mau Claire harus bicara juga. ‘kan? Lalu, dia menggeser tombol hijau di layar. “Mum?” katanya ragu-ragu, suaranya seperti bisikan angin. “Claire? Ya Tuhan, Claire, itu kau? Kau sedang bersama Aiden sekarang? Bagaimana bisa? Nomormu tidak aktif sewaktu Mum menghubungimu berkali-kali, baru saja Mum ingin minta Aiden mencarimu tapi dia juga hilang dari villa dan—kalian pergi bersama?” seolah hal itu tidak mungkin terjadi, Gaby kedengarannya heran sekali. “Tidak, aku kecelakaan dan sangat kebetulan Aiden datang.” Claire jujur, masa bodoh dengan dampak yang akan ditimbulkannya nanti. “Apa?” Gabrielle mengambil napas tajam, “loudspeaker sekarang juga, Claire, Mum ingin dengar semuanya dengan jelas!” titah Ibunya tak bisa diganggu gugat, Claire terpaksa menurut kalau tak mau diteriaki terus-menerus. “Aiden, kau di sana?” Christian meletakkan sendoknya. “Ya, Gaby.” “Apa keadaan Claire baik-baik saja? Aku bertanya padamu karena jawabanmu pasti sangat objektif, kalau Claire sudah pasti akan berbohong.” Ya Tuhan, Ibu macam apa Gabrielle ini? Claire menggigit sendoknya ketika menyuap puding keju, menunjukkan kekesalannya di tingkat lebih tinggi. Christian menjatuhkan pandangannya pada Claire, memindai dari ujung rambut gadis itu menuju leher, jubah mandi yang agak longgar, lutut sampai kaki telanjangnya. Bukan tatapan benci, tapi isi perut Claire menggelenyar karena itu. “Dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.” “Bagaimana bisa Claire kecelakaan? Dan kau ada di sana, Aiden.” “Aku tahu Claire pakai Juke milik Richie yang harusnya diservice hari ini, jadi aku mengikutinya.” Christian mencekal lengan Claire ketika gadis itu hendak melarikan diri dari kamar mereka. Tidak mau lagi diinterogasi Gabrielle agaknya. “Oh Tuhan, Aiden, kalau tak ada kau di sana aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada si ceroboh itu.” Kelegaan menyebar dalam suara itu, sementara wajah Claire masam bukan main. “aku sudah lelah menasehatinya agar lebih bersikap hati-hati. Tapi Claire tidak pernah mendengarku.” “Aku bisa menanganinya.” Christian menjawab lempeng, membuat Claire mendengus seperti banteng betina. Menangani katanya! Apakah Claire nampak seperti pasien rumah sakit jiwa atau binatang buas? “Baiklah, kalau begitu kuserahkan pengawasan gadis bandel itu padamu, jaga dia baik-baik, Aiden. Lakukan apa saja untuk membuat dia diam.” Mata tajam Christian dengan liar menjelajah ke ikatan jubah di pinggang Claire. Imajinasinya seperti berenang-renang. “tapi tunggu—kalian tidur sekamar?” Jantung Claire hampir berhenti berdetak, takut Christian bicara blak-blakan pada Ibunya. “Tidak Gaby, kami hanya sedang makan malam bersama.” Untung Christian menjawab dengan cerdas. “Well, itu melegakan. Bagaimanapun juga kalian sudah dewasa, meski sikap Claire tidak.” Oke, Ibunya paling bisa membuat reputasinya tambah buruk di mata Christian. Tapi siapa peduli penilaian pria itu? Claire sendiri tidak! “selamat makan malam untuk kalian berdua, jangan terlalu larut naik ke kamar masing-masing.” Lantas sambungan telepon itu terputus. Claire menyidekap dengan mulut terkatup. “Jawabanmu pasti sangat objektif dan aku pasti akan berbohong,” gadis itu kentara menyinggung Christian. “wah, Mum memang sangat subjektif ya? Dia menganggap kau lebih segala-galanya dibandingkan aku. Kau yang super hebat sedangkan aku hanyalah perempuan bodoh yang harus dirantai oleh kejeniusanmu yang menyebalkan itu.” Christian nampak tenang seperti air danau. Tapi jangan salah, air yang tenang selalu menyimpan misteri jauh di dasar. Boleh jadi ada pergolakan di bawahnya sebelum buih-buih perlahan muncul ke permukaan. Dan fenomena itu ditandai dengan mendekatnya Christian ke tubuh Claire. Sangat hati-hati seolah Christian musang yang anggun. Lihat, kelinci hidup di depan pengawasannya kini mulai beringsut takut-takut. “Lalu kau mau aku bilang apa pada Ibumu?” bisikan itu seperti datang dari hutan belantara, begitu jauh namun mistis bukan main. “kita berada di kamar yang sama. Kau telanjang di balik jubah itu dan aku sama halnya denganmu. Kau ingin aku katakan itu?” Claire menelan ludah, matanya bergulir ke tubuh Christian yang terbalut jubah warna putih. Sizenya tentu lebih besar daripada miliknya, tapi masih kelihatan kekecilan karena badan Christian yang besar dan jangkung. Dan—dan—Christian tak pakai dalaman? Holly s**t! Setidaknya Claire memakai kaos singletnya. “Mundur. Sekarang. Juga.” Claire terdesak sampai ujung sofa. Ingin bangkit tapi tulang-tulang kakinya mendadak berubah bagai jelly setelah ditekan kaki Christian. “Mau apa lagi kau? Menjauh dariku atau aku terpaksa harus berteriak.” Ancamnya, jari telunjuk gadis itu teracung. Christian menyingkirkan dessert dari pangkuan Claire. Makin menyudutkan posisi mangsanya, lalu pelan-pelan naik ke atas tubuh Claire dan tanpa membiarkan Claire berpikir apa yang akan dilakukannya, bibir Christian menyerang memegang kendali. Mula-mula hanya menempelkan bibir mereka, tapi detik selanjutnya Christian melumat bibir atas dan bawah Claire bergantian. Rasa asin yang tertinggal dari krim keju di sudut bibir gadis itu membuat Christian lupa daratan. Manis, asin, dan meleleh. Dengan sepenuh gairah lidahnya menjilat dan menyapu. Kedua tangan Claire yang memberontak dikunci jari-jarinya. Claire tidak membalas, mulut gadis itu terkatup rapat-rapat. Tapi Christian tak habis akal, punya pengalaman segudang dengan banyak wanita selama bertahun-tahun membuat pria itu tahu bagaimana caranya memenangkan pertandingan. Christian menghisap bibir bawah Claire yang menggoda, lalu menggigitnya agak keras. Sebagai respon alami Claire membuka mulut, jalan masuk terbaik bagi lidahnya untuk memulai invasi. Otak pria jika dihadapkan pada situasi ini, maka isinya pasti 20 persen akal sehat, sisanya nafsu dan gairah. Lidah Christian menyeruak masuk, membelit lidah Claire yang gelagapan dan mengisapnya tanpa ampun. Menjelajahi dan menguasai rongga gadis itu yang sehangat suhu tubuhnya yang menggoda. Oh demi Tuhan, ini french kiss paling nikmat yang pernah dia rasakan seumur hidup. Christian tanpa sadar menggerakkan lidahnya seperti orang tengah bercinta sampai Claire kehabisan napas. Bunyi khas muncul ketika tautan bibir mereka terlepas dan bersatu kembali. Bibir Claire bengkak ketika Christian menyudahi ciumannya. “Hmmm, Claire—jadi ini ciuman pertamamu?” Christian menyentuhkan hidung mereka secara sensual, sepasang manik cokelat gelapnya menyebarkan euforia dan appeal yang memikat. “mengingat bibirmu penuh daya tarik, aku rasa sedikit ironis mengetahui bahwa akulah yang pada akhirnya mencuri satu ciuman panjang yang manis dan penuh hasrat darimu.” Ada kilat tersinggung di bola mata menawan Claire. Kedua pipinya yang memerah dan napas putus-putusnya menggedor akal sehat Christian agar kembali mencumbunya. Bagi Claire semua ini tidak bisa dijelaskan. Dia belum pernah ciuman bibir dengan laki-laki manapun selain anak-anak Richie. Tapi sensasinya jelas berbeda. Sialan, ini sejenis rasa nikmat yang datangnya dari dasar neraka. Panas, membakar, menggelitik dan ketika jambang pria itu menggesek berulang kali permukaan kulitnya, Claire tak sanggup lagi untuk menahan erangannya. “Shut up kau bastard b******k sekarang lepaskan aku!” Claire mendesah sembari menggeliat, mencoba melepaskan diri. Tubuhnya memberontak hebat, ia marah besar. “aku bisa laporkan perbuatan tidak menyenangkanmu pada polisi, dan kau akan mendekam di penjara selamanya.” “Laporkan saja, Lore.” Christian menggigit lembut rahang Claire, “bilang pada mereka kalau aku menciummu seperti ini,” bibir pria itu kembali pada mulut Claire yang hangat, menerobos masuk lebih dalam tanpa aba-aba. “dan menciummu di sini.” Kepalanya turun di leher Claire yang harum sabun cottage. “dengan cara seperti ini.” Christian menambahi banyak bercak merah di sana. Isi kepala pria itu berhamburan dan turun ke bagian tubuh paling bawahnya. Ini mungkin akan membuat harga dirinya hancur besok pagi. Tapi Claire sungguh tak sanggup menahan rasa malu dan marah. Kepalanya pusing dan mendadak seluruh retinanya diisi oleh kegelapan yang pekat. Claire pingsan setelah mendapatkan ciuman pertamanya! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN