BAB 10

2565 Kata
"Tidur Ra! Besok bangun pagi kita siapin sarapan bareng!" pinta Linda selaku istri Arta. Para wanita itu sekarang terbaring di depan TV lantai 2, sedangkan para pria berada di lantai 1. Karena lelah, tak butuh waktu yang lama untuk memejamkan matanya. Beberapa jam kemudian Nara sudah terbangun ketika mendengar denting jam dinding yang menunjukkan pukul 04.00. Usai membersihkan diri, dia menuruni anak tangga. Dilihatnya para pria itu tertidur dengan posisi tak beraturan. Lalu dia menuju dapur yang sudah dijelaskan Aline kemarin. Dengan lancangnya dia membuka kulkas, disitu ada beberapa bahan makanan yang sudah bisa di olah untuk menjadi camilan. Dalam beberapa menit sudah ada beberapa buah ote-ote (bakwan sayur) di piring. Amar terbangun, dan menuju dapur, dilihatnya Nara didepan kompor dengan mulutnya yang mengunyah sesuatu. "Pagi banget!" ucap Amar yang sudah duduk di meja makan. "Jangan di abisin! Bagi ama yang lain!" Nara menegur. "Belum ambil Ra! Kamu sendiri uda abis berapa?" "Kalo aku mah bebas, kan aku yang masak!" bela Nara. "Kamu uda mandi belum? enak aja langsung makan! Sikat gigi dulu!" "Uda mandi donk. ..emang kamu?! Bangun langsung makan!" Angga terbangun mendengar suara Nara. Dia berjalan menuju sumber suara yang ternyata ada di dapur. "Byan!" Sapa Angga dengan suara paraunya yang khas bangun tidur. Nara menoleh sejenak dan mengambil segelas air. "Mas, minum air putih dulu!" Pinta Nara dan menyuguhkan segelas air putih di hadapan Angga. "Kok aku tadi ga di gituin?!" celetuk Amar yang terlihat iri melihat Nara memperlakukan Angga. "Beda, kan lebih tua!" balas Nara dan kembali menuju penggorengan. "Aku juga lebih tua dari kamu Ra! Walaupun cuma 2 tahun, tetep aja lebih tua aku." sahut Amar. "Tapi mas Angga lebih tua banget!" jawab Nara tanpa dosa. "Byan!" Angga bersuara seolah keberatan atas ucapan Nara. Nara tertawa ngikik, tanpa sadar Angga sudah berdiri di belakangnya. Pria itu mencium bagian belakang kepalanya. "Mas! Jangan sok ganteng ya!" ucap Nara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Emang ganteng kan?!" balas Angga. "Mentang-mentang ganteng, terus main nyosor sembarangan?!" "Aku keluar aja dech! Di kacangin!" ujar Amar dan berlalu meninggalkan mereka. "Mas, jangan deket-deket!" ucap Nara saat merasakan kepala Angga menyandar dipundaknya. "Kenapa? Gugup?!" tanya Angga, dia bisa merasakan detak jantung gadis yang ada di pelukannya. 'Kok dia tau sich!' Nara membatin. "Soalnya mas belum mandi! Bau!" Nara menyangkal dan menutupi rasa gugupnya. "Alasan kan?! Awas kalo mas sudah mandi ya! Habis kamu!" Angga mengancam, Nara menoleh dan menjulurkan lidahnya. Angga meninggalkan dapur, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Kamu bangun jam berapa Ra? Uda ada ote-ote, pisang goreng, teh, mau buka warung atau gimana?" Tanya Lisa. "Bilangin kak Aline ya, maaf, aku obok-obok kulkasnya!" "Dia malah seneng, bangun tidur uda ada makanan. Kita masak apa nich buat sarapan?" Tanya Linda. "Yang di kulkas ada apa, itu aja yang dimasak." Jawab Venna. Tak lama pemilik rumah datang dengan berjalan malas, muka bantal dan masih menguap. "Sapa yang masak? Pagi gini uda matang!" Tanya Aline sambil duduk di meja makan. "Nara yang masak...." Ucap Venna. "Maaf aku buat ginian ga ijin dulu, soalnya kelaparan." kata Nara dengan menyengir tanpa bersalah. "Ga papa, dari pada sayuran nganggur di kulkas. Ayo kak! Kita masak apa nich? " tanya Aline yang sudah mengunyah hasil gorengan Nara. Akhirnya para wanita itu sudah berkumpul semua di dapur. Mereka saling membantu sambil mengobrol. "Sebenarnya kamu sama kak Angga gimana Ra?" Tanya Isti tanpa basa-basi. 'Wah! uda mulai nih!' batin Nara. Sejak semalam dia sudah siap dengan pertanyaan yang akan diterimanya. "Kita emang lagi dekat mbak." Jawab Nara. "Kalo Angga ngajak nikah, kamu mau kan Ra?" Tanya Venna. "Belum nyampek sana kak, Nara masih 22 tahun." "Kamu 22 tapi Angga uda ga muda lagi, paling 32an. Terus kalian mau punya anak umur berapa? Ga kasian Angga? Ntar kalo gendong anakmu, dipikir orang Angga itu kakek nya." Ujar Linda panjang lebar. "Pokoknya Ra, kalo Angga ngajak nikah, kamu harus mau. Itu tandanya dia serius." Sahut Lisa. "Kak Lisa kayaknya tau banget." Balas Nara. "Lisa kan mantan Angga." Jawab Adila "Hah?! Beneran kak?" Lisa hanya tersenyum dan mengangguk. Seketika hati Nara menciut, karena Lisa mempunyai kondisi fisik yang sempurna, sangat berbeda jauh dengan fisik Nara. "Jadi minder!" celetuk Nara polos dan membuat para wanita itu tertawa. "Kamu emang ga secantik Lisa, tapi kakak aku pasti punya alasan kuat untuk mendekatimu. Kamu special bagi seorang Angga." Bisik Aline seolah mengetahui kegundahan hati Nara. Gadis itu tersenyum mendengar kalimat yang dilontarkan Aline. Tapi tetap aja dia minder. Nara menerima berbagai macam pertanyaan dari sodara wanita Angga, seolah mereka ingin tahu lebih jauh tentang hubungan mereka. Dan Nara menjawab dengan bijak. "Uda selesai kan tanya-tanyanya? Setelah keluar dari rumah ini, Nara ga menerima pertanyaan lagi tentang Angga lho ya...." Ucap Nara dengan wajah lugu. "Kita nunggu kalian lamaran aja lah." Balas Venna. "Kita kayaknya ga pake lamaran, langsung nikah." Sahut Nara bercanda. "Ya uda, ntar aku bilangin kakak aku yang sok ganteng itu. Nara ga mau dilamar, langsung ijab qobul." Adila membalas candaan Nara. "Eh Jangan! Kan pengen ngerasain dilamar juga, biar keliatan romantis!" Sahut Nara cepat. "Jadinya gimana nich? pakai lamaran atau langsung? aku bilangin ke dia." Ujar Adila lagi. "Terserah dia aja!" sahut Nara. Mereka berhasil meledek Nara sehingga dapur lebih berisik. Pukul 7 beberapa menu telah siap dimeja makan. "Waktunya makan!" Teriak Aline. Para pria yang membersihkan mobil, membersihkan rumah, menyapu pekarangan, mendadak menghentikan kegiatannya. Sambil bercanda mereka mengantri dikamar mandi untuk mencuci tangan. "Yang singlelilah duluan! Kasian liatnya." Seru Arta dan mendapat sorakan gembira dari Aksa, Akmal dan Amar. Dan seperti biasanya Nara mengambil porsi ukuran makan untuk Angga yang duduk didepan TV. "Angga suruh makan Ra!" pinta Isti. "Ini buat mas Angga." Nara menunjukkan piring yang sudah terisi nasi dan sebagainya. "O...kayaknya uda sering ngelayani Angga." balas Isti dengan nada sarkasme. Nara hanya tersenyum. "Kamu sering masak buat Angga?" tanya Venna. "Mas Angga kadang sarapan dan makan malam di kos kak." jawab Nara dan mengambil beberapa lauk. Setelah sarapan, Nara masih sibuk membereskan meja makan. "Nara! Sini!" panggil Linda. Nara berjalan ke ruang keluarga yang sudah ada seluruh sepupu Angga. "Duduk Ra!" perintah Venna dengan menunjuk sofa dimana ada Angga duduk. "Sini aja!" Nara duduk disebelah Adila. "Situ Ra!" Perintah Abimana. Dengan berat Nara duduk disebelah Angga sambil menggerutu,"emang ada apa lagi ya? Kan tadi pagi uda ditanya!" "Cuma cross check Ra!" Sahut Reno. Nara duduk berdampingan dengan Angga. Sofa yang tampak memutar sudah terisi sepupu Angga, bahkan ada juga yang duduk dibawah beralas karpet dan menghadap ke arah Nara serta Angga. "Jadi takut diliatin gini!" ucap Nara lirih, namun terdengar yang lain. "Nyantai Ra! Kan ada Angga!" celetuk Isti meledek Nara, membuat gadis itu malu dan menundukkan kepala. "To the poin aja ya! Sebenarnya kalian ada hubungan apa?" Tanya Arta. "Aku uda pernah bilang, jangan ikut campur kalo masalah ginian." Protes Angga seolah keberatan urusan pribadinya di campuri orang lain. "Kita ga ikut campur kalo gadis yang kamu dekati sekarang bukan Nara. Kamu dekat ama wanita lain, kita ga peduli. Tapi ini Nara, uda kita anggap saudara. Malah kayak adek sendiri." sahut Arta. "Lalu?" tanya Angga. "Kita mau tau, sebenarnya kalian gimana? Kita takut, klo Nara hanya cinta sesaat buat Angga. Soalnya kita tau, sejak dulu, Angga sering ajak wanita, tapi ga lama, ganti lagi, dan sekarang Nara. Nara uda dekat sama kita, jadi kalo ada orang yang mengecewakan Nara, kita juga ngerasa kecewa, dan jangan sampe orang itu sodara kita sendiri. Jadi kalo Angga belum serius, jangan kasih harapan yang terlalu berlebihan ke Nara. Kalo serius, jangan sampe Angga ada main di belakang Nara." Arta berusaha menjelaskan supaya Angga tidak mempermainkan Nara. Hati Nara sedikit terenyuh mendengar obrolan sepupu Angga yang ternyata ikut menjaga hatinya. "Kalo Byan yang ninggalin, terus dia ketemu yang lebih baik, gimana?" "Sukurin, terima nasib!" ucap Aline dan membuat Angga mencebikkan bibirnya. "Kalian belain siapa sich? Aku apa dia?" "DIA!" para sepupu itu menjawab kompak dengan menatap wajah Angga. "Astaghfirullah..." kata Angga menggelengkan kepalanya. "Salah aku apa bisa sodaraan sama kalian?" ucap Angga lagi membuat Nara tersenyum. "Gimana Ngga?!" tanya Linda. Angga melihat Nara yang duduk disampingnya dengan tatapan hangat dan memuja. Gadis itu merasa diperhatikan oleh kekasihnya, dia pun memandang Angga sambil mengangkat kedua alisnya, dan terlihat lucu bagi Angga. "Kita memang lagi dekat, kurang lebih 3 bulanan. Aku serius sama Byan, aku tidak pernah seyakin ini. Tapi dia yang ga yakin." ucap Angga sambil terus menatap Nara. "Dia ragu, soalnya kak Angga gonta-ganti cewek." sahut Adila. Angga memutuskan kontak mata dengan Nara dan melihat Adila. 'karma' 'rasain' 'kasihan diragukan' 'digantung donk' Dan masih banyak ucapan lain yang mendengung tentang dirinya. Mereka menyudahi setelah melontarkan beberapa pertanyaan ke Angga. "Ra, kalo Angga nyakiti kamu, bilang aja ke kita. Ntar kita buat wajahnya hancur." Arta memberikan statement terakhir, dan terdengar Angga. Nara tersenyum dan mengangguk, sedangkan Angga meringis dan menggelengkan kepala. Sekita pukul 10.00 mereka keluar dari rumah Aline. Bagi yang sudah beranak, mereka menjemput anaknya di rumah Bunda. "Kita ngapain ke sini?" tanya Nara ketika Angga memasuki area parkir supermarket ternama. "Belanja buat kita. Supaya mas tau seberapa banyak pengeluaran kita. Ga boleh nolak!" Mereka berjalan menyusuri lorong supermarket. Angga mendorong troli, dan Nara berjalan disampingnya. "Apa itu?" Angga mendaratkan dagunya di pundak Nara sambil melihat bungkusan yang dipegang Nara. Nara sangat menyukai jika Angga menyandarkan dagu di pundaknya, begitu juga Angga, memudahkan dia mencium kekasihnya. "Snack yang lagi ngehits, mas mau rasa apa?" tanya Nara melihat sekilas ke wajah Angga yang begitu dekat. "Kalo ada, rasa bibir kamu." Nara tersenyum menggelengkan kepalanya. "Dasar duda! Tua pula!" Ejek Nara. "Lengkap banget ya statusnya!" ucap Angga sambil mencuri ciuman di pipi Nara. "MAS!" bisik Nara dengan tekanan dengan mata melotot. Angga terkekeh, lalu merangkul pundak Nara. Mereka berbelanja dan kadang bercanda, hingga tak terasa keranjang tampak penuh. "Mas, ini banyak banget! mau taruh mana?!" Nara baru menyadari. "Di kos Byan." "Ga muat!" "Kalo ga muat, taruh di rumah mas aja. Jadi kalo libur, kamu ke rumah. Kamu ga pengen tidur di rumah mas?" "Halalin Nara dulu!" "Minta di halalin, tapi di ajak nikah ga mau. Terus gimana?" "Yakinkan Nara dulu! Nara cuma mau pernikahan sekali seumur hidup." "Siap Nyonya Angga Laksono!" ucap Angga di sambut senyuman dari Nara. Tiba di kasir, Nara dan Angga terdiam dan berdiri didepan mesin hitung. Petugas kasir seolah menikmati wajah tampan Angga dengan memperlambat proses perhitungan. Nara mengetahui hal itu, membuat gadis itu sedikit sewot. "Mas, aku tunggu didepan ya! Capek!" ucapnya dengan manja. "Sayang....tunggu bentar ya!" pinta Angga dengan mencekal pergelangan Nara, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Nara. Karena dia tahu kecemburuan Nara, sedangkan hati Nara berdesir mendapat panggilan 'sayang' untuknya. "Mbak! Bisa agak cepat dikit?! Istri saya hamil muda, gampang mual!" ucap Angga kepada kasir. Akhirnya wanita kasir itu mempercepat proses hitungnya. "Mas ngapain bilang aku hamil?" tanya Nara sambil berjalan menuju mobil Angga. "Ga papa! Itu harapan, doa , kamu istriku dan segera hamil!" ucap Angga. Mereka tiba di kos Nara. Angga membantu merapikan barang belanjaan yang baru dibelinya tadi. "Jumat sampai Minggu ada gathering ya?" "Iya, mas ikut?!" "Enggak By, itu kan gathering cabang. Ntar ada gathering regional, mas baru ikut." "Ok...." respon Nara. "Seneng ya kalo ga ada mas?" "Kok tau?" Nara menggoda Angga. "Byanara!" seru Angga. Nara tertawa dengan menutup tangannya Usai makan malam, mereka setia di kamar Nara. Mereka duduk dikasur dengan bersandar dinding. Angga asyik melihat tayangan sepak bola. Sedangkan Nara melihat medsos yang ada di ponselnya. Bosan dengan ponselnya, Nara ikut melihat TV, tapi dia tidak mengerti apapun tentang kompetisi itu. Dia menamati wajah Angga yang sedang serius menatap layar kaca. Dengan senyum yang licik dia mencium pipi Angga. "Byan!" sontak Angga melihat Nara, ciuman Nara merusak konsentrasinya. "Jangan cium-cium mas!" imbuh Angga. "Kenapa?" "Pokoknya jangan!" "Mas sendiri sering cium-cium Nara seenaknya, jadi Nara juga pengen cium mas." bantah Nara. "Jangan Byan, mas aja yang cium kamu!" "Ga adil!" "Kalo kamu yang cium, bisa kacau ." "Kacau kenapa?" Nara menggoda Angga dengan pertanyaan. "Kamu bisa hamil!" "Mana mungkin cium doang bisa hamil!" Nara semakin menggoda Angga, sebenarnya gadis itu sudah tahu kelemahan kekasihnya. Jika Nara melakukan kontak fisik secara intim, dengan mudah hasrat pria itu berkobar. "Soalnya kamu sangat menggoda iman, kamu diem aja, rasanya mas pengen ngapa-ngapain kamu. Apalagi kalo kamu cium mas, terus mas ga bisa nahan, kamu bisa hamil, Byan." "Lalu kalo mas cium aku itu gimana?" "Saat mas cium Byan, berarti mas bisa nahan, ya h***y dikit, tapi bisa dikontrol. Paham Bu Angga?!" "Paham Pak Angga." Setelah beberapa menit, Nara yang tenggelam dengan kejenuhan menggoda Angga lagi. Nara meletakkan tangannya di paha Angga, mata gadis itu memperhatikan ponsel. "Byan!" bisik Angga dan menggelengkan kepalanya. "Iya mas?" sahut Nara lembut, dan suaranya makin menggoda Angga. "Tangannya jangan disini ya!" Angga menggenggam tangan Nara yang ada di pahanya. Nara meletakkan ponselnya. "Cium ga boleh, pegang paha ga boleh. Terus yang boleh pegang mana?!" Nara menarik tangannya dari genggaman Angga. "Disini?!" Nara memegang d**a Angga. "Byan!" "Disini?!" Nara memegang perut Angga. "Stop Byan!" Nara terus menggoda Angga dengan menyentuh tubuh Angga, hingga pria itu tak sadar merebahkan dirinya di ranjang. Karena asyik menggoda Angga, Nara pun tak sadar jika dia sudah duduk di atas paha Anga. "Geli Byan!" ucap Angga lirih dengan tekanan, kali ini Nara dengan tawanya yang renyah mulai menggelitik perut, pinggang Angga. Angga terus menyebut nama gadis itu, sedangkan tangan Nara masih terus bergulat menyerang tubuh Angga. "NARA! NGAPAIN KAMU?!" teriak seseorang ketika dia membuka pintu, melihat Nara di atas tubuh Angga. Dengan terkejut Nara menoleh dan menghentikan kegiatan yang menurutnya seru, "Ma-mas Dito?" Nara seolah tak percaya siapa yang baru saja masuk ke kamarnya. Setelah sadar dengan keterkejutannya, Nara beralih dari tubuh Angga dengan wajah panik dan canggung .Angga memejamkan mata dan menggelengkan kepala, "Mati!" ucap Angga yang bisa didengar Nara. Angga bangkit dari rebahannya. "Nara duduk situ!" perintah Dito menunjuk pojok kasur. "Kamu duduk situ!" Dito menunjuk karpet. Lalu Dito duduk dipinggir kasur. "Kalian ini apa-apaan?! Katanya ga mau ciuman tapi main kuda-kudaan?! Gitu Ra?!" Tanya Dito dengan melihat Nara yang menunduk. Gadis itu tidak menjawab. "Dia masih perawan kan?" tanya Dito melihat Angga. "Dia masih perawan, beneran! Kita boleh ke RS sekarang!" jawab Angga tegas dan meyakinkan. "Kalian nikah dech!" "Ga mau!" seru Nara yang sedari tadi diam. "Ga mau, tapi kalian sudah seperti itu. Mas juga pacaran, tapi ga seperti itu Ra. Kamu buat mas jantungan." "Ya mas itu yang anyep." celetuk Nara, membuat Angga tersenyum. "Bukan anyep, tapi kita sama-sama dewasa, ga mungkin seperti itu. Grow up Ra! Stop being childish!" "Terus Nara mesti ngapain supaya terlihat dewasa?" "Mas ga bisa larang kamu seperti tadi, Mas ga tau selama ini kalian ngapain aja, satu-satunya jalan, kalian harus nikah!" "Nanti mas! Nanti!" kata Isti dengan nada menekan. "Kamu tunggu apa? Dia uda bisa hidupin kamu Ra!" "Mas, kerja bukan cuma uang aja. Dengan kerja, aku bisa menilai kemampuan aku sendiri. Mengembangkan pola pikir aku." "Jadi kamu mau nikah kapan?" desak Dito. "Tahun depan." ucap Nara lirih. "Dengar itu Ngga!" ucap Dito, seketika Angga melihat Dito dan mengangguk. "Kamu bisa bertahan sampai tahun depan? Kalo ga kuat, kamu tinggalin aja Nara sekarang!" "Mas Ditooooooo!" rengek Nara. "Mas sebagai lelaki juga ga mau digantung ga jelas seperti itu Ra!" "Iya mas, beneran tahun depan." ucap Nara meyakinkan. Akhirnya mereka bisa berbincang dengan hangat setelah melewati suasana yang cukup menegangkan tadi. Dan tepat pukul 9 malam Dito mengajak Angga pulang. Mau tak mau, duda tampan ini dengan berat meninggalkan kos kekasihnya. 'Apes....hari ini ga bisa cium dia' batin Angga didalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN