Bab 12

1777 Kata
Suara alunan dari lagu mengalun dengan energic, di layar televisi menampilkan gerakan-gerakan ringan khusus untuk anak seusia Queen. Dhita menyetel lagu dengan sangat keras, seolah pendengaran di rumah ini hanya berlaku untuknya dan Queen. Lagi pula di rumah ini hanya ada dirinya, Queen dan Dave, kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota—sepertinya bulan madu untuk yang ke sekian kalinya. Davier sudah tidak perlu repot mengurus perusahaan, toh ada Dave yang mengambil alih. Di usia Dave yang masih terbilang sangat muda, pria itu mampu menggenggam semuanya. Kata orang, selama darah keluarga Cowdree mengalir di tubuh, percayalah orang itu tidak akan mengalami kesulitan finansial. Terdengar mustahil, tapi memang ini nyatanya. Queen bergerak lincah, mengikuti gerakan di televisi sementara Dhita sudah tepar di karpet lembut. Terbuat dari apakah Queen ini, sedari tadi bergerak tidak penat dan tidak sekalipun anak itu beristirahat sedangkan Dhita, ini kali ketiganya dia beristirahat. Melihat anak kecil membuat hati Dhita tenteram, masalah apa pun itu pasti akan terlupakan ketika bertemu dengan anak kecil. Apalagi anak kecil seperti Queen, sudah imut, lucu, periang, mandiri dan pintar. Dia berharap suatu saat nanti Dhita memiliki anak seperti Queen. “Aunty Dhita payah! Surakin Aunty Dhita, masa kalah sama anak kecil!” Queen berseru, membuat tabung dari telapak tangannya kemudian di dekatkan ke mulut seolah itu pengeras suara. “Astaga apa ini?! Berisik! Dhitania!” teriak seseorang keras, menggema di ruangan ini. Bisa saja suara orang itu terdengar sampai satu kompleks. Dhita bangun dari posisi tidurnya dan Queen langsung bersembunyi di balik tubuh Dhita takut. Suara langkah kaki terdengar semakin keras, mendekatinya. Dave berdiri sambil melipat kedua tangannya di d**a, menatap adiknya sekilas lalu beralih menatap televisi yang masih bersuara keras. Baru saja Dave menapaki rumah ini, dia sudah diganggu oleh suara bising. Kepalanya sampai pening mendengar ini semua, teriakan dan suara lagu mencampur menjadi satu. “Kenapa berisik? Kamu mau cosplay jadi anak kecil? Gak bahagia kamu?” omel Dave tangannya gatal ingin menjewer telinga adiknya. Dari pagi sampai saat ini, Dave masih bersabar. Di dalam benaknya sudah tersusun rapi omelan untuk adik tercinta. Takut-takut Queen keluar dari tempat persembunyian, memeluk lengan Dhita dari samping. Dhita berdecak sebal, dia mengusap-usap kepala Queen—menenangkannya karena dia yakin sekali Queen takut melihat wajah sangar Dave. Sejak kecil, tatapan Dave memang seperti itu, entah sedang marah atau pun biasa saja. Bahkan tebakan Dhita saja sering salah, menebak mood Dave sedang baik atau buruk. “Siapa anak itu, Dhita?” “Bisa biasa aja gak ngomongnya? Kamu itu nakutin Queen!” teriak Dhita kesal, berbicara baik-baik dengan Dave tidak ada gunanya. Dave hanya bisa mendengar ketika dirinya berteriak. Dave menatap Queen datar sedangkan yang ditatap semakin ketakutan. “Aunty ...,” cicit Queen. “Bisa biasa aja gak natap Queen-nya?” “Lebay amat, aku natap dia biasa aja kok malah sewot. Yaudah kecilin tuh suaranya, aku mau istirahat sebentar,” balas Dave sambil mendengkus kesal. Pria itu berbalik, hendak pergi dari ruang keluarga tapi dicegah Dhita. “Apa?” “Tadinya aku gak mau izin, tapi nanti kamu marah-marah.” “Apa?” “Hari ini aku mau ke mall sama Queen, boleh ‘kan?” “Besok, udah malem.” “Yaudah yang penting aku udah bilang, mau kamu izinin atau enggak kita akan keluar!” final Dhita, tidak ingin di sanggah lagi. Dave mengerutkan keningnya. “Kita?” Dhita mengangguk antusias lalu menjongkokkan sedikit badannya. “Kita, aku dan Queen. Tos dulu!” Dhita bertos-ria dengan Queen, disambut suara tawa dari Queen. “Enggak, enggak bisa. Kalau tetep maksa aku ikut.” “Dih? Mauan,” ledek Dhita sedikit menjauhi Dave. “Aku ikut atau aku gak akan izinin kamu keluar malam ini. Kamu ‘kan tahu, aku suka banget jadi kompor di depan papa.” Okelah, Dave akhirnya mengaku, sesungguhnya pria itu adalah kompor. *** Dengan setengah hati, Dhita mengizinkan Dave ikut dengannya. Sebenarnya Dave sangat tidak suka ikut berbelanja seperti ini. Dulu ketika ibunya memaksa Dave ke mall, pria itu berpura-pura sibuk dengan urusan kantor padahal dia asyik makan-makanan dengan kakak sepupunya. Hanya Dhita yang tahu, jika ibunya tahu kalau Dave hanya beralasan untuk menghindari permintaannya, dipastikan ibunya akan merajuk selama satu minggu. Dhita mengajak Queen berbelanja pakaian, membelikan Queen boneka-boneka lucu dan terakhir makan-makan di restoran dekat mall. Seperti bodyguard Dave mengikuti ke mana pun Dhita dan Queen pergi, tanpa berkomentar apa pun. Dhita sangat yakin sekali, kalau Dave sedang bergerutu sekarang. Dave melirik arlojinya sekilas lalu mengambil handphone yang ternyata sudah ada beberapa panggilan tidak terjawab. Dhita mengangkat tubuh Queen, mendudukkan gadis kecil itu di kursi. “Ada apa, Dave?” “Aku ada urusan penting, kamu pulang ya? Aku akan langsung pergi,” kata Dave, nadanya terdengar sangat cemas. “Dave ...? Ada apa?” “Nanti aku jelaskan, aku pergi duluan. Jaga diri kamu baik-baik, aku akan menelepon supir untuk menjemput kalian. Bye.” Sebelum pergi Dave mengecup pipi Dhita singkat lalu berlari meninggalkan Dhita dan Queen. Dhita menatap punggung Dave yang sudah menjauh dan hilang bak ditelan bumi, melihat wajah khawatir Dave sepertinya masalah besar. “Kenapa Om Dave pergi, Aunty?” tanya Queen sambil memegang sendok dan garfu. Dhita menggeleng. “Katanya ada urusan. Yaudah Dhita sayang, kita makan yuk! Perut Aunty udah disko-disko nih!” “Asik, makan banyak! Queen boleh gak mesen cake lagi? Soalnya Queen suka banget sama cake ini!” seru Queen kegirangan sambil menunjuk ke piring berisikan cake cokelat. “Haduh, nanti sakit perut kalau kebanyakan. Nanti mama kamu ngomel ke Aunty!” Queen melirik ke kanan dan kirinya kemudian meletakan jari telunjuknya di hidung. “Shtt ... Aunty jangan bilang-bilang, kalau Aunty gak berisik mama gak akan tau.” Dhita mendekatkan wajahnya ke arah Queen. “Oho, jadi Aunty gak boleh berisik ya?” “Iya! Gak boleh berisik! Shtt ....” “Kalau Aunty berisik, Queen mau ngapain Aunty?” Gadis kecil itu mendengkus kesal, memakan steak daging tanpa berbicara apa pun lagi tanda merajuk. Dhita terkekeh lucu, lihatlah bagaimana lucunya gadis kecil itu. Tangan kecil Queen berusaha memotong-motong steak, terlihat gadis itu sangat kesusahan memotongnya. “Kalau Aunty berisik, Queen mau jadiin Aunty ikan bakar,” ancam gadis itu menodongkan garpu ke arah Dhita. “Aish, anaknya siapa si hm? Mau gak jadi anaknya Aunty aja?” tanya Dhita bercanda, dia meraih piring Queen, “sini Aunty bantuin motong.” “Aunty, Aunty ... Queen itu lahir di rahim Mama Cantika, mana mungkin Queen jadi anak Aunty Dhita. Kata mama kalau gak itu-itu sama cowok gak bakal bisa punya anak.” “Itu-itu?” tanya Dhita berlagak tidak tahu. Berani sekali Cantika mengajarkan hal yang sama sekali belum pantas, bahkan mendengar saja belum diperbolehkan. Queen berdecak kesal. “Itu-itu tuh gini, ada cowok sama cewek masuk kamar terus main.” Kelewatan emang Cantika, anak sekecil ini sudah ternodai. “Main apa?” Dan bodohnya Dhita malah diperpanjang. Bukan karena Dhita ingin tahu, bohong saja Dhita tidak tahu karena dia pernah tidak sengaja melihat Dave menonton video tak senonoh. Ini bukan salahnya, ini semua salah Dave itulah kenapa otaknya ternodai. Di umurnya, s*x education sangat penting agar terhindar dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Dhita tidak ingin memperpanjang pembahasan ini, tapi dia ingin tahu seberapa jauh Queen mengetahui hal seperti itu. “Main boneka, masak iya mainnya malem-malem pas Queen tidur. Mama sama papa jahat banget ‘kan?” Bagus, cukup sampai di sini. “Oh, itu boneka yang khusus dimainkan orang dewasa. Anak kecil gak boleh mainin, nanti kalau Queen sudah menikah, Queen boleh main itu,” jelas Dhita pelan-pelan, “dan Queen gak boleh tanya-tanya ini ke mama lagi ya. Janji?” Dhita menyodorkan jari kelingkingnya. Queen mengangguk, mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Dhita. “Janji!” “Dhita?” panggil seseorang membuat Dhita dan Queen refleks menoleh. Di sana ada seorang pria menggandeng seorang wanita cantik nan seksi. Mereka adalah Bian dan—entah siapa wanita itu, sepertinya kekasih baru Bian. Tanpa diminta atau meminta izin mereka berdua langsung duduk berhadapan dengan Dhita dan Queen. Dhita menggeser kursinya, mendekati Queen. Dia sedang mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak. Opsi di dalam dirinya sekarang hanya dua, emosi kemarahan meledak atau hatinya melunak. Padahal kursi di sini banyak yang kosong tapi kenapa mereka duduk di sini dan beradegan mesra di depannya. Dhita menutup matanya pelan, mencoba untuk tidak memperhatikan mereka. Dadanya sesak, sangat-sangat sesak melihat itu semua. Dia mengambil piring Queen lalu tersenyum ke arah Queen, sementara Queen hanya diam kebingungan. “Biar Aunty aja ya, sayang,” ucap Dhita seraya menyuapi Queen, “buka mulutmu ... aaa.” “Dhita, kami berdua berpacaran lho ... apa kamu biasa saja? Kamu tidak mengomel atau apapun gitu? Oh, ya, mungkin kamu ngerasa puas udah permaluin aku di depan para followers-ku, dan kakak kamu ngambil semua barang pemberian kamu. Cih, perhitungan,” ucap Bian sambil tertawa meremehkan. Wanita yang bersama Bian mengulas senyuman mengejek, dia memeluk sebelah tangan Bian. Dhita menatap Bian datar. “Siapa ya? Kalian ganggu tau gak? Saya bisa aja lho panggil satpam.” “Asal kamu tahu, kami itu pembeli di sini. Memangnya kami pencuri—“ “Heh diem deh kamu, kamu gak ada sangkut pautnya ya. Jangan pernah mencari-cari masalah denganku, atau kamu sendiri yang akan dapat akibatnya,” sela Dhita sambil menunjuk ke arah wanita itu. “Kamu itu pengadu, Dhit. Janji, janji, janji ujung-ujungnya diingkari. Ada ya ternyata manusia kayak kamu ...,” sindir Bian pedas. Dhita bersyukur sekali Dave pergi dari sini, entah jika pria itu masih di sini dan mendengar semuanya mungkin pria itu akan mengamuk. Pelan-pelan Dhita melirik Queen, memastikan gadis kecil itu baik-baik saja jangan sampai gadis itu syok mendengar perdebatannya. Jauh dari dugaannya, Queen malah mengacungkan kedua ibu jarinya ke atas, mengodenya agar tetap lanjut. “Kamu juga pengadu, Yan. Janji, janji, janji ujung-ujungnya diingkari. Ada ya ternyata manusia kayak kamu,” balas Dhita mengulangi perkataan Bian. Berani sekali pria itu mengatakan hal seperti padanya, sedangkan pria itu malah lebih parah. Sindiran itu lebih tepat untuk Bian, ya, pria itu sendiri. Skakmat! Bian terbungkam. “Udah ya, Yan. Tadi aku ke sini bareng Dave, terus dia ada urusan. Kemungkinan kan dia balik ke sini jemput aku? Aku cuma kasian ke kamu.” Bian tertawa keras. “Aku gak takut siapa pun, aku juga gak mau dikasihani.” “Oh jadi, aku sujud di depan Dave sama papaku itu gak berarti ya buat kamu? Aku berusaha mati-matian cegah apapun tindakan yang berhubungan sama kamu tapi kamu kayak gini? Seharusnya aku biarin aja ya, biar aja kamu jadi pengemis di jalanan. Ini namanya orang tidak tau diuntung, udah ditolong malah ngelunjak.” “Dhita?” panggil seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN