Bab 10

1317 Kata
“Dhitania, Dhitania, Dhitania ... telingamu sudah dijual? Berapa harga yang kamu jual, sini aku mau beli.” Dhita merutuki kebodohannya, bagaimana bisa Dave ada di sini? Sedang apa pria itu, apa jangan-jangan Gerald memberitahu semuanya? Baru saja dia memuji-muji Gerald, tapi ternyata seperti ini. Jika perkataan atau pun pujian yang Dhita lontarkan bisa ditarik kembali, maka Dhita akan segera menarik semua pujiannya untuk Gerald. Tidak mengerti dengan sifat Dave, akhir-akhir ini pria itu sudah kelewatan. Sikap Dave mirip seperti seorang bodyguard, cocok sekali profesi itu dengannya. Seharusnya Dave menjadi bodyguard saja bukan? Pria itu ahli bela diri, badannya pun cocok. “Dave, sudahlah. Kamu terlalu posesif Dave, jangan sampai orang mengira kamu kekasih Dhita,” bela Gerald menepuk pelan bahu Dave. Dave menatap Gerald sinis, menepis tangan Gerald. “Harga dirinya baru saja diinjak-injak, dan aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.” “Oh santai, Bro. Bukankah kamu sudah membalas pria b******n itu? Kenapa sekarang kamu melampiaskannya ke Dhita? Hei, Dhita korban di sini,” ucap Gerald menasihati. Sontak saja Dhita terpekik kaget, apa maksud perkataan Gerald? “Ma-maksud Kak Gerald apa?” tanya Dhita menatap Gerald setelahnya beralih menatap Dave. Padahal Dave sudah berjanji untuk tidak berbuat apa pun pada Bian. Sejujurnya Dhita tidak masalah, itu artinya Dave menyayanginya dan pria itu ingin menghukum orang yang telah menyakiti hatinya tapi Dhita sudah berjanji pada Bian. Dave mengusap wajahnya gusar, dia duduk di sofa sambil melipat kakinya. Sementara Dhita, masih setia menunggu jawaban dari Gerald dan Dave soal masalah ini. Seketika semua terdiam, hening tanpa suara hanya ada dengungan AC yang terdengar. “Aku tidak melukainya, aku hany—” “Apa?! Apa huh? Kak Dave sudah berjanji padaku, tapi kenapa?” “Dhitania, berhenti memotong ucapan kakakmu sendiri itu tidak sopan. Bukan hanya Kakak tapi orang lain juga, hargai,” tegur Dave bangkit dari duduknya sedangkan Dhita hanya diam, menyadari kesalahannya. Dhita sering sekali berteriak atau pun memotong ucapan Dave tapi sampai saat ini Dave masih bisa bersabar. Mungkin hari ini Dave sudah merasa muak kepadanya, manusia keras kepala dan pemberontak ini pantas mendapatkan hukuman. “Ma-maaf, Kak,” cicit Dhita memilin tangannya. “Aku hanya meminta kembali semua barang pemberianmu. Sayang sekali, tidak semuanya hanya sebagian salah satunya mobil pemberianmu. Aku menjualnya lalu menyumbangkannya ke panti asuhan,” jelas Dave berjalan mendekati Dhita dengan langkah santai. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, “kamu ingat saat kamu di rumah sakit? Dia meneleponmu, dan aku yang mengangkatnya. Kamu tahu apa yang dia katakan? Dia memarahimu Dhitania. Dia mata duitan, saking mata duitannya dia menjual otaknya. Enak sekali bermain-main dengan keluarga kita.” “Ta-tapi, Kak aku udah janji,” sanggah Dhita khawatir. “Itu janjimu, bukan aku ataupun papa. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang papa pikirkan.” Gerald melirik Dhita dan Dave secara bergantian. “Memang kita gak bakal tahu apa yang sedang dipikirkan Om Davier. Seperti peribahasa ‘diam-diam menghanyutkan’ nah, itulah yang cocok untuk julukan papa kalian,” timpal Gerald sambil tertawa canggung disela-sela ketegangan antara dua bersaudara, “oh iya, Dhit. Kamu ada urusan apa ke sini?” “Hm ... itu, Kak.” Dhita melirik Dave sekilas, mengode Gerald sesuatu. Dari lirikan Dhita, Gerald sudah paham betul kode itu. “Oh, baiklah Dave apa kamu masih butuh sesuatu di sini? Kalau tidak, aku dan Dhita ingin keluar sebentar,” Gerald bertanya pada Dave, lebih tepatnya mengusir halus Dave agar Dave segera pergi dari sini. “Ke mana?” tanya Dave tak suka. “Jangan suka kepo, udah ya Dave. Kita mau ngedate dulu. Ayo Kak Gerald,” pamit Dhita menarik lengan Gerald keluar dari ruangan, meninggalkan Dave sendirian. “Dhitania!” *** “Udah happy?” Dhita mengangguk. “Makasih banyak ya, Kak. Aku pikir tadi Kakak ngasih tau Dave soal itu.” Ternyata Gerald tidak seburuk itu. Memang sedari dulu dia lebih mempercayai Gerald ketimbang Dave yang notabenenya sebagai kakak kandungnya sendiri. Gerald tertawa renyah, dia mengangkat jus jeruknya ke atas melihat ke berbagai arah dari gelas itu. Bukan karena khawatir di dalam jus ada racun atau zat berbahaya lainnya, tapi dia seperti itu karena sudah terbiasa. Dhita sudah paham betul apa kesukaannya dan apa juga hal yang dibencinya, hobi bahkan ukuran sepatunya. Tidak hanya Gerald semua sepupunya Dhita hafalkan, tidak sengaja Dhita hafalkan tapi terhafal sendiri di otaknya. “Jika aku sudah berjanji maka sudah menjadi kewajiban untuk ditepati. Kita selalu diajarkan untuk seperti itu, Dhita.” Dhita memutar bola matanya malas. “Kecuali, Davean Cowdree. Pria itu sering mengingkari janjinya.” “Bagaimana pun Dave itu kakakmu, harus sopan. Kamu tahu tidak, Dave yang paling menghawatirkan keadaanmu di antara kami semua. Jadi, mulai sekarang jangan suka bertengkar, ingat lho kalian itu udah dewasa bukan anak-anak lagi. Dalam beberapa tahun lagi mungkin kamu akan memiliki pendamping hidup,” tutur Gerald memberikan Dhita nasihat. Tiba-tiba dadanya sesak, entah karena apa. Perasaannya menjadi tidak enak, jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Semua nasihat Gerald sudah tersimpan baik-baik di dalam otak dan hatinya, tidak satu kalimat pun dia buang. Kenapa? Kenapa bisa jantungnya berdebar-debar seperti ini, apa mungkin dia memiliki riwayat penyakit jantung? “Iya, Kak. Aku usahain buat jaga sikap di depan Dave,” balas Dhita, pandangannya mengedar ke segala arah. Seketika pandangannya terhenti, ada seorang pria berhodie hitam telah menarik perhatiannya. Pria itu berdiri membelakanginya, kira-kira jaraknya tiga meter dari mejanya. Dari postur tubuh pria itu, dia menebak-nebak. Biandika! Ya, tebakannya tidak mungkin meleset, pria itu mantan kekasihnya. Pantas saja perasaannya jadi tidak enak, ternyata ada pria b******n di sini. Selama bertahun-tahun Dhita mengenal Bian, selama itu dia bisa bersahabat dengan keburukan-keburukan Bian. Benar saja, pria itu adalah Bian. Kepala pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, sampai saat ini Dhita masih memperhatikan pria itu dengan sangat detail. Di dalam hati Dhita muncul berpuluh-puluh pertanyaan terurai. Kenapa Bian ada di sini menggunakan pakaian tertutup? Biasanya pria itu selalu bersikap sok kecakepan dan memamerkan ketampanannya. Hoodie, topi dan celana jeans berwarna hitam serta masker penutup mulut dipakai oleh Bian. Sebenarnya Bian kenapa? “Ada apa Dhita? Kenapa kamu perhatiin orang lain? Kakak ada di sini lho, kamu sendiri yang pengen makan bareng sama Kakak. Kalau kamu sibuk, baiknya Kakak kembali ke rumah sakit,” sindir Gerald yang sedari tadi memperhatikan adik sepupunya, bukannya mengobrol dengannya Dhita malah fokus memperhatikan seorang pria asing. Di sindir olehnya pun Dhita masih tidak sadar, wanita itu masih menatap ke arah lain. “Dhitania!” Mendengar bentakan dari Gerald, tubuh Dhita langsung menegang, kaget. Pernafasannya menjadi tidak teratur, dia meminum jus Gerald sampai habis. Gerald berdecak sebal, kesal juga dicuekin oleh adik sepupu sendiri. “Kaget hm? Kamu mending langsung pulang aja, apa mau dijemput Dave?” Dhita menggeleng keras. “Apaan Kak, aku mau banyak ngobrol sama Kakak hari ini. Oh iya, aku mau balikin sisa uang yang Kak Gerald kasih. Kelebihan Kak.” Dhita membuka handphone-nya, telunjuknya langsung menyentuh m-banking. “Udahlah, Dhit. Pakai buat jajan, biasanya diumur segini lagi seneng-senengnya sama skincare? Beli sana.” “Kalau gak cocok ‘kan bisa merusak kulit. Lagian udah cantik juga aku, mau ngapain lagi.” “Iya juga, kamu lebih cantik natural. Kalau gitu ... buat makan, aku yakin Dave bakal susah dimintain duit.” Dhita mengacungkan ibu jarinya ke atas. “Yoi, pelit dia,” sahut Dhita kembali melirik ke tempat yang dipijaki oleh Bian tadi, tapi entah ke mana pria itu sekarang. “Nyari apaan Dhit?” “Bian,” jawabnya tanpa sadar, sedetik kemudian dia menutup mulutnya, “maksudnya bakwan, aku mau persen bakwan udang.” Sekali lagi, Dhita merutuki kebodohannya. “Silakan pesan, setelah makan Kakak tidak mau menolongmu. Berani sekali kamu memesan makanan dengan campuran udang di depanku?” Dhita alergi udang, dia pernah masuk rumah sakit karena memakan makanan bercampur udang. Setelah kejadian itu, di rumahnya tidak boleh ada yang memasak udang. Lagi pula, Dave juga tidak suka tapi bisa memakannya. “Dhita?” panggil seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN