“Tapi, Tuan ....” “Taruh jas saya dulu!” “Baik, Tuan.” Jas mahal yang dari tadi menggantung di lengan Celine kini dipindah ke almari Tuannya. Di mana pandangan gadis itu terus tertunduk tak berani menatap ke depan. Ia tak ingin menatap hal yang rasanya aneh untuk manik matanya. “Tuan, ini ktp saya. Saya permisi dulu,” ucap celine sambil menyodorkan benda yang dimaksud. Tanpa menoleh ke arah Tuanna sedikit pun. “Kamu mau ke mana?” tanya Aksara sengaja menggoda. Lagi-lagi ekspresi ketakutan Celine menjadi hal yang membahagiakan untuknya. “Ke kamar, Tuan. Saya mau beristirahat.” “Kenapa nggak berisitirahat di sini? Bukankah sebentar lagi kita juga se kamar?” “Sebentar lagi. Tapi, bukan sekarang, Tuan,” ucap Celine yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Tuannya. Gadis itu memegang

