Bab 1
"Dit, aku mau kita putus."
Bagaimana jika kekasih kalian tiba-tiba berkata seperti itu, di saat hubungan kalian dirasa baik-baik saja? Pasti kaget, syok dan tidak percaya. Seperti wanita pemilik coffe shop bernama Dithania Cowdree, hari ini dan detik ini juga kekasihnya ingin mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang sudah dijalin selama dua tahun. Kesabaran yang Ditha pertahankan dari dulu, berakhir sia-sia. Tidak ada angin atau hujan, tiba-tiba pria itu ingin mengakhiri hubungan?
Dhita menarik nafasnya panjang, lalu mengembuskannya pelan. Sebelah tangan Dhita terulur, menyentuh bahu Bian—kekasihnya. "Aku gak lagi ulang tahun, loh. Kamu gak ada alasan buat prank aku." Walau sudah menyayat hatinya, Dhita tetap berpikir positif.
Bian menepis tangan Ditha kasar. Tidak heran lagi bagi Ditha, Bian bersikap seperti ini. Kadang sikapnya baik, kadang juga kasar, kadang manis, tapi kadang juga pemarah. Kapan dan di mana sikap Bian berubah, sungguh Ditha tidak tahu kapan sikapnya berubah. Kekasarannya, kekejaman lisannya, kemarahannya, ya! Semua itu Ditha telan demi menjaga hubungannya dengan Bian.
"Aku serius. Kita putus sekarang, dan kita gak akan pernah jadi teman atau buat hubungan lain. Kita, putus," balas Bian serius. Dalam mata Bian terlihat jelas, kalau pria itu ingin sekali menyelesaikan hubungan ini.
Syok, Ditha sangat syok mendengarnya. Tidak siap dengan keputusan Bian ini. Dari kemarin, hubungannya tidak ada masalah apa pun. Bahkan berjalan sangat baik, tapi kenapa seperti ini?
"Ke-kenapa? Apa alasan kamu mutusin aku? Memangnya aku salah apa?" Ditha melontarkan beberapa pertanyaan dengan tidak sabaran.
"Aku pernah bilang, mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Nah, sama seperti waktu aku menyatakan cinta dulu, sekarang aku minta putus tanpa alasan apa pun," kata Bian dengan santainya. Kedua tangannya terlipat di d**a, angkuh. "Kalau gitu, aku pergi. Ini pertemuan terakhir kita." Pria itu berbalik kemudian melenggang pergi, meninggalkan Ditha termenung, masih tidak percaya.
Saat kesadaran dalam otak dan jiwanya kembali, Ditha ikut berlari menyusul Bian. "Bian! Apa kamu gak suka hadiah yang aku kasih kemarin?!" tanya Ditha berteriak, menahan lengan Bian agar pria itu tidak pergi. Air mata Ditha luruh, tangannya bergetar. "Aku lakuin apa pun buat kamu, aku bahkan rela mohon-mohon sama Dave buat beliin kamu hadiah ulang tahun—"
"Jadi kamu gak ikhlas ngasih aku mobil? Oke, silaka—"
"Enggak Bian! Enggak!" sanggah Ditha berteriak dengan suara serak, "bukan itu maksudku. Itu udah jadi hak kamu sekarang." Tubuh Ditha melorot ke atas rerumputan.
Bian tertawa pelan, lebih tepatnya tertawa meremehkan. Merasa hebat melihat seorang wanita dari keluarga terpandang, memohon-mohon di depannya sambil menangis. Apalagi sambil bersujud dan memeluk kakinya, mungkin kepalanya akan menjadi besar.
"Baguslah. Udah ya, aku pergi dulu. Aku harap kamu bisa hidup tanpa aku, parasit." Setelah mengatakan itu, Bian masuk ke dalam mobil setelah itu pergi dengan mobil hadiah dari Ditha.
Kedua tangan Ditha refleks mengepal ketika kata 'parasit' keluar dari mulut Bian. Bukankah yang parasit di sini itu Bian sendiri? Kapan dirinya meminta bantuan pada Bian? Jarang, bahkan bisa dikatakan tidak pernah.
Ini memang salah hatinya, kenapa dirinya terlalu cinta pada manusia seperti Bian. Sudah berkali-kali Bian memanfaatkannya dan menyakiti hatinya. Andai saja dulu, dia mendengarkan perkataan sahabatnya mungkin hatinya tidak akan sepatah ini. Sakit, sesak, syok, takut bercampur menjadi satu. Rasanya saat ini hatinya sudah mati rasa.
"Dhitania, cewek paling b**o yang pernah aku kenal. Siapa itu Ditha? Aku sama sekali gak kenal yang namanya Ditha," monolognya sambil tertawa pelan. Sedetik kemudian dia diam, kembali menangis tersendu-sendu. "Itu diri aku sendiri, Dithania si cewek bego."
***
Ditha membasuh wajahnya berkali-kali, menghilangkan bekas air mata di wajahnya. Akibat menangis terlalu lama, wajahnya kini membengkak. Bagaimana bisa dia masuk ke dalam rumah dengan kondisi wajah seperti ini?
Drttt ... drttt ... drttt
Handphone-nya bergetar, menandakan ada panggilan dari seseorang. Sekilas Ditha melirih ke arah handphone-nya, terdapat nama kontak 'Dave ngeselin' terpampang di layar handphone-nya. Kakak sekaligus kembaran Ditha, Dave. Seorang pria yang super-duper protektif. Kadang, Ditha berharap pria itu mendapatkan jadwal ke luar negeri agar pria itu tidak sering meneleponnya.
"Halo." Ditha mengangkat panggilan itu.
"Di mana?"
"Di Cafe."
"Di mana?" tanya Dave sekali lagi. Pria itu seakan tahu, Ditha sedang berbohong.
"Toilet umum."
"Ada pertemuan keluarga. Lupa?"
Masa bodo dengan pertemuan keluarga, jelas dia tidak bisa ikut ke acara itu. Dengan wajah seperti ini, pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa wajahnya sembab.
"Dave ...."
"Apa?"
"Aku lagi gak enak badan, kayaknya masuk angin. Aku boleh 'kan? Gak ikut ke acara itu?"
Seketika hening, tidak ada respons apa pun dari Dave.
"Dave? Halo?"
"Iya. Istirahatlah. Aku nanti bisa bilang sama Papa, biar aku juga gak usah per—"
"Jangan!" potong Ditha cepat, "kamu pergi aja. Aku cuma gak enak badan, mungkin minum obat langsung sembuh."
"Okay. Jaga dirimu baik-baik."
Tut
Sambungan telepon terputus. Urusan saat ini setidaknya selesai. Ditha tidak perlu takut-takut masuk ke dalam rumah, karena semua keluarganya akan pergi ke luar malam ini.
***
Terlihat sepasang kekasih sedang makan malam bersama. Lampu-lampu terhias di sekeliling restoran outdoor. Harumnya bunga menyerbak sebagai parfum alami malam ini. Lagu 'Closer-Hasley' mengalun di panggung depan, membuat sepatu high heels milik wanita berambut bergelombang itu terketuk. Wajah cantik rupawan khas Italia terlukis indah, apalagi sinar dari lampu terpantul di wajahnya. Aura kecantikannya semakin terpancar.
Gisela Anastasya, itulah namanya. Wanita keturunan Italia ini sudah menjadi kekasih Agam dari dua tahun yang lalu. Hari ini adalah hari jadi kedua tahun. Makanya, Agam rela datang dari luar kota hanya untuk Gisel. Agam itu sosok pria sempurna di mata Gisel. Saking sempurnanya, Gisel selalu menolak ajakan dari para pria. Dia menghargai hubungannya, dia bangga memiliki kekasih seperti Agam. Baik hati, humoris, penyayang, mapan, tampan dan pintar. Jika ada kelebihan, pasti ada juga kekurangannya. Agam tidak bisa meminum kopi hitam, makan makanan pedas dan dia takut dengan cicak. Hanya itu yang Gisel tahu, entah kekurangan apa lagi yang Agam sembunyikan.
"Seneng gak?"
Gisel mengangguk antusias. "Iya dong. Seneng banget. Aku kira kamu lupa dan kamu gak akan rela jauh-jauh dateng ke sini!"
Agam terkekeh, tangannya terulur mengusap-usap rambut Gisel lembut. "Untuk pacarku yang cantiknya overdosis."
Seperti biasa, gombalan dari Agam untuk Gisel. Mungkin orang lain menganggapnya biasa saja, tapi hatinya tidak biasa. Mendengar pujian atau gombalan dari Agam, hatinya langsung berbunga-bunga seirama dengan lagu yang kini berubah judul menjadi 'Best Part-Daniel Ceasar'.
"Kalau cantikku ini overdosis, nanti kamu mati dong," canda Gisel. High heels-nya masih terketuk-ketuk sesuai irama.
"Gak papa, biar aku aja yang natap wajah kamu sampai sekarat pun gak papa. Asal jangan cowok lain aja, nanti dia sekarat karena aku ajak gulat," balas Agam sambil tertawa. Tentu saja, di hidup Agam hanya ada kata bercanda. Gisel bahkan tidak bisa membedakan Agam sedang bercanda atau serius. Bagi Gisel semua sama, hidup Agam penuh warna dan Agam menjadi warna hidupnya.
"Gak mau nyanyi, Gam?" Gisel bertanya seraya meminum jus, menyisakan setengah jus di gelas. Biasa, para pasangan memesan minuman-minuman mewah beralkohol tapi beda sekali dengan pasangan ini. Agam memesan secangkir kopi s**u dengan pasta spesial dan Gisel memesan Jus Mangga dengan makanan sama seperti Agam, bedanya Gisel menambah satu porsi steak daging.
Pria itu menatap panggung berukuran kecil, di sana ada band serta vokalis yang sedang menyanyi. Seketika Agam tersenyum, pandangannya teralih ke arah sang kekasih. "Cukup kamu dan Ditha aja yang tau, seberapa buruknya suara aku. Kamu mau orang pada ngamuk? Dan pihak restoran usir kita?"
Pernah Gisel menyuruh Agam menyanyi, sebagai hadiah ulang tahunnya. Di sana ada Ditha—sahabatnya beserta kekasih Ditha bernama Biandika. Gisel tidak tahu seorang pria tampan dan terlihat sempurna, tidak bisa menyanyi. Ditha pada waktu itu sudah bersiap menutup telinganya, dan menyuruh Bian menutup telinganya juga. Ternyata Agam memang tidak bisa bernyanyi, suaranya cempreng.
Gisel tertawa mengingat itu semua. "Tapi jujur, aku kangen denger suara kamu. Siapa tau ‘kan ada perubahan?"
"Piribihin," balas Agam menye-menye, menirukan suara Gisel. Wanita itu mendengkus kesal, memukul lengan Agam keras.
"Jangan ngeselin. Ini hari spesial."
"Bukannya aku setiap hari ngeselin?"
Gisel tidak menggubris ucapan Agam. Dia membuka handphone-nya, berpura-pura kesal pada Agam. Bukannya dibujuk, Agam malah ikut bermain handphone. Sedikit-sedikit, Gisel melirik Agam. Semakin kesal saja melihat Agam seperti itu.
"Ditha!" seru Agam, bangkit dari duduknya.
Gisel menatap Agam khawatir. "Kenapa Ditha?"
"Ini." Agam menunjukkan handphone-nya ke hadapan Gisel. "Bian kurang ajar!"
Gisel melihat sebuah postingan yang baru saja dj post oleh Biandika--kekasih sahabatnya, Ditha. Di dalam postingan itu tertulis hal yang sangat mengesalkan. Refleks tangan Gisel mengepal handphone.
"Bener kata kamu, Bian emang dasarnya kurang ajar," desis Gisel kesal," aku gak tau kondisi Ditha gimana, astaga. Anak itu cinta banget sama Bian." Gisel mengusap wajahnya gusar.
"Tenang, aku punya cara supaya si b******k Bian nyesel."
"Apa?"
"Sini." Agam berdiri mendekati Gisel lalu membisikan sesuatu. Setelah selesai, Agam mengecup pipi Gisel cepat membuat wajah Gisel langsung merona.