bc

A Drama

book_age18+
1.4K
IKUTI
6.5K
BACA
drama
humorous
lighthearted
like
intro-logo
Uraian

Cerita ini tentang sepupunya Aji Laksono (Cinta Yang Berliku).

Mengandung istilah-istilah dewasa. Be wise.

Akibat rumah tangga ibu dan kakaknya yang tidak harmonis, Byanara sulit mempercayai apa yang di namakan Cinta. Dia mengganggap semua lelaki sama saja. Namun cinta datang tanpa di undang.

Dia mencintai seorang pria tampan yang menggunakan jasa layanannya, Angga Laksono. Tapi harapan tak sesuai dengan kenyataan. Pria itu hanya sekedar memakai jasanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
"Ji.... kira-kira kapan aku bisa bangun gudangnya?" Tanya Angga yang mengunjungi Aji di kantor. "Gimana ya Kak? Aku juga nggak bisa ambil keputusan. Karena ini join bisnis. Lagian kita juga kasian kalo lahan sawit dibangun gudang, petani dapat apa?" Aji menjelaskan. "Lahan lainnya gimana? Kebetulan ada teman yang cari gudang." "Ini ada lahan lain, tapi masih nego. Mumpung harga bagus, lokasi dekat pelabuhan." "Nah...itu pas banget!" Angga terlihat antusias. "Tapi kalo sewa harga tetap seperti yang lain lho Kak...." Aji mengingatkan. "Ya elah...pelit amat ama sodara." "Kak...duitnya buat ponakannya. Bukan buat aku dan Isti." "Iya..iya...tetep aja ponakanku yang dijadikan senjata." ucap Angga pasrah. "Makanya buat anak sendiri kak...." "Gimana mau buat? Tempat untuk ngadon aja ga ada." Angga memberikan alasan. Aji terkekeh mendengar keluhan Angga yang hingga sekarang belum nikah. " Kamu jual mahal! Sok Ganteng!" ejek Aji dan mencibir. "Aku ga jual mahal. Aku bukan sok ganteng, emang ganteng beneran. Coba liat! Sepupumu yang paling ganteng sapa?" Angga balik mengejek. "Sombong!" "Ntar jam 6 aku ke rumahmu dech, kali aja kamu lupa kalo punya lahan kosong lainnya." "Bawain kakak ipar ya..." "Ck! jangan bahas itu! Aku cabut dulu!"Aji terkekeh mendengar ucapan sepupunya yang memang paling ganteng, tapi sayang setelah perceraian yang pertama, Angga masih belum berencana menikah lagi. ********** "Aduh Nes! Ini kan jadwalnya Kak Vaz yang les" seorang gadis mengeluh dengan memangku anak kecil yang masih berusia 4 tahun. "Tapi Nesa mau belajarnya sekarang, Tante...." ucap bocah itu yang masih bergelayut manja. "Ntar Ibu marah lho kalo kak Vaz nya dapat nilai jelek, besok kak Vaz ada ulangan. Nesa sayang kan sama kak Vaz?" tanya gadis ini dengan sabar. Bocah bermata indah itu mengangguk dengan mulut yang cemberut. "Jadi sekarang Tante ajarin kak Vaz dulu ya..." "Tapi Nesa ga ada teman" bocah itu merajuk lagi. "gini dech, Nesa boleh dekat Tante, tapi ga boleh bersuara" gadis ini mencoba bernegosiasi. "kuncir rambut tante?" tanya si bocah cantik. "iya, pokok nya ga boleh bersuara ya.." gadis ini akhirnya setuju. Bocah itu mengganguk dengan mata berbinar. Byanara Pramesti nama gadis yang dipanggil tante oleh bocah itu. Nara nama panggilannya. Senin dan Kamis dia mengajar Vazco (putra Aji yang pertama), Selasa dan Jumat dia mengajar Valdi (putra Aji yang kedua) serta Rabu dan Sabtu mengajar Nesa (putri tunggal Aji). Dia berasal dari Gresik, dengan latar belakang keluarga yang semula harmonis, menjadi tidak harmonis. Saat itu perekonomian keluarga Nara dipuncak kejayaan. Ayahnya menjabat suatu posisi yang cukup tinggi di suatu perusahaan, lalu tergoda oleh wanita lain. Ibu yang mengetahui permainan mereka hanya diam. Nara dan kakaknya, Dewinta Pramesti, sudah merayu ibu untuk mengakhiri hubungan mereka. Mereka muak saat Ayah dan wanita itu berjalan seliweran di kota. Maklumlah, kota kecil, gosip cepat menyebar. Kakak-beradik itu tak kuat mendengar ocehan dan gosip miring tentang orang tuanya, mereka kadang menangis saat pulang sekolah. Setelah ayahnya sudah tidak menjabat lagi, ayah kembali ke pelukan ibu. Namun ayahnya sudah sering sakit-sakitan. Ibu merawat dengan ikhlas, pesan ibu saat anak mereka protes, Suami-istri saling mendukung dan menguatkan saat suka dan duka. Nara tak bisa menutupi rasa benci ke ayahnya. Jika ada ayah, Nara lebih banyak diam. Berbeda dengan kakaknya, masih bisa berpura-pura baik. Lalu Ayahnya meninggal saat dia masih SMP. Dan beberapa tahun kemudian Ibu Nara meninggal, menyusul ayahnya. Saat Ibu meninggal, Nara sangat terpukul. Dewinta yang sudah menikah, untuk sementara tinggal dirumah orang tua untuk menemani Nara. Sedangkan suami Dewi yang bernama Ikhsan tetap kembali pulang kerumah yang masih ada disekitar kota itu. Namun ternyata pria itu melancarkan aksi selingkuhnya. Hal itu diketahui ketika suatu malam , tiba-tiba Dewi hendak mengambil charger ponsel. Dengan mata yang masih sembab karena kesedihan ditinggal Ibu, dia pulang kerumah. Dan ternyata suaminya sedang bercinta diranjang milik mereka. Sontak perempuan itu mengusirnya, dan tak menunggu lama dia menggugat cerai. 100 hari setelah kepergian Ibu, Dewi mengurus segala keperluan Nara untuk kuliah, dan segala kepemilikan aset orang tua mereka. Nara diminta untuk kos di Surabaya, Dewi memilih letak kos yang strategis untuk Nara. Nara kos di tengah kota, mempermudah akses untuk ke segala penjuru. Sedangkan Dewi memutuskan untuk menjadi TKW di Hongkong. Cerita cinta Ibu dan Dewi membuat Nara lebih berhati-hati dengan urusan cinta, bahkan dia ragu, cinta itu apa? kenapa cinta membuat Ibu dan Kakaknya menderita? Terdengar seorang pria menjeritkan salam. Nara menjawab dengan berteriak juga yang pastinya bisa didengar pria itu. Dan tak lama terdengar derap langkah menuju ruang tengah. "Aji kemana ya?" tanya pria itu. "Maaf Bapak siapa ya?" tanya Nara menoleh sekilas yang rambutnya dikuncir tak karuan oleh Nesa, sedangkan Vazco menulis sesuatu didepannya. "Aku Angga, sepupu Aji. Aji kemana ya?" ulang Angga sambil tersenyum melihat kunciran Nara yang tak beraturan. "O.....Kak Aji dan Mbak Isti masih tengok nasabah" jawab Nara. "Nesa...kamu ngapain?" tanya Angga dengan berjalan mendekat ke arah Nesa. "Supaya tante cantik" jawab bocah itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Angga. Dia asyik dengan mainan barunya. "Salim om dulu donk!" perintah Angga yang membungkukkan badan, matanya sejajar dengan Nesa. Dengan patuh bocah kecil itu dan Vazco mencium punggung tangan Angga. Vazco melanjutkan tugas yang diberi Nara. "Om sama tante?" tanya Nesa menghentikan gerakan tangan dan menoleh ke arah Angga. Angga menggeleng dengan senyum kecut. Dan bocah kecil melanjutkan menguncir rambut Nara. "Ehmmm, maaf, mbak cuteng baru ya?" tanya Angga dengan mendaratkan pantatnya di sofa, tak jauh dari Nara. "oh..bukan Pak, saya kasih les private ke Vasco, Valdi dan Nesa." jawab Nara dengan ramah. "Nesa?" tanya meyakinkan lagi. "iya, Nesa" jawab Nara dengan tegas. "Kenapa? kan masih kecil?" "Dia kepengen seperti kakaknya, jadi ya ikut-ikutan aja, padahal dia les juga nggak ngapa-ngapain, cuma temani dia bernyanyi dan bermain. Playgroup mesti ngajarin apa?!" ucap Nara. Sesekali gadis ini meringis menahan sakit saat Nesa menarik rambutnya terlalu kencang. Dan berakibat Angga tersenyum geli melihat wajah gadis yang pasrah dengan perbuatan keponakannya. "Nesa..ikut om Angga yuk! Kita ke minimareket mau?" ajak Angga. Seketika bocah itu melepaskan rambut Nara yang entah bentuknya seperti apa, senyum riang terlihat jelas di raut wajahnya. "Beli telor yang dekat bayaran ya Om..." Nesa menghampiri Angga dengan lincahnya dia bergelendot dipaha Angga. Angga tau yang dimaksud ponakannya itu. (bayaran =cashier) Nara mengabaikan kehadiran Angga, yang sekarang mengobrol dengan gadis kecil itu. Nara bersyukur dengan kehadiran Angga, proses mengajar Vazco lebih maksimal. "Emang Nesa boleh maem telor itu?ga dimarahi Ibu? " tanya Angga dan mengangkat tubuh berisi Nesa. "Boleh" jawab Nesa tegas. "Ok! sekalian beli untuk kakak juga" "Om ga marah?" tanya Nesa dengan hati-hati. "Marah?" Anggap bertanya balik. "Iya, Ibu kalo minta belikan Nesa telor itu mesti ngomong Uda palsu, mahal pula. Om banyak uang kan? Om ga marah kan?" tanya bocah itu dengan wajah polos dan menatap Angga dengan belas kasihan. Angga terkekeh mendengar pengakuan Nesa. "wajahmu ga usa gitu Nes. Iya! Om belikan! Ayo!" ucap Angga sambil tersenyum dan menggendong Nesa "Mbak, saya pergi dulu ya..ke minimarket depan" pamit Angga. "Vaz....Bapak itu beneran sodara ayah?" tanya Nara lirih ke Vazco yang sedang menulis. Vazco belum menjawab dia masih asyik menulis. Angga yang mendengar ucapan Nara mendadak sebal. Tak disangka ada orang yang meragukan ikatan kekeluargaan mereka. "Lha..ini Nesa nya uda nempel, masih ragu?" Angga menunjuk Nesa yang ada di gendongannya. "Kali aja Bapak punya ilmu gendam" Nara tak mau kalah. "Eh..apa kamu tadi ga dengar yang kita obrolin apa? 2 bocah ini juga uda cium tanganku" Angga berkata dengan kesal. "Saya kan ngajarin Vazco, jadi ga dengar apa-apa! Saya cuma takut kalo bapak mau culik Nesa, kan nanti saya yang disalahkan" Nara memberikan alasan. "Iya Tan, dia Om kita."akhirnya Vazco menjawab setelah membuat Angga dan Nara saling debat. "Ya maaf Pak, kan saya juga baru tau wajah Bapak" ucap Nara sambil menatap Vazco mengalihkan wajah malunya . "it's OK! Aku memang sepupu Aji yang paling cakep. Beda banget ya sama wajah Aji?" Angga melajukan langkah dengan menggendong Nesa sebelum mendengar jawaban. 'Elah..nih orang overconfidence' batin Nara, dengan reflek gadis itu melihat foto pernikahan Aji yang ada di dinding dan membayangkan wajah Angga beberapa detik yang lalu meninggalkan mereka. 30 menit telah berlalu. Nara mendengar tawa khas Nesa yang renyah. Kuncir ala Nesa sudah terlepas sejak bocah itu pergi dengan Angga. "Vazco uda selesai?" tanya Angga ke ponakannya yang masih fokus menulis. "Belum Om" jawab Vazco singkat. Angga menurunkan Nesa dan mendudukan bocah itu di kursi. Dia membuka tas plastik yang berlogo minimarket dan menarik salah satu belanjaannya. "Ini...dicicipi!" Angga meletakkan sebungkus cemilan dimeja tak jauh dari Nara. "Iya Pak, makasih." Nara menjumput keripik yang disuguhkan Angga. Tak lama terdengar suara obrolan Aji dan Isti. Dengan bersamaan pasangan itu mengucapkan salam dan dibalas oleh penghuni yang didalam. "Dari tadi kak?" tanya Aji ke Angga. "Lumayan....Tuh! uda di palak. Oportunis banget tuch bocah." Angga menaikkan dagu seolah menunjuk Nesa yang masih menikmati telur ala ala itu. "Pinter kan? apa gunanya duit Om yang seabrek?!" sahut Isti yang melanjutkan langkahnya ke arah dapur. "Love..ponselku mana?" tanya Aji yang sekarang duduk memangku Nesa. "Mas mau ngapain?!" tanya Isti penuh selidik yang sekarang berjalan ke ruang keluarga sambil membawa kudapan. "Sebentar aja Love" kata Aji dengan nada hangat. Isti membuka tas nya dan memberikan ke suaminya. "Awas aja kalo lama-lama!" ancam Isti. "Iya Love" "Nara, kok Valdi ga keliatan? kemana ya?" tanya Isti. Nara yang sedari tadi fokus ke anak didiknya menoleh ke arah Isti. "katanya Bu Mimin tidur Mbak, tadi abis renang" jawab Nara. "Oh iya...ini sepupu ayahnya Vazco. Angga, sepupu paling ganteng, tapi sayang, duda" Isti mengenalkan secara formal. "Astaga, harus sebut duda gitu ya?" keluh Angga. "Kan fakta" Aji membela istrinya. "ini guru lesnya anak-anak, Byanara." "hm..Byanara" Angga bersuara, membuat yang punya nama menoleh dan tersenyum manis. Nara melihat 2 pria dewasa yang ada diseberangnya. "ga usah diliat berlebihan, ntar kamu naksir lho Nara" ucap Isti yang melihat Nara memperhatikan 2 pria itu. Nara pun tersenyum dengan merona. "Bu-bukan mbak, kok beda kak Aji sama pak Angga" ucap Nara dengan polos. "Pak Angga?!" seru Aji, sontak Isti dan Aji tertawa terbahak-bahak. Nara melongo melihat sepasang suami istri itu tertawa hingga sudut mata Isti berair. Dia tak tau apa yang salah dengan ucapannya. "Pak Angga?! dia keliatan tua banget ya?" tanya Aji. "Y-Ya....Eng-Enggak" Nara pun bingung harus menjawab apa, dia takut pria itu tersinggung. "Ga ada yang salah dengan panggilan itu, dia mikir kalo aku dewasa, matang, menawan dan ganteng. Sedangkan Aji..tau lah..gimana wajah suamimu " ucap Angga dengan jumawa. "Ganteng tapi duda ya percuma. Anyep!" balas Aji dengan sisa tawa. Nara terkekeh mendengar sahutan dan balasan antara Aji dan Angga. Mereka saling menjatuhkan. Setelah usai menjalankan tugasnya, Nara berpamitan dan kembali ke huniannya. ********* Beberapa hari kemudian. Usai perkuliahan Nara yang hanya memakai celana jeans, kemeja, sepatu hiking dan tas ransel, mampir ke salah satu Plaza di pusat kota menuju toko buku. Dan tentu saja membaca Novel gratisan. Selesai dengan kebutuhannya, dia melenggangkan kakinya berjalan tanpa arah. Tak disangka saat melewati area pujasera dia melihat sosok yang dikenalnya. Pria itu berjalan dengan seorang wanita yang cantik, menarik, modis. 'mereka sempurna sekali. Yang cowok tampan. yang cewek cantik mempesona.' batin Nara. "Byanara...kamu sama sapa?" sapa pria itu. "Eh..pak Angga." Nara pura-pura terkejut. "Sini!" pinta Angga. Nara mendekat ke arah Angga. "Kenalin. Mita, Byanara. Byanara,Mita" Angga saling memperkenalkan. Mita menjabat tangan Nara dengan hangat. "Kita mau ke pujasera, ikut ya?" Angga menawari. "Ayo!" Lanjut Angga. "Uda makan? " tanya Mita. "Terima kasih Bu. Saya buru-buru. Uda janjian!" kata Nara. Dia tak mau menjadi obat nyamuk. "Janjian sama cowoknya ya?!" sahut Angga. Nara hanya membalas dengan senyum dan gelengan. "Mari Pak, Bu..saya pamit." ucap Nara. "Ok, ati-ati ya Byan" ucap Angga. "Siapa Ngga? "celetuk Mita saat Nara sudah menjauh. "Guru les anaknya Aji" "O.....cute, sopan" Mita memberikan penilaian. "Abis ini kamu kemana?" Angga memainkan jari Mita dan berjalan ke arah tujuan. "Apartemen lanjut ke kantor lah" "Lembur lagi?" "Kemungkinan besar iya...kenapa?" "Ga pa-pa" Angga memberikan senyuman. Mereka mengakhiri makan siang dan melanjutkan ke aktivitasnya masing-masing. 'Ibu yang sama pak Angga itu cantiknya ga ketulungan. Kira-kira abis dana berapa ya? pipi mulus berkilau, rambut indah mengkilap.' Nara bermonolog. Saat melihat orang-orang berseliweran menenteng tas dengan tulisan toko atau logo, dia hanya bisa bergumam, 'nich orang sengaja bikin ngiri? apa aku yang kelewat kere ya? kemarin mau beli kemeja logo guk guk 129 ribu aja masih mikir, al hasil, barangnya keburu ilang di ambil orang'. Setelah hanya bisa melihat baju dan berbagai macam pernik di Plaza, ia kembali ke kos saat menjelang petang. Usai mandi, dia berbaring sebentar, beberapa jam lagi pria yang jauh disana akan meneleponnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook