Bab 3

1555 Kata
Secangkir teh hangat menemani aktivitas Dave malam ini. Ditemani dengan setumpuk berkas-berkas. Setahun lalu, Dave sudah mendapatkan gelar sarjananya. Kedua orang tuanya terutama ayahnya, ingin Dave melanjutkan studinya agar bisa meraih gelar magister. Watak Dave keras kepala, jika dia sudah berkeinginan maka dia harus mendapatkannya. Dave ingin mempelajari seluk beluk perusahaan milik ayahnya, sedikit-sedikit belajar memimpin perusahaan itu. Kata orang dia mirip sekali dengan ayahnya, bahkan hampir mirip. Memang hampir 80% dia mirip dengan ayahnya, jalan pikirnya pun sama dengan beliau. Beda dengan Ditha—kembaran sekaligus adiknya—kemiripan wanita itu lebih condong ke ibunya. Lahir di keluarga ini merupakan kebanggaan bagi Dave. Tidak semua orang bisa seberuntung dirinya, merasakan kemewahan sejak kecil. Kekayaan yang mungkin sampai tujuh generasi tidak akan habis. Keluarga lengkap, pendidikan terbaik, pekerjaan yang layak dan kasih sayang. Walau begitu, dalam hati kecilnya mengatakan kalau ada sesuatu yang kurang. Bagi Dave keluarga adalah hal terpenting bagi hidupnya. Dia rela kehilangan semuanya, tapi dia tidak rela kehilangan salah satu anggota keluarganya. Rasa ketakutan selalu muncul dalam relung hatinya. Sekuat apa pun Dave, setangguh apa pun Dave, dia tidak bisa kehilangan mereka. Saat mendengar suara Ditha di telepon tadi sore, Dave sudah tahu wanita itu sedang ada masalah. Dia sangat ingin adiknya itu terbuka padanya. Apa pun itu, entah itu masalah besar ataupun kecil. Menunggu sampai siap bercerita, sepertinya Ditha tidak akan bercerita sampai kapan pun. Ditha tipe wanita kuat, wanita itu tidak akan menangis ketika masalah yang dihadapinya kecil. Masih penasaran mengenai masalah adiknya, akhirnya Dave memutuskan untuk pulang lebih awal dan melihat kondisi adiknya. Benar saja, Dave melihat wajah Ditha membengkak dan di sudut matanya ada sedikit air mata. Bukan kecurigaan lagi, ini sudah nyata di depan mata. Ditha tidak akan berbicara sebelum Dave menemukan bukti atau sesuatu yang berhubungan, kenapa adiknya menangis. Drtt ... drtt ... drttt Suara handphone bergetar membuat aktivitasnya seketika terhenti. Dave melirik, menatap handphone bercase abu-abu polos. Tertera nama kontak 'Gisela' di layar handphone milik adiknya. Tangannya terulur, mengambil handphone itu kemudian mengangkat panggilannya. "Halo Dit! Kamu gak papa 'kan? Kamu harus gak papa, besok aku mau ketemu kamu." Suara wanita mulai terdengar, seperti terburu-buru. Benar ternyata, ada sesuatu pada adiknya. Bahkan temannya pun tahu itu. "Dit, Bian bukan cowok baik. Lebih baik kamu cepet move on, dia gak—" Tunggu? "Maksudmu apa?" tanyanya, mulai bersuara. Jadi? Masalah pria? Seketika wanita itu terdiam. "Siapa? Ini siapa?" "Gi-Gisela, Dave! Sahabat Ditha." Dave terdiam sesaat. "Hm ... Dave, bagaimana kondisi Ditha?" tanya wanita itu. "Sudah baikan. Dia sedang tidur sekarang." "Oh, syukurlah." Tut Dave langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak, kemudian beralih ke akun sosial media milik Ditha. Saat dibuka, tampaklah sebuah postingan yang entah mengapa Dave tertarik untuk membacanya. Keningnya sedikit berkerut, rasa ingin tahu pun muncul. Dia meng-klik akun si pemilik postingan tadi, dan melihat-lihat beberapa postingan. "Sial," umpat Dave ketika matanya melihat sebuah postingan ucapan rasa bahagia memiliki mobil terbaru. Dia baru ingat sesuatu, beberapa hari lalu dia melihat sebuah story di sosial media adiknya. Ada gambar mobil, dan pita. Waktu itu Dave tidak bertanya, mungkin adiknya ingin membeli mobil baru. Ternyata, membeli mobil untuk pria ini. "Kurang ajar." *** Sudah jam sepuluh pagi, tapi Ditha belum keluar dari kamarnya. Ibu dan ayahnya bertanya, mengapa dia tidak keluar untuk sarapan dan Ditha menjawab kalau dirinya masih sakit. Tepat di jam sepuluh pagi, tiba-tiba Dave masuk ke dalam kamarnya. Tanpa berbicara dulu, pria itu langsung menarik Ditha keluar kamar. Sangat kencang sampai-sampai Ditha mengeluh kesakitan. Dave berhenti, memutar tangan Ditha tanpa ada rasa iba sedikit pun. Pria itu mengunci pergerakan Ditha, membuat wanita itu menjerit kesakitan. Katakan saja Dave tidak punya hati, memberlakukan adiknya sendiri seperti ini. Sesuatu pasti terjadi, ya, sesuatu hal besar sampai membuat Dave semarah ini. "Dave, aku kesakitan. Lepas Dev," pinta Ditha memelas, mencoba bergerak untuk melepaskan diri. Semakin lama Ditha berontak, semakin pula Dave mengencangkan cekalannya.  "Kamu tau ‘kan kenapa aku kayak gini?" Ditha menelan salivanya kasar. Lupa handphone-nya semalam diambil Dave. Pasti pria itu sudah mengutak-atik handphone-nya. Sekarang, matilah dia. Pantas saja Dave seperti ini. "Ta-tau, lepas atau aku bilang Papa?" ancam Ditha, perlahan cekalan Dave mengendur. Dave melepaskan Ditha bukan karena takut, tapi karena Dave yakin Ditha akan bercerita jujur. "Maaf, Dev," cicit Ditha menyesal. Kepalanya tertunduk, tidak berani menatap Dave. Dulu Ditha mati-matian membuat Dave, ayah dan ibunya percaya kalau Bian adalah pria baik. Sekarang, semuanya terungkap. Ditha bahkan malu menampakkan wajahnya lagi di depan keluarganya terutama Dave. Bian sudah membuat matanya tertutup. Bukan hanya mata, telinganya pun sudah tertutup oleh Bian. Kata-kata cinta serta kejutan-kejutan kecil yang membuatnya berbunga-bunga. Di balik itu, Bian selalu meminta pertolongannya. Dengan senang hati, dan termakan oleh tipu daya Ditha selalu membantunya. Sudah berapa banyakkah uang yang Ditha habiskan untuk pria itu? Mungkin sudah tak terhitung saking besarnya. Sekali berbohong, pasti akan menimbulkan efek candu untuk selalu dan terus saja berbohong. Satu kebohongan, akan ditutupi dengan kebohongan lain, begitu seterusnya hingga suatu hari kebohongan terungkap dan menghancurkan semuanya. Saat ini, Ditha tidak bisa mengelak apalagi berbohong. Wajahnya sudah tertutup oleh lumpur. Sedikit pun, Ditha tidak mempunyai keberanian. Dia mengakui semua kesalahannya, dan dia juga akan menerima konsekuensi yang telah dia perbuat. Dave tertawa terbahak-bahak. Sesungguhnya, Dave tidak pernah tertawa selebar itu. Ditha menganggap itu sebagai tawa monster bukan kakaknya. Setelah puas tertawa, Dave mengangkat dagu Ditha agar wanita itu mendongkak menatap ke arahnya. "Seharusnya aku merekam detik-detik kamu memohon meminta uang padaku. Merengek-rengek seperti anak kecil, cih." Air mata Ditha tiba-tiba mengalir tanpa adanya perintah. Kepalanya kembali tertunduk, tidak bisa berlama-lama menatap kemarahan sang kakak. Mengingat tempo hari merengek meminta uang pada Dave membuatnya malu. Dia memohon-mohon hanya untuk pria b******k seperti Bian. "Demi pria itu kamu bertindak gila. Benar-benar gila! Aku berpikir, kamu ini anak siapa? Mana ada keturunan dari keluarga Cowdree bisa sebodoh ini!" Dave menekankan kata 'bodoh' di kalimat terakhirnya. Hati Ditha tergores, sakit sekali rasanya mendengar kata-kata Dave. Sebelum puas, Dave tidak akan pernah berhenti. Apalagi kalau dirinya nekat menjawab saat pria itu sedang marah. Entah, apa yang akan terjadi pada dirinya. "Mulai sekarang, kamu gak akan pacaran. Aku atau papa sendiri yang akan mencari calon, jika memang kamu mau cepat-cepat men—" "Dave," sela Ditha, memberanikan diri menatap Dave. "Aku lagi ngomong, Dithania. Jangan potong ucapan aku!" bentak Dave membuat Ditha terkaget. "Dave? Ada apa?" tanya seseorang, refleks Ditha dan Dave menoleh. Di sana ada Davier dan Aletha, orang tua mereka berdua. Davier berjalan ke arah Dave, diikuti dengan Aletha dari belakang. Raut wajah mereka berdua penuh dengan tanda tanya. "Iya? Kenapa Ditha? Dave?" Aletha juga menimpali dengan pertanyaan, melirik Ditha kemudian beralih menatap Dave. "Ma, Pa, semaleman Ditha menangis. Dia bilang kalau dia sakit 'kan? Dia cuma bohong, dan Papa sama Mama tahu kenapa Ditha menangis?" ungkap Dave melirik sinis adiknya, "Biandika, pacar dia ternyata penipu. Beberapa hari lalu Ditha minta uang dalam jumlah yang lumayan besar. Aku pikir dia ingin membeli mobil baru, ya, memang dia membeli tapi untuk kekasihnya. Mobil mewah keluaran terbaru." Davier menatap putrinya serius. "Benar itu, Dithania?" tanyanya dibalas anggukkan lemah oleh Ditha. "Ini semua salah Mama. Kenapa Mama dukung Ditha? Sekarang lihat, dia seperti orang gila sekarang. Semua uang tabungan yang dia punya sudah habis tak tersisa. Dia emang bodoh!" "Cukup Dave!" teriak Davier membuat Dave bungkam. Dia menatap putrinya lekat-lekat, di dalam matanya tersimpan kemarahan besar. Sebaik mungkin dia tidak memperlihatkan kemarahan di depan anaknya. "Cinta memang buta, dan dia sudah buta. Tugas kita hanya satu, membuat dia bisa melihat apa yang baik dan buruk. Bagaimana Dave?" Rahang Dave mengeras, dadanya naik turun. Sekarang kemarahannya  bukan lagi tertuju pada adiknya, melainkan pada orang yang telah berani menyakiti adiknya. Lebih baik dirinya sendiri yang membuat adiknya menangis daripada orang lain yang dengan seenaknya membuat adiknya bersedih. Kesedihan adiknya adalah kesedihannya juga dan kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaannya juga, begitu sebaliknya. "Mama tidak tahu, Bian akan seperti ini. Sebenarnya Mama ingin kebahagiaan Ditha," ucap Aletha merasa bersalah. Wanita paruh baya itu menangkup wajah Ditha, lalu dia menghapus air matanya. "Kak Dev, aku ... aku janji, aku janji akan segera mengembalikan uang yang aku minta kemarin," ucap Ditha yakin. "Memangnya aku membutuhkan uang? Aku marah padamu bukan karena uang, tapi pria itu. Bisa-bisanya kamu buta! Aku sudah bilang puluhan kali, pria itu bukan pria yang baik," balas Dave kesal. Saking kesalnya dia ingin menampar wajah adiknya. "Karena kamu salah, jadi Papa kasih kamu hukuman," kata Davier dingin. "Ya, harus," timpal Dave. "Kartu kredit Papa ambil. Kami tidak akan memberikan uang sepeser pun padamu kecuali kamu memintanya sendiri pada kami, beserta alasannya. Fokus saja pada dirimu sendiri, jangan berpacaran. Kalau kamu mau, kami akan memilihkan calon untukmu," tegas Davier tak menerima bantahan. Dia tahu putrinya tidak sepenuhnya bersalah. Di sini yang bersalah hanya mantan kekasih Ditha. Kabur setelah Ditha memberikan hadiah mahal. Tidak tahu saja, siapa yang telah ditipu. "Hanya itu?" Dave bertanya, dengan raut wajah tak terima. Aletha sedikit mendorong tubuh Dave bercanda. "Oh ayolah, Dave. Kamu ingin adikmu sendiri mendapat hukuman besar? Kakak macam apa kamu?" tanyanya ketus, sambil berkacak pinggang. "Jika kamu belum puas, Dave. Kamu bisa menghukumnya, dalam batas wajar. Kami pergi." Davier menepuk-nepuk bahu putranya setelah itu pergi, diikuti dengan Aletha dari belakang. "Inget, Dave. Batas wajar, Mama akan menghukummu kalau kamu melukai putriku," ancam Aletha sebelum wanita itu pergi menghilang di balik dinding, begitu pun Davier. "Bagaimana, Ditania?" Oh, Tuhan. Bagaimana ini?!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN