BAB 3

2699 Kata
Mata Nara tak pedih lagi, gadis itu memasuki ruangan yang hingar bingar oleh suara musik. Dia duduk di dekat segerombolan pria, dimana Dika berada. Mereka masih asyik menikmati lagu yang dimainkan oleh band local. Setelah beberapa menit, salah satu teman Dika menghampiri Nara dan mendekatkan bibirnya di telinga Nara. "Ra, kamu pulangin Dika dech. Kita masih mau lanjut!" ucap seorang pria dengan berteriak. Maklum, saat di ruangan seperti itu, jika kita bicara harus dengan jarak dekat dan sedikit berteriak. Saatnya Nara bekerja, karena Dika sudah oleng. "Bantuin masuk mobil ya!" pinta Nara dengan suara keras juga. Lalu dia mengemas jaket Dika, ponsel, rokok dan pemantik. Teman Dika memapah pria yang sudah hilang kesadarannya, sambil terus meracau yang tak jelas menuju mobilnya. Dan sekarang tugas Nara mengantar Dika ke rumah, dan memastikan nyampek di kamarnya dengan selamat. Sudah melewati jam 12 malam, untuk memasuki perumahan mewah agak susah. Tapi karena mobil yang di bawa Nara sudah dikenal oleh securiy, maka mereka dengan mudah melewati pos penjagaan tersebut. Cukup jalan perlahan, dan tersenyum manis kepada security yang bertugas. Rumah Dika yang ada di seberang Pos Satpam juga memudahkan Nara untuk meminta tolong petugas memapah Dika menuju pintu utama. Setelah Dika diterima oleh ART, Nara kembali ke pos Satpam untuk menunggu taksi. Sama hal nya seperti Nara, para Satpam tidak bertanya suatu hal apapun tentang Dika, atau mungkin mereka lebih tau dari Nara? Gadis itu tak peduli. Dia tak tertarik untuk pengen tahu kehidupan pribadi customernya. 1 unit taksi menghampiri pos satpam, dan Nara berpamitan kepada para penjaga pos. Setelah jalan beberapa meter keluar dari gapura, sebuah mobil memotong jalannya Taksi, dan berhenti didepannya. Hingga driver taksi terpaksa mengerem mendadak. "Ada apa Pak?!" tanya Nara dengan jantung berdetak kencang. "Kurang tau Non." jawab si driver. "Kunci pintu Pak! Siapkan kamera ponsel!" pinta Nara yang makin gemetar. Terlihat seorang pria turun dari sisi pintu pengemudi. Karena gelap dan minim penerangan, Nara tidak bisa melihat siapa sosok itu. Dia berjalan dan menuju taksi. Nara membawa ponselnya, siap menekan nomor darurat sambil merapalkan doa dan memejamkan mata. 'Ya Allah, aku bukan orang kaya, aku juga ga cantik, dia mau apa Ya Allah? Tolong jaga Nara sampek wisuda seperti keinginan Mama!' Nara bergumam. Pria itu membungkukkan badannya. "Byan, pulang sama aku! Buruan!" pria itu mengetuk jendela kaca penumpang. Nara membuka matanya perlahan, rasanya suara itu tak asing. "P-Pak Angga?" Nara tak percaya siapa yang mengetuk jendelanya. "Byan! Buka jendelanya!" Nara mematuhi perintahnya, dan membuka sedikit jendela, dia masih ragu dan siaga. "Turun By!" Angga memerintah lagi. "Bapak ngapain?!" Nara terheran kenapa Angga bisa berdiri diluar taksi yang disewanya. "Pulang sama aku!" tukas Angga. "Nara pake taksi aja Pak..." Nara takut ada siapa lagi selain Angga di mobil itu. Dia harus waspada. Dia juga tak kenal Angga dengan dekat, hanya pernah bertemu beberapa kali. Driver taksi pun menurunkan sedikit jendela kaca. "Non kenal sama bapak ini?" tanya si driver menoleh ke arah Nara. Pria yang masih berdiri di luar mendengarnya. "Saya suaminya Pak" jawab Angga dengan cepat. "Pak Angga?!" Nara terkejut mendengar ucapan Angga yang diluar perkiraan. "Buruan Byan!" "Di mobil ada siapa?" tanya Nara yang tak mudah percaya. "Nggak ada By! cuma aku...." Dengan ragu Nara membuka pintu taksi, dan kini mereka berdiri berhadapan. "Tapi kasian taksinya Pak, ga jadi dapat duit" Nara masih sempat memikirkan nasib driver. Angga mengeluarkan dompet dari saku belakang dan mengambil 2 lembar uang ratusan ribu. "Ini Pak! Gantinya anterin dia, makasih ya Pak uda jaga istri saya." ucap Angga ketika memberikan uang kepada driver. "Ayok Pulang!" perintah Angga. Dengan langkah berat, Nara mengekori Angga. Angga membuka sisi pintu di samping kemudi, dan meminta Nara untuk masuk, gadis itu menurut. "Dimana rumahmu?" tanya Angga. "Kos Pak. Di kota." Nara menyebutkan alamat kos nya. Lalu situasi menjadi hening. "Kamu sering di ajak dia?" tanya Angga. "Bukan di ajak Pak, disewa" Nara membenarkan. "Iya, disewa. Sering?" Angga menoleh sekilas ke arah Nara. "Dika pelanggan Nara yang pertama. Ya nggak sering juga, ini uda 5 -6 kali kayaknya" "Dan kamu pulang taksi sendiri?" "Iya" "Bahaya Byan, gimana kalo aku tadi orang jahat? Driver nya juga uda tua, bisa apa?" "Aku uda siap-siap tekan nomor darurat di ponsel" Nara membela, dia tak suka jika dirinya diremehkan. "Byan, iya kalo orang yang kamu telpon masih melek, ini jam 2 pagi..... pasti dia tidur." Angga terkekeh mendengar pembelaan Nara. "Tapi selama ini ga pernah Pak. Baru terjadi sekarang ini, sama bapak pula. Bapak ngapain tadi motong jalan taksi? Untung aku nggak teriak!" "Kamu teriak yang dengar sapa? Waktu kamu keluar club tadi, aku buntuti mobil teman kamu. Aku nunggu di luar gapura." "jadi kak Keyra ditinggal di club?" tanya Nara. "Aku datang ke club sendiri, ngumpul ama teman-teman. Nggak ada Keyra." "tadi Bapak ngapain ngaku suami Nara?" "Emang kenapa? keberatan?" Angga malah bertanya balik. "Ya, nggak" Nara memberi jawaban yang tak jelas. "ya keberatan? atau nggak keberatan?" "tau dech Pak" Nara sendiri bingung harus menjawab apa. Dan tak terasa mereka uda tiba di dekat kos Nara, setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu turun dari mobil dan berjalan menuju tempat kos. "Bapak mau kemana?" tanya Nara yang baru sadar Angga ikut berjalan membuntuti dibelakangnya. "Aku harus pastikan kamu nyampek kos dengan selamat By" "emang Pak Angga memperlakukan gini ke semua wanita?" "Iya, semua lelaki pasti seperti ini, menjaga keselamatan wanita" 'Dia jantan banget, sempurna, tapi kenapa dia men duda? dan sampai sekarang belum ada pendamping? apa yang salah dengan pak Angga? fisiknya nyaris sempurna, kalo diliat sisi financial rasanya rate middle high' bati Nara memuji Angga. "Uda nyampek kos, makasih lagi ya Pak" Nara membuka pintu kamar kos. "Sama-sama, ntar kalo aku butuh, boleh booking ya?" "Ok! Nara siap melayani." ************* Kamis malam. Ponsel Nara berbunyi tanda pesan masuk, Nara yang berbaring santai, mau tak mau mengambil ponsel yang tak jauh dari jangkauannya. Angga : Byan uda tidur? Nara : Belum Angga : Byan tau ini sapa? Nara : Tau donk..Pak Angga kan? ? Angga : Hari Sabtu jam 7.30 malam ada acara? Nara : Kosong Pak Angga : no rekening kamu berapa? Nara : 1234567890 Angga : uda aku transfer ya, untuk 3 jam Nara : acara apa ya Pak? dress code? Angga : Undangan dinner struktural perusahaan , baju terserah Nara : Ok Pak, jam 19.00 tunggu Nara di pos kamling depan kampung. Angga: AKU YANG JEMPUT DIDEPAN KAMAR KOS, JANGAN KELUAR SEBELUM AKU JEMPUT! (Nara tersenyum membaca pesan Angga yang tersirat melindungi) Nara: Siap Bapak Angga! Sabtu jam 18.45 Angga berjalan memasuki lorong kecil untuk tiba di depan kamar Nara. Dia mengetuk pintu kamar Nara, gadis itu membuka pintu. Angga melihat Nara yang sudah rapi dengan gaun malam berwarna hitam. Make up flawles yang sesuai dengan usia Nara. Angga masih menamati seluruh tubuh Nara, dari ujung rambut hingga ujung kaki. 'good looking!' batin Angga menatap Nara. "Masuk Pak! Jelek ya Pak? saya ganti baju dulu ya Pak, ga nyampek 10 menit kok!" Nara menyerocos hingga menyadarkan Angga. "Eh? Enggak kok! Pas! Ini uda pas!" "Beneran Pak?!" tanya Nara tidak yakin. "Beneran By." ucap Angga sambil melepas sepatu dan duduk di kasur Nara yang tanpa ranjang. Nara kembali bercermin menyempurnakan make up nya. "Ga keliatan seperti tante-tante kan Pak?" "Enggak By" "Ga seperti cabe-caben kan Pak?!" "Emang usia kamu berapa?" tanya Angga yang matanya melihat sekeliling kamar kos Nara. "Tahun ini, 22 tahun. Kalo Bapak?" tanya Nara sambil melihat Angga melalui cermin. "Jangan di tanya." "Ih! Bapak curang!" ucap Nara yang disusul kekehan Angga. "31 Byan" "Wew, kita beda jauh ya Pak, 9-10 tahunan." Mereka tertawa ringan bersama. "Byan.....minta tolong, nanti panggilnya jangan Bapak ya! Kayak dosen ama mahasiswanya. Keliatan tua." Nara tertawa kecil mendengarnya, 'emang situ tua kok' batin Nara. "Jadi manggilnya apa?" Nara bertanya yang sekarang sedang berdiri di depan Angga. "Mas, kak, abang, terserah..pokok nya jangan Pak" "Baiklah Mas Angga, kita berangkat sekarang?" Nara mengangkat alisnya, terlihat lebih imut dan manja. Mereka pun keluar kamar kos Nara. "Servicenya termasuk boleh gandeng kan?" tanya Angga berjalan disamping Nara menuju mobilnya. "apa aja boleh kok Pak Eh Mas, it's just a drama, isn't it?" "Ya, it's just a drama" Mereka menuju pusat keramaian dengan pemandangan macet. Angga menyanyikan lagu seperti yang diputar radio mobilnya. "Suaranya bagus. Harusnya bapak ngamen aja!" ucap Nara. Angga terkekeh mendengar lelucon Nara. "Kamu suka anak kecil ya? aku liat kamu telaten banget sama Nesa." "Suka, apalagi Nesa. Lucu banget, cantik. Iya kan Pak?" "Byan, ntar jangan salah panggil lho!" ucap Angga mengingatkan. "Kebiasaan Mas. Acara dimana? " "Dinnernya di resto XXX di Plaza tengah kota" "Yeay! kalo kelar, aku mau jalan-jalan" "Nggak janji ya. Kalo belum tutup, aku bayar kamu 3 jam, By" "Kebetulan ntar midnight sale, setelah jam 22.30 aku free, Mas boleh pulang dulu, aku naik taksi" kata Nara. "Ga boleh Byan. Aku tungguin kamu, aku ga ada acara." "Makasih Mas" Suasana di mobil kembali hening. Nara mulai bosan. "Main tebak-tebak an yuk Mas!" Nara memecah keheningan. "Topik nya apa?" tanya Angga. "Makanan atau minuman di kota ini" "Contoh!" "Kalo aku tanya, Rujak yang paling mahal? Mas jawab alamat dimana.....gitu aja." "Ok" "Ya uda.... jawab Mas!" "Apa pertanyaan nya?" "Rujak tadi...yang paling mahal dimana?" "Oh...yang tadi uda mulai? kirain masih contoh. Ahmad Jais." "Bener. Sekarang giliran mas." "Lontong balap Gendut?" Tanya Angga. "Dulu sich di sekitar Kranggan, tapi sekarang uda banyak cabang, entah bener atau ga." "Ok, bener." "Cincau Station" "Cincau Station?! Apa itu?!" Tanya Angga dengan menoleh ke arah Nara sekilas, pria itu merasa asing dengan menu yang disebutkan. "Mas pernah ke Mall kan?" "Iya tapi aku ga tau cincau apa itu tadi..." "Ih! Mas ga up date! Kalo Chatime?" "Ga tau." Nara menyebutkan berbagai macam minuman kekinian, dan Angga tetap menjawab Ga Tau. "Starbucks ?" tanya Nara. "Nah..kalo ini tau, dalam Sogo Tunjungan , terus ada lagi di lorong, ada di jalan .." Angga menyebutkan berbagai macam alamat dimana cafe itu berada. "Nah itu mas tahu..kok minuman yang aku sebut ga tau?" Angga tidak menjawab, dia hanya menaikkan kedua bahunya. Mereka memasuki area parkir. "ntar parkir bawah aja Mas" Nara memberi saran. "Ini Sabtu By, tanggal muda, pasti penuh. Kita langsung ke atas aja, ada lift." "Kan ngelewati Mas!" "Buang waktu!" "Di coba dulu Mas!" Nara tetap bertahan dengan pendapatnya. "Taruhan ya?!" Tantang Angga. "Ayo! sapa takut?!" Nara menanggapi tantangan. "Kalo kita parkir di lantai dasar sampai 3, aku transfer sesuai tarif 7x meet up. Kalo dapat parkir lantai 5 dan seterusnya, kamu temani aku, free, selama 7 kali meet up. Sebanding kan? Deal?!" "DEAL!" seru Nara yakin. Nara merapalkan doa saat mobil Angga mulai memasuki area parkir. Atas permintaan Nara, Angga melajukan mobil perlahan menyisir tiap baris di setiap lantai. Hingga lantai 3 mereka belum mendapat tempat parkir. "Kan?! apa aku bilang?!" ucap Angga dengan tatapan mengejek. "MAS ANGGAAAAA!" teriak Nara dan mencubit kecil lengan Nara yang kokoh. Angga hanya tertawa melihat kelakuan Nara. "7 kali meet up free" "Tapi jangan mendadak kasih taunya, ntar aku ada job lain" "Ya uda, kalo kamu ada job, kasih tau aku, supaya sama-sama enak. Ok?!" "Ok Bos!" ucap Nara di susul kekehan Angga. Akhirnya mereka mendapat lahan parkir di lantai 7. Nara turun dari mobil bersamaan dengan Angga. "Besok-besok tunggu aku yang buka pintu ya By!" ucap Angga. "Biasanya juga gini Mas!" "Kalo sama aku, harus nunggu aku! Hargai cowok napa?!" "iya dech! Yuk Mas! Laper!" ucap Nara dengan rengekan manjanya. "Laper? Ga makan seharian?" tanya Angga memastikan. "Tadi jam 5 uda makan, tapi sekarang laper lagi." Angga terkekeh dan menggelengkan kepala mendengar gadis yang tampil cantik tapi sangat ekpresif dan frontal saat urusan perut. 'nich cewek ga bisa jaim? ini jalan sama cowok ganteng lho! Awas aja kalo bikin malu!' Angga membatin. Angga menjajari langkah Nara yang berjalan lebih dulu, dan menggenggam jemari Nara dengan jarinya. Dalam sekejap Nara terus berjalan dan melihat jari mereka yang saling mengisi dan membuat tubuhnya menghangat. Jantungnya berdegup kencang. Karena selama ini belum ada pria yang menggandeng dengan cara seperti itu. Biasanya mereka memegang pergelangan Nara, atau Nara yang memegang lengan lawannya. Mereka memasuki salah satu restoran ternama, lalu pelayan mengantar mereka ke ruangan yang lebih tertutup, di sana hanya ada beberapa meja. "Angga, kali ini kamu gandeng sapa lagi? Seger banget!" ucap seorang pria dan bersalaman dengan Angga. "Ini Byan Pak. Byan, ini pimpinan saya di kantor." Angga memperkenalkan, Byn dan Bos Angga pun bersalaman. "Ayo duduk!" Si Bos mengantar ke salah satu meja. "Calon istri kan? jangan gonta-ganti! ini cocok banget!" ucap si Bos ditelinga Angga yang bisa didengar Nara. Angga menatap hangat wajah Nara dan tersenyum, Nara membalas senyuman Angga seolah kata-kata itu hanya candaan yang biasa dia terima saat menemani customer. "Liat ntar aja Pak" jawab Angga memutus kontak mata dengan Nara dan beralih menatap bos nya. Beberapa hidangan disediakan ditengah meja mereka, ada kepiting, steak lidah sapi, kerang dan sebagianya. Nara yang sangat kelaparan dengan anggun memilih lidah sapi. Setelah rasa laparnya sedikit hilang dia melihat kepiting. 'Kepitingnya bikin ngiler, tapi males kupas. Kan pengen keliatan tetap anggun.' batin Nara. Nara melihat tamu yang lain, dia iri melihat mereka sangat lihai membuka kulit kepiting. Angga tahu Nara yang selalu melihat ke arah kepiting. "Kamu mau kepiting?" "Tapi ga bisa kupasnya" ucap Nara melihat Angga sekilas lalu menunduk dan melanjutkan memakan irisan kentang. "Kalo aku kupasin mau?" tanya Angga dengan tersenyum menggoda. "Beneran Mas?!" balas Nara dengan mata berbinar. "iya, mau ga?!" "mau donk" jawab Nara meringis. "ada imbalannya, ga gratis, By" "apa?" Nara memicingkan matanya, seakan dia menangkap akal bulus dari Angga. "Liat wajah aku, 10 detik aja" bisik Angga yang sangat dekat di telinga Nara, membuat darah gadis itu berdesir. "itu aja?" tanya Nara menoleh sekilas. "Iya, kalo mau, mulai dari SE-KA-RANG" pinta Angga. Nara pun menoleh ke arah Angga dan menatap hangat wajah Angga, begitu juga dengan Angga. 'pria ini cakep banget? dulu emaknya ngidam apa ya? bapak nya buat anak pake gaya apa? khitan dimana? ntar anaknya pasti ganteng dan cantik. Duh...bibit unggul pastinya.' batin Nara. 'wajah kamu keliatan banget kalo masih bocah, manja, imut.' batin Angga. Mereka masih saling menatap hingga melewati 10 detik. "Angga, kalian ada masalah?" tanya si Bos yang duduk di seberang Angga. Bersamaan mereka terkejut dan menoleh ke arah yang lain. Angga hanya memberikan gelengan kepada Bos nya. "Nich! Maem!" Angga memberikan sejumput daging kepiting ke piring Nara. "Makasih. Pasti yang jadi istri mas bahagia" bisik Nara dan melemparkan senyuman centil. Angga terkejut mendengar ucapan gadis itu, 'ini apa? dia ga mungkin ngelamar aku untuk jadi suaminya kan?!' Dan akhirnya desert dihidangkan, pertanda ini adalah menu terakhir. Nara sangat menyukai puding, dia telah menghabiskan jatah porsinya. Lalu dia melirik ke piring kecil Angga.'kok masih utuh?' "mau?" tanya Angga seakan tahu apa yang ada di otak Nara. "Ga ach! Ntar minta pamrih lagi!" balas Nara dengan ketus, membuat Angga tersenyum. "Ga pamrih Byan, mau?" Angga mengarah sendoknya ke Nara, mata Nara memicing tak percaya. Angga memberi anggukan meyakinkan. Nara membuka mulutnya dan menerima suapan Angga. Dan tak lama Angga menyantap puding dari sendok yang sama. "Mas ga jijik? itu kan uda aku pake sendoknya" "Ga pa pa Byan, supaya makin lengket, supaya dapat chemistry nya. Masih ada 7 meet up, By" Angga mengingatkan taruhannya. "Iya, janji temani ke midnight sale" "Ok cantik!" "Gombal!" Nara mencebikkan bibirnya membuat Angga tersenyum lagi. Satu per satu tamu meninggalkan ruangan berpamitan. "Yuk By, balik!" ajak Angga yang berdiri. Nara pun berdiri dan bangkit dari kursinya. "Pak, kita pamit dulu ya, terima kasih atas jamuannya." ucap Angga penuh sopan. "Aku yang terima kasih, moga ulang tahun berikutnya kalian uda nikah ya" sahut si Bos. Sontak Nara yang ada di samping Angga terkejut dan menahan senyum. "Saya mau-mau aja Pak, dia nya yang rewel." Balas Angga melingkarkan tangannya di pinggang Nara. Nara tampak kikuk, pura-pura tuli, wajahnya melihat ke arah yang lain menutupi rasa gugupnya, tubuhnya merasa aneh ketika mendapat perlakuan dari Angga. Padahal customer yang lain juga sering melingkarkan tangan di pinggangnya. 'kalo yang peluk orang ganteng rasanya beda' batin Nara. Usai melewati pintu restoran, Angga melepaskan pelukannya. Nara berjalan mendahului Angga, sedangkan Angga berjalan di belakang Nara sambil sesekali melihat ponselnya. 'Profesional donk Nara, uda lewat jam sewa.' Nara membatin kecewa saat tangan Angga terlepas dari tubuhnya. Nara terus berjalan tak memperhatikan Angga yang dibelakangnya. Angga mengawasi Nara dari belakang dan terus melangkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN