"Mas tadi ngapain kok langsung bilang masalah gitu ke Mas Dito? Kan baru ketemu sama Mas Dito "
"Aku ga mau buang waktu. Menemukanmu lagi, dan kamu masih sendiri, itu membuat aku lega, bahagia, entah kata apalagi kata yang tepat. Jadi kamu tolak lamaran mas? Dari tadi mas belum dengar jawaban kamu." desak Angga.
"Aku ga menolak." elak Nara.
"Jadi diterima?" Tanya Angga. Pertanyaan Angga benar-benar menyudutkan.
"Aku masih belum yakin sama mas Angga. Dan ini terlalu mengejutkan. Sekian lama kita ga ketemu, hari ini kita ketemu lagi, dan di hari yang sama mas mau nikahi Nara. Aku belum percaya, aku juga belum yakin keputusan mas." Nara berucap panjang lebar, menjelaskan kegundahan hatinya.
"Apanya yang belum yakin? Makanya nikah Byan. Supaya lebih yakin."
"Beberapa kali aku liat mas jalan ama wanita, dan mereka cantik, kalian terlihat pasangan sempurna. Mas ga ngerjain Nara kan?!"
Angga menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
"Byan, percayalah! Angga cinta Byanara, Angga butuh Byanara. Hanya Byanara yang menyempurnakan hidup Angga."
"Masih belum percaya." Balas Nara.
"Mas harus gimana supaya kamu percaya?" Angga bertanya sungguh-sungguh.
"Aku ga tau."
"Aku membutuhkanmu, Byan. Mas sayang Byan." Angga mengungkapkan isi hatinya.
"Playboy pasti enteng ngucapin gituan." Nara tak mudah percaya.
"Sayang, seorang playboy menjalani hubungan dengan beberapa wanita dalam waktu yang sama. Aku ga seperti itu, memang aku sempat dekat dengan beberapa wanita, tapi ga bisa berlanjut, beberapa minggu ini kamu sering hadir di pikiranku. Apalagi momen kita di konser, aku membayangkan momen itu saat aku bermain solo."
"Main solo?!" Tanya Nara tak paham.
"Byan, wanita mengeluarkan sel telur yang tidak berguna dengan cara datang bulan. Pria juga mengeluarkan s****a, kepala pening, badan ga nyaman kalo ga dikeluarkan. Jadinya aku ngeluarin, main solo sambil bayangin kamu."
"Mas jorok dech!" Ucap Nara dengan pipi yang bersemu. 'aku dijadikan bahan imajinasi main solonya?' batin Nara tak percaya.
"Lebih baik begitu, dari pada aku bercinta sama wanita yang ga jelas. Atau kamu mau bantuin? Itu akan lebih mudah, Byan!" Ucap Angga sambil melirik Nara dan tersenyum nakal.
"Mas Angga m*sum!" Balas Nara salah tingkah.
"Ini kebutuhan biologis Byan, kamu pasti tahu. Apalagi aku sudah pernah merasakan bercinta. Tuh kan! Punya aku uda keras ngomongin tadi, mau pegang?" Tanya Angga menggoda Nara.
"Astaga mas Angga ga malu ngomongin gini? Atau setiap sama wanita bicara ginian?!" seru Nara yang sedikit malu. Karena menurut dia, pembicaraan ini agak tabu.
"Uda aku bilang, cuma kamu yang bisa membantuku Byan."
"Sebelum aku? imajinasi sapa lagi?"
"Liat bokep sendiri di rumah." jawab Angga jujur.
"Uda nyampek, mas mampir?" Ucap Nara saat tiba di ujung kampung kos.
"Iya, bentar aja."
Keduanya turun dari mobil Angga dan berjalan menuju kos Nara.
"Mas!" Nara terkejut saat Angga menyerang dengan memeluknya tak lama setelah memasuki kamar kos Nara.
"Ssshhhh, bentar By. Kangen banget..." Ucap Angga sambil mencium aroma rambut Nara. Angga menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nara.
"Ga mau dicium" rengek Nara ketika merasakan hembusan nafas Angga di lehernya.
"Cuma peluk." Angga semakin mengeratkan pelukan.
Nara membalas dengan mengusap punggung Angga.
"Hmmmm Byan." Usapan lembut Nara membuat semakin mengeratkan pelukannya.
"Cium Nara!" Bisik gadis itu tepat ditelinga Angga yang masih mengendus leher Nara. Entah kenapa, gadis ini sangat merindukan kecupan pria yang memeluknya.
"Yakin?!" Angga membalas dengan hati yang sangat bahagia. Pria ini bingung, tadinya gadis ini melarang, tapi sekarang memerintah.
"Sekarang atau ga sama sekali sampai nikah!" Nara berucap tegas.
Dalam sepersekian detik bibir Angga mendarat di leher Nara dan membuat mendesah empunya.
Pria itu melumat bibir Nara, mencecapnya hingga menimbulkan suara yang khas.
"uda ya...ntar aku harus ganti celana.. " Angga melepaskan pelukannya.
"Kenapa?" tanya Nara. Mereka duduk dengan sedikit berjarak.
"Gara-gara dekat kamu... "
"Kok aku?" Protes Nara.
Angga terkekeh.
"Karena kamu mengg*irahkan Byan, dengan baju yang tertutup aja kamu bisa membangkitkan hasratku."
"Ya mas aja yang m*sum".
Angga terkekeh lagi.
"Aku masih jengkel sama Mas." Ucap Nara sambil mengunyah Snack yang dibawa dari rumah Dito.
"Jengkel kenapa?"
"Waktu ketemu di rumah mbak Isti, ngajak cewek baru, mas ga sapa Nara, ga tersenyum, seperti orang ga kenal. Kenapa? Takut ketahuan sama ceweknya kalo kita pernah ciuman?!"
Angga tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Aku malu ketemu kamu. Seharusnya sebagai pria aku ga boleh memperlakukan kamu seperti itu saat di konser. Bisa dianggap pelecehan.
Entah kenapa, beberapa bulan ini aku sering membayangkan kamu.
Semakin aku berusaha menepis bayanganmu, segala hal tentangmu makin memenuhi pikiranku. Sebenarnya aku ingin menghubungi, tapi aku ga punya keberanian dan alasan yang kuat.
Selain itu aku sadar, usia kita yang jauh berbeda, mungkin juga salah satu faktor aku harus menyimpan rasa ini.
Aku takut memulai, Byan.
Aku takut kamu menolakku lalu menghindariku.
Kamu masih muda, aku liat kamu sangat nyaman dengan Akmal atau Aksa.
Aku benar-benar cemburu, pengen nyapa, tapi kamu terlihat cuek."
"Aku cuek soalnya mas yang mulai, kalo seandainya mas sapa aku, atau tersenyum, pasti aku tetap baik."
"Iya, aku yang salah. Aku minta maaf ya?" Angga mengakui kesalahannya.
"Hm" jawab Nara.
"Pusar nya ngapain di tato? Ditindik juga?"
"Mas jangan bilang mas Dito tentang pusar ini, dia bisa marah!"
"Iya! Jawab dulu ngapain ditindik dan di tatto?"
"Itu gara-gara mas." kata Nata menyalahkan Angga.
"Kenapa?"
"Ya gara-gara dirumah mbak Isti itu, di cuekin. Nara sakit hati, makanya tindik aja, sekalian tatto."
"Sakit ya?"
"Lebih sakit di cuekin sama Mas." Ucap Nara dengan manja dengan cemberut.
"Boleh liat tatonya?"
Nara bangkit dan berjalan dengan lututnya mendekati Angga. Gadis itu mengangkat kaos hingga pusar nya terlihat pas didepan wajah Angga.
Angga menarik pinggang Nara lebih dekat.
"Mas!" Nara memekik dan memegang bahu Angga.
"Maaf sudah menyakitimu" pria itu mencium berkali-kali pusar Nara.
Jemari Nara menyisir kasar rambut Angga.
"Mas jangan bilang mas Dito kalo kita ciuman" ucap Nara polos membuat Angga menahan senyum. 'ya ga mungkin lah! bisa hancur wajah tampan ini' Angga membatin.
"Kenapa?" tanya Angga.
"Ntar kita disuruh nikah." jawab Nara polos. Dari nadanya, dia belum ingin menikah.
"Ya ga papa, aku kan sudah siap." Ucap Angga yang masih menciumi perut Nara.
"Aku yang belum siap."
"Tapi kita pacaran kan By?"
"Belum yakin sama mas."
"Kan tadi kita habis ciuman, By."
"Kita juga pernah ciuman walaupun belum pacaran."
"Ya udah, pokoknya Byanara nikahnya sama Angga. Kalo ga mau, aku bilangin mas Dito kelakuan kita tadi, sama pusar ini."
"Mas Angga curang!" Ucap Nara sambil meremas kasar rambut Angga. Pria itu hanya meringis.
"Auwww!" Jerit gadis itu karena Angga membalas dengan menggigit perut Nara.
"Byan berisik!" Ucap Angga lirih namun dengan tekanan. Sedangkan Nara terkekeh tak peduli.
"Uda jam 9 lebih, mas ga pulang?"
"Tapi kasih ciuman lagi! Kalo ga, aku bilangin mas Dito." Angga mendongak melihat wajah Nara.
"Ih! Sukanya ngancam!" Nara menekan telunjuknya di kening Angga.
Namun tak lama gadis itu memegang rahang Angga, mendekatkan wajahnya, Nara mulai mencium bibir Angga. Sang pria membalas, dan akhirnya si pria lebih mendominasi.
Dengan perlahan Angga menuntun tubuh Nara hingga kini gadis itu duduk di atas paha Angga tanpa melepaskan lumatan. Mereka saling menikmati lumatan pasangannya dengan lenguhan yang terbungkam. Baik Nara maupun Angga seolah tak ingin mengakhiri pergulatan lidahnya,
Nara melepaskan bibirnya yang sudah membengkak sambil mengatur nafas. Kening mereka masih saling bertemu.
"Terserah kamu mau nikah kapan. Tapi jangan lama-lama, kasihan pusaka mas mu ini." Ucap Angga mencium ringan bibir Nara.
"Aku takut mas ketemu wanita yang lebih sempurna, terus ninggalin aku. Mas itu gantengnya kebangetan, pasti banyak wanita yang mau."
Angga terkekeh mendengar kata-kata polos Nara.
"Cantik itu relatif. Hanya kamu yang aku inginkan. Tunjukkan aku bagaimana cara untuk membuktikannya!"
"Setia! Bisa?"
"Insya Allah bisa!" Ucap Angga tegas.
"Uda malam, mas pulang"
"Gimana aku bisa pulang? Kalo kamu masih di atas ku!"
Nara tersenyum malu dan bangkit dari pangkuan si pria. Angga berdiri dan menuju pintu.
"Besok aku jemput" ucap Angga sambil mencium kening Nara.
"Sarapan disini ya? Aku banyakin masaknya." ajak Nara.
"Aku ga biasa sarapan."
"Mulai sekarang harus sarapan. Mas berangkat agak pagi, masih muter nganterin aku dulu kan!"
"Ok, abis subuh aku berangkat."
Angga meninggalkan kos Nara.
Gadis yang baru saja menutup pintu itu masih mengumbar senyum dengan bersandar di pintu.
'ini bukan mimpi kan? Aku ga mau bangun kalo ini hanya sekedar mimpi.
Tuhan, jaga dia buat Nara ya. Jodohkan dia dengan Nara. Kalo dia bukan jodohku, pertemukan aku makhluk yang sama seperti dia. Tuhan, kalo ga ada makhluk seperti dia, ya uda....dia aja yang jadi jodohku.' Nara berdoa dengan sedikit memaksa.
Disisi lain, sang pria terus mengumbar senyum.
'I want her! I want her! I want Her!' batin Angga.
Kedua insan itu tak sabar menunggu hingga esok hari. Mereka pun susah memejamkan mata, mengingat apa saja yang mereka lakukan malam ini.
Angga : jangan bobok malam-malam, besok harus masakin aku.
Angga tak sabar mengirim pesan mesra. Nara menerima pesan dengan senyum sumringah.
Nara : mas juga boboknya jangan malam-malam, besok harus ke sini pagi. ?
Angga merasa geli melihat emoticon dalam pesannya.
'Dasar bocah! Tapi bocah ini yang mewarnai hidupku' batin Angga dengan tersenyum.
Usai sholat Shubuh Angga meluncur ke kos Nara.
"Ini jam berapa? kok uda datang!" ucap Nara ketika membuka pintu kos, sambil melihat jam dinding yang menunjukkan 5.35.
"Abis Shubuh jalan masih sepi By, kamu pasti belum mandi kan?!" Angga mendekati Nara yang masih bergulat dengan alat dapur dengan memakai baby doll berkarakter kartun.
"Emang iya, mandinya abis masak. Mas jangan kesini!"
"Emang kenapa?" tanya Angga yang sudah berdiri di batas antara kamar Nara dan dapur.
"Ntar baju Mas bau bumbu masakan! Tunggu di kasur aja! liat TV kek! tidur juga ga papa, ntar aku bangunin!"
"Baik Bu Angga, Pak Angga nya tiduran dulu ya!" Angga menggoda lalu meninggalkan Nara yang menahan senyuman.
Pria itu merebahkan tubuhnya dan berbaring di kasur yang tanpa ranjang. Dia menghirup aroma tubuh Nara yang masih tertinggal di bantal dan guling.
30 menit berlalu, Nara sudah bersih dan sudah menggunakan busana kerjanya, kemeja polos dan rok.
Gadis itu tersenyum ketika melihat Angga yang masih tertidur nyenyak dan memeluk guling. 'cowok sapa sich ini? kok ganteng banget' batin Nara.
"Mas, bangun! uda jam 6 lebih." Nara menepuk lengan Angga.
Perlahan, Angga membuka matanya dan tersenyum. Nara meminta Angga untuk cuci muka lebih dulu dan memberikan handuknya yang kemarin dipakai Angga.
"Uda siap jadi istri Angga nich!" goda Angga melihat Nara menyendokkan nasi untuk Angga.
"Ntar pasti minta bikin makanan terus kan?!"
"Bikin anak juga donk!"
"Mas, ini masih pagi!" ucap Nara dan melotot.
"Maaf Bu Angga"
Angga tersenyum melihat pipi Nara yang merona dan menahan senyum. Mereka sarapan dengan tenang. Dan setelah sarapan, Angga membantu membereskan sisa sarapan dan kasur yang sempat di tiduri.
"Kamu pake baju itu?" tanya Angga ketika dia baru menyadari kemeja yang dipakai Nara sangat tipis dan transparan.
"emang kenapa?" Nara melihat kemejanya, rasanya tidak ada yang salah.
"Keliatan bra nya Byan." ucap Angga, sontak Nara menyilangkan kedua lengan tangan dan menutup dadanya lalu bercermin.
"Ga kok! lagian ntar kan pake blazer. ga keliatan!" balas Nara usai bercermin
"Ganti By" Angga memaksa.
"Ga cukup waktunya Mas! telat!" ucap Nara. 'males lah kalo setrika lagi' batin Nara.
"Byan, mereka bisa liat warna bra mu, nanti dia bisa bayangin ukuran dan payudaramu."
"Itu pikirannya mas Angga."
"pokoknya ganti Byan!" pinta Angga dengan sedikit memaksa.
"Ga mau!" Nara tetap pada pendiriannya.
"Byan!" Angga menekan kata-katanya dengan suara lirih sambil matanya melotot.
Mata Nara berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Angga yang seperti bentakan.
Seketika Angga merasa bersalah.
Hati Angga perih melihat gadis yang ada didepannya hampir menangis.
"Sssstttt, mas minta maaf. Jangan nangis! Dikantor nanti, mas ga bisa jaga Byan. Mas minta tolong Byan jaga diri dengan tidak mengundang perhatian lawan jenis." Angga membujuk Nara yang telah meneteskan air mata.
Angga menangkup kedua pipi Nara dan menghapus jejak air matanya.
"Iya dech, hari ini pakai kemeja ini. Tapi di lapisi cardigan ya?!" Angga masih berusaha membujuk Nara.
"Ayok berangkat!" Ucap Nara manja menutupi sedihnya.
"Jangan cemberut! Kan mas uda minta maaf."
Nara tetap cemberut. Angga mencium sekilas bibirnya.
"Kok malah dicium?!" Nara terkejut mendapatkan ciuman dari Angga.
"Gemesin bibirnya kalo manyun gitu."
"Ih mas ini!" Nara memukul lengan Angga.
"Terlanjur! Ya uda, mas ambil lagi!"
Angga kembali mencium lagi bibir Nara.
"Maaaaass!" Nara merengek dengan tersenyum dan memalingkan wajahnya yang sudah merah.
Sedangkan Angga tersenyum, menggelengkan kepalanya melihat tingkah si gadis yang malu-malu kucing dan salah tingkah.
Mereka keluar dari kos Nara dan meluncur ke kantor Nara terlebih dulu.
"Mas ga turun ya! Ntar pulangnya tunggu Mas!" pinta Angga saat tiba di kantor Nara.
"Siap Bos!" Ucap Nara dan keluar dari mobil Angga.
Waktu terus berjalan, mereka sudah menjalani hubungan ini lebih dari 3 bulan, dan sering menghabiskan hari libur bersama. Entah di kos Nara atau di rumah Angga seperti saat ini.
"Mas pengen maem apa?" Tanya Nara sambil membuka kulkas yang ada di rumah Angga.
"Masak aja yang ada di kulkas!" Balas Angga yang sedang membersihkan sangkar burung dan merawatnya, tak jauh dari dapur.
"Mas sebenarnya cari istri apa ART sich?"
"Istri lah! Emang kenapa?!"
"Tiap libur tetap aja disuruh masak, bantuin bersih-bersih. Sekali-sekali calon istrinya di ajak jalan kek, nonton bioskop kek. Libur, kalo ga di rumah, di kos. Bosen!"
Angga terkekeh dan melihat sekilas ke Nara.
"Calon istri siapa?!" Angga menggoda Nara.
"MAS! Aku cubit lho!" ancam Nara yang sudah terlanjur malu mengakui calon istri Angga.
"Terserah! Mas rela diapain aja, asal calon istri happy. Abis ini kita jalan! Ga usah masak!"
"Beneran! Mas ga terpaksa kan?!"
"Demi CA-LON IS-TRI!". Angga menekan kata calon istri.
"Mas Anggaaaaa!" Rengek Nara menghampiri Angga dan mencubit pinggangnya hingga pria itu meringis kesakitan.
"Auw! Burungnya lepas Byan!" Angga memperingati Byan yang masih mencubit pinggangnya.
"Biar aja! Tiap aku kesini, mas mesti sibuk ama burung-burungnya." ucap Nara, lalu dia meninggalkan Angga yang masih berkutat dengan 3 ekor burungnya.
15 menit kemudian Angga menghampiri Nara yang sedang melihat TV acara gosip.
"Ayok cari sarapan!" ajak Angga.
"Sarapan apa kalo uda jam 9?!" balas Nara yang masih duduk mematung didepan TV tanpa melihat Angga yang duduk di sebelahnya.
"Calon istri jangan marah donk! Burung itu tanggung jawab mas, ga nyampek 1 jam bersihin mereka. Ayok, ntar keburu siang!" Angga berdiri di depan Nara. Namun gadis itu masih enggan berdiri.
Angga mendekatkan wajahnya ke wajah Nara, mata mereka saling bertemu. Kedua tangan Angga bertumpu di sandaran sofa, terlihat mengungkung Nara.
"Berdiri atau mas cium!" ancam Angga. Sontak Nara menutup wajah dengan kedua tangannya dan hal itu membuat Angga tertawa.
"Kena kan!" ucap Angga usai mencium puncak kepala Nara.
"CURANG!" teriak Nara masih menutup wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Angga makin gemas melihat tingkah Nara yang kekanakan, hingga dia menghujani ciuman di punggung tangan Nara.
"MAS ANGGAAAAAA!" rengek Nara, membuat pria itu menghentikan ciumannya dan terkekeh. Angga berdiri dan menarik paksa tangan Nara, gadis itu mengintip dari sela-sela jarinya. Dan menurunkan tangan dari wajahnya, lalu memukul d**a Angga. Lagi-lagi tingkah Nara membuat Angga tertawa.