BAB 13

1569 Kata
Acara resepsi telah usai. Setelah berbicara panjang lebar dengan para saudara, Angga dan Nara meninggalkan gedung resepsi. Mereka tak langsung pulang, masih ke rumah Dito lebih dulu untuk mengambil baju dan barang Nara yang lain. "Kalian sudah menikah. 2 orang dengan pemikiran yang berbeda, cepat atau lambat pasti menimbulkan masalah. Jika itu memang terjadi, aku harap kalian sama-sama dewasa dan bijaksana." Dito memberikan nasihat. "iya mas... " kata mereka hampir bersamaan. "Angga jauh lebih tua dan pernah menikah. Tolong jangan sakiti dia, hati atau fisiknya. Kalo Nara ada kesalahan, tolong selesai kan sendiri. Kalo yang satu panas, yang lain tolong diam. Kalo sama-sama panas, lebih baik jangan ngomong. Feng Pukul 8 malam Angga memboyong Nara ke rumahnya. Pria itu membuka pintu utama dan membawa tas koper Nara. Nara sering ke rumah ini, tapi kondisi sekarang membuat dirinya kikuk. "Masuk By!" Ajak Angga saat melihat Nara tampak ragu masuk ke rumahnya. "Ada yang ketinggalan?!" Tanya Angga saat melihat Nara yang cukup 'diam'. "Oh..Enggak mas." jawab Nara dengan senyuman. Nara duduk di ruang TV. "Bajunya uda aku masukkan ke kamar, tapi belum aku rapikan di lemari." ucap Angga sambil melewati Nara. "Iya, terima kasih." Nara melihat Angga sedang mematikan beberapa lampu di beberapa bagian rumah ini, tak lupa dia memeriksa seluruh pintu dan jendela. "Kok masih disini?! Mau aku gendong? Seperti yang di film-film?" Angga menggoda Nara yang gugup. "Ga usah aneh-aneh!" Nara tersipu malu, lalu bangkit dari sofa dan membuntuti Angga yang memasuki kamar. Suasana kamar tampak berbeda saat Nara merawat Angga sakit. Cat dinding lebih cerah, begitu juga dangan tirainya yang di seragamkan dengan tirai ruang tamu. "Mas kapan renovasi kamar?" tanya Nara. "Sehari setelah resepsi Adila, waktu kamu terima lamaran aku." ucap Angga, pria itu masuk ke kamar mandi meninggalkan istrinya yang masih melihat sekeliling kamar Angga. Tak lama Nara membuka kopernya dan mencari baju ganti. Dia duduk terdiam di tepi ranjang. Angga keluar dari kamar mandi dengan telanjang d**a. Nara sedikit terkejut melihatnya, ini pertama kali dia melihat Angga dengan dadanya yang polos. 'Duh! ini suami kok cakep banget ya! dia ga salah pilih aku kan?!' batin Nara girang dan menahan senyuman. "Mau ke kamar mandi?" tanya Angga memecah lamunan Nara. Nara tak menjawab, dia menyelonong masuk ke kamar mandi. Angga hanya tersenyum melihat kegugupan istrinya. 'Kamu kalo gini pingin aku obrak-abrik sekarang juga.' Angga bermonolog, dia sudah terbaring di ranjang dan menunggu istrinya. Beberapa menit Nara dikamar mandi. Dia bercermin, melihat wajahnya sendiri. 'Ra, jangan jadi pengecut. Semua wanita juga mengalami hal yang sama.' "BYAN!" Terdengar Angga meneriakkan namanya. Nara tidak merespon. Angga terpaksa bangkit lagi, dan mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi. Nara tidak menjawab, dia sedang memantapkan hati dan percaya dirinya Dengan berat Nara membuka pintu kamar mandi. "MAS!" Pekik Nara, dia terkejut saat membuka pintu, Angga berdiri tepat di ambang pintu. "Maaf, mas kuatir, kamu lama sekali di kamar mandi. Mas panggil juga ga bersuara. Mas pikir kamu ketiduran." Canda Angga. Angga langsung melihat d*da istrinya, terlihat samar benda kecil dibalik bajunya. "Ehm' Angga berdehem, mendadak tenggorokannya mengering. Nara tetap tidak mersepon, dia melewati Angga. 'Ya Allah, kayaknya besok mesti ke dokter jantung' batin Nara saat merasakan detak jantungnya yang makin cepat. Gadis itu bersiap merebahkan dirinya di ranjang. "Kok pake daster?" Tanya Angga saat melihat Nara memakai piyama daster berbahan satin. 'banyak banget pengamannya!' batin Angga saat melihat kancing daster Nara dari atas hingga paha. "Maksud mas?" Tanya Nara sambil merebahkan tubuhnya, dan memiringkan tubuhnya ke arah Angga yang masih berdiri. "Aku pikir kamu pakai lingerie." Ucap Angga cengar-cengir. "Ga sempet beli." jawab Nara singkat. "Oh iya, mas lupa kasih tau. Mas uda beli beberapa lingerie." "Hah?! Beneran?!" Respon Nara, dia belum mempercayai Angga membelikan dia lingerie. Angga berjalan menuju lemari lalu membukanya. "Mau pakai yang mana dulu?" Tanya Angga dengan santai sambil mengambil beberapa lingerie lalu menjembreng. 'Tuhan, kenapa dia ga malu pegang-pegang benda itu. Aku yang lihat aja malu.' batin Nara memaksakan senyuman saat melihat kain tipis berenda. "Mas beli sendiri?" Tanya Nara merasa heran. Bisa-bisanya seorang pria membeli dalaman. "On line." "Kok mas tau ukuran Nara?" "Dari sodara perempuan kita. Mau pake yang mana dulu?" Nara memaksakan senyum meringis, dia masih belum siap menggoda suaminya dengan pakaian yang di agung-agungkan saat malam pertama pernikahan. "Besok aja ya, males ganti." Nara menutup tubuhnya dengan selimut hingga sebatas perut. Angga pun ikut merebahkan tubuhnya di ranjang. Pria itu mencium kening Nara. Angga menopang kepalanya dengan sebelah tangan. "Aku masih belum percaya, sekarang kita satu ranjang." Angga memulai perbincangan di ranjang. "Aku juga masih belum percaya, ternyata mas akhirnya mau juga ama Nara." "Jelas mau lah! Duda mana yang ga mau sama gadis manis gini." Angga memuji istrinya. "Dasar pria tua! pinter nge gombalin anak kecil." Ucap Nara, lalu dia memunggungi suaminya. Nara berusaha mengontrol jantungnya yang bergejolak tak karuan. "Kok mas ga dicium?" Angga mencium tengkuk Nara, tangannya memeluk dari belakang. Angga mengusap lembut perut Nara. Tubuh Nara meremang mendapat sentuhan dari suaminya. 'Tuhan, tangannya sudah memulai. Aku mesti gimana? Please, bantu aku Tuhan.' batin gadis itu. "Belum pengen cium mas." Jawab Nara lirih. 'Duh Ra...kok malah jawab gitu sich?!' Nara memejamkan mata menyesali ucapannya. "Belum pengen, atau gugup? Mana Byan yang agresif? Yang godain mas? Sekarang kok gini?! Jadi mas di anggurin? Baru kali ini lho ada wanita yang cuekin mas. Dan itu istri mas sendiri." Angga berucap sambil memberi kecupan-kecupan kecil di belakang kepala Nara. 'Nara, cepat atau lambat moment ini pasti terjadi. Jangan jadi pengecut!' batin Nara. Perlahan Nara membalikkan badannya, dia memberanikan diri menghadap Angga. Tangan Nara memegang d**a Angga, dan refleks membuat tubuh Angga merinding. "Mas..... aku takut." Ucap Nara lirih dengan raut muka melas. "Takut apa?" Tanya Angga dengan hangat. Angga semakin mengeratkan pelukannya, hingga tubuh mereka lebih merapat. "Kata teman aku, malam pertama itu menyakitkan." Nara menatap mata Angga, lalu pria itu tersenyum. "Byan, mas ga tau seberapa sakit yang kalian hadapi sebagai wanita saat malam pertama. Ini yang pertama untuk mas." Angga mencium kening Nara. "Pertama?" "Iya, yang kemarin, waktu nikah uda ga gadis. Cinta buta. Sama seperti kamu, mau aja ama duda." "Bener juga ya...Cinta memang buta...kalo ga buta harusnya aku bisa dapetin perjaka, kenapa aku mau ama du_" Nara tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Angga sudah membungkam bibir Nara dengan bibirnya. Keduanya saling melumat, saling menikmati kebersamaan yang pertama menjadi pasangan yang sah. 1 tangan Nara mengusap d**a Angga, dan sebelahnya lagi menangkup pipi Angga. Pria itu menjauhkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Nara menikmati setiap lumatan suaminya, suara cecapan kadang lenguhan mulai menghiasi kamar Angga. Perlahan tangan Angga membuka kancing daster Nara dari bawah, kini dia bisa merasakan kulit lembut paha Nara. "Mas sudah doa?" Tanya Nara merusak konsentrasi suaminya. "Sudah." "Mas doain, moga anak kita ganteng seperti mas, ga pilih-pilih seperti mas, kuat iman seperti mas,_" "Kok seperti mas semua? Kamu kebagian apanya?" potong Angga. "Kayaknya Nara jelek semua, ga ada bagus-bagusnya." Nara mengaku. "Kamu itu ramah, mudah bergaul, dan cukup percaya diri juga. Tentunya menggairahkan!" Nara mengeram karena Angga sudah melumatnya lagi. Tangan Angga terus berusaha membuka kancing daster Nara, tanpa disadari empunya, kancing itu sudah terlepas semua. Angga menghentikan aktivitasnya, dia melihat Nara. Entah kenapa Nara merasa kecewa seolah ingin disentuh lebih jauh lagi. "Walaupun kamu sembunyi dibalik daster, aku tetap memburunya, dan akan memakanmu hidup-hidup, sayang." Bisik Angga. Nara hanya diam, dengan memberanikan diri dia menarik tengkuk Angga, mengecup sekilas bibir suaminya lalu melepaskannya. "BYANARA!" Bisik Angga dengan tekanan. Kecupan istrinya membuat hhasrat seksual Angga makin berkobar. Tubuh Nara melenting, mengeliat dengan mendesah dan memejamkan matanya saat Angga memberikan sensasi nikmatnya. Pria itu bisa merasakan hembusan nafas istrinya di telinganya, serta lenguhannya, membuat Angga makin liar. "Mas, ngapain di robek?!" tanya Nara sedikit terbangun, kedua sikunya menahan tubuhnya. Angga merobek pelindung pusat tubuh istrinya. "Tanganku ga enak geraknya, makanya lain kali ga usah pakai celana sekalian." "Tapi itu mahal lho mas, aku_" "Byan! Bisakah kita lanjutin ini dulu?!" potong Angga. 'Tuhan, bagaimana dia bisa mengalihkan fokusnya saat ingin bercinta?' batin Angga merasa heran ketika istrinya masih sempat-sempatnya memikirkan harga c*lana d*lam. Nara mengikik lalu berbisik di telinga Angga, "Baiklah sayangku, kita lanjutkan sampai pagi!". Usai menyelesaikan kalimatnya, Nara kembali terbaring, disusul Angga mengungkung Nara dibawahnya. Nara cukup terkejut melihat Angga yang sudah ada di atasnya. "Seperti keinginanmu, kita lanjutkan sampai pagi." ucap Angga dengan suara parau dan mengedipkan sebelah matanya. Nara ternganga mendengar ucapan suaminya. Maksud dia tadi hanya bercanda, tapi berbeda dengan suaminya yang sedari tadi ingin menerkamnya. Nara memegang lengan Angga dan meremasnya. Nara menghela nafas, melipat bibirnya dan membasahi. Sedikit gerakan Nara membuat Angga mengeratkan rahangnya, menahan hasrat yang ingin segera dia tuntaskan. Setelah beberapa saat, mereka telah menyalurkan hasrat yang sudah sekian lama tersimpan. Tak butuh waktu yang lama, Nara sudah memejamkan mata karena kelelahan. Sedangkan Angga masih memperhatikan wajah Nara. "Terima kasih Byanara Pramesti." bisik Angga, pria itu mencium pipi istrinya perlahan. Dan dia menyusul istrinya ke alam mimpi yang indah. Namun saat akan memejamkan mata. Terdengar pesan masuk. Ternyata dari Aji. Angga langsung membacanya, karena kuatir ada kabar buruk tentang bisnisnya. Aji : aku nggak ganggu kan? Angga : emang kenapa? Aji : takutnya pas di ujung, eh gara-gara aku jadi gagal... Angga : ada apa? Aji : cuma pengen WA aja. ternyata masih melek. lanjut deh ?. Jangan marah✌ Angga tak membalas, dia mengumpat sepupunya yang suka jahil. Dia kembali mencoba memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Lalu dia memiringkan tubuh nya dan menamati wajah istrinya yang sudah tertidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN