Dave duduk dengan tenang di meja cafe paling ujung. Secangkir kopi hitam menemaninya bersantai. Sedikit demi sedikit dia menyesap kopi panas itu. Bukan tanpa sebab dia bersantai di sini, di jam kerja yang seharusnya dia pakai untuk bekerja. Berapa lembar uang yang dia buang demi hanya demi memantau orang lain. Ya, sesuai ucapannya pada Dhita tadi pagi dia datang berniat menemui Biandika. Pria itu sedang bermesraan dengan kekasih barunya. Bodoh sekali, selama dua tahun Biandika telah membodohi adik satu-satunya. Setengah jam dia mengamati pria itu seakan dia ini seorang mata-mata. Kekesalannya pada Biandika tidak bisa dikatakan biasa saja. Kesabaran yang dia tahan, demi menjaga janji adiknya seakan sia-sia. Ancaman yang dia berikan pada pria itu dianggap remeh. Hari ini dia akan membuktik

