Bab 9. Serasa Istri

1237 Kata
“Itu tugas saya. Sedangkan kamu lakukan tugasmu!” “Tugasku adalah memastikan rumah bersih, mengurus Dek Denim dan juga Tuan. Saya belum selesai bertugas karena belum melihat Tuan makan malam ini.” Aksara terkesima. Dari ekspresi wajah dan cara bicara Celine, gadis itu terlihat sangat tulus. “Saya masak soto ayam tadi, tuan mau makan sekarag? Biar saya hangatkan dulu.” Aksara memang lapar, lagi-lagi tumpukan pekerjaan membuat jam makannya berantakan. Rencananya sampai rumah mau bikin mie instan sebelum tidur seperti biasa. Tapi, ia melupakan mengisi perut ketika mendapati Celine tidur di ruang tamu. “Baiklah. Temani saya makan.” “Baik, Tuan.” Gadis itu mengucek matanya yang bulat, meningkatkan cahaya penglihatannya yang hanya tinggal 5 watt. Disisirnya rambut panjang itu dengan jari-jarinya, lalu dikuncir atas layaknya pungguk onta. Ia berjalan menuju dapur dan memanaskan kuah sayur yang dimasaknya sore tadi. Ia juga membuat teh hangat untuk peneman makan malamnya. Di sisi lain, Aksara duduk di ruang makan, menatap Celine yang berjibaku di dapur. Tak lama kemudian gadis itu datang dengan membawa dua cangkir teh, lalu balik ke dapur mengambil piring, balik kembali mengambil nasi dan kini lauknya. Sudah bisa dibayangkan betapa capeknya gadis itu dengan segala aktifitasnya. “Silakan duduk!” ucap Aksara yang melihat babysitternya mematung di sebelah meja. Ya, gadis itu tak berani duduk jika belum dapat ijin dari Tuannya. “Terima kasih banyak, Tuan.” Celine memposisikan diri di kursi, mengambil piring keramik putih yang diambilnya dari dapur tadi, “Apa segini cukup, Tuan.” Celine menunjukkan nasi yang diambilnya. “Ya cukup.” Gadis itu melayani makan tuannya terlebih dulu, baru mengambil nasi untuknya. Sedangkan Aksara, pandangannya terus terkunci kepada gadis pemilik bulu mata lentik itu. “Segera dimakan, Tuan! Soto lebih enak kalau dimakan dalam keadaan panas.” “Eh, iya, baiklah!” Aksara mulai menikmati makanannya. Namun, lagi-lagi ia tak bisa fokus dengan apa yang disuguhkan. Rambut panjang Celine yang terangkat membuat leher jenjang gadis itu terkspos. Darahnya berdesir, pikirannya mulai kacau. Sesuatu dari dalam dirinya bergejolak. “Kalau makan dalam keadaan panas, pasti berkeringat kan, Tuan. Kalau di desa itu namanya gemrobyos,” ucap Celine tersenyum kepada tuannya. “Saya berkeringat itu bukan karena makanan ini. Tapi, karena kamu,” batin Aksara. “saya sudah cukup kenyang hari ini. Saya mau tidur dulu! Kamu juga segera tidur!” “Apa makanannya tidak enak, Tuan? Kenapa sotonya tidak dihabiskan? Apa saya salah bicara tadi?” “Bukankah saya sudah bilang, saya sudah kenyang.” “Iya, Tuan, maaf.” Lelaki itu mulai bangkit dari duduknya. Ia menghela nafas panjang. Berharap pikiran buruk di pikirannya mulai enyah. “Besok akan ada asisten rumah tangga di sini, saya harap kamu tidak keberatan.” “Apa, Tuan? Apa saya akan di rumahkan? Apa kerjaan saya kurang baik? Apa rumah ini kurang bersih?” “Celine hentikan! Jangan selalu berfikiran seperti itu. Saya hanya tidak tega melihatmu kecapekan urus Denim dan saya. Kamu masih harus urus rumah saya.” Celine terdiam. Entah mengapa kalimat yang baru saja didengarnya membuat hatinya terbang melayang. Seperti dugaannya, Tuannya kadang marah tapi juga kadang begitu baik. Tuannya sangat perhatian kepadanya. “Baik, Tuan, Maaf.” Lelaki itu mulai melangkah meninggalkan Celine yang masih duduk di kursi, menghabiskan makanan di depannya. “Celine.” “Iya, Tuan.” Gadis itu menoleh ke tuannya yang masih mengenakan pakaian kerja itu. “Jangan lagi menguncir rambutmu seperti itu, diurai saja.” “Baik, Tuan.” Tanpa menanyakan alasannya, Celine hanya mengiyakan. Ia tak berani membantah. Apalagi, wajah yang ditunjukkan usai makan, terlihat dingin. “Apa yang salah dengan rambut dikuncir seperti ini? Bukannya lebih simpel dan tak lepek ketika berkeringat?” ucap Celine bermonolog sambil melepas ikatan rambutnya. *** “Masak apa kamu hari ini?” tanya Aksara yang baru memasuki ruang makan. Ia sudah berpakaian rapi dengan tas kerja di tangannya. “Ini, Tuan. Saya masak sup ikan.” Dahi Aksara mengernyit. “Maaf, Apa, Tuan gak suka lauk ini?” Celine kebingungan. Kata Tuannya saat itu, ia doyan nakanan apa saja asal enak. Tapi, apa yang dibuatkannya selalu tak cocok dengan lidah tuannya. “Saya hanya malas dengan duri ikannya.” Celine tersenyum, “Syukurlah,” “Kenapa?” “Setidaknya Tuan doyan dengan menu yang saya buat. Sayang kalau lauknya sering dibuang, Tuan. Di luaran sana, terlebih adik saya jarang makan lauk berprotein seperti ini.” “Kamu kangen adik-adikmu? Apa kamu mau mereka tinggal di sini sekalian?’ “Tidak, tidak, Tuan. Tidak perlu. Saya hanya teringat saja, maaf, Tuan.” Aksara mulai duduk di kursinya, sedangkan dengan telaten Celine memilah daging ikannya, memisahkannya dari duri-duri tajam. Ia menaruh daging ikan ke piring Aksara. “Kalau seperti ini, kamu gak ikut makan.” “Saya makannya nanti saja, Tuan. Saya punya banyak waktu di rumah.” Aksara tersenyum, “Kalau seperti ini, kamu malah sudah seperti istri saya, mengurus saya dan anak saya.” “Maaf, Tuan. Saya harus bagaimana?” “Terserah, yang penting Denim terurus. Tugas kamu hanya mengurus Denim, bukan mengurus saya.” “Tapi, Tuan. Ini juga pekerjaan seorang asisten rumah tangga, menyiapkan makan untuk majikannya.” “Ya, terserah kamu sajalah, celine,” ucap Aksara tak ingin memperpanjang obrolannya. Ia mempercepat sesi makannya, berduaan dengan Celine dengan perhatian selembut itu, membuat batinnya terus bergejolak. Hatinya yang mati suri selama bertahun-tahun ini kembali bergetar dengan dahsyat. Namun, lelaki itu masih tak siap untuk mengakui. Celine mencuci tangan usai melakukan tugasnya, lalu diikuti Aksara yang pamit untuk bekerja. “Maaf, Tuan, sebentar.” “Iya, ada apa?” Gadis itu mendekat. Ia merapikan dasi Tuannya yang terpasang miring. Aksara mematung, melihat wajah Celine begitu dekat membuat jantungnya berpacu begitu hebat. Aroma tubuhnya pun menguar, menjadikan sebuah sensasi tersendiri untuk lelaki itu. “Nah, kalau sekarang sudah rapi, Tuan. “ Gadis itu menatap Tuannya sambil tersenyum. “Terima kasih.” “Selamat bekerja ya, Tuan. Jangan lupa bekal makannya nanti dimakan,” ucap gadis itu yang meraih kotak makan di atas meja. “Semoga kali ini, tuan doyan dengan masakan saya,” imbuhnya lagi. “Ya, terima kasih.” *** Aksara tersenyum kecil menatap laptop di depannya, baru kali ini ia membayangkan wanita lain selain istrinya. Ia tak menyangka jika hatinya bisa menaruh rasa kepada wanita dengan begitu cepat. “Selamat bekerja ya, Tuan. Jangan lupa makanannya nanti dimakan.” Kalimat itu membuat Aksara tersadar dengan bekal makanan yang dibawa. Ia tersenyum mendapati kotak tersebut, ada catatan kecil seperti biasa. “Selamat makan, Tuan. Semoga harimu menyenangkan.” Bergegas ia membuka kotak tersebut, penasaran dengan apa yang dibuat. “Semoga rasanya tidak aneh seperti kemarin,” ucapnya bermonolog. Jari-jarinya mulai membuka pengait kotak makan itu, di detik berikitnya, ponselnya berdering. Ia meraih benda yang menyala itu dan menemukan nama Celine di dalamnya, diangkatnya panggilan tersebut. “Iya, Dek Denim, nanti kita telfon papa kalau Dek denim sudah habiskan susunya.” “s**u,” ucap bocah kecil itu. “Iya, enakkan susunya?” “Papa,” “Iya, habiskan dulu susunya. Nanti kita telfon papa.” “Papa Nim keja.” “Iya, papa lagi kerja. Dek Denim lagi kangen papa yang galak itu ya, yang suka marah-marah kayak macan. Waung, waung,” ucap gadis itu sambil mengangkat kedua tangganya ke pipi, menirukan gaya macan. Denim tertawa. “Celine, apa maksud kamu?” Mendapati suara yang berbeda, Celine mencari sumber suara. Gadis itu baru tersadar kalau ponselnya yang dipegang Denim tengah terhubung panggilan dengan tuannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN