Bab 2

1324 Kata
  Seperti orang patah hati pada umumnya, kini Ditha pun merasakan hal tersebut. Menangis sepanjang malam di balik selimut tebal. Kamarnya tidak kedap suara, menangis kencang bisa mengundang keluarganya datang ke sini. Semuanya akan kacau, tatkala mereka tahu apa yang terjadi. Terutama Dave, orang yang sudah beberapa kali dia susahkan hanya karena satu orang b******k, yaitu Biandika.  Drtt ... drtt ... drtt Handphone-nya bergetar beberapa kali. Suaranya semakin nyaring, tapi Ditha abaikan. Dua kali, Ditha masih mengabaikannya dan—ketiga kalinya, Ditha menyibak selimut lalu mengambil handphone di atas nakas. Tertera nama kontak 'Agam soken' di layar handphone-nya. Ditha menghapus air matanya, beberapa kali menarik dan mengembuskan nafasnya. Ragu, Ditha menggeser icon hijau ke samping, meletakan handphone-nya ke telinga. "Dit?" Ditha diam. "Ditha? Dith? Are you okay? Jangan diem b*go, gak tau aku khawatir?" "Apa?!" jawab Ditha ketus. Kini Agam—sahabatnya—diam. "Jujur aja, aku sedih denger suara kamu. Ngomong-ngomong, hubungan kamu sama Bian gak papa 'kan?" "Aku putus," jawab Ditha jujur, sekuat tenaga Ditha menahan tangisannya. Seketika suasana menjadi hening, hanya ada suara detik jam dinding dan dengungan AC. Bersamaan dengan itu, dadanya semakin terikat, sesak. "Dit, Aku minta sesuatu boleh?" Ditha tidak menjawab. "Aku minta jangan buka sosmed." Yeah, sosial media. Pasti Bian berulah. Bian itu selebgram, followers itu sudah mencapai satu juta pengikut. Apa pun masalahnya, Bian selalu bercerita di sosial media. Selama ini Ditha sabar dijadikan bahan gosip yang jelas-jelas dirinya bisa melihat semuanya. Kalau pencandu n*****a akan candu pada n*****a, gamers akan candu pada game maka Bian candu dengan sosial medianya. Tiada hari tanpa posting foto. "Dit?" "Aku gak papa. Jangan bilang ke siapa-siapa soal ini, terutama Dave." "Bener gak papa 'kan?" Tut Ditha langsung menutup panggilannya. Penasaran dengan apa yang Bian posting, Ditha mencari akun milik Bian dan—ketemu! Akhirnya! Gue bebas. Gak ada lagi yang tanya ini itu, gak ada lagi yang ngekang gue. Pokoknya gue bebas. Sumpah ya, ngakak aja gitu pas gue bilang putus. Masa mantan pacar gue nangis-nangis bahkan meluk kaki gue. Kasian si, tapi ya gue udah bosen banget sama dia wkwk. Beberapa bulan lalu gue kasih kalung, tapi gue ikhlasinlah biar buat kenang-kenangan. Membaca caption-nya saja sudah membuat kemarahan Ditha memuncak. Tergambar foto dirinya dan Bian yang di cut hingga memperlihatkan sepotong badan saja. Ada gambar coretan tinta pena elektronik, membuat gambar itu setengah tak tampak. Kalung yang bahkan harganya tak seberapa dibanding mobil pemberiannya, dibanding jam tangan, sepatu dan baju branded. Selama pacaran ini, Ditha hanya dibelikan bunga dan sebuah kalung.  Air matanya yang sedari tadi terus mengalir, sekarang air itu tiba-tiba surut tergantikan oleh amarah membeludak. "Kurang ajar," desis Ditha menghapus air matanya. Mengapa dia bertemu dengan orang seperti Bian? Padahal banyak sekali orang baik di dekatnya tapi matanya selalu tertutup. Tiba-tiba suara derap langkah kaki menuju kamarnya terdengar. Mata Ditha sontak membulat, kelabakan. Ada seseorang yang ingin datang ke kamarnya, antara ayahnya atau Dave. Suara langkah kaki mereka berdua tidak bisa dibedakan, sama. Ada dua opsi yang bisa Ditha lakukan, menonton drama atau pura-pura tidur. Kalau pura-pura tidur, pasti akan ketahuan juga. Tok. Tok. Tok "Dithania!" panggil seseorang sambil mengetuk pintu. Cepat-cepat, Ditha membuka laptopnya, memutar salah satu drama Korea kemudian membuka pintunya. Saat pintu terbuka, tampaknya saudara kembarnya, Dave. Kening pria itu berkerut, menatap adiknya penuh bertanya. Di tangannya sudah ada nampan berisikan secangkir teh hangat.  "Nangis? Kenapa?"  Ditha menunjuk ke arah laptopnya. "Nonton." Dave masuk ke dalam kamar Ditha. Matanya sibuk mengedar, memandang ke segala arah. Dia tampak seperti detektif, yang mencari barang bukti. "Dave, kamu pulang duluan?" "Iya. Khawatir kamu kenapa-kenapa." "Kamu bisa balik lagi, aku gak papa," ucap Ditha meyakinkan. Kondisinya baik-baik saja, tapi hatinya yang tidak baik-baik saja. Dave menatap kembarannya datar. "Kamu nyuruh aku pergi? Aku semakin percaya, kamu menyembunyikan sesuatu." Ditha menggeleng keras. Tebakan Dave memang tidak pernah meleset. Kadang Dave menjadi kakaknya, kadang teman, kadang juga musuh. Sikap protektif Dave yang Ditha sangat benci. "Enggak!" "Enggak," gumam Dave meraih handphone Ditha di atas kasur. Sontak Ditha terkejut, bagaimana bisa dia tertipu oleh tipu daya Dave. Wajah Dave menunjukkan seolah-olah pria itu percaya, tapi tiba-tiba pria itu mengambil handphone-nya. Ditha mencoba meraih handphone-nya, sedikit berjinjit agar tingginya sejajar dengan Dave. "Minum tehnya, setelah itu tidur. Papa sama Mama kemungkinan menginap di sana." "Dave HP!" teriak Ditha, masih berusaha meraih handphone-nya. Dave tersenyum miring. "Ingat selalu, Dithania. Aku, Davean Bhatia Cowdree, tidak akan mudah dibohongi. Jadi mengalah saja, turuti apa yang aku minta tadi." Dave berbalik hendak pergi dari kamar adiknya. "Dave! HP-ku!" ketus Ditha, "aku bukan anak kecil lagi, yang HP-nya harus diperiksa-periksa!" Dave berbalik lagi, dia mengangkat jari telunjuknya ke hidung. "Shtt, udah malem. Tidur yang nyenyak, aku gak akan ganggu-ganggu kamu malam ini," kata Dave, setelah itu pergi dari kamar adiknya. Sebelum benar-benar pergi, Dave terlebih dahulu mengunci kamar adiknya hingga menimbulkan suara dua klik yang artinya sudah terkunci. "DAVE!" teriak Ditha. Dia menjambak rambutnya frustrasi. "Mampus. Aku bakal disemprot." *** Sudah satu jam lamanya Gisel mondar-mandir tidak jelas. Sesekali berhenti tepat di jendea kamar yang sudah tertutup tirai putih transparan, memperlihatkan suasana luar. Jendela kamarnya terdapat dua tirai, tirai pertama berwarna putih transparan dan kedua berwarna pink pastel. Sampai semalam ini, Gisel belum juga menutup tirai kedua. Hal yang orang-orang takutkan, tidak terjadi pada Gisel. Malahan Gisel tidak percaya pada hal-hal berbau mistis. Dalam pikiran Gisel saat ini adalah sahabatnya, Ditha. Bagaimana kondisinya? Apakah wanita itu baik-baik saja? Tidak, Ditha tidak mungkin baik-baik saja setelah dengan lancangnya Bian—pacar Ditha—memposting curahan hatinya. Dia saja sampai kalang kabut, marah, sangat marah. Rasanya dia ingin mendatangi Bian dan menamparnya menggunakan high heels merah jambu kesayangannya. Saat dirinya marah, tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali Agam tentunya. Gisel meraih handphone-nya lalu menatapnya dengan saksama. Beberapa menit lalu Agam meneleponnya, menceritakan bahwa kondisi Ditha sedang tidak baik-baik saja, terdengar dari suaranya. Ditha memang kuat, bahkan sangat kuat. Wanita itu mampu bersabar sampai dua tahun menghadapi Bian, tapi Gisel takut Ditha akan melakukan hal bodoh. Persetan dengan artikel dan berita yang dia baca, mengatakan ada korban bunuh diri karena depresi akibat putus cinta. "Telepon jangan? Telepon jangan? Telepon jangan?" Gisel menimang-nimang, memperhatikan beberapa digit nomor milik Ditha. "Oke telepon!" putusnya seraya menekan icon panggilan. Matanya tertutup, jantungnya berdebar-debar tak karuan menunggu Ditha mengangkat teleponnya. Dan ... tersambung! "Halo Dit! Kamu gak papa 'kan? Kamu harus gak papa, besok aku mau ketemu kamu." Tidak ada jawaban. "Dit, Bian bukan cowok baik. Lebih baik kamu cepet move on, dia gak—" "Maksudmu apa?" Deg Ini bukan suara Ditha, tapi Dave! Seketika dia terdiam cukup lama. Menetralkan degupan jantung yang semakin memberontak. Betapa bodohnya dia, sejak tadi nyerocos padahal tidak tahu itu Ditha atau bukan. Kenapa bisa handphone Ditha ada di Dave? Apa Dave sudah tahu semuanya? "Siapa? Ini siapa?" Dave bertanya curiga. "Gi-Gisela, Dave! Sahabat Ditha." Tidak ada respons apa pun. "Hm ... Dave, bagaimana kondisi Ditha?" "Sudah baikan. Dia sedang tidur sekarang." "Oh, syukurlah." Tut Dave mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Gisel masih di posisi awal, memandang ke depan dengan tatapan datar. Merutuki segala kebodohan yang telah dia lakukan. Sepertinya, Dave tidak tahu dan mungkin setelah mendengar suaranya tadi Dave jadi tahu. Keluarga Ditha sangat menyeramkan, kecuali Ditha dan ibunya. Pernah dua kali bertemu dengan Dave tidak secara langsung, misal berpapasan saat dia mampir ke rumah Ditha. Auranya, wajah dan juga suara, semuanya benar-benar menyeramkan. Apalagi ayah Ditha, dua kali lipat menyeramkan dari Dave. Menyeramkan bukan berarti memiliki wajah buruk rupa, ketampanan mereka berdua tidak bisa diragukan lagi. Hanya saja tatapan, cara bicara, dan sifatnya menyeramkan, jujur saja dia takut. "Gisela bodoh!" Gisel melempar asal handphone ke atas kasur. "Bodoh! Bagaimana Ditha? Dave pasti marah." Gisel menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, masuk ke dalam bed cover mencari kehangatan. Dia tidak bisa memikirkan kondisi Ditha sekarang. Dave sekarang sudah tahu, mungkin pria itu akan mengamuk dan mendatangi Bian. Ah, biarlah, biar saja Bian hancur dipijak Dave. Rasakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN