Bab 14

2090 Kata
Seorang pria bertubuh jangkung sudah dibanjiri oleh peluh keringat. Pakaiannya nyaris basah seperti terguyur oleh air hujan. Di tengah lapangan, malam hari. Di saat orang memilih untuk beristirahat, dia malah keluar dan bermain basket. Satu lapangan dia kuasai. Daniel Bagaskara, melampiaskan amarahnya dengan bermain basket. Lapangan yang dia pilih adalah lapangan sekolah SMA-nya dulu. Bertahun-tahun lalu sekolah ini memiliki banyak kisah. Saking banyaknya, tanpa mengunjungi sekolah ini pun dia sudah teringat masa-masa di sekolah ini. Pahit, betapa pahitnya masa-masa dulu. Adiknya meninggal di sini. Adik kecilnya, adik kesayangannya, adik kebanggaannya. Gara-gara pria b******k itu, adiknya meninggal. Sudah satu jam lebih Daniel bermain basket di sini, tapi amarahnya belum juga reda. Dia meremat bola basket kuat-kuat, memosisikan diri di depan ring. Urat-urat di tangannya tertampak jelas. Semua kemarahan dia salurkan di bola itu. Beruntunglah bola basket kuat dan keras, tidak mudah rusak walau dibanting sekeras apa pun. Jika yang dia pegang ini adalah bola voli, mungkin saja bola tersebut sudah rusak atau paling tidak kempis. Di lemparkannya bola tersebut ke ring. Tinggi, sangat tinggi dan berakhir masuk ke dalam ring. Bola lain menggelinding tepat mengenai kakinya. Langsung saja Daniel tendang sekuat mungkin, mengenai jaring besi sebagai pembatas. Suara keras antara pantulan bola dan jaring besi, terdengar. Suara tersebut mengambang terbawa angin. Daniel berteriak sekeras mungkin sambil menengadah menatap hitamnya langit. Kedua telapak tangannya mengepal kuat, sebelum dia hempaskan kuat-kuat di udara. Tubuhnya berbalik, menatap gedung sekolah berlantai tujuh. Tempat ini menjadi saksi kematian adiknya. Lantai lapangan yang dia pijak sekarang pernah terkena darah adiknya. Di satu sisi dia sangat membenci tempat ini, dan di sisi lain dia membutuhkan tempat ini. Dendam yang membara dalam hatinya belum terbalaskan sampai sekarang. Pria itu, Biandika, berhasil lolos dari jeruji besi karena bantuan uang. Dan lagi, saat itu Biandika masih di bawah umur. Tidak heran lagi jika pria itu lolos dengan sangat mudahnya. Setelah sekian lama akhirnya dia dan BIandika kembali dipertemukan. Dalam hal yang sama si pria b******k itu kembali berbuat ulah. Pria itu sudah bodoh sekali bermain-main dengan Dhitania. Biarlah, biarlah pria itu menderita dihantam oleh dua orang sekaligus. Keluarga Dhitania dan juga dirinya. Sampai kapan pun, sebelum Biandika hancur, hidupnya tidak akan pernah tenang. Hancur dalam artian tangan dia sendiri yang membuat hancur. “Biandika, saya janji akan membuatmu menderita.” Daniel menatap kedua telapak tangannya. “Dengan tangan saya sendiri. Janji ini dibuat, tepat di mana adik saya tergeletak bersimbah darah.” Lalu Daniel mendongkak, menatap ujung gedung. Di mana adiknya didorong oleh Biandika. Biandika telah merebut harta paling berharga di dalam kehidupannya. Teganya dia mendorong adiknya tanpa belas kasihan sedikit pun. Alasan yang dibuat pria itu tidak masuk akal. Adiknya tidak mungkin bunuh diri. Di dalam pikiran dan hati gadis itu terdapat sejuta kebaikan. Gadis itu takut pada Tuhan. Sekecil keburukan yang gadis itu lakukan, pasti akan disesali sampai berhari-hari. Apalagi melakukan kesalahan sampai sebesar ini. Tidak, adiknya tidak mungkin melakukan itu. Jelas sekali pelakunya adalah BIandika. Pria itu sengaja mendorong adiknya. Demi apa pun, dia tidak akan pernah memaafkan kesalahan pria itu. Lihat saja, sampai Biandika berulah lagi dan macam-macam dengan Dhitania. Percayalah, saat itu juga dia akan menghajar Biandika sampai wajahnya tak berbentuk lagi. *** Diam-diam Dhitania mengikuti Dave dari belakang. Pria itu berjalan menuju perpustakaan rumah. Di tangannya sudah ada secangkir teh panas. Terlihat kepulan uap dari gelas itu, menandakan bahwa air yang sedang dibawa oleh Dave itu panas. Malam-malam begini, untuk apa pria itu masuk ke perpustakaan. Ini hal yang sangat langka. Biasanya Dave berdiam diri di kamar dan berkutat dengan komputer. Namun malam ini terlihat berbeda, tampak santai seperti tidak ada beban bertumpu di kepala dan pundaknya. Dhitania menahan tawanya. Saat ini juga dia ingin tertawa di depan wajah Dave. Pria over protektif yang tidak suka dibantah ucapannya. Sampai dalam perpustakaan, dia masih setia mengikuti sang kakak dari belakang. Pria itu mengambil tangga, mengambil sebuah buku berwarna merah yang tingginya beberapa jengkal di atas pria itu. Setelah buku itu didapatkan, barulah pria itu duduk dengan tenang di sofa. Kakinya di angkat ke atas meja. Membaca buku sambil bersantai. “Rupanya kamu gak punya kerjaan lain, selain menguntit,” kata Dave, matanya masih fokus ke arah buku itu. Sontak saja Dhitania terkejut, tubuhnya hampir saja terjungkal ke belakang. Apa mungkin Dave sudah tahu kalau sedari tadi dia mengikutinya dari belakang. Perlahan Dhitania berjalan, menghampiri Dave. Duduk kikuk, di samping Dave. Pria itu menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitas membacanya. “Kenapa? Aneh liat aku ke perpustakaan?” “Iya. Malem-malem, ke perpustakaan. Biasanya juga ‘kan duduk gitu di depan laptop.” Dave menutup buku bersampul merah itu, menimbulkan suara gebrakan buku tertutup. Ketebalan buku itu sungguh di luar nalar. Ada dua versi, versi pertama dan kedua. Buku yang ditulis sejak puluhan tahun. Bahkan saat kakek dan nenek moyang dulu. Buku ini menceritakan kisah nyata turun temurun. Hal apa pun akan terbongkar di buku ini dan pastinya, kisahnya juga akan tercantum di buku versi ke tiga. “Aku penasaran soal buku ini. Langsung loncat ke versi kedua, setelah selesai aku lanjut ke versi satu,” ucap Dave sambil mengangkat buku itu ke atas, menunjukkannya pada adiknya. Dhita tahu buku apa itu. Sampai saat ini Dhita belum pernah membuka buku itu apalagi membacanya. Dia diberitahu oleh Gerald, kalau buku itu seperti buku thriller. Awalnya dia penasaran, masa-masa kehidupan kakek buyut, kakek dan juga ayahnya. Namun setelah Gerald menakut-nakutinya, dia jadi tidak berani membaca buku itu. Terutama kisah ayahnya dulu, kisah lama yang belum usai. Lebih baik dia mendengarkan ayahnya langsung bercerita daripada penat membaca buku. “Kisah papa, tragis. Dia ditimpa karma sampai dua kali. Ya, itu salahnya juga si. Karma dunia memang nyata,” cerita Dave memandang buku itu iba. Kisah ayahnya sangat tragis, membuat dia sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Namun ayahnya, buka satu-satunya orang yang memiliki kisah tragis tapi saudarinya juga tidak kalah tragis. “Kamu baru tahu sedikit kan cerita tentang Tante Vana dan Shila? Di buku ini kamu bisa tahu, seberapa menderitanya Tante Vana dulu. Dari sudut pandangku, keduanya sama-sama salah.” Kening Dhita berkerut, merasa tidak setuju dengan apa yang kakaknya katakan tadi. “Enggak, papa yang salah. Buktinya dia dapat karma, ditinggal orang yang paling dia cintai. Tapi ya, akhirnya bisa bahagia juga sama Mama Aletha.” “Keduanya salah, Dhitania. Papa kasar juga sayang sama Tante Vana. Coba aja kalau Tante Vana sama kayak Tante Shila. Mungkin Papa juga gak akan berbuat kasar ke Tante Vana.” Dhita bangkit dari duduknya. “Ya, tapi kan bisa pake cara baik-baik. Apa-apa ditampar, apa-apa dipukul. Kalau kamu kayak papa juga, aku pasti sebelas dua belas sama Tante Vana. Bodo amat, aku dukung Tante Vana. Jangan mentang-mentang cewek, kami lemah ya.” “Dhita,” panggil Dave, menyimpan buku itu di atas meja. Dia memijat pelipisnya pelan. “Apa?!” “Jangan kayak anak kecil. Ini kisah udah lalu, kata papa juga enggak perlu ungkit-ungkit lagi.” “Bukannya kamu sendiri yang cerita-cerita?” “Ya udah, sekarang masuk kamar. Tidur.” “Tapi Dave, pembahasan kita belum selesai. Kisah ini belum selesai.” “Udah beres, Dhita. Tidur sekarang.” *** Daniel : Dhit, hari ini kita rapat ‘kan? Dhita tersenyum saat Daniel mengiriminya pesan. Kejadian kemarin tidak bisa dia lupakan dengan mudah. Bagaimana cara Daniel menyapa Biandika sangatlah menakjubkan. Kata ‘sayang’ yang Daniel lontarkan masih terngiang-ngiang di kepalanya. Bukan sekadar kata ‘sayang’, menurutnya kata ‘sayang’ yang diucapkan oleh Daniel lebih ber-damage daripada Biandika. Sewaktu dia pacaran dengan Biandika, pria itu sering memanggilnya itu. Namun diingat-ingat, panggilan ‘sayang’ yang terlontar dari mulut Biandika terdengar menjijikkan. Mengingatnya kembali dia merasa mual. Sangat mual. Hari ini adalah rapat penting, lebih tepatnya peresmian pembukaan cafe Dannia. Pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan rumah. Itu pun tanpa izin dari kakaknya. Izin dari ibunya saja sepertinya sudah cukup. Beliau akan memberitahu ayahnya beserta kakaknya. Hidupnya akan lebih sulit sekarang. Tanpa izin, dia akan dimarahi. Padahal dulu, tanpa izin pun dia bisa keluar karena mereka sudah tahu, dia akan pergi ke mana. Pekerjaannya mengurus cafe, pastinya dia keluar untuk bekerja. Sayangnya sekarang, seakan kepercayaannya telah direngut. Semua ini salah Biandika. Dave semakin mengekangnya seperti dulu. Dia mengetikkan balasan Daniel. To Daniel : Iya, pastinya. Kamu udah mau berangkat? Baru beberapa saat dia balas pesan Daniel, pria itu sudah bersiap membalasnya. Ting! Daniel : Iya, nih. Kamu juga? Masih di rumah atau di jalan? To Daniel : On the way nih. Bentar lagi sampe Daniel : Eh, jangan sampe duluan, Dhit. Aku aja yang duluan Kening Dhita berkerut, penasaran mengapa Daniel menyuruhnya untuk tidak datang sebelum pria itu datang. To Daniel : Loh? Kenapa? Daniel : Gak papa, biar aku aja yang nunggu. Nanti kamu kelamaan nunggu aku. Mending aku yang lama nunggu kamu daripada kamu lam nunggu aku. Dhita melepaskan handphone-nya, membuat benda pipih itu jatuh di pangkuannya. Kedua telapak tangannya dia kibas-kibaskan ke wajah. Seketika wajahnya menjadi panas melihat pesan itu. Luar biasa efeknya. Daniel tidak ingin membuatnya menunggu lama. Dhita bukanlah seorang wanita yang mudah untuk baper kecuali orang yang membuatnya baper itu, orang yang dia cintai. Contoh saja Biandika. Sebasi apa pun gombalannya, tetap saja hatinya berbunga-bunga. Cepat-cepat Dhita menggeleng. Menarik kemudian mengembuskan nafasnya panjang, dia mengulangnya sampai beberapa kali. Daniel jelas sudah memiliki kekasih. Seharusnya dia bisa bersikap profesional. Hubungan antara dia dan Daniel hanya sebatas pekerjaan dan tidak lebih, paling mentok hubungan pertemanan. Baper sebelum adanya hubungan jelas tidak terdapat di dalam kamusnya. Diraihnya handphone ber-case polos itu kembali. Lalu mengetikkan belasan sebelumnya. To Daniel : Ya, memangnya kenapa kalau aku nunggu lama? Daniel : Gak papa Loh hanya ini balasannya? Ting! Pesan dari Daniel kembali muncul. Daniel : Cuma akunya aja yang kenapa-kenapa Sudah cukup, sampai di sini. Dia merasa dia sudah mulai tertarik dengan Daniel. Buktinya dia cepat sekali melupakan Biandika. Mungkin, seumpamanya Daniel belum memiliki kekasih, tidak masalah. Kenyataannya sekarang Daniel sudah memiliki kekasih. Mana mungkin dia menyukai orang yang sudah memiliki kekasih. Tidak, sampai kapan pun tidak akan mungkin. Selain dia yang tidak ingin menyakiti wanita mana pun, dia akan kembali disemprot Dave. Ocehan Dave lebih pedas dari sekarung cabe mercon. Pria itu cukup frontal dalam hal kata-kata. Percayalah, tidak ada yang berani adu mulut dengan Dave kecuali keluarganya sendiri. Drtt ... drtt ... drtt! Handphone-nya bergetar, tertera nama ‘Dave ngeselin’ di layar handphone-nya. Baru saja dia memikirkan Dave, pria itu meneleponnya. Seolah-olah, pria itu tahu kalau dia sedang memaki pria itu di dalam hatinya. Jarinya bergerak, menggeser icon merah ke samping. Panggilan itu dia matikan, tapi Dave kembali dan terus-terusan meneleponnya. Alhasil dia geram, menganggat panggilan itu. “Halo Dave ganteng, kenapa? Kayak enggak ada kerjaan aja neleponin aku.” “Sewaktu aku pulang semalam, apa ada orang yang ganggu kamu?” Dhita berdecak sebal. “Kamu punya mata-mata apa, Dave? Tahu aja kalau semalam ada yang ganggu.” “Orang itu, Biandika ‘kan?” “Bukan.” “Jangan bohong Dhitania,” tegur Dave tidak menyukai kalau dia berbohong. “Bohong?” “Sekali kamu bohong, aku acak-acak kamar kamu,” ancam Dave. Sepertinya Dave sudah tahu soal semuanya. Pria itu meneleponnya hanya untuk mendengar kejujuran dari mulutnya sendiri. “Dave, kalau kamu udah tau kenapa kamu masih nanya aku? Kamu sengaja kan? Buat aku enggak mood, ngomongin pria itu?” “Dhita, aku izin sama kamu.” “Izin apa?” “Aku mau ngajak dia ngopi bareng, sekalian kasih dia sianida biar mampus sekalian dan gak berani ganggu kamu lagi,” jawab Dave, sontak saja mata Dhita membulat sempurna. Dave gila! “Dave!Ka—” Tut! Sambungan diputus sepihak oleh Dave. Ucapan Dave tadi bercanda ‘kan? Iya, pasti Dave sedang bercanda. Sebaik mungkin dia tetap berpikir positif. Dave tidak akan sampai berbuat seperti itu. Hari ini mungkin Dave akan bertemu dengan Biandika tapi mungkin hanya sekadar berbincang-bincang santai. Tepat kata Dave tadi, meminum kopi. Sudah dibumbui pikiran positif, tetap saja dia gelisah. Dia takut, Dave berbuat sesuatu. Dave benar-benar sudah keterlaluan. Mematikan handphone di saat dia ingin berbicara, barang sekali lagi. Memastikan pria itu tidak akan berbuat macam-macam pada mantan kekasihnya. Mau bagaimana pun, Biandika pernah hadir di dalam hidupnya. Sesampainya di cafe Daisy, ralat cafe ini sudah berubah nama menjadi cafe Dannia. Tampilan luar cukup menarik. Banyak karangan bunga terpajang di depan cafe. Karangan bunga tersebut dari keluarganya, sepupu dan kerabat Daniel. Gerald, mengirimkan karangan bunga paling indah dan besar di antara karangan bunga yang lainnya. Melihat semua ini dia jadi sangat terharu. Lebih keren dari cafe miliknya. Dua ide dipadukan menjadi satu. Indah dan sangat menarik. “Dhitania, selamat!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN