Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan dua sejoli di balik pintu. Keduanya—Dave dan Ditha refleks menoleh, wajah Dave berubah jadi masam beda halnya dengan Ditha, wanita itu tersenyum kecil. Mereka adalah Gisel dan Agam, kedua sahabat Ditha. Mereka masuk ke dalam ruangan Ditha, di tangan Gisel sudah ada parsel buah sedangkan ditangan Agam ada sebuket bunga Lily. Dave bangkit, menghadang Agam masuk.
“Dave!” tegur Ditha, mengode agar Agam dibiarkan masuk.
Dave tidak memedulikan Ditha, dia menatap Agam dengan tatapan mengintimidasi. Aura seramnya menguar, tatapan perang terlihat di mata Dave. Siapa pun laki-lakinya, Dave tidak akan membiarkannya masuk ke dalam dunia adiknya. Dari pada adiknya tersakiti lagi, lebih baik mengantisipasi.
“Siapa?”
Seketika Ditha melongo, bagaimana bisa Dave tidak mengingat Agam. Puluhan kali Dave bertemu dan berpapasan dengan Agam, bahkan mereka berdua pernah mengobrol singkat. Agam itu sahabatnya sedari kecil, pria itu bahkan sudah tahu apa yang dia sukai dan tidak disukainya.
Agam berdehem singkat, mencoba untuk mencairkan suasana. Bertingkah apa pun saat ini atau membuat lelucon, suasana mencengkam ini tidak bisa digantikan begitu saja. Tangan Agam sedikit gemetar, dia mencoba mengangkat tangannya berniat untuk berjabat tangan dengan Dave. Sayang sekali, niat berkenalan, Dave malah menepisnya.
“Dave!” tegur Ditha lagi. Teguran Ditha sama sekali tak berpengaruh. Wanita itu bangkit dan turun dari brankar. “Kak Dave!” Kali ini, Ditha berteriak. Semuanya—Gisel, Agam dan Dave menoleh menatap Ditha.
“Ditha! Kamu kenapa turun!” seru Gisel khawatir, menuntun Ditha kembali naik ke atas brankar.
“Anak nakal, demi pria ini—“
“Sahabat aku!” Ditha menyela ucapan Dave. “Agam dan Gisel sahabat aku! Lagian kamu amnesia? Gak inget sama Agam?!”
Dave kembali menatap Agam, mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu atau kenal pria itu atau tidak. “Oh, yang pernah adu mulut sama Gerald ‘kan?”
Dan bisa-bisanya Dave mengingat Agam tentang kejadian itu.
“I-iya, Kak,” jawab Agam sedikit gugup.
Dave hanya mengingat keburukan Agam. Padahal umur Agam lebih tua 2 bulan daripada Dave, tapi kenapa dia memanggilnya dengan sebutan ‘kak’? Sejak tadi juga Ditha dan Gisel bertanya-tanya, kenapa Agam bisa segugup itu ketika berhadapan dengan Dave. Gugupnya Agam seperti gugup ketika bertemu pacar, atau—keluarga pacar.
“Panggil nama aja, Gam. Dave seumuran sama kamu,” kata Ditha sedikit melirik kakaknya. Pria itu—Dave berjalan ke arah sofa, lalu duduk dengan tenang di sana. Manik mata Ditha masih tertuju pada Dave, merasa waswas. “Dave ...?”
“Apa?”
“Kamu ke kantor aja. Aku udah baikan, lagian di sini ada Kak Gerald sama Kak Davi—“
“Tidak ada yang bisa mengusirku dari sini. Silakan kalian mengobrol selama 30 menit, setelah itu pulang. Biarkan Dithania istirahat!” potong Dave tegas, tidak menerima bantahan apa pun. Gisel dan Agam saling bertatapan setelah itu menatap Ditha, mengode sesuatu sementara Ditha hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ini semua gara-gara si pria b******n itu, karena pria itu, Dave berubah menjadi super duper protektif. Sangat menyeramkan.
“Kak,” panggil Ditha memelas. Dia tahu kedua sahabatnya itu ingin berbicara pribadi dengannya, tapi bagaimana bisa mereka bicara sedangkan Dave masih ada di sini, memantau pembicaraannya.
Pria itu menatap Ditha datar. “Ada apa Dithania? Aku di sini untuk menjagamu, atau kamu mau aku menelepon Papa?”
Cepat-cepat Ditha menggeleng. “Bukan, aku ... aku—“
“10 menit terbuang cuma-cuma.”
“DAVE!” batinnya berteriak.
***
Niat untuk menceritakan soal Biandika—mantan kekasih Ditha—sekarang Gisel dan Agam malah bercerita soal hal lain. Seperti menanyakan kabar, membuat lelucon dan bertanya soal Cafe yang dikelola Ditha. Tidak ada ada hal lain, karena si posesif Dave masih ada di sini. Pria itu duduk sambil bermain handphone tapi telinganya masih aktif mendengar obrolan mereka.
Gisel melirik Dave sebentar, memastikan pria itu sedang sibuk dengan aktivitasnya. Sebelum pertanyaan dalam benaknya terjawab, Gisel tidak akan tenang begitu pun Agam. Lagi-lagi Gisel melirik Dave, sesekali mengode kekasihnya menggunakan sikutan dari lengan.
“Kenapa, Sel?” tanya Agam sedikit tersentak, sikutan dari Gisel sedikit keras membuat Agam mengaduh kesakitan.
“Jadi nanya?” Gisel berbisik, kakinya berjinjit mendekati telinga Agam.
“Jangan, hati Ditha masih sakit,” balas Agam berbisik juga. Sementara Ditha mengerutkan keningnya bingung. Keduanya—Agam dan Gisel sibuk berbisik-bisik. Tentu saja, Ditha penasaran apa yang mereka obrolkan secara sembunyi-sembunyi itu. Sama halnya Dave, pria itu mencoba untuk tidak memedulikan obrolan mereka tetapi otaknya memerintah agar tetap mengawasi mereka.
Dave melempar handphone-nya ke meja pelan kemudian bangkit dari duduknya. “Waktu habis, silakan pergi. Dithania akan tidur.”
“Dave apa-apaan ini!” cetus Ditha tidak menerima. Dia ingin bangkit, tapi ditahan oleh Gisel.
“Kami akan pergi, Dave,” kata Gisel sambil menggenggam tangan Agam, “dah Ditha. Cepat sembuh! Ayo Gam.”
“Ditha, lekas sembuh,” ucap Agam sebelum Gisel menariknya keluar dari ruangan.
Sesungguhnya Gisel ingin sekali keluar dari ruangan Ditha sedari tadi, bukan karena tidak ingin bertemu dengan Ditha tapi ada Dave di sana. Siapa yang tidak risi ditatap seperti itu oleh Dave? Pria itu menatap dirinya dan Agam dengan tatapan curiga—seolah dirinya dan Agam ini seorang tawanan yang kapan saja bisa melukai Ditha. Dulu, sewaktu Gisel ke rumah Ditha dan tanpa sengaja bertemu dengan Dave, sepertinya pria itu bersikap seperti kakak biasa pada umumnya pada Ditha.
Gisel menarik lengan Agam sampai keluar dari rumah sakit. Tarikannya cukup keras, sampai-sampai pria itu meringis kesakitan. Saat hidungnya benar-benar menghirup udara luar, barulah Gisel melepaskan lengan Agam.
“Sel, kamu narik tangan aku kekencengan,” adu Agam seraya mengusap-usap lengannya. Ada beberapa motif goresan kuku di kulit Agam. Tidak indah sama sekali, ini m*****i kulitnya ditambah secuil cairan merah kental menghias goresan itu. “Buas banget, kamu PMS ya?” Agam bertanya sambil menunjukkan lengannya.
Sontak mata Gisel melotot sempurna, raut wajah khawatir tercetak jelas di sana. Dia langsung menarik lengan Agam, membolak-baliknya lengannya melihat goresan luka yang disebabkan oleh kuku-nya. Kening Gisel mengernyit, ikut merasakan perihnya luka Agam.
“So—Sorry, Gam. Aku, aku gak tau—“ Sebelum Gisel melanjutkan ucapannya, Agam lebih dulu menutup mulut Gisel dengan jarinya. Agam menggeleng pelan, perlahan tangannya turun.
“Aku gak papa. Ini gak masalah buat aku.”
“T-tapi, hm ... ayok kita obatin dulu.”
“Gisel, udah ya. Aku gak papa, gimana kalau kita mampir ke restoran sebentar? Kita bahas soal rencana kita?” Agam merangkul Gisel, mengajak wanita itu jalan. Gisel mendongkak, menatap Agam dari jarah dekat.
“Biandika licik, kamu yakin?” Gisel bertanya ragu. Pasalnya, Biandika seorang pria licik yang mengandalkan followers. Ada masalah apa pun, pria itu langsung mengadu. Saat itu juga, seperti pasukan yang dikomandoi oleh Bian menyerang hujatan online.
Agam mengembuskan nafasnya panjang. “Kita ikutin aja cara dia. Pakai jasa gampang,” balas Agam sedetik kemudian dia tertawa, “lagian, tanpa kita berbuat apa pun mungkin pria b******k itu akan hancur. Ya ... Biandika, si manusia bodoh itu tidak tau seberapa menakutkannya keluarga Ditha.”
Langkah Gisel terhenti, menatap kekasihnya. “Kayaknya sampai sekarang, keluarga Ditha masih tenang.”
“Mereka sedang bekerja di belakang,” bisik Agam sambil tersenyum. Tidak sabar menyaksikan kehancuran Biandika—mantan kekasih Ditha.
***
“Halo, gimana udah siap?”
“Oke siap. Kami sudah siap.”
Agam mengangkat ibu jarinya ke atas, memberikan kode pada Gisel sementara Gisel hanya mengulas senyum lalu kembali fokus pada handphone-nya. Sejak tadi, Agam dan Gisel sibuk membuat akun sosial media palsu—untuk menjalankan rencananya.
“Gue dulu ya, yang mulai? Nanti kalian siap aja,” ucap Agam berbicara dengan seseorang di telepon. Tidak hanya Agam dan Gisel saja yang siap menjalankan rencana, tapi Agam juga membayar orang untuk ikut bergabung memperlancar rencananya.
“Oke siap, Bos. Kita gak dibayar juga gak masalah, orang kayak gini pantes dibasmi. Nomornya aktif kan? Kita juga mau teror lewat nomor handphone.” Orang di seberang sana tertawa terbahak.
Agam melirik Gisel sekilas. “Bagus-bagus. Tetep dibayar kok sama gue, asal rencana lancar.”
Lagi, si penelepon di sana tertawa. “Yoi, pasti. Gue yakin dia playing victim, udah basi bentukan kek gini. Gimana kita mulai aja?”
“Oke, gue mulai. Kalian pantengin aja oke.”
“Siap!”